
Alexa bersiap-siap untuk segera berangkat menujumu Hotel Royal. Ia lebih dulu pergi ke toilet, bercermin untuk memperbaiki makeup nya agar terlihat lebih fresh saat bertemu Jackson nanti. Alexa memolesi bibirnya dengan sedikit liptin. Setelah siap, ia pun berangkat.
Tiba di hotel, Alexa langsung berjalan ke arah ruangan yang dikatakan Jackson. Ia menemukan ruangan perjamuan, lalu memasuki ruangan perjamuan itu. Jackson terlihat tengah meminum wine dengan rekan-rekan bisnisnya. Alexa berjalan ke arah Jackson yang duduk santai dengan menaruh kaki diatas meja.
"Apakah kau bisa minum?" Tanya Jackson pada Alexa.
"Sedikit Tuan. Kalau minum terlalu banyak kaki saya akan jadi lemas." Balas Alexa.
"Kalau begitu, kau tidak perlu untuk minum. Berdiri saja disitu dan sisanya tunggu perintah dariku."
Alexa mengangguk, dalam hatinya ia bergumam kesal karena tak dipersilahkan untuk duduk oleh Jackson.
'Pria macam apa ini? Tega sekali membiarkan wanita untuk berdiri. Siapa yang tahu kapan acara ini akan selesai. Bisa jadi aku akan berdiri seharian.'
Jakson dan rekan-rekan bisnisnya di perjamuan tengah serius membicarakan kasus akuisisi. Alexa yang berdiri di dekat Jackson hanya bisa mendengar dan sesekali tersenyum.
“Kudengar Morgan William juga mau ikut campur dalam akuisisi kali ini.” Ucap salah seorang rekan bisnis Jakson.
Jackson menggoyangkan gelas anggurnya, lalu berkata, “Kalian tahu sendiri orang itu memang tidak bisa diam, dia terlalu tamak.”
"Benar. Apalagi yang menyangkut Presdir Jackson. Si Morgan itu pasti selalu ikut campur.
Seorang pria berkata, “Kita lihat saja gimana Presdir Jackson menekannya.”
Jackson, “Dia bukan lawan ku.”
Alexa yang berada di sampingnya tersenyum ringan mendengar perkataan Jackson.
'Tenyata Jackson benar-benar pria yang sombong.' pikir Alexa dalam hati.
Senyuman manis dan penampilan Alexa yang menggoda, menarik perhatian para rekan bisnis Jackson, seseorang berkata, “Presdir Jackson ganti sekretaris?”
Jackson berkata, “Dia asisten pribadi yang Dion perkenalkan padaku, nggak pintar, nggak juga bodoh."
'Apa-apan sih dia.' lagi Alexa hanya bisa ngedumel dalam hati.
Seorang pria berkata, “Pacar idamanku dulu sangat mirip dengan asisten Presdir Jackson.”
Alexa lalu menatap pria yang mengenakan jas warna abu-abu itu. Alexa mencoba mengingat-ingat wajahnya.
“Oh iya?” Jackson jadi agak tertarik, dia lalu bertanya pada Alexa, “Siapa namamu?”
Wajah Alexa sontak terkejut setelah mendengar pertanyaan Jackson. Dia sudah mengikuti Jackson selama hampir 2 minggu, tapi Jackson masih belum ingat namanya.
'Aku yakin ingatannya sangat bagus, kecuali dia memang tidak peduli padaku.'
“Alexandra yang artinya penolong atau pelindung."
"Wajahnya benar-benar mengingatkan aku pada mantan kekasihku." Lagi-lagi ucap pria berjas biru itu.
"Apakah dia mantan kekasihmu?" Tanya Jackson pada Alexa.
Sontak saja Alexa menggeleng dengan keras.
"Bisa jadi Anda salah orang. Saya belum pernah berpacaran sekalipun. Dan apakah nama kekasih Anda juga Alexa?"
