
Mobil yang dikendarai Robby melaju dengan sangat kencang di jalanan yang sudah mulai lengang. Malam memang sudah semakin larut, jam sudah berada pada angka 12. Jalanan di area perumahan Bu Susan memang di jam-jam seperti itu sudah sepi.
"Apa harus aku serahkan begitu saja pada Alexa?" Ucap Robby. "Ah, bisa saja dia menipuku." Lanjutnya.
Robby dilanda kebimbangan antara memberikan semua berkas-berkas itu pada Alexa atau tidak.
'Bagaimana kalau wanita itu merencanakan sesuatu dan tetap saja memenjarakan aku?' pikir Robby.
"Lebih baik aku kabur saja. Dengan semua yang aku punya ini, tidak ada apa-apanya dengan yang diambil Alexa. Hahahaha....."
Alih-alih menuju apartemen milik Alexa, Robby malah mengambil jalur yang berbeda. Ia berbelok masuk ke jalan tol dengan tujuan luar kota.
Baru saja Robby bisa bernapas lega, dua mobil tiba-tiba membuntutinya. Robby yang menyadari hal itu, dengan segera tancap gas. Tapi, semuanya sia-sia, karena pada akhirnya Robby terkejar juga.
Sebuah mobil mengerem mendadak di depan mobil Robby membuat Robby membanting stir ke kiri dan menabrak pembatas jalan. Robby yang kesal langsung keluar begitu saja dari dalam mobil. Tak hentinya mengungkapkan kekesalannya dengan menyumpahi pemilik mobil yang tiba-tiba berhenti mendadak di depannya.
Saat pemilik mobil keluar, nyali Robby langsung ciut karena orang tersebut adalah para pria yang memeganginya di apartemen Alexa tadi.
Sementara dari sebuah mobil yang ikut berhenti di belakang Robby, sosok Alexa turun dan mendekati Robby yang masih mengenakan jubah mandinya.
"Ckckckck..... Robby.... Robby...." Ucap Alexa dengan menggelengkan kepalanya. "Kau pikir bisa kabur begitu saja? Jangan mimpi." Dengan sekali menjentikkan jarinya, kedua pria suruhan Alexa itu langsung memegangi kedua lengan Robby.
"Lepaskan aku." Teriak Robby. "Jangan macam-macam, aku bisa melaporkan kalian pada polisi." Ancam Robby.
"Hahahaha atas dasar apa kau akan melaporkanku ke polisi?" Alexa terbahak. "Bukankah selama ini semua orang sudah mengira bahwa Dara Alexandra sudah mati? Apa kau mau melaporkan orang yang sudah mati menculik mu pada polisi?" Alexa benar-benar mengejek Robby.
"Kurang ajar kau Alexa."
"Aku kurang ajar?" Ucap Alexa menunjuk dirinya sendiri. "Coba lihat dirimu sendiri. Kau lebih dari binatang." Cibir Alexa. "Bagaimana pendapat orang-orang jika mereka tahu perbuatan bejat yang kau lakukan dengan mertuamu sendiri? Bukankah itu lebih dari kurang ajar."
Raut wajah Robby langsung berubah.
"Kau penasaran dari mana aku tahu tentang perbuatan menjijikkan mu itu?" Tanya Alexa. "Robby.... Robby, kau terlalu menganggap aku orang biasa-biasa saja. Kau sendiri pasti tau kan, uang bisa melakukan segalanya. Termasuk membayar orang dalam rumah tempat isterimu itu tinggal untuk memata-matai kalian."
Robby memandang Alexa penuh kebencian.
"Oh ya, kau mau tahu kenapa isterimu dan adik ipar mu bisa mengetahui apa yang sedang kau lakukan dengan mertuamu di kamar itu?" Alexa mendekati Robby. "Akulah dalangnya. Orang suruhan ku, melaporkan padaku tentang semua gerak-gerik mu. Dan aku yang memintanya untuk memberitahu isterimu."
"Kau!" Robby berusaha maju mendekati Alexa, namun kedua orang pria yang memeganginya sejak tadi menahan dirinya.
Alexa mendekati Robby, lalu menamparnya dengan keras.
Plakk!!! Plakkk!!
Dua kali Alexa menampar Robby hingga membuat pipinya memerah.
"Sudah begitu lama aku menunggu datangnya hari ini. Dan ini, hanya awalnya saja. Kau akan menerima yang lebih sakit dari yang kau lakukan padaku mulai besok." Ucap Alexa lalu berbalik berjalan menuju mobil.
