Menjadi Wanita Penggoda

Menjadi Wanita Penggoda
MT 42: Penjelasan Alexa


Alexa bergegas menuju restoran tempat ia akan makan siang bersama kliennya untuk pertama kali. Alexa datang ke restoran sekitar pukul 12.40. Alexa sempat nyasar tidak tahu kearah mana. Entah mengapa GPS di handphone nya pun tidak terdeteksi. Setelah bertanya kepada orang, akhirnya Alexa tau posisi restoran yang akan ditujunya itu ternyata arah blok B dan tepat pinggir jalan. Setelah ia sampai di restoran, ia langsung bertemu dengan kliennya yang terlebih dahulu telah datang yaitu, Tuan dan Nyonya Baldev. Alexa dan mereka pun mulai ngobrol akrab.


Di samping bisa makan dengan sepuasnya apa yang disediakan restoran, pengunjung juga diberikan akses kepada kolam renang yang ada di sebelah restoran. Restoran yang didatangi Alexa nyatanya merupakan sebuah hotel yang memiliki restoran bintang 5. Dan ini merupakan kunjungan pertama Alexa ke tempat itu.


Makanan apa saja tersedia di restoran itu, mulai dari makanan ringan sampai makanan berat. Minuman juga bermacam-macam mulai dari jus yang sudah jadi maupun belum jadi atau bisa para pengunjung bisa memesan di tempat.


"Oh ya Nona Dara....."


"Panggil saya Alexa." Alexa memotong ucapan Nyonya Baldev.


"Baik." Balas Nyonya Baldev. "Saya harap, Nona Alexa bisa menikmati semua hidangan ini." Lanjutnya seraya menyenggol lengan sang suami.


Alexa memandang menu yang tersedia diatas meja. Ternyata kedua pasangan awet muda di depannya itu memesan Tepan Yaki, makanan khas dari Jepang.


"Mmm Nona Alexa, sebelumnya kami mau mengucapkan terima kasih karena Anda tetap mau bekerja sama dengan kami PT Samudera Jaya, mengingat apa yang baru saja terjadi pada...."


"Samudera Jaya!" Seru Alexa kaget.


"Iya, tidak kah sekretaris Nona Da..., mmmm maksud saya Nona Alexa memberitahu Anda sebelumnya bahwa kami adalah klien dari PT Samudera Jaya." Ucap Nyonya Baldev.


Alexa masih terdiam, pandangannya kosong.


"Oh ya Nona Alexa, hari ini kebetulan putera saya berada di dekat sini. Maukah anda bertemu dengannya sebentar saja. Sekarang dialah yang memegang tahta dari PT Samudera Jaya. Namanya Harry Jackson, dia sekarang yang menjabat sebagai CEO perusahaan."


'Jackson!' ucap Alexa dalam hati.


Alexa mulai dilanda kegugupan, ia tak bisa bertemu Jackson dalam situasi seperti ini.


'Apa yang akan dikatakan dan pikirkan Jackson tentang aku nanti?'


"Saya permisi ke toilet dulu." Ucap Alexa terbangun dari duduknya ingin segera menghindari pertemuannya dengan Jackson.


Tepat saat Alexa berbalik hendak berjalan Jackson sudah berdiri di depannya dengan tatapan dingin. Keduanya saling menatap, Alexa bahkan tak dapat mengartikan arti dari tatapan Jackson padanya.


"Jackson...!" Seru Nyonya Baldev.


Ia dengan cepat berjalan ke arah Jackson dan memegangi pundaknya.


"Nona Alexa, perkenalkan ini putera semata wayang kami...."


"Harry Jackson." Ucap Jackson menyeka ucapan Nyonya Baldev seraya menjulurkan tangannya kehadapan Alexa.


Alexa terdiam, ia mematung menatap Jackson yang berdiri dihadapannya seolah tak mengenal dirinya.


"Hei Nona. Aku tahu aku ini sangat tampan, tapi kau tidak perlu sampai seperti itu." Ucap Jackson lagi.


Nyonya Baldev menepuk pundak Jackson.


"Kau ini." Ucapnya.


