Menjadi Wanita Penggoda

Menjadi Wanita Penggoda
MT 27: Perasaan Jackson


Jackson masuk ke dalam sebuah kamar yang sudah dihiasi penuh dengan taburan bunga. Ia berjalan mendekati ranjang dimana seorang wanita sudah duduk manis menunggunya. Gadis yang tak lain adalah Alexa itu, duduk ditepian ranjang dengan masih mengenakan pakaian pengantinnya.


"Siapa yang sangka, pada akhirnya aku malah menikahi kamu." Ucap Jackson.


"Karena kau tidak bisa menolak godaan dariku." Balas Alexa.


"Pria mana yang bisa menahan godaan darimu."


Jackson memeluk Alexa kemudian mulai menjamah tubuhnya. Mulai dari mencium keningnya, pipinya hingga area sensitif nya. Perlahan keduanya menanggalkan pakaian mereka hingga tak tersisa.


Untuk pertama kalinya, Jackson merasakan sensasi dari kulitnya yang bersentuhan dengan kulit seorang wanita. Ia merasa begitu puas menikmati apa yang dilakukannya.


"Aku mencintaimu." Bisik nya pada telinga Alexa..


"Aku juga." Balas Alexa.


Keduanya berciuman lalu memadu kasih sesuai dengan yang biasa dilakukan oleh pasangan pengantin baru yaitu, malam pertama.


Jackson begitu bahagia. Tak henti-hentinya ia membisikkan kata cinta di telinga Alexa. Hingga akhirnya ia mencapai puncak kenikmatan. Ia menciumi kening Alexa penuh kasih sayang. Alexa lalu bangun dari tempat tidur pergi ke kamar mandi, saat Jackson ingin mengikutinya, ia terjatuh ke lantai karena berguling dari tempat tidur kesisian.


Brukk!!!!!


"Aduhhh....." Jackson meringis kesakitan.


Saat bangkit, ia menyadari bahwa apa yang baru saja terjadi hanyalah sebuah mimpi.


'Kenapa bisa mimpi seperti itu?'


Jackson lalu melihat ke arah jam yang menempel di dinding yang menunjukkan pukul 5 dini hari. Ia lalu berjalan menuju kamar mandi.


'Tunggu dulu.'


Jackson berhenti melangkah. Ia menyadari ada suatu rasa yang tak enak dari celananya. Saat melihatnya, mata Jackson membulat sempurna. Ternyata celana tidurnya basah karena cairan kelakiannya.


"Apa-apaan ini?" Jackson semakin kaget. "Kenapa bisa sampai seperti ini?" Ucapnya lagi seraya bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.


Selesai mandi, Jackson berdiri di depan cermin dengan masih mengenakan jubah mandi. Ia menatap dirinya sendiri dengan rambut yang basah. Perlahan ia menyugar rambutnya dan tersenyum di depan cermin.


"Benar-benar mimpi yang aneh." Ucapnya seraya tersenyum.


Jackson masih tak habis pikir, kenapa ia bisa bermimpi seperti itu terlebih bersama Alexa. Ia sendiri secara jelas mengatakan pada Alexa bahwa ia sama sekali tidak akan tergoda karena dirinya. Bahkan, Jackson tidak akan pernah jatuh cinta padanya. Tapi, akhir-akhir ini entah apa yang terjadi, Jackson merasa seperti ada yang kurang jika tak melihat Alexa.


'Sedang apa wanita itu pagi-pagi seperti ini?' pikir Jackson.


******************


Suasana pagi hari dengan hawa dingin yang sangat menusuk batin. Sekujur raga terbelenggu dalam dinginnya pagi. Pagi hari berhias kabut yang sangat tebal. Kabut yang sangat tebal yang mendekap seluruh jiwa. Berselimut mantel sangat tebal yang menghangatkan sekujur raga Alexa.


Sang mentari menyapa pagi hari dengan senyumannya yang sangat mengagumkan hati. Senyumannya memancarkan kehangatan teriknya kala pagi hari yang sangat dingin. Alexa meraih kehangatan sang mentari dalam naungan jiwa yang dirangkul oleh hawa dingin pagi.


Burung-burung semuanya bertebaran saling bertegur sapa satu sama lain. Burung-burung bercuitan dengan lantunan yang menawan melodinya. Burung-burung yang beterbangan menyapa Alexa di pagi hari. Suasana jalan yang masih sepi memenuhi damainya hati Alexa.


Pagi, ini ia seolah enggan beranjak dari dalam apartemen. Ia duduk disamping jendela masih dengan mantel tebal menatap suasana pagi yang sedikit berkabut dari atas gedung apartemen miliknya.


