
Alexa melangkah masuk ke dalam kantor. Semua karyawan yang melihatnya menyapa Alexa dengan sopan. Beberapa karyawan memang belum mengetahui wajah Alexa karena ia yang memang tidak terlalu mengekspos dirinya sebagai bos di kantor. Para karyawan hanya mengetahui namanya saja, Dara Alexandra sebagai CEO baru di PT Intan Jaya.
Dengan langkah tergesa-gesa Alexa bergegas menuju ruangannya. Sekretarisnya, Laura sudah menunggunya.
"Selamat pagi Nona." Sapa Laura.
Alexa hanya mengangguk lalu duduk di kursinya dan langsung membaca dokumen yang dibawa Laura.
"Hari ini jadwal meeting dimundurkan karena klien mengalami delay di penerbangan mereka." Ucap Laura.
Alexa yang mendengar hal itu lantas menghempaskan dokumen yang dibacanya di meja.
"Kenapa kau tidak memberitahuku sejak tadi pagi!" Teriak Alexa kesal.
Laura yang baru pertama kali melihat Alexa marah, mendadak tertegun dan sedikit takut.
"Ma... Maafkan saya Nona. Mereka juga baru memberitahukan kepada beberapa menit yang lalu." Balas Laura dengan suara yang bergetar.
Alexa memijit pelipisnya.
"Jadi meeting nya jam berapa?" Tanya Alexa dengan nada melembut.
"Pukul sembilan nanti Nona." Jawab Laura.
Alexa melihat ke arah jam yang menempel di dinding, menunjukkan pukul tujuh lewat tiga puluh menit.
'Masih ada waktu satu setengah jam lagi.' pikir Alexa.
"Cari tahu pria yang bernama Bayu Pratama karyawan bagian produksi. Minta dia menghadap kemari." Titah Alexa.
"Baik Nona."
Laura berbalik dan hendak melangkah keluar. Alexa kembali memanggilnya.
"Iya." Balas Laura.
"Maaf tadi aku hanya sedang kacau saja hingga berteriak padamu."
Laura tersenyum.
"Saya mengerti." Ucapnya lalu beranjak keluar ruangan Alexa.
Alexa duduk bersandar di kursinya dan sesaat berputar ke kiri dan kanan. Agenda meeting yang ditunda membuatnya hanya bisa menunggu tanpa bisa berbuat apapun. Ia lalu berdiri dan menatap ke arah kaca jendela yang tembus pandang. Dari ruangannya yang berada di lantai atas, ia melihat ke arah luar dimana pemandangan jalanan kota yang tampak sedikit macet.
"Berbeda sekali dengan suasana di desa." Ucapnya.
Suara pintu di ketuk.
"Masuk!" Teriak Alexa tanpa berbalik, ia terus memandang ke arah jalanan kota yang ramai lancar itu.
"Sesuai perintah Nona." Ucap Laura. "Saya sudah membawa karyawan yang bernama Bayu Pratama kemari."
Pria bernama Bayu itu baru saja tiba dan duduk di ruangannya, namun ia dibuat bingung saat seseorang memintanya untuk menghadap pada CEO perusahaan.
Bayu berdiri dengan kikuk, ia terus menatap ke arah Alexa yang belum kunjung berbalik badan menatap Bayu yang semakin penasaran.
'Perasaan aku pernah melihat wanita yang mengenakan baju yang sama dengan Bos?' pikir Bayu. 'Apa jangan-jangan....?'
Alexa berbalik, hal itu sontak membuat Bayu membelalakkan matanya. Bayu tampak sangat terkejut dan seketika nyalinya menciut. Ia tak menyangka wanita yang ada dihadapannya saat ini adalah CEO perusahaan tempatnya bekerja. Dan lebih parahnya, ia tadi sempat menggoda Bos nya sendiri.
'Bagaimana ini?'
Alexa berjalan mendekat ke arah Bayu hingga semakin membuat pria itu gemetar.
"Kau masih ingat aku?" Tanya Alexa.
Bayu menunduk dan tak berani mengatakan apapun.
"Kenapa nyali mu tiba-tiba menciut? Bukannya tadi di halte bis kau pria yang terus menggangguku?"
Laura tampak semakin bingung. Ia dibuat penasaran dengan kesalahan apa yang sudah dilakukan pria yang bernama Bayu didepannya ini hingga memprovokasi Bos mereka.
"Maafkan saya. Saya tidak...."
"Tidak apa?" Potong Alexa. "Kau sudah berlaku tidak sopan padaku. Dan kesalahan mu itu tidak bisa ku maafkan." Ucap Alexa kembali duduk ke kursinya. "Tak perduli orang yang hendak kau lecehkan tadi itu aku atau bukan, tapi aku tidak suka mempunyai karyawan yang tidak memiliki attitude. Jadi, mulai hari ini, kamu saya pecat."
