
Jackson mendapati Alexa tengah berbincang dengan seorang karyawan pria di dalam ruang perawatan. Wajahnya memang masih pucat, namun ia sudah nampak lebih baik dibandingkan saat di dalam lift tadi.
"Mau makan sesuatu gak? Biar aku beliin." Ucap pria yang bernama Putra itu kepada Alexa.
"Gak usah, aku udah sarapan tadi." Balas Alexa tersenyum.
"Atau kamu mau minum jus? Aku pesenin yah!" Tawar Putra lagi.
Alexa menggeleng.
"Makasih, tapi beneran deh. Aku udah gak apa-apa."
Putra tiba-tiba menggenggam tangan Alexa.
"Aku khawatir banget pas tau kalau kamu yang terjebak di dalam lift bareng....."
"Khemmm....." Deheman Jackson sontak membuat Putra melepaskan pegangan tangannya pada Alexa dan segera berdiri.
Jackson berjalan mendekat ke arah ranjang tempat Alexa duduk bersandar.
"Gak ada kerjaan?" Tanya Jackson pada Putra.
Putra terdiam, ia memilih menunduk.
"Perusahaan ini tidak menggaji karyawan yang kerjaannya mengobrol di saat jam kerja." Ucap Jackson tegas. "Yaaaa, kalau memang mau dipecat. Silahkan saja dilanjutkan." Sambungnya.
"Ma-maaf Tuan." Ucap Putra gemetar. "Lex, aku balik ke ruangan aku du...."
"Keluaaarr...." Teriak Jackson yang membuat Putra tak melanjutkan ucapannya.
'Dia kenapa sih?' tanya Alexa dalam hati.
Putra mengambil langkah seribu untuk segera keluar dari ruangan perawatan. Sementara Jackson terus menatap Alexa dengan tajam.
Suasana hening....
Setelah Putra pergi, tak ada lagi kata-kata yang keluar dari mulut Jackson. Ia hanya berdiri mematung sambil terus memandangi Alexa. Alexa yang lama kelamaan merasa risih karena terus dipandang.
"Tuan ada masalah apa dengan saya?" Tanya Alexa. "Apa saya sudah melakukan kesalahan?" Lanjutnya.
"Tentu saja kau salah!" Teriak Jackson yang membuat Alexa terkejut. "Lo udah mengambil ci....." Ucapan Jackson terhenti.
"Ada apa Tuan?" Tanya Alexa lagi. "Apa yang sudah saya ambil?" Raut wajah Alexa tampak heran.
Jackson terdiam, ia memilih tidak menjawab pertanyaan Alexa.
"Tuan...!"
"Aaahhh sudahlah." Lagi-lagi Jackson berteriak. "Lebih baik sekarang lo ngomong sama gue." Lanjut Jackson. "Semua yang lo lakukan tadi hanya sandiwara kan?"
"Ma-maksud Tuan?"
"Sudahlah, jangan pura-pura bego. Ngaku aja, lo sengaja kan pingsan dengan maksud karena lo mau menggoda gue."
"Hah!" Alexa semakin bingung.
"Gak usah pura-pura lagi deh. Mending lo jujur aja, sejak awal lo emang pura-pura pingsan buat dapat simpati dari gue. Terus disaat gue ketipu, lo dengan mudahnya buat goda gue. Gitu kan?"
"Kenapa saya harus melakukan hal itu?" Tanya Alexa.
"Karena selama ini, lo memang suka goda gue. Bukan begitu?"
Alexa memilih diam, ia tak ingin berdebat dengan kondisinya yang masih lemah. Lagipula, ia sendiri tak akan mungkin mengakui bahwa dirinya selama ini memang bermaksud untuk menggoda Jackson.
"Kenapa lo diam?" Bentak Jackson kesal.
Seorang pria berpakaian Dokter masuk ke dalam ruangan untuk memeriksa kondisi Alexa. Jackson yang sedari tadi emosi memilih mundur dari sisi ranjang Alexa dan membiarkan Dokter memeriksanya.
Dokter lalu mulai memeriksa Alexa. Mulai dari mengukur tekanan darahnya, detak jantung hingga memeriksa mata Alexa dengan sebuah senter.
"Katakan padaku Dokter. Kondisinya baik-baik saja kan? Semua yang dilakukannya hanya sandiwara kan?" Tanya Jackson.
"Apa maksud Anda Tuan?" Kali ini giliran Dokter yang balik bertanya. "Kondisi Nona Alexa memang memprihatinkan tadi, saat pingsan. Terlambat sedikit saja, ia akan kehabisan napas." Lanjut Dokter itu yang membuat Jackson terdiam.
Dokter itu kembali memegang pergelangan tangan Alexa, memegang tepat di bagian nadinya.