Sebuah panggilan telepon memaksa Alexa beranjak dari tempat duduk menuju ke meja di samping tempat tidur.


"Halo..." Ucap seseorang dari seberang telepon.


"Ada kabar apa?" Tanya Alexa.


"Persidangan perceraian antara Pak Robby dan isterinya akan dilaksanakan besok."


"Hmmm baiklah, teruskan pekerjaanmu." Titah Alexa.


Sambungan telepon terputus, Alexa lalu menelepon Robby.


"Halo sayang. Bagaimana kabarmu? Tumben sekali kau menelepon Mas, pagi-pagi begini." Ucap Robby.


"Mas, aku mau tanya masalah surat pengalihan semua aset milikmu atas nama kakekku. Apa sudah kau lakukan atau belum?" Tanya Alexa tanpa basa-basi.


"Sudahlah sayang. Kenapa kau tidak percaya sekali sama Mas. Bukankah Mas sudah mengatakannya padamu kemarin lewat sms."


"Aku tidak percaya sebelum aku melihatnya. Lagi pula bukankah jadwal perceraian Mas akan diadakan dalam waktu dekat. Bagaimana jika Mas belum mengalihkan semua aset itu dan isteri Mas bisa mengambil alih semuanya."


"Gak akan sayang. Tenang saja."


"Gak bisa Mas. Bagaimanapun, aku akan menikah dengan Mas. Dan sebagai seorang wanita, aku gak mau munafik kalau aku juga memerlukan suami yang memiliki materi yang kuat agar bisa membiayai hidupku nanti. Aku emang sayang sama Mas, tapi kalau Mas tidak punya apa-apa, ya good bye saja."


"Ya ampuun sayang. Janganlah seperti itu. Kalau kamu gak percaya, datanglah ke kantor Mas hari ini. Kamu bisa lihat sendiri suratnya. Oh ya, besok sidang putusan semuanya. Setelah itu, kita bisa langsung menikah."


"Baik, aku akan segera kesana."


Alexa lalu bergegas masuk ke kamar mandi setelah sambungan telepon terputus. Mulai bersiap untuk menuju ke kantor Robby.


Sebelumnya Alexa sudah menelepon Maya, sekretaris Jackson untuk memberitahunya bahwa hari ini ia izin untuk tidak masuk kerja karena sakit.


Setelah selesai bersiap, Alexa segera berangkat ke kantor Robby. Pemandangan jalanan kota pagi ini membuatnya kagum. Tiada kendaraan setitik pun yang menyapa mengitari jalan yang sangat lurus. Alexa merasakan hangatnya sang mentari sembari menatap pohon-pohon berdiri tegak gagah dengan penuh wibawa yang tangguh. Pohon-pohon yang berdiri kokoh membuat Alexa kagum.


Kagum dirinya akan keberadaan pohon-pohon yang begitu menaungi jalanan dari goresan polusi kendaraan. Hijau menawan pohon-pohon yang menghiasi sudut jalanan. Ia merasakan nikmat karunia Tuhan yang terpancar dari kehangatan dan hawa dingin pagi hari.


Batin Alexa terasa sunyi merasakan segala kebesaran Tuhan atas segala hamparan pemandangan alam yang mempesona. Kalimat rasa syukur tiada lupa terucap dari lisan Alexa. Mobilnya berjalan di jalanan yang lengang sembari menatap sang surya sejenak.


Alexa menatap pula hamparan kabut tebal mendekap suasana indahnya pagi. Berjalan terus berjalan di jalanan yang lengang. Hingga ia mengabadikan sebuah momen indahnya pagi berhias pancaran sinar sang surya. Ia berhenti disebuah pinggiran danau buatan, untuk mengabadikan momen pagi dalam sebuah foto. Foto indahnya pagi hari berselimut kabut tebal akan menjadi ukiran yang berharga sepanjang hidupnya.


Terucap puja-puji kepada-Nya atas segala keberkahan keindahan alam pagi hari yang banyak memberi arti dalam hidup Alexa. Pagi hari memberi banyak kesan dan pesan dalam seluruh detak kehidupannya yang tiada lagi kesia-siaan.


'Entah kenapa, pagi ini terasa sangat begitu berbeda dan sangat indah.' ucap Alexa dalam hati.


Setelah perjalanan yang terasa begitu indah, Alexa tiba di kantor Robby yang sudah dipadati oleh para karyawan yang bergegas masuk ke dalam kantor. Memulai pekerjaan mereka dengan penuh semangat di pagi ini.


Alexa segera mengenakan masker dan kacamata hitamnya saat masuk ke dalam kantor Robby. Ia seolah menutup diri agar tak ada orang yang mengenalinya.