Sebelum masuk ke dalam mobil, Alexa kembali berbalik badan.
"Bawa dia dan beri dia pelajaran." Titah Alexa.
*********************
Sementara itu di kediaman Bu Susan....
Bu Susan sudah selesai membersihkan diri dan keluar dari kamar mandi mengenakan jubah mandi. Tubuhnya masih terasa lemas setelah berhubungan dengan Robby.
Bu Susan memandangi pantulan dirinya di cermin dan tersenyum. Ia masih membayangkan kejadian yang baru saja dilewatinya bersama menantunya itu.
"Ah, mungkin Robby mau hidup bersamaku setelah bercerai dengan Gea." Ucap Bu Susan lagi seraya mengusap wajahnya.
Bu Susan berbalik, sontak membelalakkan matanya saat melihat brankas terbuka. Ia lalu dengan cepat mendekat ke arah brankas dan kaget saat mendapati brankas dalam keadaan kosong. Bu Susan lantas berlari keluar kamar.
"Geaaaaa....... Jennieeee......" Teriak Bu Susan.
Gea dan Jennie yang sejak tadi memang duduk di ruang keluarga menatap Bu Susan penuh kebencian.
"Dimana Robby?" Tanya Bu Susan lagi.
Gea dan Jennie memilih diam dan hanya melipat tangan mereka.
"Kenapa kalian diam saja? Mama nanya sama kalian." Teriak Bu Susan.
"Buat apa Mama cari Mas Robby?" Tanya Gea. "Apa Mama masih kurang puas? Apa Mama mau Mas Robby melayani nafsu birahi Mama itu?" Teriaknya.
"Jaga mulut kamu Gea." Balas Bu Susan tak kalah berteriak.
"Kenapa aku harus menjaga mulut aku? Sedangkan Mama sendiri tidak tau menjaga sikap Mama. Aku gak nyangka Mama masih gak tau malu begitu nanyain Mas Robby didepan aku."
"Kamu mau nyalahin Mama tentang kejadian tadi? Ya jangan gitu dong, Robby sendiri yang duluan deketin Mama. Dia tergoda dengan kecantikan Mama, malah dia bilang setelah cerai sama kamu dia bakal hidup sama Mama."
"Dasar gak tahu malu." Pekik Gea.
Plakk!!!
Wajah Gea memerah setelah mendapat tamparan dari sang Mama.
"Cukup Ma!" Kali ini Jennie yang berteriak. "Kalau Mama memang sangat menyukai pria bejat itu, silahkan kejar dia sana. Toh dia sudah membawa semua berkas-berkas penting dari brankas Mama. Bukankah itu alasan Mama cari dia ke Kak Gea?" Ucap Jennie.
Bu Susan terdiam.
"Sudahlah Kak Gea. Untuk apa Kak Gea menangisi pria bejat seperti Robby itu. Dan satu hal yang buat aku gak habis pikir sama Mama, apa gak ada pria lain diluar sana yang bisa buat Mama melepaskan hasrat Mama itu. Sampai-sampai menanti Mama sendiri Mama embat. Sumpah ya, aku malu punya orang tua kayak Mama."
"Diam kamu." Teriak Bu Susan.
"Gak, aku gak akan diam. Selama ini aku muak liat kelakuan Mama yang selalu bawa laki-laki ke rumah. Aku dan Kak Gea diam aja karena masih hormat sama Mama. Tapi, kali ini... Mama keterlaluan. Sekarang, apa yang mau Mama lakukan? Robby sudah kabur dengan semua berkas-berkas penting aset-aset kita."
Lagi-lagi Bu Susan terdiam, ia lalu memilih masuk ke dalam kamar dan mulai menghubungi seseorang.
Sementara itu di tempat lain...
Alexa sudah kembali ke apartemennya. Jam di dinding kamarnya sudah menunjukkan pukul dua dini hari, namun ia belum juga bisa memejamkan mata. Masih mengingat semua kejadian yang baru saja ia alami.
Alexa meraih ponsel dari dalam tasnya dan mendapati sebuah pesan singkat dari Jackson.
[Maaf soal tadi.]
Alexa tiba-tiba tersenyum lalu menaruh ponsel di dadanya kemudian terlelap, berharap hari esok semuanya akan baik-baik saja dan berjalan sesuai dengan apa yang ia inginkan.
Bersambung.....
Ingat, jangan lupa untuk tinggalkan like, komen, vote dan beri hadiah juga ya... 🥰