
Alexa tiba di rumah utama....
Ternyata Mang Adi dan Bi Lastri sudah menunggunya sejak tadi. Begitu melihat Alexa, Bi Lastri tanpa canggung langsung memeluknya.
"Non....." Isak Bi Lastri.
Alexa hanya tersenyum dan menggenggam tangan wanita paruh baya itu.
"Maafkan saya Non, karena dulu tidak bisa melindungi Non." Lanjut Bi Lastri.
"Sudahlah Bi, toh semuanya sudah berlalu. Sekarang, aku sudah kembali lagi."
Bi Lastri terus menangis haru memandangi Alexa yang selalu dianggapnya gadis kecil itu. Bi Lastri memang sosok pembantu yang berempati pada nasib Alexa di masa lalu saat ia selalu diperlakukan tidak baik oleh Ibu tiri dan kedua saudara tirinya.
Malam harinya, Alexa mulai mempersiapkan segala keperluan yang akan ia gunakan untuk pergi besok. Setelah selesai, Alexa memilih tidur lebih awal mengingat besok ia harus berangkat pagi.
*************
Jam di dinding menunjukkan pukul 5 dini hari, saat ponsel Alexa berdering. Dengan malas Alexa menerima panggilan telepon itu tanpa mengetahui siapa yang meneleponnya.
"Halo....." Ucap Alexa malas.
"Woi.... Banguuunn..." Teriak pria lawan bicara Alexa.
Alexa sontak saja kaget, dengan mata yang masih malas terbuka ia melirik layar ponsel.
'Mr. Cold.'
Seperti itulah nama Jackson yang disimpan Alexa dalam ponselnya.
"Ada apa Tuan? Kenapa menelepon pagi-pagi buta?" Tanya Alexa.
"Bersiaplah, waktumu hanya 30 menit."
Alexa sontak bangun dan terduduk.
"Aduuhh, yang bener aja dong Tuan. Masa 30 menit, saya belum mandi dan bersiap-siap. Bagaimana ceritanya bisa sampai di kantor dalam waktu 30 menit."
"Gak mau tahu. 30 menit, lebih dari itu lo gue tinggal dan lo harus pergi sendiri."
Tutttt......
Sambungan telepon terputus, Alexa mulai menggerutu. Ia dengan cepat menuju kamar mandi dan mulai mandi air hangat. Alexa bersiap dengan cepat, mulai dari mandi, mengenakan pakaian, dan make up.
30 menit kemudian Alexa baru keluar rumah. Ia lalu berusaha menelepon Jackson, namun tak ada jawaban.
'Serius orang itu ninggalin aku.' pikir Alexa.
Alexa menghela nafas panjang, kemudian berpamitan pada Mang Adi dan Bi Lastri. Alexa meminta keduanya untuk menjaga rumah selama ia pergi, sementara untuk urusan kantor sementara waktu Alexa menyerahkannya pada Laura sebagai orang kepercayaannya.
Dengan diantar supir Alexa memutuskan untuk pergi sendiri ke daerah X. Suatu kebetulan, Alexa mengenali mobil yang dikendarai Jackson. Mobil itu melaju cepat melewati mobilnya.
"Pak kejar mobil itu." Titah Alexa.
Supir dengan cepat melajukan mobilnya di jalanan kota yang belum terang karena memang matahari belum muncul sepenuhnya dan melewati mobil yang dikendarai Jackson.
"Cegat Pak." Pekik Alexa.
Mobil yang dikendarai Jackson mengerem mendadak karena mobil yang ditumpangi Alexa melintang didepannya.
"What the....."
Jackson begitu marah, lalu hendak keluar dari dalam mobilnya. Namun saat melihat sosok Alexa yang keluar dari dalam mobil yang mencegatnya, Jackson mendadak diam.
Alexa bergegas mendekati mobil Jackson lalu mengetuk kaca mobil Jackson. Dengan malas Jackson membuka kaca jendela mobilnya.
