
Jackson terlihat uring-uringan di tempat tidur di apartemennya. Jam dinding sudah menunjukkan pukul 9 malam, ia belum juga beranjak dari dalam kamar untuk sekedar membersihkan diri ataupun makan malam. Ia masih mengenakan setelan jas yang ia pakai bekerja siang tadi.
Ponselnya yang tergeletak di atas tempat tidur berdering. Raut wajahnya berubah sumringah, dengan cepat ia menyambar telepon itu. Saat melihat nama orang yang memanggil, mendadak rona wajahnya kembali redup.
"Ada apa?" Ucap Jackson.
"Ada tempat nongkrong baru. Ayo keluar malam ini. Besok kan libur, bisa dong nyantai sampai larut malam." Balas lawan bicaranya.
"Oke, kirim aja alamatnya." Jawab Jackson.
"Sip."
Sambungan telepon terputus. Jackson menghela napas panjang, ia masih memandang layar ponselnya.
'Kenapa aku masih berharap bahwa dia akan menghubungiku? Untuk apa? Bukankah aku yang sudah memutuskan hubungan dengannya.'
Jackson menggeleng, ia bangkit dari tempat tidur dan melepas satu persatu kancing kemejanya.
"Come on Jackson, you have to move on." Ucapnya saat menatap pantulan dirinya di cermin.
Jackson lalu masuk ke dalam kamar mandi. Setelahnya bersiap-siap untuk pergi ke lokasi yang dikirimkan seorang temannya itu.
Mobil Jackson melesat dengan cepat. Meski sudah hampir jam 10 malam, jalanan masih juga ramai di dominasi kendaraan roda dua dimana banyak pasangan muda-mudi yang sekedar jalan-jalan untuk bermalam minggu. Saat berhenti di lampu merah, Jackson melihat sepasang kekasih tengah berboncengan. Si pria tak henti-hentinya mencium tangan si wanita yang duduk dibelakangnya. Dagu si wanita menempel di pundak pria.
"Dasar tidak tahu tempat. Bisa-bisanya bermesraan di tempat umum." Ucap Jackson dongkol.
Sesaat ia terdiam, kembali mengingat apa yang dilakukannya pagi tadi bersama Alexa. Mulai dari tempat parkiran, hingga ke dalam lift dan bahkan di dalam kantornya. Bayangan wajah Alexa yang tersenyum kembali terlintas. Kenangan dimana ia bercumbu mesra dengan Alexa di rumah Kakek Parman dan Nek Aminah teringat kembali.
Wajah Alexa yang memerah, suara rintihannya yang terdengar merdu di telinga Jackson mendadak membuat Jackson pening.
"Aaaaaarrrrgggghhhhhh......" Teriaknya tiba-tiba.
Untung saja mobilnya kedap suara, hingga orang diluar tak ada yang bisa mendengar suaranya. Namun, Jackson tak menyadari bahwa sejak tadi tangannya terus menekan klakson dengan keras dan kasar.
"Sabar woooii...." Teriak orang yang ada di depan mobil Jackson.
Lampu menyala hijau, membuat antrian kendaraan kembali berjalan, begitu juga dengan Jackson. Hingga ia akhirnya tiba di tempat yang disebutkan temannya.
Jackson turun dari dalam mobil dan melihat tempat itu yang merupakan sebuah Bar. Tempatnya menyenangkan, seperti Bar jaman dulu tempat nongkrong para koboi. Pintu masuknya adalah pintu kayu, pintu kecil seperti di film-film koboi, ruangannya dipenuhi dengan meja dan kursi dari kayu dan rotan, di dinding terdapat hiasan dari kulit sapi. Lampu kekuningan di ruangan menyatu dengan warna coklat kayu, ditambah dengan alunan musik Blues membuat ruangan itu terasa hangat dan menyenangkan.
'Tempat yang asyik.' pikir Jackson.
Seorang pria melambaikan tangan pada Jackson saat ia masuk ke dalam Bar. Jackson lalu berjalan mendekati pria yang mengenakan kemeja berwarna hitam itu.