Saat melewati ruangan Lika, ia bergegas masuk kedalamnya.


"Hei." Sapa nya pada Lika.


"Ngapain kesini pagi-pagi?" Tanya Lika kaget.


"Mau ketemu Robby." Balasnya.


"Aduh aku tahulah soal itu. Emangnya kamu mau ketemu siapa lagi kalau dateng kesini. Maksud aku, ngapain ketemu Pak Robby pagi-pagi gini. Apa ada masalah penting?"


"Kepo banget sih." Balas Alexa. "Udah ya, aku masuk ke ruangan dia dulu. Entar ya, aku kabari. Kamu perkembangannya."


"Oke deh. Inget hati-hati." Pesan Lika. "Awas digigit." Sambungnya saat Alexa keluar.


Alexa bergegas masuk ke dalam ruangan Robby dan mendapatinya tengah menatap layar laptop dihadapannya.


"Mas...." Sapa Alexa.


"Sayang...." Robby segera bangkit dan langsung memeluk Alexa. "Mas kaget banget sama kamu." Lanjutnya.


"Aku juga Mas." Balas Alexa seraya membuka masker dan kacamatanya.


"Sebentar lagi sayang. Kau tidak perlu lagi datang dengan cara diam-diam seperti ini."


"Iya Mas." Alexa bergelayut manja di leher Robby.


Robby lalu menarik tangan Alexa dan memintanya untuk duduk diatas pangkuannya.


"Mana Mas, suratnya. Aku mau lihat." Ucap Alexa.


Robby lalu membuka laci mejanya dan mengambil sebuah Map, lalu memperlihatkannya pada Alexa.


"Makasih ya Mas." Ucapnya.


"Cium pipi doang? Gak mau yang lain?" Robby menggoda dengan mengusap bibir Alexa.


Sebelumnya, Alexa sama sekali tidak pernah mencium bibir Robby. Ia selalu berusaha menghindar.


"Lain kali aja Mas. Jangan sekarang. Takut ada yang lihat."


"Gak akan ada sayang. Ini kan ruangan aku."


Robby hendak mencium Alexa, namun suara pintu terdengar diketuk.


"Ada saja pengganggu." Ucapnya.


Seorang sekretaris Robby masuk dan memintanya untuk bersiap-siap karena meeting akan segera dimulai.


"Ya udah Mas pergi aja. Aku balik dulu. Entar kita ketemu lagi." Ucap Alexa setelah sekretaris Robby pergi.


"Tapi sayang, Mas masih kangen."


"Ya ampun Mas. Kita kan bisa ketemu nanti."


Akhirnya setelah Alexa memberikan ciuman di pipi Robby, ia pun bisa keluar dari ruangan Robby dengan membawa Map berisi surat kuasa itu. Setelah sebelumnya Robby sudah menyalinnya agar suatu saat bisa ditunjukkan pada Gea.


Alexa tersenyum penuh kemenangan menatap map yang dipegangnya saat berada di dalam.


'Ternyata semudah ini mendapatkan semuanya. Hanya dengan wajah cantik dan tubuh yang seksi, perlahan-lahan aku bisa merebut semuanya kembali.'


Mobil Alexa lalu melaju keluar dari pelataran parkir kantor Robby. Bergegas kembali ke apartemennya.


********


Sementara itu di kantor Jackson.....


Jackson bersiap-siap memasuki ruang meeting. Sejak pagi tadi ia merasa gelisah karena belum juga melihat sosok wanita yang menghantui tidurnya semalam.


Saat berjalan ke ruang meeting, ia bertanya pada Maya yang berjalan dibelakangnya.


"Maya, dimana si gadis energik itu?"


"Alexa?" Ucap Maya.


"Siapa lagi kalau bukan dia." Balas Jackson.


"Maaf Tuan. Saya lupa memberitahu Anda. Pagi tadi, dia meminta saya untuk memberitahu Anda bahwa ia minta izin untuk tidak masuk, karena tidak enak badan. Mmmm mungkin saja karena kejadian kemarin." Ujar Maya.


'Apa iya tidak enak badan? Bukannya semalam ia pergi ke pantai?' Tanya Jackson dalam hati.


'Atau jangan-jangan, dia memang tidak sehat karena masuk angin? Mengingat ia berada di pantai sampai larut malam.'


Pikiran Jackson jadi tidak fokus saat melakukan meeting dengan klien penting. Entah kenapa ia terus saja memikirkan kondisi Alexa.


'Aku harus menemuinya.'


