
Viscount bangun memperhatikan sekitar, masih tidak percaya dengan keadaan ini.
" Kenapa aku dihutan, bukannya aku ada di kasurku beberapa menit yang kalu, mimpikah ini " fikirnya dalam hati.
Lantas aku kembali menyapanya dengan lembut.
" Oh maafkan saya Viscount Armin, sepertinya saya harus menjelaskan situasi saat ini bukan? " ucapku sambil tersenyum padanya.
Lalu dia berhenti memperhatikan sekelilingnya dan beralih menatapku.
" Apa maksudnya ini, kenapa aku ada di tempat seperti ini, apakah ini perbuatanmu, cepat jelaskan padaku " ucapnya mulai kesal.
Aku sambil tertawa melihat dia yang perlahan menunjukkan ekspresi kaget dan takut.
" Hahahahah, tenanglah tuan, aku saat ini sedang menahan amarahku padamu, jadi jangan berlagak didepanku atau aku akan mencincangmu tanpa mendengar penjelasanmu" ucapku mulai rada emosi.
Dia mulai agak mundur dan menyiapkan mantra sihirnya.
" Jangan berlagak kau bocah, aku tidak tau siapa kau tapi kau berurusan dengan orang yang salah "
" Inferno " ucapnya menyerangku dengan sihir api tingkat tinggi.
Aku menahannya dengan mana shield dan itu membuatnya semakin terkejut.
" Oh, sudah kuduga bangsawan sekelas Viscount memang ahli dalam sihir "
Walaupun aku menahannya dengan Mana Shieldku namun sihir tingkat tinggi membutuhkan waktu yang cukup lama untuk di Netralkan, bahkan sihirnya sempat membakar tanganku yang sedang mengaktifkan skillku tersebut.
" Membutuhkan cukup lama dari perkiraanku untuk Menetralisirnya kembali " ucapku sambil meredam sihirnya.
" Yah ternyata gelar Viscount bukan hanya isapan jempol belaka " Ucapku sambil menyembuhkan tanganku kembali.
" Ti_tidak mungkin, apa yang barusan kau lakukan, itu_itu bukan sihir " ucapnya semakin ketakutan.
Tanpa menjawabnya aku melahap sisa mana di tubuhnya dengan skill predatorku.
Namun dia spontan mundur ketika merasakan mananya sedang terhisap. Dia kembali menyerang menggunakan sihir angin dan air namun semua di netralkan dengan mudah.
" Kau memang bukan orang sembarangan , lalu bagaimana dengan ini "
" Inferno Tornado "
Dia mengeluarkan sihir kombinasi angin dan api dan membuat pusaran angin yang sangat panas lalu pusaran itu melesat ke arahku.
Namun aku langsung berpindah ke belakangnya dan memegang pundaknya.
" Baiklah, sudah cukup main - mainnya "
" Sekarang katakan padaku, kenapa kau menyerang wilayah kakekku "
Dengan wajah ketakutan yang membuatnya kencing di celananya dia terjatuh dengan posisi duduk sambil mencoba menjauh dariku.
" Siapa kau sebenarnya sialan, kenapa kau lakukan ini padaku "
Aku yang sudah tidak bisa menahan emosiku menancapkan belati manaku ke kakinya dan kedua tangannya hingga dia tidak bisa bergerak lagi.
" Baiklah aku sudah muak denganmu, kau sepertinya tidak memahami posisimu saat ini dan disini hanya aku yang berhak bertanya "
Dia berteriak merintih karna rasa sakit di kaki dan tangannya . Mencoba memohon ampun padaku dan berlutut ketakutan.
" Aaaaakhhhhhh"
" Ampuni aku, aku mohon, aku tidak tau aku punya salah apa padamu tapi aku mohon ampuni aku " rintihan disertai tangisannya mulai terrdengar darinya.
" Oh , maafkan atas ketidaksopananku, kau sepertinya mempunyai banyak musuh dan tidak ingat siapa saja yang sudah kau usik " ucapku sambil melepas penutup mukaku.
" Kenalkan, aku Rui Aubert, meski aku merasa jijik menyebutkan margaku, tapi tak mungkin kau tidak mengingat wajahku kan, wahai Viscount "
Setelah melihat mukaku dia terdiam dan menghentikan tangisannya.
" Rui, putranya Julia? , bukannya kau tidak bisa menggunakan sihir, bagaimna mungkin ini terjadi " ucapnya tidak percya dengan apa yang dia lihat.
" Ahh, aku tidak perlu membahas itu dan aku akan bertanya untuk terakhir kalinya sebelum aku menghabisimu " Ucapku sabil menginjak belati di tangnnya dan membuat rintihannya menjadi teriakan kesakitan.
" Siapa yang menyuruhmu " ucapku dengan tatapan mengintimidasi.
Yah, aku tau dia memang bangsawan bodoh tapi tidak mungkin dia berani menyerang wilayah bangsawan yang lebih tinggi darinya tanpa mendapatkan perlindungan dari orang yang setara atau lebih tinggi dari targetnya.
