Menjadi Wanita Penggoda

Menjadi Wanita Penggoda
MT 31: Pembalasan


"Siapa dia?" Tanya Jennie dengan raut wajah penuh amarah.


Jackson mendekat ke arah Jennie yang berdiri dengan memegang sebuah kantung berisi makanan.


"Kamu kapan balik dari...."


"Aku tanya, siapa dia?" Teriak Jennie lagi tepat di depan wajah Jackson.


"Saya Alexa." Ucap Alexa.


"Heh, pelakor. Aku gak nanya sama kamu ya." Jennie menekan pundak Alexa yang membuatnya sedikit terdorong.


Alexa berdiri tegak dan menatap Jennie tajam.


"Jaga bicara Anda ya. Saya bukan pelakor. Lagian Tuan Jackson juga bukan suami Anda." Ucap Alexa dengan berani.


"Berani kamu ya?" Jennie berteriak dan hendak menarik rambut Alexa yang tergerai.


"Cukup Jen." Kali ini Jackson yang berteriak. "Kamu dengerin dulu." Lanjutnya.


"Apa yang harus aku dengar lagi? Kamu mau nyangkal apa? Kamu mau bilang dia bukan siapa-siapa gitu?" Teriak Jennie. "Kamu mau aku berpikir positif setelah mendapati kamu dengan seorang wanita murahan yang mengenakan kemeja kamu ini? Ha!" Lagi-lagi Jennie berteriak. "Aku datang malam-malam begini mau ngasih kejutan buat kamu, dan kamu yang malah ngasih aku kejutan dengan hal ini."


"Jen...."


"Cukup. Aku benar-benar gak nyangka selera kamu bisa jadi murahan seperti ini."


"Hei, jaga bicara Anda ya." Ucap Alexa.


"Aku tidak bicara denganmu ******. Aku bicara dengan calon suamiku." Jennie menunjuk-nunjuk Alexa. "Dan kau...." Lanjutnya menunjuk Jackson. "Apa lebihnya wanita ini sampai kau melakukan ini padaku. Sebentar lagi kita menikah, kau malah memasukan wanita lain ke apartemen mu dimalam-malam begini. Aku sendiri sebagai kekasihmu tidak pernah...."


"Cukup Jen. Aku lelah mendengar ocehan mu. Sekarang katakan, apa yang kau inginkan?"


Jennie terdiam.


"Kau menganggap aku bermain dibelakang mu? Oke fine. Akan aku lakukan sekarang juga." Ucap Jackson.


Jackson menarik tangan Alexa lalu memegang dagunya kemudian mencium Alexa tepat didepan wajah Jennie. Alexa awalnya begitu kaget, namun rasa ingin balas dendamnya pada Jennie membuatnya malah membalas ciuman Jackson. Tanpa malu keduanya berciuman panas dihadapan Jennie.


"Hentikaaaan...." Teriak Jennie menarik Jackson.


"Kenapa?" Tanya Jackson. "Bukankah kau menuduhku berselingkuh? Bukankah kau mengatakan seleraku adalah dia. Biar aku katakan padamu, mulai hari ini kita putus. Jangan pernah temui aku lagi." Ucap Jackson.


"Apa?" Teriak Jennie. "Gak, aku gak mau kayak gini."


"Terus mau kamu apa?" Tanya Jackson. "Kamu sendiri yang menuduhku berselingkuh. Jadi bukankah seharusnya kau memutuskan hubungan kita?"


"Tidak, aku tidak mau. Aku tahu wanita ****** ini yang menggoda mu. Ku mohon, jangan putus denganku." Jennie mulai terisak.


Alexa merasa begitu senang melihat Jennie musuh bebuyutannya menangis.


"Jujur saja, sejak awal aku tidak pernah menyukaimu. Jadi, lebih baik kita akhiri disini saja sebelum semuanya terlambat."


"Gak, aku gak mau."


"Terserah kamu saja. Sekarang pergilah, karena kau hanya mengganggu urusanku." Ucap Jackson meraih dagu Alexa.


"Jack...."


Alexa mengambil kesempatan dengan memegang dagu Jackson kemudian menciumnya dalam. Jennie berteriak dan hendak menarik rambut Alexa, namun Jackson dengan sigap menghadang Jennie lalu mendorongnya hingga tersungkur.