"Bagaimana Tuan? Apa proyek ini bisa dilanjutkan?" Tanya seseorang pada Jackson.


"Hah! Apa tadi?"


Semua orang terlihat heran dengan tingkah Jackson yang nampak sangat jelas tidak berkonsentrasi pada meeting yang dilakukan. Berulang kali Jackson meminta kepada klien untuk mengulang presentasi mereka. Hingga ketiga kalinya ia terus menanyakan hal yang sama.


"Tuan, apa Anda sedang tidak enak badan?" Tanya Maya.


"Sepertinya begitu." Jawab Jackson.


Jackson lalu berdiri saat klien masih melakukan presentasi.


"Mohon maaf semuanya. Saya sedang tidak enak badan. Meeting kita lakukan lain kali." Ucapnya lalu keluar dari ruang meeting.


Semua orang menghela nafas. Meeting yang sudah berjalan selama dua jam berakhir sia-sia. Tak ada kesepakatan sama sekali.


Jackson berjalan masuk ke dalam ruangannya. Pikirannya kacau, tak tahu harus berbuat apa.


"Apa aku harus mengunjunginya?"


Jackson bertanya pda dirinya sendiri.


"Ah, tidak-tidak. Wanita itu bisa berpikir yang aneh-aneh jika aku tiba-tiba muncul di apartemennya."


Setelah begitu banyak pertimbangan, akhirnya Jackson memilih untuk pergi ke apartemen Alexa. Sepanjang perjalanan ia masih saja bergelut dengan pikirannya sendiri, antara meneruskan perjalanannya atau kembali ke kantor.


'Sialan. Kenapa aku bisa plin-plan begini.'


*********


Alexa nyatanya tidak langsung kembali ke apartemennya setelah kembali dari kantor Robby. Ia memilih untuk mampir di sebuah warung makan untuk mengisi perutnya, karena ia belum sempat sarapan. Setelah itu, ia memilih berhenti di danau yang sempat ia potret pagi tadi. Menikmati indahnya pagi sembari terus memeluk map yang diambilnya dari kantor Robby.


Setelah puas memandangi air danau buatan yang tenang, Alexa melanjutkan perjalanannya menuju apartemennya. Mobilnya berbelok masuk ke pelataran parkir.


Ternyata Jackson sudah tiba lebih dulu, namun belum juga beranjak keluar dari dalam mobil karena masih mengumpulkan keberaniannya untuk bertemu Alexa.


Sorot matanya berubah merah saat melihat sosok Alexa keluar dari dalam mobil dengan kondisi yang baik-baik saja.


"Apa itu? Bukankah dia izin untuk tidak masuk karena sakit?"


Jackson segera keluar dari dalam mobil menyusul Alexa yang sudah berjalan masuk ke dalam gedung apartemen.


Alexa berjalan sambil bersenandung dan masuk ke dalam lift. Sementara Jackson menyusul dibelakangnya. Ia segera menyusul dengan menaiki lift yang sebelah dengan menekan tombol yang sesuai dengan yang tertera pada lift yang Alexa naiki.


'Lantai 10.'


Saat keluar dari dalam lift, Alexa menerima telepon dari Robby.


"Halo Mas." Ucap Alexa manja.


"Kau dimana sayang?"


"Aku sudah sampai apartemen Mas."


"Entar malam kita ketemu ya?"


"Hmmmm gimana ya Mas. Entar kita lihat ya."


"Ya udah, Mas lanjut kerja dulu ya. I love you sayang."


"Iya Mas. Love you too." Balas Alexa.


Jackson yang mendengar semuanya, entah mengapa merasa begitu marah. Ia tak dapat mengontrol dirinya dan langsung menarik Alexa dari belakang dan mendorongnya ke tembok.


"Jack....."


Belum sempat Alexa melanjutkan ucapannya, Jackson sudah membungkam mulut Alexa dengan menaruh jari telunjuknya dibibir Alexa. Kening keduanya beradu, Alexa dapat merasakan nafas Jackson. Posisi kepala Jackson miring, bibir keduanya hampir bertemu. Alexa menutup matanya, darahnya berdesir. Tak tahu perasaan apa yang tengah berkecamuk di dalam dadanya. Tangan Jackson mencengkram kedua lengannya bertumpu pada tembok.


Setelah beberapa saat dalam posisi seperti itu, Jackson seperti kembali tersadar.


'Apa yang aku lakukan?' Pikirnya.


Jackson lalu melepaskan tangan Alexa kemudian berjalan cepat menjauh keluar dari gedung apartemen Alexa.


"Ada apa dengannya?" Ucap Alexa dengan memegang dadanya yang berdegup kencang.


Bersambung.....