" Ba_baiklah aku akan mengatakannya jadi kumohon ampuni nyawaku " ucapnya ketakutan.
" Hei, jangan membuatku mengulanginya dan cepat katakan " Ucapku sambil menekan lagi belatiku dan semakin dalam menancap di tanganny.
" Ak_aku disuruh oleh saingan kakekmu, Duke Nourman Alvis"
Mendengar hal itu membuatku sedikit terkejut karna aku sedikit heran kenapa seorang duke mengganggu seorang Count.
" Aku akan memotong lidahmu jika kau berani berbohong padaku "
" Sungguh, aku tidak berbohong, aku tidak tau kejelasannya tapi yang aku tau dia memilki reputasi yang cukup buruk yang membuatnya ingin di lengserkan oleh Kekaisaran dan Kaisar mulai melirik kakekmu untuk menggantikannya.
Mendengar hal itu, aku menjadi cukup emosional dan membuatku ingin segera menancapkan belatiku di tubuhnya.
" Baiklah, aku percaya padamu "
Mendengarku mengatakan itu dia tersenyum dan dia terlihat mulai lega.
" Terima kasih karna percaya pada ucapanku, aku benar - benar hanya orang suruhan " ucapnya mulai tenang.
Aku kembali menatap tajam padanya dan membuat dia kebingungan dan khawatir.
" Sepertinya kau salah sangka, aku tidak pernah berkata akan mengampunimu kan "
Ucapanku membuat dia terkejut.
"Ap_apa maksudmu bukankah aku sudah mengatakan semua yang aku ketahui "
Dia mulai panik karna ucapanku barusan.
" Dosamu bukan hanya menyerang wilayah kakekku, justru aku tidak perduli dengan nasib rakyat jelata yang tidak tahu diri tersebut "
" Lalu apa yang sudah aku lakukan sehingga membuatmu melakukan hal sekejam ini padaku " ucapnya menangis lagi.
" Hentikan tangisanmu sebelum aku merobek mulut berisikmu, apakah kau lupa dengan apa yang kau coba lakukan pada ibuku " ucapku marah.
" Ti_tidak, aku tidak mencoba melakukan apapun padanya, aku hanya sedikit mengancam dan merayunya seperti yang diperintahkan Duke padaku, aku benar - benar tidak berniat melakukan hal lainnya "
" Baiklah, aku percaya jadi berhentilah menangis "
Dia mulai tenang dan mencoba berdiri.
" Tapi dendam tetaplah dendam, aku akan mengampuni nyawamu, tapi kau akan melewati sedikit hukuman dariku " ucapku tersenyum.
" Ti_tidak, ampuni aku "
Aku lalu membawanya memasuki gua Tarantula besi, di dalam hutan larangan. Lalu aku mengikatnya dengan manaku dan melemparnya ke dalam sarang.
Tarantula besi tidak memakan manusia dan tidak beracun tapi gigitannya sanggup merobek daging manusia.
Seketika dia teriak merintih kesakitan dan memohon untuk menyelamatkannya.
" Ti_tidak, ampuni aku , aku mohon Rui, tidak Tuan Rui, aku mohoon, aaaaakhhhhh"
Teriakannya menggema memenuhi lorong gua yang membuat burung - burung di sekitar beterbangan.
Setelah matahari terbit aku membawanya keluar dengan tubuh yang dipenuhi luka akibat gigitan Tarantula tersebut.
Aku lalu menyembuhkannya dan dia mulai pulih dan kembali sadar setelah dia pingsan menahan rasa sakit.
" Bangun bodoh, mau sampai kapan kau tidur, atau kau mau aku lempar lagi kesana "
Seketika itu dia bangun dan melihat sekujur tubuhnya sudah pulih kembali.
" Apa yang terjadi , bagaiamna bisa lukaku sudah pulih , apakah yang tadi itu ilusiku "
ucapnya masih tidak percaya.
" Tidak bodoh, aku yang menyembuhkanmu, lalu ingatlah peringatanku, jangan mencoba melakukan hal bodoh lagi dan jika kau membocorkan tentang kemampuanku, aku pastikan kau tidak akan menemui hari esok lagi "
Dengan wajah ketakutan karna trauma dia mengangguk dan menunduk karna tidak berani membalas ucapanku.
Lalu aku menanyakan dimana keluarga para bandit yang ditahan dan membawa mereka ke wilayah kakekku.
Viscount Armin hanya menurut semua perintahku dan menyewakan 7 karapan kuda untuk membawa semua anggota keluarga para bandit yang aku janjikan akan selamatkan.
Dengan perasaan gembira mereka saling memeluk satu sama lain ketika kami tiba di kediaman kakekku.
Lalu aku berpamitan ke ibuku dan kakekku untuk pergi tidur karna semalaman aku terjaga dan benar - benar ngantuk. Lalu memulai menyusun rencana untuk bertamu ke kediaman Duke yang sudah mencoba mengusik kedamaian kaluargaku.
...the end...