"Hai Tuan...." Sapa Alexa. "Tolong buka bagasi atau pintu belakangnya. Saya mau masukin barang saya." Ucap Alexa seraya mengangkat tas ransel yang dibawanya.
Tanpa bicara, Jackson menekan tombol lalu Alexa beralih ke pintu belakang untuk memasukkan tasnya. Sebelumnya Alexa sudah meminta supirnya untuk kembali. Saat Alexa akan masuk ke dalam mobil, Jackson berteriak.
"Woiiii...."
Alexa sontak kaget, dan membuat kepalanya mengenai langit-langit mobil.
"Siapa yang suruh lo duduk dibelakang? Lo pikir gue ini supir apa." Teriak Jackson.
Alexa mendengus kesal.
"Tinggal bilang duduk di depan aja, susah banget. Huh dasar." Ucap Alexa pelan.
Saat Alexa sudah duduk disamping Jackson, mobil pun mulai melaju dengan kencang.
Butuh waktu 2 jam perjalanan hingga keduanya tiba disebuah pedesaan. Perjalanan belum selesai, mereka masih harus berkendara dalam waktu 2 jam lagi. Kali ini mereka berhenti untuk sarapan di sebuah rumah makan dipinggir jalan.
"Lo serius ngajak gue sarapan disini?" Tanya Jackson.
Alexa mengangguk dengan tersenyum lalu masuk ke dalam rumah makan bernuansa pedesaan itu.
"Lesehan Kantara." Ucap Jackson saat mengikuti langkah Alexa masuk ke dalam rumah makan itu.
Saat masuk ke dalam, Jackson tak menyangka bahwa ternyata di dalam ruangannya begitu luas. Meja tertata begitu rapi, dan berjarak dengan diberi sekat tirai bambu di setiap mejanya.
Alexa terlihat duduk lesehan di meja nomor 2 dan seorang pelayan terlihat mencatat pesanannya.
Jackson berjalan mendekati Alexa dan duduk berhadapan.
"Saya sudah order makanannya. Tinggal nunggu aja." Ucap Alexa.
"Lo terlihat sangat senang berada di daerah pedesaan seperti ini." Ucap Jackson.
Alexa tersenyum lalu menatap ke arah jendela yang memperlihatkan hamparan sawah yang luas.
"Boleh saja banyak orang berbangga diri hidup di kota metropolitan. Mungkin saja banyak orang merasa paling beruntung karena tinggal di kota yang serba ada dan serba maju. Tapi bagi saya tak ada tempat seindah tempat seperti ini, di mana saat kaki menginjak tanahnya seketika itu luntur segenap kelelahan jiwa. Itulah desa." Balas Alexa tersenyum. "Suasana khas dan pemandangan indah desa seperti ini nyaris tak pernah gagal mengobati jiwa-jiwa yang dibuat lelah oleh kehidupan kota." Lanjut Alexa.
"Berarti lo gak suka tinggal di kota?" Tanya Jackson lagi.
"Bukan begitu. Tinggal di kota besar tentu juga sangat menyenangkan. Layaknya kota besar, banyak fasilitas penunjang hidup yang bisa dinikmati. Apalagi dengan pesona budaya, wisata dan aura kotanya yang konon berhati nyaman. Dan memang banyak orang mengaku betah dan ingin kembali menyapanya. Namun seperti umumnya kota besar dekat dengan banyak hal menyebalkan. Gigantisme kota besar yang melesat pesat membuat ekosistemnya semakin mudah menimbulkan kepenatan. Seperti raksasa baru lahir, degup jantungnya begitu kuat, irama kehidupan kotanya sering kali mudah mendatangkan lelah. Akhirnya melarikan diri untuk memulihkan kesegaran jiwa dan pikiran menjadi keharusan. Saya pun demikian, tinggal di desa menjadi pilihan untuk membasuh lelah yang ditimbulkan oleh hentakan kehidupan kota." Ujar Alexa panjang lebar.
"Superb." Balas Jackson mengangguk.
