
"Kenapa diam saja?" Ucap Jackson lagi.
Alexa terdiam mempertahankan gayanya selama beberapa detik sebelum menerima kenyataan akan kegagalan rayuannya. Dia sangat tidak terima di dalam hati.
'Bagaimana dia bisa menolak pesona yang aku lakukan?' wajah Alexa terlihat kesal.
"Sana keluar." Jackson lagi-lagi mengusir Alexa keluar.
Alexa berusaha menahan rasa kesalnya agar tidak terlihat jelas dimata Jackson. Tepat saat dia merapikan ujung roknya dan hendak keluar, Jackson memanggilnya kembali.
“Hei." Alexa menoleh. "Berapa umur lo?” tanya Jackson.
Alexa tertegun, “26.” jawabnya.
“Masa-masa yang bagus.” Balas Jackson. "Sudah sana keluar." Titahnya lagi.
Alexa berbalik dengan wajah yang sangat kesal. Setelah keluar dari ruangan Jackson, Alexa langsung menuju toilet, membasuh wajahnya dengan air. Merasa kesal dengan apa yang baru saja terjadi. Alexa biasanya akan berhasil hanya dengan 3 kali berinisiatif pada 99% mangsa yang pernah didekatinya, dan Jackson adalah pengecualian 1%.
Hari-hari berlalu, percakapan Alexa dengan Jackson masih berada di garis normal. Paranoid saja Jackson tidak, apalagi berniat selingkuh dengan tergoda oleh godaan yang selalu ditunjukkan Alexa.
"Jackson benar-benar sulit ditangani." Ucap Alexa pada Lika saat keduanya bertemu di mall saat hari libur.
"Yang pernah aku dengar, dia itu memang cuek orangnya. Aku gak nyangka aja sih dia bisa pacaran sama si Jennie yang usianya jauh banget dibawah dia."
"Emang usia Jackson berapa?" Tanya Alexa lagi.
Alexa memang tak mengetahui pasti berapa usia pria yang tengah berusaha digodanya itu. Orang suruhannya hanya memberikan foto dan informasi tentang pekerjaan Jackson. Mengenai identitas yang detail tentang Jackson tak dijelaskan.
"31." Jawab Lika.
"Hah, serius kamu?" Tanya Alexa tak percaya.
"Hem. Tahun lalu, dia kan ultah yang ke 30. Ya berarti tahun ini 31 dong."
Alexa mengangguk-angguk.
"Berarti kurang lebih dia beda 10 tahun dengan Jennie." Balas Alexa. "Aku penasaran, bagaimana bisa pria secuek dia bisa jatuh cinta pada Jennie yang centil itu." Lanjutnya.
"Entahlah. Mungkin Jennie pake' jampi-jampi." Ucap Lika terbahak. "Oh ya, kamu sendiri sama Robby gimana? Udah nguras habis kantong dia belum?" Lanjut Lika bertanya.
"Aku udah dapat banyak dari dia. Apartemen udah kebeli 2. Noh mobil di parkiran satu. Belum lagi duit di ATM, nol nya udah gak kehitung. Aku tinggal perlu mengakusisi perusahaannya aja. Tapi masih bingung, gimana caranya. Kamu punya ide gak?" Alexa balik bertanya.
"Bingung juga aku. Eh, tapi-tapi dia udah cerai belum?"
"Masih dalam proses. Sidang pertama udah jalan, disuruh mediasi. Gak tahu deh, gimana kelanjutannya. Aku belum pernah ketemu dia lagi, udah semingguan ini."
"Emang kamu gak ada rencana buat ketemu gitu? Gak takut dia curiga karena kamu menghindar terus?"
"Niatnya malam ini sih mau ngajak ketemuan. Tapi gak tahu deh gimana entar. Aku capek banget soalnya kerja bareng Jackson. Tuh cowok ngeselin habis. Aku diminta ngelakuin inilah, itulah. Gak ada habis-habisnya." Alexa menyandar di kursinya.
"Sabar kali Bu..." Balas Lika.
"Digoda juga gak mempan-mempan." Gerutu Alexa.
"Tumben banget ada cowok yang tahan sama godaan kamu."
"Nah itu dia yang buat aku bingung." Alexa lalu menenggak minumannya hingga tak tersisa.
"Apa jangan-jangan dia belok?"
"Belok?" Alexa tampak bingung. "Maksud kamu?"
"Belok, masa kamu gak ngerti sih. Jeruk makan jeruk."
"What?" Alexa membelalakkan matanya karena terkejut atas ucapan sahabatnya itu. "Ah, gak mungkin. Masa cowok se'macho dia kayak gitu."