"Tahu dari mana tempat ini?" Tanya Jackson.
"Di kasih tau sama temen kantor. Makanya gue ngajak lo kesini, tempatnya asyik kan."
"Bolehlah." Balas Jackson.
"Info yang gue dapat, katanya pemilik Bar ini adalah sepasang suami istri. Katanya setiap hari berkisar jam 12 sampai jam 1 malam mereka berdua akan datang ke kesini Sekedar duduk dan menikmati suasana di Bar yang mereka miliki. Sang suami selalu memesan Bir dan istrinya selalu memesan oranye jus. Mereka akan mengobrol disini sampai hari hampir pagi kemudian beranjak pulang." Ujar teman Jackson yang bernama Mike itu.
"Really?" Jackson tampak tak percaya.
"Yes." Balas Mike.
"Menarik." Imbuh Jackson.
Keduanya lalu mulai minum dan mengobrol banyak, mulai dari masalah pekerjaan hingga urusan pribadi. Tapi, Jackson tak sampai menceritakan tentang masalah pribadinya yang baru saja putus cinta.
Tepat sekitar jam 12 malam lewat, pasangan suami istri yang dikatakan Mike datang. Keduanya duduk di kursi tinggi di dekat meja Bartender dan seperti biasa sang suami memesan segelas Bir dan istrinya memesan segelas oranye Jus. Pasangan itu kira-kira usianya berkisar 50 tahun. Jackson dan Mike duduk tak jauh dari mereka, sambil meminum bir miliknya, Jackson memperhatikan gerak-gerik mereka.
Sang istri terlihat menyiapkan makanan dari kotak makan yang ia bawa dari rumah untuk suaminya. Mempersilahkan suaminya makan dengan lemah lembut. Beberapa kali Jackson melihat mereka sedang berbicara sambil menatap dengan gestur tubuh mesra tapi tak berlebihan. Tatapan mata yang teduh dan penuh cinta. Dari cara mereka saling berbicara, dari gestur tubuh mereka yang mesra, dari meluangkan waktu untuk pergi berdua menikmati malam bersama, Jackson dapat melihat dua orang yang masih saling mencintai dan saling menjaga.
Pukul 1 dini hari, saat hendak pulang, Jackson dan Mike menyempatkan diri untuk sekedar bertegur sapa dengan mereka. Wajah dan tutur kata bapak dan ibu ini begitu tenang dan teduh. Sebuah keramahan yang tulus.
Entah apa yang membuat mereka bisa terus seperti itu di usia dan hubungan yang tak lagi muda. Mungkin komitmen untuk sehidup semati dan saling menjaga yang mereka pegang kuat–kuat ataukah mereka pikir di usia itu tak seharusnya mereka menghabiskan hidup dengan bertengkar atau memendam akar pahit dan amarah pada pasangannya.
Entahlah. Mereka punya cerita hidup yang tak Jackson ketahui pasti. Mungkin mereka punya begitu banyak alasan atau hal yang membuat mereka bertahan sejauh ini. Yang jelas, orang – orang seperti mereka lah yang membuat Jackson sedikit percaya bahwa cinta tak selamanya kadaluarsa. Mungkin cinta sejati itu memang ada, untuk orang – orang yang mengusahakannya untuk dirinya maupun pasangannya.
Rasanya semua orang punya doa yang sama, bertemu dengan pendamping hidup dan bisa saling megasihi satu sama lain sampai maut memisahkan. Tak pudar dimakan waktu dan tak retak dihantam masalah demi masalah hidup. Jackson pun memanjatkan doa yang sama.
'Apakah terlalu muluk – muluk? Aku harap tidak.' tanya Jackson dalam hati.
*********************
Sudah lama Alexa tak berolah raga pada minggu pagi, meskipun hanya sekedar joging atau jalan-jalan. Alexa sadar bahwa olah raga itu sangat penting untuk menjaga kebugaran tubuhnya, sementara akhir-akhir ini ia hampir tidak pernah melakukannya. Apalagi usianya sudah semakin bertambah, apabila tidak diimbangi dengan olah raga teratur maka tubuhnya akan mudah lelah dan payah. Bawaannya malas selalu, lemas dan ujung-ujungnya ngantuk, lalu ingin tidur.
