Menjadi Wanita Penggoda

Menjadi Wanita Penggoda
MT 21: Mempermainkan Robby


Robby akhirnya sadarkan diri, setelah beberapa menit dalam keadaan pingsan. Namun ia tak bisa melihat apapun, karena matanya tertutup dengan kain hitam. Sementara kedua tangannya diikat di kepala dipan.


"Sayang, apa yang kau lakukan? Kenapa bermain-main seperti ini."


Robby mengira bahwa Alexa yang melakukan semuanya. Pada kenyataannya, wanita yang diperintahkan Alexa duduk disamping Robby dan mulai mengelus pipi Robby hingga membuat pria yang sudah tak mengenakan sehelai benang itu merasa geli.


"Sayang, apa kau ingin memegang kendali?" Tanya Robby lagi.


"Hmmm...." Balas wanita itu berpura-pura menjadi Alexa lalu mulai melakukan aksinya.


Robby hanya bisa menerima perlakuan dari wanita yang dipikirnya adalah Alexa itu tanpa dapat melakukan apapun.


"Terus sayang..." Ucap Robby.


Wanita itu semakin liar, hingga membuat Robby kelelahan.


"Mas tak menyangka, kau bisa melakukan semua ini sayang. Tolong buka penutup mata ini. Biarkan Mas melihat tubuhmu." Rengek Robby.


Wanita itu tak bergeming dan terus melancarkan aksinya hingga Robby tak bertenaga karena sudah mencapai puncak kenikmatannya.


Selesai melakukan pekerjaannya, wanita itu lantas masuk ke dalam kamar mandi membersihkan dirinya lalu kembali keluar dan menutup tubuh Robby dengan selimut.


"Sayang, tolong buka dulu." Rengek Robby.


Wanita itu lagi-lagi tak menghiraukan ucapan Robby. Ia malah memilih untuk segera keluar kamar.


Mendengar suara pintu terbuka, Robby pun berteriak.


"Sayang, mau kemana? Lepasin ikatan Mas dulu."


"Mau ambil makanan Mas." Jawab Alexa yang ternyata sudah berdiri di depan pintu.


Alexa mengangguk saat wanita suruhannya itu menggerakkan kepala seolah pamit kepadanya.


"Buka dulu dong sayang. Masa gak kasian sama Mas." Ucap Robby lagi.


Meski ragu, demi membuat Robby percaya dengan apa yang baru saja terjadi, Alexa pun mendekati Robby lalu membuka penutup matanya.


"Ah, sayang. Kau cantik sekali." Ucap Robby setelah melihat Alexa. "Sekarang buka ikatan Mas ini. Setelah itu, kita mandi bareng ya."


"Gak ah. Aku mau pulang." Balas Alexa.


"Loh kok gitu? Kita udah di hotel dan bayar biayanya untuk semalam. Masa mau pulang gitu aja. Gak kau main lagi? Kali ini biarin Mas yang pegang kendali." Robby mengerlingkan matanya ke arah Alexa.


"Capek Mas." Balas Alexa manja.


"Ayolah sayang, cepetan buka ikatan ini."


Seperti yang telah direncanakan Alexa sebelumnya. Ponsel Alexa berdering tepat waktu. Ia lalu menjawab panggilan telepon yang sudah diaturnya itu.


"Siapa?" Tanya Robby.


"Pengawal aku Mas." Balas Alexa.


"Sejak kapan kamu punya pengawal?" Tanya Robby heran.


"Sssshhhh...." Alexa menaruh jari telunjuk di bibirnya. "Jangan berisik Mas. Sepertinya ini penting."


Alexa dengan sengaja menekan tombol speaker agar Robby bisa ikut mendengarkan.


"Halo...." Ucap Alexa.


"Apa?" Robby terdengar kaget.


"Tolong jangan tunggu waktu lagi Nona. Keluar sekarang juga karena isteri Pak Robby sudah masuk ke dalam lift. Saya takut dia akan mendapati Nona dan Pak Robby berduaan di kamar."


Tanpa pikir panjang, Alexa segera membuka pintu dan hendak keluar.


"Sayang, setidaknya buka ikatan Mas dulu." Teriak Robby.


Alexa berbalik dan membuka ikatan tangan Robby yang sebelah kiri, setelah itu bergegas menuju pintu keluar.


