
Rui segera di bawa ke sebuah tempat ahli pengobatan terbaik di negri elf. Tabib Elf yang bernama fals dan di dampingi beberapa perawat lain, segera memeriksa kondisi Rui yang tengah sekarat.
Terada dan Indra berpamitan kepada Erandel dan Risiya karena waktu pemanggilannya sudah habis. Risiya hanya terdiam dengan tatapan kosong karena jiwanya masih sangat terguncang melihat Rui yang kini dalam keadaan koma.
Rui di periksa dan di obati selama beberapa hari. Namun Tabib itu tampak sangat kebingungan ketika melihat luka dan garis-garis hitam aneh di tubuh Rui. Mereka menggunakan potion dan sihir penyembuh untuk mengobati luka di dadanya namun hal itu sama sekali tidak beroengaruh apa-apa pada luka Rui.
"Ada apa ini, baru kali ini aku mendapatkan pasien dengan gejala yang sangat aneh seperti ini !! Bagaimana bisa sihir penyembuh dan potion terbaik tidak bisa memberikan apa-apa terhadap luka di tubuh anak ini !!" Tabib tersebut terheran-heran.
Tabib tersebut segera melaporkan hasil analisanya kepada Rui. Mendengar hal itu, Erandel terlihat sedikit khawatir, apalagi jika putrinya tau masalah ini, dia takut jika Aziel berbuat nekat.
"Baiklah kalau begitu, terima kasih atas kerja kerasmu" ucap Erandel.
"Bukan apa-apa yang mulia, saya hanya menjalankan tugas sesuai perintah anda, saya malah merasa bersalah karena tidak bisa membantu apa-apa karena pengalaman saya yang sangat minim" Tabib tersebut merasa malu dan kecewa pada dirinya sendiri.
"Tidak... kau tidak perlu merasa bersalah dalam hal ini, lagi pula, aku juga belum pernah melihat kejadian yang seperti ini" Erandel terlihat khawatir.
"Terima kasih yang mulia, kalau begitu saya mohon undur diri" setelah mengatakan itu Tabib itu segera pergi dari ruang singgasana raja elf.
Erandel langsung duduk kembali di kursi tahtanya dengan wajah putus asa setelah mendengar laporan dari Tabib terbaiknya.
Setelah merenung beberapa saat, dia akhirnya berdiri dan segera bergegas menemui tetua elf untuk membicarakan masalah yang kini tengah di hadapinya.
Ketika sampai di depan halaman rumah salah satu tetua elf, Erandel langsung mengetuk pintu rumah tetua elf.
"Tok..Tok..Tok..!" Erandel mengetuk pintu rumah itu. Setelah menunggu beberapa saat, tidak ada jawaban atau pintu tersebut terbuka.
Erandel mencoba kembali namun masih dengan keadaan yang sama. Setelah memastikan tidak ada orang di rumah tersebut, Erandel memutuskan kembali ke istana.
Erandel terkejut melihat bahwa para tetua sudah ada di sana.
"Salam tetua" Erandel menyapa mereka.
"Ohhh.. salam hormatku yang mulia" Tetua itu menunduk di depan Erandel untuk memberi hormat.
"Aku sudah mencarimu ke rumahmu namun aku tidak menemukan siapapun di sana" Erandel mulai bertanya.
"Ahhh.. Maat yang mulia, kami sedang menuju ke tempat pahlawan di rawat. Kami sudah mendengar bahwa Tabib terbaik kita tidak bisa melakukan apapun terhadap apa yang saat ini di derita pahlawan kita" Jawab tetua itu.
"Ahhh.. sebenarnya maksud aku mencarimu adalah untuk membantu dalam pengobatan Rui" ucap Erandel.
"Kebetulan sekali, kalau begitu mari kita bergegas ke tempatnya" ucap Tetua.
Lalu mereka segera pergi ke tempat Rui terkapar. Ketika membuka pintu ruangan tersebut, Erandel melihat putrinya sedang tertidur pulas di dekat Rui terbaring. Aziel selalu berada di sana semenjak Rui di bawa ke sana. Aziel juga menolak untuk makan karena ingin selalu berada di sisi Rui.