"Kamu tega Jack...." Teriak Jennie.


Alexa bergelayut manja dileher Jackson dan menatap Jennie lalu menjulurkan lidahnya. Jackson kembali memegang dagu Alexa.


"Pergilah." Titah Jackson pada Jennie lalu mencium bibir Alexa seraya menutup pintu dengan kakinya.


Jennie mengetuk pintu apartemen Jackson yang terkunci secara otomatis saat pintu tertutup. Sementara dibalik pintu, Jackson dan Alexa terus berciuman, keduanya seolah lupa bahwa mereka hanya berpura-pura.


Setelah sekian lama, Alexa melepaskan diri dari Jackson lalu menunduk. Jackson sendiri baru menyadari apa yang terjadi dan merasa bersalah karena merasa memanfaatkan keberadaan Alexa.


"Maaf." Ucap Jackson lalu berjalan cepat ke arah kamarnya.


Duarrr.....!!!


Suara pintu kamar Jackson tertutup sangat keras. Sementara Alexa duduk di sofa dengan tangan yang menyentuh bibirnya. Ia masih mencerna apa yang baru saja terjadi antara dirinya dan Jackson.


'Kenapa jadi seperti ini?' pikir Alexa.


Sementara di dalam kamar, Jackson tengah berdiri di dalam kamar mandi miliknya sembari menatap wajahnya di cermin setelah membasuhnya.


'Apa itu tadi?'


'Kenapa aku bisa lepas kendali?'


"Aku tidak akan punya muka untuk bertemu dengannya lagi." Ucap Jackson.


Di ruang tamu, Alexa masih terduduk dengan menatap layar ponselnya. Ia berusaha memesan taxi online. Setelah selesai memesan, Alexa kembali ke ruang laundry dan melihat pakaiannya. Alexa berusaha mengeringkan pakaiannya menggunakan pengering mesin cuci.


Setelah lima menit, pakaiannya pun bisa kering namun terlihat sangat kusut.


'Biarin aja. Dari pada harus nginap disini.' ucap Alexa dalam hati.


Setelah berganti pakaian, Alexa lalu keluar dari apartemen Jackson untuk kembali ke apartemennya.


'Bagaimanapun, Jennie sudah melihatku. Dia pasti akan mencari tahu tentang aku. Aku harus menyelesaikan semuanya sekarang juga.'


Tengah malam, tepat pukul 12 malam, Jackson keluar dari dalam kamarnya. Sejak masuk ke dalam kamar, ia belum bisa tidur. Ia keluar dan berharap Alexa sudah tidur.


Jackson berjalan ke arah lemari pendingin hendak mengambil air. Tepat di pintu lemari pendingin, Jackson mendapati sebuah catatan kecil yang ditinggalkan Alexa.


[Maafkan atas kelancangan saya Tuan. Saya harap hubungan Anda dan Nona Jennie masih bisa diperbaiki.]


Jackson menghela napas panjang, ia lalu duduk dan minum air. Jackson menyugar rambutnya lalu tiba-tiba bayangan wajah Alexa menari-nari dihadapannya.


"Sihir apa yang kau miliki?" Ucap Jackson.


**********************


Sebelumnya, Alexa sudah menghubungi orang suruhannya untuk melakukan pekerjaan besar, mengingat besok adalah sidang putusan atas kasus perceraian antara Robby dan Gea.


Tiba di apartemen miliknya, Alexa segera berganti pakaian dan bersiap-siap menanti kedatangan Robby. Saat berada di dalam taxi online tadi, Alexa sudah lebih dulu menghubungi Robby, memintanya untuk datang ke apartemennya.


"Mas aku tunggu di apartemen ya." Ucap Alexa manja.


"Ngapain sayang? Tumben banget ngundang Mas. Kangen ya?" Balas Robby.


"Iya Mas, kangen banget." Ucap Alexa.


Setengah jam setelah Alexa tiba di apartemennya, Robby sudah sampai. Alexa sudah bersiap-siap dengan duduk elegan di ruang tamu. Ia tak mengunci pintu hingga membuat Robby leluasa masuk ke dalam apartemen milik Alexa.


