Menjadi Wanita Penggoda

Menjadi Wanita Penggoda
Dijemput


PoV Joshua


"Ah yang benar saja!"


Dengan frustrasi aku menekan klakson mobil.


Setelah aku pergi dari rumah, aku langsung bertemu dengan barisan mobil yang sangat panjang ini. Saat ini hari senin dan sangat menyebalkan berada dalam kemacetan lalu lintas. Terutama ketika sedang terburu-buru.


Wanita itu benar-benar pembawa masalah. Sejak dia datang ke rumah kami, dia langsung membawa masalah kepadaku.


Pertama, Mama ingin dia menjadi tunangan ku yang aku sangat tidak mau karena aku hanya ingin satu wanita untuk menjadi istriku, yaitu Leony, kekasihku.


Kedua, Mama membiarkan aku memilih antara dia atau mobilku yang berharga dan gadget ku yang tidak aku inginkan dan tidak akan bisa aku biarkan terjadi karena aku akan kehilangan kontak dengan Leony.


Kemudian setelah aku mengusirnya dari rumah kami, Mama ingin aku menjemputnya dan membawanya kembali ke rumah kami. Hal itu membuatku semakin membencinya.


'Siapa yang tahu dia juga mungkin saja yang akan menjadi alasan Leony putus denganku.'


Tapi kurasa Leony akan mengerti.


Aku akan meminta Leony untuk memberiku waktu beberapa bulan sampai orang tua dari wanita licik itu kembali. Baru setelah itu aku akan benar-benar memutuskan hubunganku atau hubungan apapun itu dengan wanita itu.


Jika seseorang bertanya kepadaku mengapa aku masih ingin menjemputnya jika memang aku membencinya. Jawabannya hanya karena itu adalah satu-satunya cara untuk tidak kehilangan komunikasi ku dengan Leony.


Setelah menunggu sekitar 10 menit, akhirnya mobil mulai bergerak. Aku berkendara lebih cepat ke rumah wanita itu setelah menghindari kemacetan lalu lintas itu.


Drrrt... Drrtt ...


Suara ponselku bergetar. Ada sebuah pesan masuk dan itu dari Mama.


(Joshua pastikan untuk menjemputnya hari ini. Jika tidak, kau tahu sendiri apa konsekuensinya.)


"Ah yang benar saja? Apa Mama mengancam ku? Aku benar-benar membenci wanita itu."


"Siapa yang kau benci?"


Suara feminim di sampingku tiba-tiba terdengar. Karena terkejut, aku tidak sengaja menjatuhkan ponselku.


"Kau gila!" Ucapku dan mengangkat ponselku.


Aku melihat ke arah wanita yang ada di sampingku dan aku baru menyadari bahwa aku telah menekan bel pintu rumah wanita itu.


'Ini dia, wanita yang Mamaku ingin aku nikahi.'


"Kau yang gila karena bicara sendiri." Ucapnya.


"Apa katamu?" Tanyaku.


Aku tidak mengerti apa yang dia katakan setelah dia bilang bahwa akulah yang gila.


"Tidak ada apa-apa. Apa yang kau lakukan di sini?" Tanya wanita itu.


"Aku di sini untuk menjemputmu dan membawamu pulang. Mama menyuruhku untuk melakukannya." Ucapku.


"Kenapa aku harus percaya padamu?" Ucapnya seolah dia tidak percaya kepadaku.


Aku melambaikan ponselku dan aku menunjukkan padanya pesan singkat yang dikirim Mama kepadaku yang mengatakan, 'Jemput dia hari ini Joshua. Berkendaralah dengan hati-hati!'


"Namaku tidak ada di dalamnya. Itu hanya mengatakan dia. Bagaimana aku bisa yakin bahwa kata dia itu merujuk kepadaku." Ucapnya.


'Apa dia serius?'


Aku tidak percaya bahwa aku bisa tahan dengan wanita ini. Aku bahkan bicara dengannya selama itu. Biasanya aku tidak memiliki kesabaran pada wanita-wanita seperti ini.


Ponselku berdering dan nomor Mama muncul di layar ponselku. Aku lalu menekan tombol jawab.