"Maaf Mas. Aku harus pergi sekarang juga. Sisanya Mas yang urus. Aku gak mau sampai diapa-apain sama isteri kamu." Ucap Alexa lalu berlari kecil menuju tangga darurat agar tak bertemu dengan Gea jika melewati lift.


"Aaaaarrrrghhh.... Sialan." Teriak Robby. "Apa benar Gea kemari? Kalau memang iya, bagaimana bisa dia mengetahui aku berada disini." Lanjut Robby seraya berusaha membuka ikatan tangannya yang sebelah kanan.


Benar saja, Gea akhirnya tiba di pintu kamar hotel. Robby yang sudah berhasil melepaskan ikatan pada tangannya sontak kaget bukan kepalang melihat sosok Gea yang berjalan mendekatinya yang dalam keadaan tak mengenakan apapun, dan hanya tertutup selimut.


"Ge.... Ge.... Gea!" Mendadak Robby menjadi gagap.


Dia sebenarnya gugup bukan karena bertemu isterinya dalam keadaan seperti itu, tapi lebih kepada ketakutan jika Gea sempat bertemu Alexa.


"Dimana wanita itu Mas?" Teriak Gea seraya berjalan ke arah kamar mandi.


Gea mencari keberadaan wanita di dalam kamar hotel Robby. Namun, tak menemukan bukti apapun tentang keberadaan wanita yang selama ini disebutnya sebagai pelakor.


Saat Gea sibuk mengobrak-abrik isi kamar hotel, Robby dengan cepat bangun dan mengambil jubah mandi untuk menutupi tubuhnya.


"Apa yang sudah kamu lakukan dengan wanita penggoda itu Mas?" Gea mulai terisak saat melihat sosok suaminya itu berdiri di samping tempat tidur dengan melipat tangannya. "Dimana wanita murahan itu?" Teriak Gea.


"Untuk apa kau bertanya apa yang aku lakukan disini? Lebih baik kau pergi sekarang juga dari sini. Aku muak melihatmu." Balas Robby.


"Mas, sebenarnya apa kelebihan wanita itu hingga membuatmu berpaling dariku?"


"Banyak, dia cantik, seksi dan yang paling utama adalah jago diatas ranjang. Berbeda denganmu yang hanya bisa mendesah tidak jelas." Ejek Robby.


"Kurang ajar kau Mas. Dasar lelaki hidung belang." Teriak Gea.


"Udah tau begitu, kenapa kamu masih ngotot untuk tidak mau bercerai."


"Aku janji kita akan bercerai dan aku pastikan kamu gak akan dapat sepeserpun dari harta gono gini kita. Apalagi hari ini aku sudah punya bukti bahwa kamu berselingkuh. Hal itu akan membuatku bisa memenangkan pengadilan." Ucap Gea penuh percaya diri.


"Pffftttttt...... Hahahahaha.... Bukti apa yang kau miliki Gea? Apa kau akan mengatakan pada pengadilan nanti bahwa kau mendapati aku tengah tidur dengan wanita lain? Mana buktinya? Apa kau melihat ada gadis lain disini? Atau paling tidak apa kau punya bukti video atau gambar yang menunjukkan aku tengah tidur dengan wanita lain?" Cecar Robby.


Raut wajah Gea semakin memerah. Ia tak terima dengan perlakuan yang ditunjukkan suaminya itu.


"Oke, aku emang gak punya bukti apapun sekarang. Tapi, ingat baik-baik. Semua aset yang kau miliki sekarang itu adalah milikku. Jadi aku akan pastikan bahwa kau akan jatuh miskin." Ucap Gea.


"Hahahaha mau ngelawak tapi tidak lucu." Robby terbahak. "Apa yang bisa kau lakukan? Sementara selama ini, kau hanya bisa diam di rumah mengurus anak. Hahahaha jangan mimpi kamu."


"Cukup Mas." Teriak Gea.


Alexa yang ternyata menguping dari luar kamar, tampak menyeringai. Semua yang ia rencanakan akhirnya berhasil.


"Keluar." Teriak Robby.


Meski penuh amarah, Gea tak bisa melakukan apapun selain keluar dari kamar hotel itu. Sementara Alexa yang mendengar langkah kaki Gea, kembali berlari ke tangga darurat untuk bersembunyi.


Setelah memastikan Gea sudah pergi, Alexa kembali masuk ke dalam apartemen menemui Robby.


Bersambung.....