Jackson menatap Alexa yang tersenyum ke arah pria itu.
"Kalau begitu kalian berkenalan saja." Ucap Jackson. "Dia Mario rekan bisnisku." Jackson memperkenalkan pria itu pada Alexa.
Mario menjulurkan tangan kehadapan Alexa. Alexa membalas uluran tangan itu dengan tersenyum.
'Semoga saja dia tidak mengenaliku.'
Mario nyatanya merupakan salah seorang pria yang pernah digoda Alexa. Dia adalah kekasih dari seorang wanita teman sekolah Alexa di masa SMA. Wanita itu sering membully Alexa dimasa dirinya masih bertubuh gendut. Dan untuk membalaskan dendamnya, Alexa pun merebut kekasih dari wanita itu. Padahal wanita itu dan Mario sudah bertunangan.
"Hei, kenapa kau terus memandangnya?" Tanya Jackson pada Mario.
"Ah, tidak. Aku hanya terpana dengan kecantikannya." Jawab Mario tersenyum.
Sementara para pria lain tak mau kalah, mereka juga meminta untuk berkenalan dengan Alexa dan meminta nomor ponsel Alexa dengan alasan agar mudah untuk bekerjasama dengan Jackson.
Setelah perjamuan berakhir, para pria itu memilih mengobrol dengan Alexa. Alexa yang duduk di tengah-tengah membuatnya jadi pusat perhatian para pria yang mulai mabuk itu.
"Alexa, jika aku melamar mu. Apa kau mau menjadi istriku?"
"Jangan mau Alexa. Dia itu sudah punya isteri dan dua orang anak."
"Dengan aku saja. Aku masih bujangan."
"Dia itu bujang lapuk. Lebih baik denganku yang masih muda, fresh dan juga mapan." Ucap Mario.
Keempat orang pria itu terus berebutan perhatian pada Alexa. Alexa hanya bisa tersenyum sambil sesekali menuangkan minuman untuk mereka.
'Sudah seperti seorang bartender aja.' gumam Alexa dalam hati.
Sementara itu, Jackson terlihat tidak perduli dengan apa yang tengah terjadi dihadapannya. Dia seolah membiarkan Alexa berada di dalam kepungan para pria mabuk itu. Setelah situasi sudah tidak terkendali, semua pria sudah sangat mabuk termasuk Jackson. Alexa pun mengajak Jackson untuk segera pergi.
Alexa memapah tubuh Jackson untuk keluar hotel. Jackson lalu mulai merokok setelah masuk ke dalam mobil, suasananya sangat sunyi, tapi malah membuat orang sangat terpesona melihat Jackson yang terlihat menawan.
Alexa duduk di kursi di pengemudi, lalu melihat langit malam dan cahaya oranye menyatu dan menyinari wajah Jackson. Asap-asap berterbangan, sosoknya tampan dan juga dingin. Setelah terbiasa melihat Jackson yang tidak tersenyum dalam balutan setelan kerja. Dia yang saat ini mengenakan sebuah model kemeja berwarna fuchsia yang mencolok, dengan kancing yang tidak rapi, tulang selangkanya dicemari oleh cahaya lampu, dan mulutnya sedang menghisap setengah puntung rokok membuat Alexa terpana.
Tepat saat Alexa sedang memikirkan cara untuk memanfaatkan kesempatan malam ini, Jackson mematikan rokoknya, “Tampan?”
Alexa belum tersadar dengan apa yang dia katakan, “Apa yang Anda katakan?”
“Gue tampan nggak?” Jackson berkata dengan sedikit mabuk, lalu mencondongkan tubuhnya ke samping, matanya bertemu dengan mata Alexa.
Jantung Alexa berdegup dengan sangat kencang.
'Ada apa ini?' pikirnya.
Bersambung....
Jangan lupa untuk tinggalkan like, komen, dan kasih hadiah atau vote ya.... 🙏🙏🙏
Terima kasih....