Makanan pesanan Alexa sudah datang. Ada banyak menu yang tersaji. Mulai dari nasi merah, ayam bakar, gurame asam pedas, dan juga sambal matah. Kali ini Alexa tidak begitu banyak memesan makanan karena mengingat masih terlalu pagi untuk makanan yang berat.
"Pagi-pagi sudah makan nasi dan semua ini?" Tanya Jackson seraya menunjuk semua menu yang tersedia dihadapannya.
"Ya ampun Tuan. Sekali-kali gak apa-apalah, apalagi perjalanan kita masih jauh dan memerlukan banyak energi." Kilah Alexa. "Sudah ayo dimakan. Urusan lemak nanti saja dipikirkan." Lanjut Alexa kemudian mulai mencicipi menu yang ada.
Sarapan selesai, mobil yang dikendarai Jackson mulai meninggalkan jalan raya beraspal hitam untuk memasuki jalan menuju desa yang mulai berbatu dan becek.
Butuh waktu 1 jam untuk sampai ke tujuan. Senyum Alexa langsung merekah saat meninggalkan aspal jalan raya untuk segera memasuki jalan di antara hamparan persawahan. Laju kendaraan memelan karena jalanan yang tak rata, hal itu membuat Alexa semaki senang karena bisa melempar pandangan ke arah samping. Hamparan sawah dan luasnya langit begitu nyata di depan mata.
Ternyata sudah ada banyak pembangunan di pinggiran jalan. Kendaraan besar pengangkut material pembangunan terlihat lalu lalang melewati mobil Jackson.
"Sebentar lagi kita sampai di rumah Kakek." Ucap Alexa.
"Oh jadi kakek lo tinggal di daerah sini?"
"Mmmmm bukannya saya sudah mengatakannya pada Tuan?"
"Entahlah. Gue lupa." Balas Jackson santai.
Begitu sampai di rumah Kakek Parman, Alexa dan Jackson disambut begitu baik. Rumah Kakek Parman sudah lebih baik dan layak setelah Alexa memerintahkan orang untuk merenovasinya.
"Aduuhh, apa ini calon suami kamu?" Tanya Nek Aminah pada Alexa.
Alexa menggeleng cepat.
"Bukan Nek, dia ini Bos tempat saya kerja." Jawab Alexa.
Mereka semua saling menyapa lalu duduk sejenak bersamanya di ruang tamu sambil mengobrol. Setelah itu Jackson mengajak Alexa untuk pergi ke meninjau tempat proyek, keduanya lalu berpamitan.
Sorot matahari pagi menyinari jalanan di sekitaran rumah Kakek Parman yang nyatanya kini sudah mulai berubah jadi pedesaan. Beberapa rumah mulai berdiri kokoh. Hanya beberapa bulan setelah Alexa pergi, tempat itu mulai berubah drastis.
'Mungkin karena akan adanya pembangunan resort yang dekat dengan destinasi wisata.' pikir Alexa.
Alexa dan Jackson tak lagi menggunakan mobil menuju lokasi proyek. Alexa menyarankan untuk berjalan kaki, karena memang lokasinya yang tidak terlalu jauh.
"Sekalian lihat-lihat pemandangan." Ucap Alexa.
Keduanya lalu berjalan berdampingan. Alexa mengajak Jackson berjalan melewati sawah, karena jika melewati jalanan utama akan ada banyak kendaraan berat yang lalu lalang karena membawa bahan bangunan.
Sejuknya pagi semakin menyentuh berkat kabut yang masih menggantung menyisakan butiran-butiran embun di ujung daun. Keduanya kerap menemukan kupu-kupu di balik dedaunan itu.
"Mungkin ia baru bangun tidur." Ucap Alexa tersenyum.
"Cantik sekali." Balas Jackson dengan pandangan mata yang tertuju pada Alexa.
"Iya cantik." Ucap Alexa tanpa menyadari bahwa ucapan cantik yang dikatakan Jackson tertuju padanya.
Keduanya melanjutkan perjalanan. Bunga-bunga yang bermekaran mempercantik jalanan di pinggir sawah.