Pagi ini selepas subuh, dimana udara masih sangat segar dan bersih. Terserah, mau joging atau sekedar jalan-jalan sambil menikmati pemandangan, intinya Alexa ingin keluar rumah untuk jogging.
Sebenarnya Alexa bisa melakukan olah raga dimana dan kapan saja, tidak harus keluar rumah dan tidak harus juga di pagi hari. Dia bisa berolah raga didalam rumah, misalnya mengayuh sepeda statis atau main tali di halaman, dan itu bisa dilakukan kapan saja ia punya waktu luang. Mengingat di dalam rumah Alexa memang sudah tersedia alat penunjang untuk olahraga yang sangat memadai.
Lalu mengapa Alexa menginginkan berolah raga keluar rumah di minggu pagi? Tentu saja karena dirinya ingin mencari suasana yang jarang ia dapatkan, yaitu berolah raga sambil menghirup udara segar dan menikmati pemandangan pagi yang jauh dari polusi dan terhindar dari terik matahari. Terlebih ia butuh menyegarkan pikirannya karena baru saja putus cinta dari Jackson.
Alexa tidak berolahraga jauh-jauh, hanya di sekitar perumahan. Tepatnya didepan pintu gerbang perumahan. Disana terbentang jembatan tol sepanjang seratus meter kira-kira.
Di jembatan itu banyak pula orang-orang sekitar, baik tetangga satu perumahan atau orang-orang dari luar perumahan yang berolah raga juga. Seperti Alexa, sekedar joging atau jalan pagi.
Sebelum berolah raga yang sesungguhnya, Alexa melakukan pemanasan terlebih dahulu. Melakukan gerakan kecil dan ringan untuk permulaan dengan tujuan supaya otot-otot tubuh menyesuaikan. Setelah pemanasan Alexa baru melanjutkan dengan olah raga yang sesungguhnya. Kemudian disepanjang bentang jembatan itu Alexa mula berlari.
Alexa berlari sebisanya. Pelan dan apabila tiba-tiba kaki terasa pegal berhenti sebentar. Lanjut lagi lari beberapa meter, berhenti lagi. Begitu berulang-ulang. Alexa kembali berlari kecil, namun ia begitu cepat lelah.
'Hah, masa baru segitu saja sudah capek? Karena nggak terbiasa mungkin ya, lutut rasanya langsung kaku.'
Alexa lalu beristirahat lebih dulu. Ia tak ingin memaksakan dirinya dan duduk disalah satu sudut trotoar diujung jembatan.
Setelah puas berjoging ria Alexa pun melanjutkan dengan berjalan-jalan agak menjauh dari komplek perumahan. Menghirup udara segar sambil menikmati pemandangan sekitar. Jujur Alexa memang jarang sekali meluangkan waktu seperti ini. Apalagi ia baru saja kembali ke rumahnya. Cuaca sangat cerah setelah semalam diguyur hujan deras, jadi udara saat ini benar-benar segar.
Setelah kurang lebih satu jam Alexa pun harus pulang untuk melanjutkan aktifitas di hari minggu ini. Namun sebelumnya ia berniat untuk membeli makanan untuk mengganjal perutnya yang mulai lapar. Berupa makanan kecil saja, makanan yang selalu ada di setiap pagi.
Tempatnya pun tidak terlalu jauh dari perumahan. Alexa hanya perlu waktu sekitar lima belas menit pulang pergi dengan berjalan. Ada penjual bubur ayam disana, yang sejak jaman Alexa masih bertubuh gempal, ia selalu suka makan disana.
Alexa merasa lapar setelah joging tadi. Alexa pun makan satu porsi bubur ayam dengan lahapnya. Seseorang tiba-tiba duduk di depan Alexa, saat ia melihat orang itu, ia sontak kaget.
"Morgan!" Seru Alexa.
