Menjadi Wanita Penggoda

Menjadi Wanita Penggoda
Pergi Ke Rumah Jessica


"Jadi kenapa ada mayat di depan pintu rumahmu? Apakah itu mata-mata lagi? Tanya Leo setelah memeriksa tubuh pria itu.


"Ini bukan hal baru. Dia memang mata-mata. Tapi ini adalah pertama kalinya Scorpio mengirim mata-mata ke rumahku." Jawabku.


Tiba-tiba ponselku berdering dan aku melihat nama Kiki muncul di layar ponselku.


"Ada masalah apa?" Tanyaku.


"Nona Jessica, sistem kita sudah diretas. Anda harus datang ke sini sekarang juga."


Suara feminim terdengar dari sambungan telepon.


"Tunggu aku Kiki. Pastikan untuk menghapus semua file yang diamankan sebelum kau mematikan komputer. Tutup semua pintu keluar darurat dan pintu utama di area tersebut. Aku akan tiba di sana dalam waktu 5 menit." Ucapku lalu menekan tombol mengakhiri panggilan dan mengganti sepatuku dengan cepat.


Aku pergi ke garasi dan mengendarai mobilku.


Ketika aku hendak keluar rumah, aku membuka kaca depan kanan mobil.


"Leo, urus semuanya untukku. Kau tahu apa yang harus dilakukan." Ucapku.


Leo hanya menganggukkan kepalanya dan memberi hormat padaku.


Aku lalu mengendarai mobilku dari rumah dengan cepat. Aku harus melewati lampu merah untuk beberapa kali. Tapi aku tidak peduli, karena yang penting adalah mengetahui siapa yang sudah meretas sistem kami.


'Sial, masalahku hari ini berlipat ganda'


...****************...


PoV Author


Sementara itu di rumah keluarga Joshua.


"Joshua...! Kau pikir apa yang sudah kau lakukan? Bawa dia kembali ke rumah sekarang juga." Ucap seorang wanita di telepon berteriak pada Joshua..


"Ma, aku tidak bisa melakukan hal itu. Aku tidak gila dengan membawa wanita putus asa itu ke rumah kita. Aku hanya akan bersama Leony. Mama tahu itu." Ucap Joshua berteriak di ponsel.


'Siapa sebenarnya wanita itu? Mengapa dia begitu penting? Mama bahkan ingin dia tinggal di sini.' Ucap Joshua dalam hati.


"Pergi jemput dia sekarang juga. Demi Tuhan Joshua, dia itu seorang wanita dan kau membiarkannya pergi begitu saja sendirian." Ucap Mama Joshua berteriak lagi.


"Tidak!" Ucap Joshua sambil menggertakan giginya karena marah.


"Baiklah, kalau begitu tidak ada mobil, tidak ada kartu kredit, tidak ada internet, gadget, termasuk ponselmu. Semuanya akan disita selama sebulan. Itu yang kau inginkan bukan? Maka Mama akan memberikannya padamu." Ucap Mama Joshua sambil menahan amarahnya.


'Sial! Wanita licik itu pasti sudah melakukan sesuatu pada Mamaku.' ucap Joshua dalam hati.


" Apa? Oke, baiklah. Aku akan melakukannya." Ucap Joshua dengan suara yang terdengar enggan.


'Aku tidak bisa dihukum selama sebulan. Aku akan kehilangan hubunganku dengan Leony. Hah, aku tidak bisa membayangkan hal itu sampai terjadi.' ucap Joshua dalam hati.


Mama Joshua tersenyum mendengar jawaban putranya itu. Meskipun sebenarnya dia bisa merasakan bahwa Joshua tidak ingin melakukan perintahnya itu. Dia lalu mengakhiri panggilan itu.


Joshua yang memiliki banyak pertanyaan di dalam benaknya dengan enggan pergi dari rumahnya untuk menuju ke rumah Jessica dengan mengikuti alamat yang dikirimkan oleh Mamanya.


Joshua membutuhkan waktu mengemudi mobil selama 30 menit untuk tiba di rumah Jessica. Dia melihat petugas polisi berkeliaran di sekitar rumah Jessica yang tampak tengah mengumpulkan bukti dengan beberapa kamera yang tampak berkedip. Joshua mulai merasa sedikit ketakutan.


'Seharusnya aku tidak membiarkannya pergi dari rumah.' ucapnya dalam hati.


Dalam mobil Joshua bertanya kepada komandan polisi yang dia lihat beberapa waktu lalu sebelum dia menghentikan mobilnya yaitu Leo.


"Kapten Leo..." Ucap Joshua setelah melihat nama petugas itu di seragamnya. "Apa yang terjadi di sini? Mayat siapa itu?" Tanya Joshua sambil menunjuk kantong jenazah yang dibawa oleh polisi lain.


Saat Joshua mengajukan pertanyaan itu, dia merasa gugup.