"Tolong maafkan saya. Saya tidak sengaja. Berikan saya kesempatan satu kali lagi agar...."
"Tidak." Potong Alexa. "Melihat dari sikapmu, kau sudah sering melakukannya pada wanita lain. Dan aku tidak mau berurusan dengan karyawan yang tiba-tiba terkena kasus pelecehan dan akan merusak reputasi perusahaan ini. Jadi, seperti yang aku katakan tadi. Milai hari ini, kau di pecat." Alexa menarik laci mejanya, mengeluarkan sebuah amplop dan menaruhnya diatas meja.
Bayu terus menatap Alexa dengan tatapan meminta belas kasihan. Sementara Laura hanya bisa terdiam dan menyaksikan semuanya.
"Ambil pesangon mu dan segera tinggalkan perusahaan ini." Ucap Alexa. "Aku harap kamu bisa menjadikan semua ini pelajaran agar tidak mengulangi perbuatan tidak menyenangkan yang kamu lakukan itu. Bersyukurlah aku tidak melaporkanmu ke pihak yang berwajib."
"Tidak." Teriak Bayu. "Aku tidak terima dipecat begitu saja. Atas dasar apa kau memecat ku. Aku sudah bekerja lama disini dan kau baru datang beberapa hari yang lalu dan seenaknya memecat ku begitu saja. Aku tidak terima, aku akan menuntut." Lanjutnya.
"Hei, kau sudah gila ya?" Ucap Laura menepuk pundak Bayu.
"Kau tidak usah ikut campur." Teriak Bayu. "Pokoknya aku tidak terima. Aku menuntut hak ku. Enak saja aku dipecat secara sepihak. Tidak, tidak bisa." Teriaknya lagi.
Alexa menggeleng dan tertawa. Ia lalu menelepon seseorang lewat telepon kantor.
"Minta satpam untuk masuk ke ruangan ku dan bawa keluar pembuat onar ini." Titah Alexa.
Bayu semakin emosi, ia hendak maju meraih Alexa.
"Selangkah lagi kau maju, kau terima nasibmu berada di penjara setelah ini." Ancam Alexa.
"Awas kau.... Aku akan membalas mu." Teriak Bayu pada Alexa.
Saat Bayu sudah diseret keluar menjauh, Laura mendekat ke arah Alexa dan berdiri tepat dihadapan Alexa yang duduk dengan memijit keningnya.
"Ada apa sebenarnya Nona?" Tanya Laura.
Alexa pun mulai menceritakan apa yang baru saja dialaminya di halte bis.
"Kau tahu Laura, aku hanya tidak menyukai pria yang bersikap melecehkan seperti itu." Ucap Alexa.
"Mungkin itu juga karena dia tidak mengetahui siapa Nona sebenarnya."
"Jadi maksudmu, jika dia tahu bahwa aku adalah Bos nya maka dia tidak akan melecehkan aku. Begitu?" Tanya Alexa. "Lalu bagaimana jika dia melakukannya pada wanita lain?" Tanya Alexa lagi. "Dilihat sekilas dari sikapnya, pria itu sudah sering melakukan hal seperti itu."
"Jika saya boleh memberikan saran, bagaimana kalau kita memasang gambar Nona di kantor agar para karyawan mengenal Nona."
Alexa tertawa.
"Kau tidak perlu melakukan hal seperti itu. Biarkan saja semuanya berjalan apa adanya. Aku ingin semua orang yang bekerja di kantor ini saling menghargai tanpa memandang status mereka. Jangan ada yang sampai merasa karena jabatannya lebih tinggi jadi bisa semena-mena pada bawahannya. Dan sebaliknya, bawahan juga jangan sampai seenak hati bekerja karena mendapatkan atasan yang tidak galak."
Alexa kembali tertawa saat Laura mengarahkan kedua jempolnya ke arah Alexa.
Dari arah luar ruangan Alexa terdengar keributan.
"Coba kau lihat, ada apalagi disana?" Titah Alexa.
Laura mengangguk lalu keluar ruangan Alexa. Tak lama setelah itu, Laura kembali masuk dengan seorang pria yang membawa sebuah kotak besar.
"Maaf Nona, pria ini mengatakan ia adalah utusan dari CEO Samudera Jaya. Dia datang untuk mengantarkan paket."
Pria itu melangkah maju dan meletakkan kotak yang dibawanya ke meja Alexa.
"Maaf jika sudah membuat gaduh. Tapi Tuan Jackson meminta saya untuk mengantarkan secara langsung pada Nona Alexa. Hanya tadi terjadi keributan karena para penjaga melarang saya masuk, karena tidak punya temu janji dengan Anda."
Alexa menarik kotak yang dikirimkan Jackson mendekat padanya. Dan perlahan membukanya. Dahi Alexa mengkerut melihat isi dari kotak itu. Terdapat sebuah setelan jas berwarna pink dengan kemeja berwarna putih lengkap dengan sepatu dan juga tas yang semuanya serba pink.