Alexa sangat suka berdiam di pinggir sawah. Sama seperti yang dilakukannya dulu. Sambil duduk melipat kaki, helaan nafas begitu segar. Beragam aktivitas warga desa pun terlihat mulai digelar.
"Kita ngapain disini?" Tanya Jackson. "Apa masih jauh?"
"Udah deket kok. Tapi, kita duduk dulu disini nikmatin suasana pedesaan. Lihat disana!" Seru Alexa menunjuk ke arah para warga. "Menyenangkan sekali melihat para orang tua memulai harinya dengan bersepeda melintasi setapak di tengah sawah. Para orang tua itu biasanya para petani atau pedagang. Dengan sepeda tua mereka sering berangkat beriringan. Di belakang sepedanya mereka biasa membawa dua buah keranjang atau seperangkat alat bertani seperti cangkul." Ujar Alexa.
Jackson pun ikut duduk disamping Alexa yang terlihat sibuk memotret. Jackson melihat ke arah para warga. Wajah-wajah mereka terlihat hangat seolah tak mengenal beratnya kehidupan yang sering orang lain keluhkan. Melihat mereka mengayuh sepeda dengan caping di kepala ternyata bisa menjadi sungguh menyenangkan bagi seorang pria seperti Jackson. Putaran roda sepedanya seperti berbahasa bahwa hidup harus terus dijalankan seberat apapun kaki menjalaninya.
"Di desa-desa, para orang tua memang sudah terbiasa memulai hari mereka dengan mengayuh sepeda melewati persawahan yang masih diselimuti kabut pagi. Sungguh sebuah pemandangan yang manis bukan?" Ucap Alexa.
"Hhhmmmm." Balas Jackson. "Pemandangan yang gak akan lo dapat di kota besar."
Puas duduk di pinggir sawah, Alexa mengajak Jackson beranjak menapaki pematang-pematang sawah untuk mendekat ke arah para petani. Melihat ada orang asing yang mendekat sambil membawa kamera para petani desa itu tersenyum.
“Wah kita mau difoto!” Ucap mereka.
Melihat para petani membungkuk sambil berjalan mundur Alexa hanya bisa diam sambil mengacungkan jempol di dalam hati.
Pagi-pagi sekali mereka sudah berangkat menembus dinginnya embun lalu menceburkan diri ke dalam tanah becek. Sepanjang setengah hari mereka biasanya akan bertahan di sana melakukan pekerjaan yang sama.
"Sepintas apa yang mereka kerjakan sangatlah mudah, hanya menancapkan benih ke lumpur, mencangkul atau membersihkan gulma. Tapi nyatanya hanya mereka yang selama ini berhasil dan sanggup melakukannya." Ucap Alexa.
Jackson bukannya fokus pada para petani yang dipotret Alexa, ia justru fokus melihat wajah Alexa yang tampak cantik dengan rambut yang di kuncir tinggi. Ia mengenakan kaos warna pink dengan celana selutut dan berjalan sedikit demi sedikit memotret para petani.
Jackson seolah terhipnotis akan pesona Alexa, ia terus berjalan mengikuti langkah Alexa.
"Padi-padi yang baru ditanam tampak cantik berendam di persawahan yang terendam air. Melihat pemandangan sederhana ini siapapun pasti akan merasa tersenyum." Ucap Alexa lagi.
"Tapi tak bisa menandingi kecantikan mu." Balas Jackson.
"Ha!" Alexa berbalik.
Sontak Jackson kelabakan. Ia tak pernah menyangka bahwa dari mulutnya akan keluar kata seperti itu.
"Iya, maksud gue padinya cantik." Ucap Jackson.
"Oooo...." Balas Alexa.
Dua orang petani berjalan mundur menanam padi sambil berbincang membicarakan apa saja tentang kehidupan mereka. Para petani itu biasanya tak pernah bekerja tanpa berbincang satu sama lain. Di tengah sawah sambil menanam padi dan yang lainnya mencangkul, mereka berbincang bahkan seringkali meledakkan tawa satu sama lain. Alexa yang menyaksikannya pun ikut tersenyum menyimak keseruan itu.