Erandel terlihat begitu sedih melihat keadaan putrinya saat ini. Dia mengetahui seberapa terguncangnya Aziel ketika melihat Rui yang dalam keadaan tidak sadarkan diri dan di dadanya terdapat luka tebasan yang teramat parah.
kelopak matanya menghitam dengan bola mata yang memerah karena tak henti-hentinya menangis. Sebagai seorang ayah, Erandel merasa sangat terpukul melihat kondisi putrinya yang terlihat sangat menderita. Dia rela melakukan apapun demi mengembalikan senyum di wajah putrinya.
Aziel membuka matanya dan terkejut melihat ayah dan para tetua sudah berada di dekatnya.
"Ohh.. ayah ! Sejak kapan ayah di sini" tanya Aziel kepada ayahnya.
Dengan lembut, dia membelai rambut putrinya.
"Ayah baru saja tiba putriku. Bisakah kau menjauh sebentar, para tetua ingin memeriksa kondisi Rui" Erandel meminta dengan senyuman yang lembut di wajahnya.
Aziel menatap ke arah Rui. Aziel terlihat enggan untuk menjauh darinya namun dia harus menurut demi kesembuhan Rui.
"Baiklah ayah. Aku mohon lakukan sesuatu terhadap Rui, aku akan melakukan apapun demi bisa membuatnya terbangun kembali !!" Ucap Aziel.
"Tentu saja tuan putri. Kami akan berusaha semampu kami untuk mencoba menyelamatkan pahlawan kita" Ucap tetua elf.
Lalu Aziel keluar dari ruangan tersebut. Dia terkejut melihat Risiya masih duduk diam di dekat pintu ruangan tersebut.
"Ahh... Risiya. Sejak kapan kau di sini ?" Tanya Aziel.
Risiya terkejut mendengar Aziel yang menyapanya dan langsung berdiri.
"Ahhh... putri. Saya sudah di sini semenjak anda berada di dalam ruangan itu" jawab Risiya dengan senyum tipis.
"Oh begitu. Lalu mengapa kau hanya duduk diam di sini dan tidak ikut masuk bersamaku ?" Aziel terlihat bingung.
Tiba-tiba, ekspresi di wajah Risiya kembali terlihat sedih.
"Aku... aku merasa tidak pantas berada di sisinya. Padahal aku berada di dekatnya saat peperangan berlangsung, namun aku malah membiarkan hal ini menimpa dirinya" Risiya terlihat sangat kecewa dan menyalahkan dirinya sendiri.
"Tidak... !!" bentak Aziel yang membuat Risiya terkejut.
"Jangan menyalahkan dirimu sendiri atas apa yang menimpa Rui. Aku tahu seberapa besar kasih sayangmu terhadapnya dan aku yakin kau sangat merasa bersalah saat ini. Namun jika ada orang yang harus di salahkan, itu adalah diriku. Aku yang tidak bisa melakukan apapun untuknya dan malah menyeretnya dalam konflik di negriku" Ucap Aziel dengan air mata yang mulai mengalir dari pipinya.
"Tidak tuan putri... anda jangan menyalahkan dirimu sendiri. Rui melakukan ini atas kemauannya sendiri jadi putri tidak perlu merasa bersalah seperti ini. Aku yang selalu di bantu olehnya, dia mengulurkan tangannya di saat aku dalam keadaan menderita. Aku yakin Rui tidak akan menyalahkan siapapun atas apa yang menimpa dirinya" ucap Risiya.
Lalu Aziel berhenti menangis dan mengusap air matanya.
"Ahhh... maaf, akhir-akhir ini aku jadi lebih sering menangis" ucap Aziel.
"Tidak apa-apa tuan putri. Akupun merasa begitu. Jadi mari kita membantu sebisa kita untuk menyembuhkan Rui" ucap Risiya dengan senyuman kepada Aziel.
"Yah... kau benar. Lebih baik kita lakukan hal itu dari pada terus larut dalam kesedihan yang tidak ada gunanya ini" Aziel kembali tenang dan menatap ke arah Rui dari balik jendela ruangan tempat Rui di obati.
...Bersambung...!!!...