"Hei." Sapa Morgan.
"Kamu ngapain disini?" Tanya Alexa.
Morgan tersenyum.
"Tadi aku gak sengaja lihat kamu masuk ke sini. Awalnya ku pikir bukan kamu, tapi setelah beberapa sat mengintai dari luar dan yakin itu kamu. Ya aku masuk aja." Jawab Morgan. "Aku juga habis olahraga kecil." Sambungnya.
"Oh ya, kebetulan sekali ya." Ucap Alexa lalu melanjutkan makannya. "Mau aku pesankan?" Tanya Alexa.
"Gak." Morgan menolak halus.
Keduanya lalu kembali mengobrol.
"Kamu tinggal sekitaran sini?" Tanya Morgan.
"Iya, aku tinggal di komplek perumahan Blok D. Kamu sendiri?" Tanya Alexa balik.
"Oh, ya? Aku kebetulan baru pindah kesana 2 bulan yang lalu."
"Berarti kita tetanggaan." Ucap Morgan. "Boleh dong, aku main ke rumah mu?"
Alexa hanya tersenyum.
"Ah, aku lupa. Kau sudah menjadi kekasih Jackson, dia mungkin...."
"Jangan bahas dia lagi." Ucap Alexa lalu meminum air mineral.
"Kenapa?"
"Gak kenapa-kenapa. Jangan dibahas saja." Jawab Alexa.
Setelah Alexa selesai makan bubur ayam, keduanya pun pulang. Sepanjang perjalanan keduanya sering berpapasan dengan beberapa orang yang sedang berolah raga juga. Dari orang tua, remaja sampai anak-anak. Memang hari minggu pagi adalah waktu yang cocok untuk orang-orang bisa keluar rumah bersama. Sekedar refreshing, menghilangkan kepenatan setelah enam hari belakangan selalu berjibaku dengan berbagai kegiatan.
"Aku belum menyangka selama ini ternyata kita bertetangga. Tapi aku tidak pernah tahu tentang kamu." Ucap Morgan.
"Kamu seperti gak tahu orang yang tinggal di kota besar saja. Orang-orang yang tinggal di perumahan seperti itu kebanyakan yang tidak terlalu care dengan tetangga. Maksud aku, ya kalau ketemu tetangga ya sekedar say hai saja. Gak yang terlalu kenal dekat, beda dengan tinggal di pedesaan. Bahkan gak jarang, ada orang yang gak kenal sama sekali siapa tetangga disamping rumahnya. Begitulah hidup di kota." Ujar Alexa panjang lebar.
"Kau benar." Balas Morgan.
Keduanya kembali melanjutkan perjalanan. Morgan juga sempat mengambil beberapa foto di beberapa tempat yang mereka lewati sepajang perjalanan pulang.
Matahari sudah tinggi, keduanya sudah tiba di komplek perumahan.
"Dua bulan tinggal disini, aku belum pernah melihatmu keluar untuk jogging seperti hari ini." Ucap Morgan. "Kau harus lebih sering melakukannya, terlebih bersamaku." Goda Morgan.
"Boleh saja." Balas Alexa singkat.
"Kau harus lebih sering jogging, karena ada banyak manfaat yang bisa kau dapatkan. Selain sehat, pastinya, karena setiap olah raga apa saja pasti menyehatkan baik badan maupun pikiran. Kedua, segar. Segala beban pikiran yang semula berat bisa menjadi ringan bahkan hilang. Dengan menghirup udara segar dan melihat pemandangan di luar bisa menyegarkan kembali otak kita." Ujar Morgan.
Alexa tersenyum, dalam hati ia membenarkan ucapan Morgan. Setidaknya dengan keluar rumah untuk jogging pagi ini, dia sedikit bisa melupakan Jackson dengan menghirup udara segar yang sekaligus bisa menyegarkan otaknya kembali.
'Semangat Alexa.' teriak Alexa menyemangati dirinya sendiri dalam hati.
Bersambung.....
Jangan lupa tinggalkan like, komen, vote dan beri hadiah juga ya.... 🥰