"Sayang, kamu tahu aja apa yang Mas butuhkan." Ucap Robby seraya mencium pipi Alexa.


Alexa tersenyum sinis lalu mengusap pipinya bekas ciuman Robby.


"Ada apa sayang? Kok kamu kelihatan gak suka Mas datang? Kan kamu yang ngundang Mas."


"Aku punya kejutan buat Mas." Ucap Alexa berdiri.


"Mas suka sekali kejutan. Tapi please, jangan pakai acara tutup mata lagi. Mas jadi gak bisa lihat wajah cantik kamu."


"Tentu saja." Balas Alexa tersenyum penuh tanda tanya.


Alexa masuk ke dalam kamarnya, meninggalkan Robby duduk seorang diri di ruang tamu.


Tiba-tiba, televisi menyala. Robby sontak kaget, namun matanya membelalak saat menatap layar televisi.


Layar televisi menampilkan video panas antara Robby dengan seorang wanita di sebuah hotel. Mata Robby tertutup, dan hanya terdengar suara Robby yang menyebutkan nama Alexa. Robby semakin kaget saat melihat wanita itu bukanlah Alexa melainkan orang lain.


"Apa-apaan ini?" Ucap Robby seraya berjalan mendekat ke arah televisi.


Robby berusaha memastikan bahwa yang ada didalam video adalah benar dirinya.


"Alexaaa....." Teriaknya saat yakin bahwa video itu merupakan adegan yang terjadi di sebuah hotel dimana ia bertemu dengan Alexa pada awalnya. "Alexaaa cepat keluar." Teriaknya lagi.


'Apa-apaan ini?'


Layar televisi menghitam, kali ini giliran rekaman suara Robby yang terdengar.


'Kau sangat cantik dengan penampilan barumu sayang.' Suara Robby terdengar jelas.


'Kapan Mas Robby akan menikahi aku?'


Kali ini suara Alexa terdengar bertanya dengan manja.


'Mas akan melakukan semuanya setelah status pernikahan Mas dengan Gea sudah cerai.'


'Mas, aku boleh tanya?'


'Tentu saja sayang.'


'Kenapa Mas rela meninggalkan isteri Mas demi menikah denganku?'


'Karena Mas mencintai kamu.'


'Benarkah?'


'Harus dengan cara apa Mas membuktikan semuanya?'


'Aku dengar, sebelum Mas menikah dengan isteri Mas. Mas itu seorang duda.'


'Iya memang benar. Mas pernah menikahi seorang gadis gendut yang tak lain adalah saudara tiri Gea.'


'Apa Mas mencintai wanita itu? Lalu Gea merebut Mas dari dia?'


'Mas tidak mencintai keduanya. Mas mau menikahi wanita itu demi Gea yang menjanjikan Mas hidup kaya.'


'Lalu dimana mantan isteri Mas itu?'


'Sudahlah sayang. Untuk apa kau tanyakan semua itu. Lebih baik kau layani Mas malam ini. Mas sudah tidak tahan.'


'Mas mau ini?'


'Mas mau yang tersembunyi dibalik kain berwarna merah itu. Ayolah sayang, kemari lah. Mas sudah tidak tahan.'


'Aku janji akan layani Mas malam ini dan seterusnya. Asalkan Mas mau jujur sama aku tentang masa lalu Mas.'


'Kemari lah, Mas akan cerita semuanya.'


'Bisakah kita bermain sambil Mas bercerita?'


'Cerita dulu, baru main.'


Robby semakin dibuat bingung, saat layar televisi menampilkan wajah Alexa dimasa lalu. Wajah Alexa yang saat itu masih bernama Dara.


"Alexaaaaaa....." Teriak Robby. "Apa maksud semua ini?"


Suara rekaman kembali diputar.


'Gea dan adiknya membunuh isteri Mas. Setelah itu Mas menikah dengan Gea dan menikmati kekayaan keluarga isteri Mas itu.'


'Kalau aku boleh tau, siapa nama isteri Mas itu?'


'Namanya Dara. Gea, Jennie dan Mas membuang dia ke jurang di daerah X.'