'Waktu yang tepat Mama.'


"Joshua, apa kau sudah menjemputnya?" Tanya Mama padaku.


"Ma, dia tidak percaya Mama menyuruhku untuk menjemputnya. Mama bicaralah padanya." Ucapku dan memberinya ponsel.


Dia menatapku dengan pandangan penuh tanya.


"Bicaralah dengan Mamaku." Ucapku terus terang.


'Wanita ini benar-benar berpikiran lambat. Bodoh sekali,


...****************...


PoV Jessica


Setelah menghabiskan kopi kami, bel pintu berbunyi.


"Biarkan aku membukanya untukmu." Ucap Leo menawarkan padaku.


"Tidak apa-apa. Biar aku saja." Ucapku dan tersenyum padanya.


"Baiklah, aku akan mencuci cangkir ini saat kau membuka pintu." Ucap Leo.


Saat aku membuka pintu, aku terkejut ketika melihat Joshua ada di depan rumah.


"Ah yang benar saja? Apa Mama mengancam ku? Aku benar-benar membenci wanita itu." Teriak Joshua.


'Beraninya dia berteriak di depan rumah kami.'


"Siapa yang kau benci?" Ucapku bertanya padanya dimana hal itu mengejutkan dirinya karena dia sampai menjatuhkan ponselnya.


"Kau gila!" Dia berteriak lagi.


'Dia benar-benar menyebalkan dan apa yang dia lakukan di sini?'


Aku berdebat dengannya sampai ponselnya berdering.


"Ma, dia tidak percaya bahwa Mama menyuruhku untuk menjemputnya. Bicaralah padanya." Ucapnya dengan suara rendah.


Dia memberiku ponselnya dan aku memberinya tatapan bertanya.


"Bicara lah dengan Mama ku." Ucapnya padaku.


"Halo Nyonya Fa..."


'Mama?'


"Eee..."


"Ikutlah dengan Joshua ke rumah. Ini adalah kesempatan yang baik bagi kalian berdua untuk bisa saling mengenal satu sama lain. Izinkan aku untuk meminta maaf kepadamu atas apa yang dilakukan Joshua pada hari pertama kali kau bertemu dengannya. Dia mungkin terkejut saat itu." Ucap wanita itu panjang lebar.


"Tidak apa-apa Nyonya. Eh, maksudku Mama. Aku mengerti." Ucapku ragu.


'Apakah aku harus memanggilnya Mama?'


Aku melihat Joshua menatapku dan dia terlihat kesal karena aku memanggil mamanya dengan sebutan 'Mama' juga.


"Jessica tolong kembali ke rumah kami. Aku berjanji Joshua akan menjagamu." Ucap Mama Joshua lagi.


'Apakah aku akan kembali ke sana lagi jika aku tahu putranya membenciku?'


Mama Joshua akhirnya meyakinkan aku dan aku memutuskan untuk pergi bersamanya. Setelah menutup panggilan, aku mengembalikan ponsel kepada Joshua.


"Apa ada masalah di sini?"


Aku mendengar suara Leo di belakangku.


"Tidak ada apa-apa." Ucapku.


"Ah kau kembali." Leo tersenyum pada Joshua.


Joshua hanya mengangguk.


'Cih! Dia benar-benar memiliki kepribadian yang tidak menyenangkan.'


"Kau kenal dia?" Tanyaku kepada Leo.


"Dialah orang yang ku beritahukan kepadamu kemarin." Ucap Leo.


Aku melihat ke arah Joshua dan alisnya melengkung ke atas.


"Aaahh..." Ucapku sambil mengagungkan kepala.


'Tapi bagaimana aku menjelaskannya kepada Leo.?'


"Joshua, kita akan masuk ke dalam untuk mengambil pakaianku." Ucapku kepada Joshua.


"Aaa... Apa maksudnya? Pakaian apa?" Tanya Leo.


"Ayo masuk." Ucapku seraya mendorongnya ke dalam rumah.


Ketika kami sampai di dalam rumah...