"Mereka tak butuh kemewahan untuk tertawa tapi mungkin itulah kunci kebahagiaan." Ujar Alexa.
'Wanita ini benar-benar unik.' pikir Jackson.
Setelah beberapa saat berjalan, keduanya tiba di lokasi proyek pembangunan resort. Lokasinya yang memang dekat dengan air terjun membuat suasana menjadi sangat begitu sejuk. Alexa terus memotret, sementara Jackson terlihat sibuk berbicara dengan para pekerja.
****************
Hari beranjak siang dan angin mulai kencang menggoyang pohon kelapa. Semilir angin dan eloknya pemandangan desa adalah kombinasi yang ampuh untuk mengusir kepenatan. Alexa dan Jackson sudah kembali berjalan pulang menuju rumah Kakek Parman.
Keduanya melihat kambing dilepas liar untuk mencari makan di tanah lapang. Bagi Jackson itu adalah hal yang menarik dan mengesankan.
Tak terasa hari sudah mendekati siang dan keduanya makin larut menikmati satu persatu keindahan desa. Berjalan meninggalkan lokasi proyek pembangunan menuju tanah lapang sebelum kembali ke rumah Kakek Parman. Tanah lapang yang terlalu luas itu digunakan untuk menggembala kambing atau kerbau sebelum mereka digiring untuk berkubang.
Rumah Kakek Parman persis di ujung jalan setapak itu. Rumah Kakek Parman saat ini adalah bangunan yang baru didirikan setelah direnovasi oleh Alexa. Di atas tanah yang sama rumah dibangun kembali dengan ukuran yang tidak terlalu besar. Karena seperti kebiasaan Kakek Parman dan Nek Aminah, biasanya sisanya dimanfaatkan sebagai halaman rumah untuk menanam sayur dan buah.
Tiba di rumah Kakek Parman, Alexa tak langsung beristirahat. Ia segera menarik tangan Jackson untuk diajak ke kebun samping rumah untuk memetik buah.
Terdapat pohon rambutan yang berbuah lebat. Menggunakan bilah bambu, Alexa merontokkan satu persatu rambutan dari tangkainya. Jackson dibuat takjub dengan kebolehan Alexa.
"Tuan, ngapain bengong?" Teriak Alexa.
Jackson menatap Alexa penuh pertanyaan.
"Ayo dipungut rambutannya." Teriak Alexa lagi dengan tangan yang masih sibuk memegang bilah bambu itu.
'Berani sekali wanita ini memerintah ku.' ucap Jackson dalam hati.
Meski begitu, Jackson tetap mengikuti perintah Alexa. Ia mulai memunguti satu persatu buah berbulu itu untuk dimasukkan ke dalam keranjang. Setelah dirasa cukup, Alexa pun berhenti memetiknya dan membantu Jackson memunguti buah itu.
Sambil duduk di halaman rumah, Alexa menikmati manisnya rambutan. Daging buahnya sangat tebal, sedikit air dan mudah dilepaskan dari bijinya. Rasanya tidak terlalu manis sehingga membuat Alexa tak cepat bosan jika memakannya dalam jumlah banyak.
"Kenapa gak dimakan?" Tanya Alexa menatap Jackson yang hanya memegangi buah rambutan.
"Gue gak pernah makan ini."
"Serius?" Tanya Alexa tak percaya.
"Hmmm...." Balas Jackson mengangguk.
Alexa lalu membantu Jackson mengupas kulit rambutan dan memberikannya pada Jackson.
"Ayo coba!" Seru Alexa.
Perlahan Jackson mulai mencoba mencicipi buah berbulu yang sebenarnya membuatnya geli itu. Namun, setelah merasakannya Jackson menjadi sedikit ketagihan dan kembali mencobanya lagi.