'Mas sangat kejam. Apakah Mas akan melakukan hal itu juga padaku?'


'Tentu saja tidak sayang. Mas tidak jahat, yang jahat itu Gea dan Jennifer.'


Rekaman suara berhenti, kini lampu apartemen Alexa yang padam. Robby kembali berteriak memanggil Alexa.


"Maaassss....." Suara seorang wanita terdengar begitu menyedihkan. "Kenapa kau tega melakukan semua ini padaku Maasss...."


"Siapa kau?" Teriak Robby.


"Aku Dara Mass...."


Lampu kembali menyala dan menampilkan sosok Alexa yang sudah mengenakan gaun pengantin yang sama persis dengan gaun pengantin yang dikenakannya dulu saat menikah dengan Robby.


"Alexa.... Apa maksud semua ini?" Tanya Robby.


"Aku bukan Alexa." Wajah Alexa tampak pucat, pandangannya kosong. Namun sorot matanya tajam melihat ke arah Robby membuat pria itu semakin bingung dan mulai ketakutan.


Robby berlari ke arah pintu dan berusaha keluar dari apartemen Alexa.


"Gak semudah itu Mas. Kau harus mempertanggungjawabkan perbuatan mu."


"Apa maksudmu? Memangnya apa yang sudah aku lakukan padamu?" Teriak Robby dengan keringat dingin.


"Kau lupa Mas. Kau sudah berusaha membunuhku dengan bantuan saudara tiri ku di malam pernikahan kita."


"A-pa?" Robby terlihat semakin panik saat Alexa mendekat dan memegang pundaknya.


"Lepaskan aku, kau salah orang. Aku tidak pernah membunuh siapapun."


"Hahahahaha....." Alexa terbahak lalu mundur duduk di sofa dengan kaki yang selonjoran diatas meja.


"Robby.... Robby.... Tak ku sangka kau begitu pengecut." Ucap Alexa.


Robby berbalik dan menatap Alexa marah.


"Jelaskan padaku, apa maksud semua ini? Jika kau tidak berniat untuk menikahi ku, kembalikan semua aset yang sudah aku berikan padamu."


"Kembalikan? Hahahaha kau gila Robby. Itu semua milikku."


"Siapa kau sebenarnya?" Teriak Robby.


"Aku wanita yang pernah berusaha kau bunuh. Kau buang aku ke jurang hanya demi harta dan kakak tiri ku. Sekarang kau terima balasan atas apa yang sudah kau lakukan padaku."


"Da-ra...." Robby terbata-bata. "Tidak mungkin."


"Apanya yang tidak mungkin. Kau sudah melihatku sekarang. Ini aku, Dara Alexandra. Alexaaaandra." Ucap Alexa.


"Kurang ajar kau. Kau mau mempermainkan aku rupanya."


Robby hendak mendekati Alexa, namun dari ruang kamar tamu dua orang pria berpakaian serba hitam dan seorang wanita yang juga berpakaian serba hitam keluar dan langsung menyergap Robby.


"Apa-apaan ini?" Teriak Robby.


"Kau harus mempertanggung jawabkan perbuatan mu. Dengan bukti yang aku punya, kau bisa membusuk di penjara." Ucap Alexa.


Raut wajah Robby berubah pias. Ia sudah membayangkan bagaimana kehidupannya di penjara nanti.


"Tidak, jangan lakukan ini. Ku mohon." Rengek Robby.


"Aku bisa saja melepaskan mu, tapi....."


"Tapi apa? Katakan saja padaku, aku akan melakukan semuanya untukmu." Balas Robby.


"Apa kau yakin?"


"Tentu saja." Jawab Robby mantap.


Alexa mendekat ke arah Robby yang kedua tangannya dipegangi kuat oleh dua pria berperawakan kekar itu.


"Bantu aku mengambil semua milikku yang diambil Gea dan Jennie."


"Maksudmu?"


"Aku ingin semua surat-surat penting perusahaan, sertifikat rumah dan yang lainnya."


"Bagaimana caranya?"