"Kau siapa? Aku belum pernah melihatmu. Apakah kau kenal Jessica?" Tanya Kapten Leo.


"Itu...."


Joshua tidak tahu harus menjawab apa kepada petugas itu. Dia hanya mengatakan apa yang menurutnya bisa dipercaya oleh Kapten Leo.


"Dia adalah temanku. Kami bertemu beberapa minggu yang lalu." Ucap Joshua.


'Tolong percaya padaku.' ucap Joshua dalam hati.


"Ah ada urusan apa kau datang ke sini?" Tanya Kapten Leo lagi.


Di dalam pikiran Leo, dia meragukan apa yang dikatakan oleh pemuda dihadapannya itu.


'Apakah dia benar-benar teman baru Jessica?'


Leo merasa seperti dia tidak bisa mempercayai Joshua.


'Bagaimana jika dia adalah mata-mata yang mencoba melihat apa yang terjadi pada Jessica?' tanya Leo dalam hati.


"Kapten, tolong beritahu saya apa yang terjadi. Saya mengkhawatirkan Jessica." Ucap Joshua dengan sopan, tapi sebenarnya dia memiliki banyak pertanyaan di dalam benaknya.


'Mengapa petugas ini mengajukan begitu banyak pertanyaan? Cih mengganggu saja.' ucap Joshua dalam hati.


"Jangan khawatir, Jessica baik-baik saja. Dia baru saja pergi untuk urusan lain. Mayat itu adalah pencuri." Ucap Kapten Leo.


Ponsel Joshua berdering dan nama Leony muncul di layar ponselnya. Saat itu dia langsung ingat bahwa dia ada kencan makan malam dengan kekasihnya itu.


"Terima kasih Kapten Leo. Aku akan kembali ke sini besok. Aku senang dia baik-baik saja." Jawab Joshua tersenyum dan menundukkan kepalanya.


Kapten Leo juga tersenyum, tapi masih ada keraguan dalam benaknya.


'Mengapa pemuda itu pergi setelah menanyakan apa yang terjadi? Apakah kecurigaan ku ini benar? Apakah dia itu seorang mata-mata?' tanya Leo dalam hati.


Sementara itu, Joshua pergi dari rumah Jessica dengan bernafas lega.


...****************...


PoV Jessica


Ketika aku tiba di kantor pusat, semua pintu keamanan dan pintu darurat ditutup. Aku lalu menekan kata sandi gerbang.


"Akses diberikan. Mohon izinkan saya memindai mata kanan anda untuk memverifikasi identitas anda."


Itu adalah suara kunci pintu pintar. Aku membiarkan kunci pintar memindai mata kananku. Aku menyingkir sedikit dan membiarkan pintu pintar memindai mata kananku.


"Akses diberikan. Selamat datang di markas pejuang..."


Aku masuk ke dalam mobil lagi dan melaju ke dalam kantor pusat. Aku harus mengulangi setiap langkah untuk memverifikasi identitas ku di setiap pintu pengamanan yang aku lewati. Aku bergegas ke ruang kontrol utama untuk melihat apa yang terjadi.


Aku melihat Kiki ada di komputer kontrol utama. Seperti biasa, ada permen lollipop yang menempel di mulutnya.


"Kiki apa yang terjadi? Apakah kau menghapus semua file keamanan itu?" Tanyaku kepadanya.


Dia memutar kursi putarnya menghadap ku. Dia memegang permen lollipop yang baru saja menempel di mulutnya tadi.


"Iya saya sudah menghapus semua sebelum mereka bisa menyalinnya. Oh ya, saya juga telah memeriksa orang yang masuk ke rumah anda. Anda melakukan pertarungan yang hebat." Ucapnya lalu tertawa.


"Bagaimana kau bisa tahu?" Tanyaku sambil mengangkat alis.


"Anda lupa ya? Saya punya akses di CCTV rumah anda." Katanya dengan menyeringai.


"Ya Tuhan, aku seharusnya tidak memberimu akses itu." Ucapku memutar mata malas.


"Oh ya? Ingat ya saya sudah menyelamatkan anda terakhir kali." Balas Kiki.


"Bla bla bla bla bla bla..." Ucapku. " Hidupkan komputer. Kita harus memeriksa siapa yang meretas sistem kita." Ucapku.


"Segera Bos." Ucap Kiki dengan memberi hormat dengan tangan kanannya.


Cih! Gadis ini benar-benar gila. Dia meletakkan permen lollipop kembali ke mulutnya dan memutar kursi putarnya kembali menghadap komputer. Dia menyalakan saklar utama. Semua komputer-komputer dihidupkan satu persatu.


Aku lalu duduk di kursi putar di sebelah kiri.


"Dan sekarang, pelacakan dimulai." Ucap Kiki sambil bertepuk tangan.


Bersambung...