Ponsel Jackson tiba-tiba berdering, ia lalu beranjak ke tempat lain. Alexa menatap punggung Jackson yang beranjak pergi.
"Telepon dari siapa sih, sampai harus pergi segala." Ucap Alexa kesal.
Tiba-tiba Alexa merasa ngantuk, ia lalu merebahkan diri di kursi di depan rumah Kakek Parman yang kini langsung menghadap persawahan. Meski saat siang hari cuaca sangat panas, namun semilir anginnya begitu nikmat. Hingga membuat Alexa tertidur dengan lelap.
Jackson kembali ke teras rumah Kakek Parman dan mendapati Alexa susah tertidur lelap. Jackson tersenyum, melihat wajah Alexa saat tertidur. Terlebih di dalam genggaman tangan Alexa masih terdapat buah rambutan.
Jackson berjongkok dihadapan Alexa lalu perlahan membuka tangan Alexa untuk mengambil rambutan itu. Namun Alexa malah menarik tangan Jackson lalu menggigitnya.
"Mmmm manis sekali." Ucap Alexa.
Jackson menahan tawa. Ia lalu berusaha menarik tangannya, tapi Alexa malah semakin menggenggamnya dengan erat.
'Wanita ini....' Jackson menjadi gemas.
Ia memandangi wajah Alexa dengan jarak yang begitu dekat. Tangan kirinya merapikan anak rambut Alexa yang menutupi wajahnya.
"Alexaaa......" Panggil Nek Aminah secara tiba-tiba di pintu rumah hingga membuat Jackson terkejut dan menarik tangannya.
"Hmmmm....." Ucap Alexa yang ikut tersadar.
"Kenapa tidur di luar. Ayo masuk, kita makan. Nenek sudah masak buat makan siang." Ucap Nek Aminah.
Alexa bangun lalu mengusap wajahnya. Ia menatap Jackson yang terlihat salah tingkah.
Alexa lalu masuk ke dalam rumah disusul Jackson, menikmati makan siang yang di sediakan Nek Aminah.
Setelah makan siang, Alexa memutuskan untuk tidur siang. Sementara Jackson memilih untuk duduk di depan rumah bersama Kakek Parman sekedar mengobrol tentang pembangunan desa. Kakek Parman tak pernah membicarakan tentang Alexa, karena ia sudah pernah berjanji pada Alexa bahwa ia tak akan pernah membicarakan masa lalu Alexa pada siapapun.
***********
Sore menjelang.....
Pemandangan desa di kala sore tak kalah manis. Siluet-siluet alam pedesaan yang terbentuk dari temaramnya senja tiada duanya. Melihat seorang petani yang masih bekerja membajak sawah di kala matahari nyaris terbenam sungguh mengharukan.
Pemandangan manis kala senja melukiskan Menara Sutet yang baru dibangun di tengah persawahan desa.
Di saat siang sudah resmi berakhir, petani masih hanyut di tengah sawah dengan mesin pembajaknya.
Berada di pedesaan selalu menyenangkan. Tempat ini selalu berhasil mengembalikan senyum yang direnggut oleh semrawutnya kota. Panorama dan rasa kehidupan yang tersaji adalah sebuah keindahan yang mahal. Desa adalah tempat di mana setiap orang bisa mendapatkan lebih dari sekadar gemerlapan kota. Di sana orang bisa menemukan lagi senyumnya yang hilang. Di desa jiwa-jiwa yang lelah kembali menemukan keceriaannya.
Sama halnya dengan yang dirasakan Alexa, khususnya Jackson yang baru pertama kali datang ke sebuah pedesaan.
Alexa keluar dari dalam rumah, mendapati Jackson yang masih setia duduk di depan rumah. Tampilan Alexa yang sudah mandi, menjadi lebih fresh dan tampak cantik membuat Jackson terpesona namun masih tetap bisa menahan gejolak di dalam dadanya.
'Sepertinya aku memang sudah jatuh cinta.'
Bersambung.....
Jangan lupa like, komen, vote dan kasih hadiah juga ya.... 🥰