"Aku tidak perduli. Waktumu hanya malam ini, karena besok kau akan melakukan sidang perceraian mu. Jika kau gagal atau memberitahu mereka, kau sudah tau konsekuensinya. Kau akan dipenjara begitu juga dengan mereka. Tapi, setidaknya mereka masih punya harta yang bisa digunakan untuk menyelamatkan diri mereka dari jerat hukum. Sementara kau sendiri sudah tidak punya apa-apa."


Robby baru saja mengingat, bahwa setiap aset yang ia miliki memang sudah ia serahkan pada Alexa atas nama seorang pria yang disebut Kakek oleh Alexa.


"Bagaimana? Apa kau setuju? Jika tidak juga tidak masalah bagiku."


Sesaat Robby terdiam, memikirkan apa yang harus ia lakukan.


"Baiklah, aku setuju. Tapi, berjanjilah aku akan terbebas dari hukum penjara."


"Tentu saja. Kau lihat orang yang memegangi mu itu. Mereka akan terus mengawasi setiap gerak-gerik mu. Jangan harap kau bisa kabur."


"Tidak akan." Balas Robby.


"Bagus, sekarang pergilah." Ucap Alexa.


Setelah itu Robby keluar dari gedung apartemen Alexa bergegas pulang ke rumahnya. Sepanjang jalan, Robby berusaha mencari cara, bagaimana ia bisa mendapatkan semua yang diinginkan Alexa mengingat semua surat penting itu berada di dalam brankas yang ada di kamar Nyonya Susan.


"Apa yang harus aku lakukan?" Ucap Robby seraya fokus menyetir mobil. "Mau kabur pun aku tidak akan berhasil. Kurang ajar kau Alexa, kau sudah menjebak ku."


Robby menghela napas panjang saat mobil yang dikendarainya tiba di depan rumah utama. Pukul 10 malam, satpam bergegas membuka gerbang untuk Robby. Malam ini untuk pertama kalinya Robby kembali pulang setelah dua minggu tak lagi pulang ke rumah dan memutuskan untuk tinggal sendiri di apartemen miliknya.


'Bagaimana ini?' tanya Robby dalam hati.


Dirinya tak berhenti bertanya apa yang harus ia lakukan. Saat pintu utama terbuka, ternyata Gea belum tidur. Ia masih mondar-mandir di ruang keluarga.


"Mas Robby." Ucap Gea.


Robby berjalan mendekati Gea, raut wajahnya berubah sendu.


"Maafkan aku." Ucap Robby langsung memeluk Gea.


"Kamu kenapa Mas?" Tanya Gea heran.


"Aku menyesal sayang. Aku tidak ingin bercerai denganmu. Wanita itu menipuku." Jawab Robby. "Beri aku kesempatan sekali lagi sayang."


"Mas, kau pasti tahu kalau aku sangat mencintaimu." Ucap Gea langsung mencium Robby.


Robby membalas ciuman Gea dengan penuh gairah.


"Dimana semua orang?" Tanya Robby seraya menggendong tubuh Gea.


"Mama pergi menemani Jennie yang tengah putus cinta. Katanya Jackson selingkuh dengan seorang wanita murahan bernama Alexa."


'Alexa?' Kening Robby berkerut.


"Kenapa Mas?" Tanya Gea.


"Gak apa-apa sayang. Ayo kita ke kamar." Ucap Robby.


Robby dan Gea lalu berhubungan setelah begitu lama tak melakukannya. Gea begitu liar karena sudah begitu merindukan sang suami. Sementara Robby sendiri pikirannya masih berfokus pada perintah Alexa.


"Sayang, apa kau tahu kode brankas di kamar Mama?" Tanya Robby.


Gea yang sedang menguasai permainan berhenti sejenak.


"Aku tidak tahu sayang. Kenapa memangnya?"


"Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin memasukan beberapa file penting kesana."


"Hmmmm....."


Permainan mereka pun selesai. Gea tertidur lelap, sementara Robby masih mencari cara untuk bisa membuka brankas itu.


Robby berjalan keluar dari dalam kamar dengan mengenakan jubah mandi lalu masuk ke kamar Bu Susan yang memang tidak di kunci itu. Susah payah Robby berusaha membukanya. Namun ia tak berhasil.