"Saya lihat Anda mengalami trauma Nona.," Ucap Dokter itu pada Alexa. "Sepertinya ada kejadian di masa lalu yang membuat Anda trauma hingga sampai saat ini rasa trauma itu kembali." Lanjut Dokter yang dibalas anggukan oleh Alexa.
"Apa yang terjadi?"
Alexa terdiam, dia tak tahu bagaimana harus memulai untuk menjelaskan semuanya.
"Maaf Dok, saya tidak bisa menjelaskannya." Balas Alexa.
Dokter pun mengangguk. Setelah memberikan Alexa obat dan vitamin, ia lalu keluar ruang perawatan diikuti Jackson.
"Tuan, saya tidak tahu apa yang sudah terjadi pada Nona itu. Tapi, yang jelas saya bisa simpulkan dia pernah mengalami sesuatu yang membuatnya menjadi trauma yang sangat dalam." Ucap Dokter pada Jackson.
**************
Stelah selesai di periksa Dokter, Alexa memilih untuk tinggal lebih lama di ruang perawatan. Lalu saat jam makan siang, Alexa merasa jauh lebih baik dan memilih untuk tetap di kantor dan menuju kantin kantor.
Beberapa karyawan menyapanya, yang lain melihatnya dengan tatapan tidak suka. Alexa memilih untuk tidak menghiraukan mereka dan memilih duduk setelah mengantri untuk mengambil makanan.
Seorang wanita yang merupakan sekretaris Jackson mendekati Alexa yang duduk seorang diri.
"Hey, aku pikir kamu udah pulang." Ucap Maya, sekretaris Jackson. "Kamu udah baikan?"
"Udah. Aku baik-baik aja kok." Balas Alexa.
Keduanya lalu menikmati makan siang mereka. Alexa sesekali melirik ke arah para karyawan lain yang memang melihatnya dengan tatapan sinis.
"Kamu tahu gak, mereka sebenarnya kenapa?" Tanya Alexa pada Maya.
"Maksud kamu?" Maya balik bertanya.
"Noh." Alexa melirik ke arah para karyawati yang terus saja melihat ke arahnya.
"Hmmm... Sirik kali." Balas Maya santai.
"Sirik kenapa?" Tanya Alexa heran.
"Karena mereka gak bisa dekat sama Si Bos kayak kita berdua." Jawab Maya. "Terlebih kamu, yang kemana-mana selalu ngikut sama Bos. Bahkan aku aja sebagai sekretaris udah gak terlalu penting buat Bos semenjak ada kamu."
"Jadi, kamu termasuk kaum yang sirik juga gitu sama aku." Ledek Alexa.
"Ya gak lah. Justru, aku tuh seneng banget. Semenjak ada kamu, pekerjaan aku berkurang dan gak selalu hadapin Si Bos yang jutek itu." Maya tertawa.
"Kalau boleh tau, sejak kapan kamu kerja disini?" Tanya Alexa.
"Udah lama banget. Saking lamanya, aku bahkan udah hafal banget semua orang yang ada di kantor ini."
"Jadi, kamu kenal banget dong sama Bos?"
"Kalau Bos mah, udah dari dulu sebelum kerja disini juga udah kenal." Jawab Maya yang membuat Alexa kaget.
"Serius?"
"Serius lah." Balas Maya.
Maya lalu bercerita bahwa dia dan Jackson adalah teman dari SMA hingga kuliah. Saat Jackson mulai menjadi CEO di perusahaan, dirinya lalu ditawari pekerjaan sebagai sekretaris.
"Ohhh...." Ucap Alexa mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Kamu mau tahu gak, kenapa sebenarnya semua cewek-cewek di kantor ini liatin kamu terus?"
"Kenapa?" Tanya Alexa penasaran.
"Karena Si Bos tadi kedapatan lagi nyium kamu di lift."
"What?" Alexa sangat terkejut.
Maya terkekeh melihat ekspresi Alexa.
"Sebenarnya bukan nyium sih. Tapi lebih ke ngasih napas buatan gitu."
"Serius?" Alexa benar-benar tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Serius lah. Dan yang buat semuanya heboh itu, karena banyak karyawan yang lihat kejadian itu. Kayaknya Si Bos gak nyadar kalau pintu lift udah kebuka saat dia nyium kamu." Ujar Maya.
'Pantas saja dia marah-marah dan berpikir aku berpura-pura.' ucap Alexa dalam hati.
"Hei, kenapa ngelamun?" Tanya Maya menepuk pundak Alexa.
"Nggak apa-apa." Balas Alexa.
"Ya udah, kalau gitu aku balik ke ruangan dulu. Kamu kalau mau pulang, pulang aja gih. Urusan Si Bos, biar aku yang atur. Lagian dia juga kan pasti ngerti kalau kamu harus pulang."
Maya lalu pergi meninggalkan Alexa yang masih duduk mematung seraya menyentuh bibirnya.
Bersambung....