Alexa tak menyambut uluran tangan Jackson, ia hanya mengangguk sopan. Semua orang, termasuk Alexa kembali duduk. Posisi Jackson duduk berhadapan dengan Jackson. Sorot mata Jackson yang terus memandang Alexa tajam, membuat perasaan Alexa menjadi tidak tenang.


"Oh ya, Nona Alexa. Ku dengar kau ini saudara dari Jennie mantan kekasihku." Ucap Jackson blak-blakan.


Nyonya Baldev menyenggol lengan Jackson, namun Jackson tak bergeming. Sementara Alexa hanya bisa tersenyum canggung.


"Itu benar." Ucap Alexa.


Deg!


Mata Jackson tak lepas memandang Alexa, kali ini semakin tajam, hingga membuat Alexa salah tingkah. Alexa meneguk air putih yang ada didepannya hingga tandas.


"Hmmmm...." Jackson duduk bersandar dengan melipat tangannya. "Dimana Nona Alexa berada selama ini? Kenapa baru kembali sekarang?" Tanya Jackson lagi.


Alexa menghela napas panjang, ia tak ingin membicarakan semuanya dengan situasi seperti ini. Ditambah ada orang lain yang mendengar semuanya. Alexa ingin berbicara berdua dengan Jackson.


"Kenapa diam Nona... Dara Alexandra?" Ucap Jackson lagi. "Apa Nona Alexa tidak merasa bersalah karena memenjarakan saudara Nona sendiri? Atau....."


"Mohon maaf Tuan dan Nyonya Baldev, saya rasa pertemuan kita cukup sampai disini. Saya datang kemari untuk membahas pekerjaan, bukan masalah pribadi." Ucap Alexa seraya berdiri.


Jackson tersenyum sinis, ia ikut berdiri saat Alexa berdiri.


"Kenapa Nona Alexa? Apakah Anda mengakui bahwa...."


"Tidak ada yang perlu saya akui kepada Anda, Tuan Harry Jackson." Balas Alexa lalu mengangguk ke arah Tuan dan Nyonya Baldev lalu pergi.


Tuan dan Nyonya Baldev ikut berdiri dan hanya bisa terdiam memandang kepergian Alexa. Nyonya Baldev berbalik dan menatap Jackson tajam.


"Kenapa?" Tanya Jackson. "Kenapa Mama melihatku seperti itu?"


"Apa maksud kamu mempertanyakan semua itu pada Nona Alexa." Ucap Nyonya Baldev balik bertanya.


"Bukan urusan Mama." Balas Jackson lalu beranjak pergi.


Tuan Baldev hanya bisa menggelengkan kepalanya. Ia sangat mengetahui sifat keras kepala putera nya itu.


Alexa tak langsung menuju mobilnya, ia bergegas menuju toilet. Ia memandang dirinya di cermin, mengusap wajahnya kasar. Tanpa di duga dari arah belakang muncul Jackson yang berdiri di pintu masuk toilet. Alexa langsung berbalik menatap Jackson yang tersenyum sinis.


"Apa yang kau lakukan disini?" Ucap Alexa.


"Aku mengikuti kekasihku." Jawab Jackson santai.


"Apa kau tidak tahu tempat. Ini toilet khusus wanita."


"Aku tidak perduli."


Jackson perlahan mendekat ke arah Alexa, membuat Alexa berjalan mundur hingga ia tersudut.


"Apa yang kau lakukan?" Pekik Alexa.


"Aku butuh jawaban."


"Tidak disini." Ucap Alexa.


"Lalu, mau dimana? Apa kau mau di apartemen ku, atau di hotel?" Tanya Jackson. "Mmmmm atau kau ingin aku meniduri mu?"


"Bicara apa kau." Teriak Alexa lalu mendorong Jackson dan berlari keluar toilet.


Alexa bergegas menuju mobilnya, namun Jackson tak kalah cepat. Ia mengejar Alexa dan berhasil menariknya hingga menyeret Alexa masuk ke dalam mobilnya.


"Lepaskan aku." Ucap Alexa.


"Sekarang jelaskan padaku tentang semua ini." Jackson memberikan surat yang diberikan Jennie padanya.