"Behh, kamu gak tahu aja. Diluar sana banyak cowok yang tampangnya maskulin tapi jiwanya feminim." Lika tertawa terbahak.
Alexa sontak mendorong tubuh gadis berambut sebahu itu seraya tertawa.
"Buktiin aja. Coba deh sekali-kali kamu pakai lingerie atau bikini depan dia. Kalau sampai pisangnya loyo saat lihat kamu kayak gitu. Fix udah dipastikan dia itu tipe cowok yang jeruk makan jeruk." Lagi-lagi Lika tertawa.
Alexa akhirnya ikut tertawa saat membayangkan wajah macho Jackson tiba-tiba berubah jadi kemayu. Suara tawa Alexa bahkan lebih besar dari tawa Lika.
"Gila sih, kalau dia beneran kayak gitu." Ucap Alexa seraya memegang perutnya yang sakit karena tertawa.
Tawa keduanya mendadak terhenti saat ponsel Alexa yang berada diatas meja berdering.
"Siapa?" Tanya Lika.
Alexa memperlihatkan layar ponselnya yang menunjukkan nama Robby tengah memanggil.
"Duh, si mata keranjang nelpon." Ledek Lika.
Alexa tersenyum lalu menjawab panggilan dari Robby.
"Halo sayang...." Sapa Robby diseberang telepon.
"Iya Mas." Balas Alexa dengan nada manja.
"Sayang, kamu dimana? Mas kangen nih, Mas main ke apartemen kamu ya."
"Aku juga kangeeeeen banget sama Mas." Balas Alexa.
Lika yang berada didepannya sontak membuat ekspresi seolah ingin muntah. Alexa menahan tawa dan hanya memelototi Lika yang sontak menutup mulut agar tak tertawa.
"Jangan ke apartemen deh Mas. Aku takut ketahuan. Cari tempat lain aja." Lanjut Alexa.
"Dimana ya kira-kira? Kalaupun Mas ngajak kamu ketemu di hotel, kamu pasti gak mau." Ucap Robby. "Eh, ngomong-ngomong kamu lagi dimana sayang? Kok kayak ramai banget itu suara-suara orang."
"Mmmm.... Aku lagi nge'mall bareng Lika Mas. Biasa shoping-shoping manja."
"Mas boleh kesitu gak?" Tanya Robby.
"Gimana ya Mas. Aku kan lagi jalan sama Lika. Lagian aku takut bakal ada orang yang ngikutin Mas."
"Tenang aja sayang. Mas jamin gak bakal ada yang ngikutin Mas. Terus masalah si Lika ya biarin aja dia ikut. Sekalian deh Mas belanjain kalian berdua."
"Waaah beneran Mas?" Pekik Alexa yang membuat Lika menaikkan alisnya seolah bertanya 'kenapa' pada Alexa.
"Ya benarlah sayang. Kamu kirim aja alamat mall nya, Mas bentar lagi kesitu."
Sambungan telepon terputus. Alexa memberitahu Lika bahwa Robby akan datang dan akan mentraktir keduanya.
"Seriusan si Robby mau belanjain aku juga?"
"Serius. Lagian itu juga uang aku kan." Balas Alexa tertawa. "Pokoknya nanti kamu pilih-pilih aja. Biar aku yang minta Robby buat bayarin kamu."
Setengah jam kemudian, Robby datang dan menepati janjinya untuk membelanjakan kedua wanita itu. Alexa tak menyia-nyiakan kesempatan untuk memilih apa yang ingin ia beli, sekalian memilihkan beberapa barang yang memang dibutuhkan Lika.
"Mas beneran mau bayarin buat Lika sahabat aku kan?" Tanya Alexa saat memilihkan pakaian untuk Lika.
"Tentu saja sayang. Asal kau bahagia, Mas juga bahagia."
"Aaahh, Mas baik banget deh." Alexa mendaratkan ciuman di pipi Robby dengan cepat lalu berlari menuju Lika yang tengah sibuk memilih kemeja untuk ia kenakan bekerja di kantor Robby.
*************
Hari berikutnya, Alexa berangkat ke kantor. Namun ia tak bertemu dengan Jackson, karena Jackson tengah pergi untuk memantau sebuah kasus akuisisi, dia membawa sekretarisnya Maya, tapi tidak membawa Alexa.
Alexa sangat kesal, kesempatan untuk terus menggoda Jackson semakin sulit ia lakukan.
Saat Alexa berpikir dia kehilangan perhatian saat belum mendapatkan Jackson, Jackson malah menelponnya dan menyuruhnya datang ke Hotel Royal.
"Kesempatan emas." Ucap Alexa.
Bersambung.....