"Kalau begitu saya permisi Nona." Ucap pria itu lalu pergi.
Laura ikut keluar dari ruangan Alexa.
"Kenapa harus warna pink?" Tanya Alexa.
Ia kembali meletakkan setelan jas itu ke dalam kotak dan menutup kotaknya. Kemudian ponselnya terdengar berdering, Alexa melihat nama 'Mr.Cold' memanggil.
"Segera ganti pakaianmu dengan yang aku kirimkan." Ucap Jackson tanpa basa-basi.
"Sebelumnya terima kasih ya Tuan Jackson karena sudah begitu perhatian padaku. Tapi, mungkin kau tidak tahu bahwa aku tidak terlalu menyukai warna pink. Akan lebih baik jika kau mengirimkan ku warna peach, biru muda, atau merah muda yang tidak terlalu menor seperti ini." Protes Alexa.
"Sudah selesai?" Tanya Jackson yang bosan mendengar ocehan Alexa. "Aku hanya memintamu untuk berganti pakaian. Jangan lagi menggunakan pakaian seksi yang kau kenakan pagi tadi. Mengenai setelan yang aku kirim, awalnya aku ingin memesankan mu warna putih, karena tidak ada stok dan yang tersisa hanya pink. Jadi aku mengirimkan mu yang warna pink. Ku pikir kau pasti akan terlihat cantik dengan warna itu. Jadi cepat kenakan jangan banyak bertanya, daripada kau harus mengenakan pakaian seksi yang tadi pagi itu."
Jackson memutuskan panggilan telepon.
"Cih, lewat telepon saja masih bisa memaksa. Dasar."
Meski begitu, Alexa tetap mengikuti perintah Jackson dengan mengganti pakaiannya. Dan setelan yang dikirimkan Jackson memang sangat pas dikenakan Alexa. Hanya saja Alexa merasa kurang percaya diri karena warna pink.
"Tapi, jika dilihat-lihat. Aku malah sangat cocok mengenakan warna ini." Ucap Alexa saat berputar di depan cermin besar yang terdapat dalam ruangannya itu.
"Memang terlihat sangat cocok ditubuh Anda Nona." Ucap Laura tiba-tiba sudah berdiri dibelakang Alexa. "Anda malah semakin cantik." Lanjutnya.
"Kau bisa saja." Ucap Alexa.
"Oh ya Nona, waktu rapat akan segera dimulai. Para klien dari Negara K sudah tiba dan dalam waktu 10 menit lagi mereka sampai disini."
"Kalau begitu, segera siapkan semuanya. Lima menit lagi kita sudah harus ada dalam ruang rapat." Ucap Alexa. "Lebih baik menunggu daripada di tunggu."
"Baik, Nona." Balas Laura.
Dan akhirnya meeting bersama klien dari Negara K bisa terlaksana. Alexa dapat berkomunikasi dengan baik hingga membuat para klien kagum dengan pemahamannya di dunia bisnis.
Alexa pun bisa bernapas lega setelah meeting selesai dilaksanakan. Ia lalu mengirim pesan teks pada Jackson.
[Terima kasih atas setelan yang kau kirim tadi. Aku suka dan menjadi lebih percaya diri, hingga semua urusanku bisa berjalan lancar.]
Jackson yang juga tengah meeting membaca pesan itu dengan tersenyum hingga membuat para kliennya bingung, karena untuk pertama kalinya melihat Jackson tampak tersipu.
"Sepertinya sedang musim bunga. Lihatlah CEO kita tampak sedang berbunga-bunga." Bisik salah seorang karyawan pada karyawan lainnya yang ikut dalam agenda rapat.
Jackson terus menatap layar ponselnya. Ia mendapat kiriman potret Alexa yang mengenakan setelan yang dikirimnya. Bibir Jackson semakin menampilkan senyuman yang lebar.
'Kau lucu sekali.' ucapnya dalam hati.
Para karyawan yang ikut dalam rapat semakin berbisik-bisik melihat perubahan raut wajah Jackson yang semakin sumringah. Jackson yang menyadari dirinya tengah menjadi bahan perbicangan langsung kembali ke mode serius.
"Apa yang kalian lihat?" Bentaknya yang membuat seisi ruang rapat langsung menunduk.
Tak ada yang berani mengangkat kepala sedikitpun.
"Kenapa diam saja?" Ucap Jackson lagi. "Ayo dilanjutkan." Titah Jackson.
Rapat kembali dilanjutkan, namun Jackson kembali fokus pada layar ponselnya. Membuat para anggota rapat lainnya hanya bisa menggelengkan kepala.
Bersambung.....
Jangan lupa tinggalkan like, komen, vote dan beri hadiah juga ya.... 🥰