"Leo, sebenarnya Joshua adalah tunangan ku." Ucapku kepada Leo dengan jujur.


"Apa? Kapan? Kenapa? Bagaimana kalian bertemu? Ini sangat mendadak." Ucap Leo.


Aku bisa melihat kebingungan di matanya. Pada saat yang sama dia juga terkejut. Aku mengerti dirinya.


Dia terkejut dengan apa yang aku katakan.


"Tidak... tidak... Begitulah ceritanya. Kau tahu bahwa orang tuaku berbisnis dengan mereka dan mereka ingin aku menikah dengan Joshua demi perusahaan." Ucapku kepada Leo.


"Apakah itu sebabnya kau mengemasi pakaianmu? Tapi mengapa kau harus tinggal bersamanya?" Tanya Leo.


"Aku harus melakukannya. Mama khawatir aku tidak aman di sini sendirian." Ucapku


"Aku bisa menemanimu jika kau mau." Ucap Leo.


"Tidak Leo. Aku tidak ingin menjadi beban bagimu." Ucapku.


"Kau tidak pernah menjadi beban bagiku." Ucapnya dengan suara pelan dan kepala yang tertunduk.


"Leo, kita masih tetap bersahabat oke. Aku hanya harus pergi ke sana dan aku berjanji setelah orang tuaku kembali, aku akan memutuskan hubunganku dengannya. Aku tidak ingin menikah dengannya." Ucapku terus terang.


"Sampai kapan?" Tanya Leo lagi.


"Aku tidak tahu sampai kapan. Tapi itu akan terjadi hanya dalam beberapa bulan." Ucapku dan menepuk pundaknya. "Aku akan pergi ke kamarku dan mengemasi barang-barang ku." Lanjut ku.


...****************...


PoV Author


Setelah Jessica naik ke kamarnya, Leo masih terkejut.


'Mengapa Jessica setuju untuk tinggal bersamanya? Itu bahaya karena dia seorang perempuan.' ucap Leo dalam hati.


Leo tahu benar bagaimana kemampuan Jessica. Dia bisa melindungi dirinya sendiri. Tapi Leo berpikir bahwa Jessica mungkin saja menyerah dan ditipu oleh pria yang bahkan tidak dikenal.


Leo khawatir, tapi dia memutuskan untuk diam.


Jessica turun dari tangga sambil membawa dua koper. Leo segera mengambil koper itu dan membiarkan Jessica keluar dulu.


Ketika mereka sampai di mobil Joshua, Leo memberikan koper itu kepada Jessica.


"Jess, hati-hatilah di sana. Aku akan selalu memeriksa rumahmu di sini untuk memastikan keamanannya." Ucap Leo.


"Aku pasti akan menjaga diriku dan kau juga jaga dirimu." Ucap Jessica tersenyum.


Tanpa mereka ketahui bahwa Joshua tampak memutar matanya. Dalam pikirannya, dia melihat bahwa Jessica dan Lei seolah akan berpisah untuk waktu yang lama.


Joshua mulai berpikir bahwa Jessica ingin menikah dengannya demi uang. Fakta yang dia pikirkan bahwa Jessica memiliki pacar yang merupakan seorang polisi. Joshua tidak tahu bahwa keduanya hanya berteman sejak masih kecil.


Setelah Jessica dan Leo berbicara, Jessica masuk ke dalam mobil. Joshua menginjak pedal gas dan mereka pun meninggalkan Leo berdiri di pintu masuk rumah. Jessica melambai ke arah Leo.


"Kau tahu bahwa kau akan menjemput ku, tapi kau malah membawa mobil balap. Apa kau tahu bahwa aku harus membawa barang-barang ku?" Ucap Jessica pada Joshua dengan kesal.


Joshua tetap tenang dan berkendara sampai mereka sampai di rumahnya. Dia keluar dari mobil segera setelah dia menghentikan mobil di dalam garasi. Jessica memutar matanya dan mengambil kopernya. Bi Lia segera menemui Jessica dan membawa kopernya.


"Selamat datang kembali Nona Muda." Ucap Bi Lia sambil tersenyum kepada Jessica.


Bersambung...