Alexa membacanya perlahan, matanya memicing. Ia tak habis pikir, bagaimana bisa Jennie mengirimkan surat pada Jackson dan memutar balikkan semua fakta yang ada.


"Semua yang di katakan Jennie tidak benar." Jawab Alexa.


"Lalu bagaimana kebenarannya?" Tanya Jackson lagi.


"Aku memang pergi dari rumah selama ini. Tapi bukan karena kabur, melainkan mereka semua yang sudah berusaha membunuhku."


Raut wajah Jackson terlihat terkejut.


"Sejak tadi pagi, aku ingin menjelaskan semua ini padamu. Tapi, aku belum mendapatkan waktu yang tepat." Ujar Alexa. "Aku pernah menikah dengan Robby."


Ucapan Alexa membuat Jackson semakin terkejut.


"Di malam pernikahan kami, aku malah mendapati Robby tengah bergumul dengan Gea. Malam itu juga karena terkejut, Papa mengalami serangan jantung hingga membuat nyawa Papa tak bisa diselamatkan. Setelah itu, mereka semua malah mencoba membunuhku dengan membuang aku ke jurang. Dan, disinilah aku sekarang. Kakek Parman dan Nek Aminah adalah orang yang menolongku hingga aku bisa selamat." Alexa menghela napas panjang kala kembali mengingat semua kejadian itu.


Suasana hening beberapa saat, Alexa yang duduk disamping Jackson di dalam mobil memandang ke arah depan.


"Dua tahun aku bertahan hidup bersama mereka di entah berantah. Setelah itu aku kembali dengan jati diri yang baru. Kembali untuk....."


"Balas dendam." Ucap Jackson menyambung ucapan Alexa.


Alexa mengangguk.


"Jadi, kau memang sudah merencanakan semuanya untuk balas dendam pada mereka. Termasuk dengan merusak rumah tangga Gea dan Robby?" Alexa kembali mengangguk. "Jadi, kau mendekatiku juga karena ingin membalaskan dendam mu pada Jennie?"


"Aku bisa menjelaskan semuanya." Ucap Alexa.


"Apalagi yang ingin kau jelaskan?" Ucap Jackson dengan raut wajah kecewa. "Aku bisa mempercayai semua yang kau katakan tentang kejahatan yang mereka lakukan terhadapmu. Tapi, terlepas dari itu semua ternyata kau mendekatiku selama ini hanya untuk membalaskan dendam mu."


"Tidak seperti itu. Aku...."


"Apa?" Ucap Jackson dengan nada yang meninggi. "Sekarang katakan. Kau mendekatiku memang karena ingin membalas dendam pada Jennie kan?"


Alexa terdiam, membuat Jackson kesal dan memegang kedua pundaknya.


"Katakan?" Teriak Jackson.


"Iyaaa...." Balas Alexa tak kalah berteriak. "Aku memang mendekatimu karena ingin membalaskan dendam ku pada Jennie dengan merusak hubungan kalian." Ujar Alexa. "Tapi itu dulu, sekarang....."


"Sekarang apa?" Potong Jackson. "Apa kau ingin mengatakan bahwa kau benar-benar jatuh cinta kepadaku?" Jackson mendorong tubuh Alexa dengan kasar. "Jangan berharap aku akan percaya pada wanita yang rela menjajakan tubuhnya demi membalaskan dendamnya."


"Jackson dengarkan aku dulu."


"Aku tidak ingin mendengarkan apapun lagi. Hubungan kita berakhir disini. Aku tidak ingin melihatmu lagi. Hubungan kerjasama perusahaan kita juga berakhir. Sekarang keluar dari mobilku."


"Jack....."


"Cukup. Aku bilang keluar, aku tidak mau mengenalmu lagi."


"Tapi Jack...."


"Keluaaaaarrr....." Teriak Jackson murka.


Mata Alexa memanas, ia berusaha menahan air matanya agar tak jatuh.