Hingga ia dikagetkan dengan suara pintu yang terbuka dan menampilkan sosok Bu Susan yang berpakaian seksi. Meski usianya sudah menginjak kepala lima, karena perawatan yang selalu ia lakukan, membuat Bu Susan tetap terlihat awet muda.


"Robby, apa yang kau lakukan di kamar Mama." Ucapnya.


Tiba-tiba sebuah ide muncul di kepala Robby. Ia dengan cepat mendekati Bu Susan dan berusaha meraba tubuhnya.


"Kamu mau kurang ajar ya sama Mama."


"Ayolah Ma. Selama ini aku sudah menahan diri. Mama itu lebih seksi dari Gea. Aku ingin..." Tangan Robby meraba paha Bu Susan.


Bu Susan mendesah, apalagi ia masih terpengaruh alkohol. Sudah lama ia juga tak merasakan sentuhan pria, dengan cepat ia mencium Robby. Meski merasa aneh, Robby pun membalas ciuman mertuanya itu dengan liar.


Setelah keduanya sama-sama tak mengenakan busana, Bu Susan berucap,


"Bagaimana jika Gea tahu tentang ini?"


"Jangan sampai ketahuan dong Mama sayang. Kalaupun dia tahu juga tidak masalah, besok aku dan dia kan akan bercerai. Jadi aku bisa terus berhubungan dengan Mama." Bisik Robby ditelinga Bu Susan.


"Oh, Robby. Lakukan cepat, Mama sudah tidak tahan."


Dengan sekali hentak, Robby berhasil melakukannya dengan Mama mertuanya itu. Namun, Robby menghentikan aksinya. Berusaha mempermainkan Bu Susan.


"Kenapa berhenti sayang? Ayo lanjut lagi." Rengek Bu Susan.


"Aku akan melanjutkannya jika Mama mau berdiri disana dan membuka brankas itu."


"Untuk apa?" Tanya Bu Susan.


"Kalau tidak mau ya sudah. Aku bisa saja berteriak membangunkan Gea, dan dia bisa melihat kita seperti ini." Ancam Robby.


"Kau itu, jangan mengancam Mama seperti itu sayang. Baiklah ayo lakukan, Mama akan membukakannya untukmu." Balas Bu Susan.


Robby melanjutkan permainannya sementara Bu Susan berusaha membuka brankas. Tepat saat brankas dibuka, pintu ikut terbuka. Menampilkan sosok Gea dan Jennie dengan mata yang membelalak melihat apa yang sedang dilakukan Mama mereka dengan Robby.


"Mama...." Teriak keduanya.


"Jangan berhenti." Ucap Bu Susan pada Robby.


Seperti sudah tak punya urat malu, Robby mempercepat permainannya dihadapan isteri dan adik iparnya.


"Kalian berdua sudah gila." Teriak Gea seraya masuk ke dalam kamar Bu Susan.


"Berhenti disitu." Teriak Bu Susan dengan napas ngos-ngosan.


Gea berlari keluar kamar dengan tangisnya disusul Jennie yang tak habis pikir dengan kelakuan Ibu dan Kakak iparnya itu.


Robby telah mencapai *******, lalu bergegas mengambil jubah mandi dan mengenakannya. Ia dengan cepat mengambil semua berkas yang ada di dalam brankas tanpa disadari Bu Susan yang terkapar di atas tempat tidur.


Keluar dari kamar Bu Susan, Robby dihadang oleh Gea dan Jennie.


"Kurang ajar kau Mas." Teriak Gea hendak menghadang Robby agar tak keluar rumah.


"Minggir." Teriak Robby mendorong tubuh Gea hingga tersungkur.


Jennie berusaha menghadang.


"Robby kau keterlaluan. Kau...."


Namun dengan kasar Robby menamparnya hingga membuatnya limbung.


Robby bergegas keluar rumah menuju mobilnya dan langsung tancap gas.


Bersambung........


Jangan lupa tinggalkan like, komen, vote dan kasih hadiah juga ya.... 🥰


Oh ya, sorry kalau ceritanya terlalu dewasa. Tapi ya jalannya emang seperti ini. 😁


Pembalasan Alexa akan segera terlaksana, lalu bagaimana hubungannya dengan Jackson? Pasti penasaran kan? So baca pantengin terus ya....