"Aku menyesal pernah mengenalmu. Aku menyesal pernah menyentuhmu. Tak bisa ku bayangkan sudah berapa banyak pria yang pernah menyentuh dirimu. Membayangkan semua itu membuatku mual." Ucap Jackson. "Sekarang cepat keluar. Aku muak melihat wajahmu. Aku jijik bila mengingat bahwa aku pernah....." Jackson tak melanjutkan ucapannya karena ia melihat air mata Alexa jatuh berlinang.


Jackson mengalihkan pandangannya. Ia paling tidak bisa melihat seorang wanita menangis, terutama pada wanita yang mengisi relung hatinya.


"Keluar." Ucap Jackson lagi. "Jangan buat aku kehilangan kesabaran ku."


Alexa mengusap air matanya lalu berusaha tersenyum.


"Terima kasih karena sudah memberikanku kesempatan sebagai kekasihmu meski hanya 24 jam. Aku harap kau bisa bahagia dengan keputusan yang kau buat ini." Ucap Alexa.


"Tentu saja. Sekarang keluar."


Alexa lalu keluar dari dalam mobil Jackson. Ia beralih menuju mobilnya dengan mata yang memerah.


'Berakhir sudah.' ucap Alexa dalam hati.


Mobil Jackson terlihat keluar dari parkiran hotel dengan kecepatan tinggi. Alexa hanya bisa menatapnya dari dalam mobil. Alexa menghela napas panjang dan mendongak.


"Semangat Alexa. Mari mulai hidup baru mu dengan baik." Ucap Alexa menyemangati dirinya sendiri.


Mobil Alexa lalu meninggalkan parkiran dengan perlahan. Ia mengambil ponselnya lalu mulai menelepon Laura.


"Urus semua pemutusan kerjasama dengan perusahaan Samudera Jaya." Ucap Alexa.


"Kenapa Nona?" Tanya Laura.


"Kau tidak perlu tahu apa alasannya. Kerjakan saja." Titah Alexa.


"Baik Nona." Balas Laura.


Alexa lalu mematikan sambungan telepon. Ia optimis dengan menyibukkan diri pada pekerjaan. Ia bisa dengan cepat melupakan Jackson.


"Toh, baru satu bulan berkenalan. Akan dengan mudah melupakannya." Ucap Alexa penuh semangat.


Sementara di tempat lain, Jackson tak henti-hentinya berteriak di dalam mobil yang di kendarai nya dengan kecepatan tinggi. Ia mengutuk dirinya sendiri karena terlalu cepat membuka hati untuk Alexa yang baru saja di kenalnya. Jackson merasa menjadi pria yang begitu bodoh karena dengan cepat tergoda oleh Alexa.


"Bisa-bisanya aku di permainkan oleh wanita." Ucapnya kesal. "Aaaaarrrggghhhh.... Sial.... Sial.... Sial....."


Mobil Jackson mendadak berhenti karena lampu merah. Mata ya memerah, Jackson menunduk hingga membuat dahinya mengenai stir mobil. Ia lalu dibuat terkejut oleh sebuah ketukan di jendela mobilnya. Terdapat seorang kakek tua yang menjajakan dagangannya berupa kerupuk. Jackson kembali mengingat Alexa.


'Jika dia yang melihat kakek itu, dia pasti tidak akan segan turun dari dalam mobil untuk memborong dagangannya.'


Jackson kembali menggeleng.


"Tidak. Untuk apa aku masih mengingatnya. Wanita itu penipu."


Jackson tak menghiraukan kakek itu. Ia mengalihkan pandangannya membuat kakek itu akhirnya pergi. Namun, melihat Kakek itu terlihat berjalan membungkuk membuat Jackson merasa iba. Ia membuka jendela dan kembali memanggil kakek itu.


Kakek itu kembali, Jackson memberikan sejumlah uang. Namun kakek itu menolak.


"Saya tidak meminta-minta. Saya berdagang." Ucap Kakek itu.


"Kalau begitu anggap saya memborong dagangan Kakek. Kakek tinggal membagikan saja pada orang-orang." Ucap Jackson.


Jackson lalu kembali menutup jendela mobilnya. Saat lampu kembali menyala hijau, ia melanjutkan perjalanannya.


Bersambung....


Jangan lupa tinggalkan like, komen, vote dan beri hadiah juga ya.... 🥰