
Rui menatap ke arah para tahanan itu. Mereka tertunduk malu karena sudah salah mengira bahwa penjahat yang menyerang kekaisaran adalah pahlawan yang selama ini mereka nantikan.
Lalu Rui bertanya ke kaisar tentang apa yang akan terjadi pada mereka.
"Menurutmu, hukuman apa yang cocok buat mereka?" tanya Rui ke kaisar.
"Dalam hukum kekaisaran ini, seorang pemberontak akan di jatuhi hukuman mati bersama keluarganya hingga 2 generasi" ucap kaisar.
"Siapa yang membuat aturan itu" tanya Rui lagi.
"Aturan itu sudah di terapkan dari ratusan tahun yang lalu, karena untuk mencegah dendam dari anak dan cucunya maka kedua generasi setelah pelaku pemberontakan tersebut akan ikut di jatuhi hukuman mati" ucap kaisar sedikit ragu.
Rui yang mendengar hal itu menghembuskan nafasnya seperti sedang mengeluh.
"Bagaimanq bisa, kesalahan sekecil lapapun di kekaisaran ini bisa berujung kematian" gumam Rui dalam hatinya.
Rui menatap lama ke arah tahanan - tahanan itu. Tubuh mereka kurus dan sangat kotor. keadaan mereka sangat memprihatinkan. Lalu Rui berfikir lama dan akhirnya mengambil keputusan.
"Bebaskan mereka" ucap Rui.
"Tung_ apa?" kaisar heran.
Rui menatap kaisar dengan wajah serius.
"Apa pendengaranmu bermasalah?" tanya Rui.
Kaisar terdiam sejenak.
"Baiklah, sesuai permintaanmu Rui. Namun bisakah kau berikan aku alasanmu melakukan itu?" ucapnya yang tidak menyangka dengan perintah pahlawan.
"Mereka memang penjahat, namun mereka melakukan itu karena ulah kalian sendiri. Mereka menderita begitu banyak karena ulah bangsawan serakah, pajak yang kalian wajibkan melebihi penghasilan mereka. Mereka bertahun - tahun menderita tanpa bisa melawan" kaisar terdiam.
" Saat pahlawan palsu itu membawa harapan untuk membebaskan mereka dari penderitaan itu, di situlah perasaan mereka yang selama ini mereka pendam bisa mereka lampiaskan" ucap Rui dengan wajah serius.
Selama ini Rui melihat begitu banyak bangsawan yang bertindak sewenang - wenang pada warganya. Bahkan gadis - gadis cantik di desa mereka jual ke tempat prostitusi dan ketika mereka melapor ke pihak berwenang, mereka sendiri takut dengan bangsawan yang memilki derajat lebih tinggi dari mereka.
Hal itulah yang menjadi fokus utama Rui untuk membersihkan seluruh bangsawan yang menjadi penyakit di kekaisaran itu.
"Aku mengerti, kalau begitu, apa yang harus kita katakan pada para warga yang menolak?" tanya kaisar.
"Jawab saja ini perintahku. Namun aku hanya memberikan pengampunan atas nyawa mereka. Namun mereka akan berada di kamp kerja paksa selama 1 bulan. Setelah itu mereka bisa kembali ke keluarga mereka" ucap Rui.
"Baiklah Rui, aku mengerti" jawab kaisar.
"Lalu untuk pajak. Mulai sekarang, bangsawan yang menjadi penguasa wilayah, harus mencatat semua pengeluaran dan pendapatan warganya lalu memotong dari sisa pendapatan pertahunnya itu sebesar 10% sebagai pajaknya. Mengerti?" tegas Rui.
Tanpa ragu sedikitpun kaisar menyetujui hal itu.
"Kalau begitu, besok aku akan mengumumkan tentang pengampunan para warga yang pernah ikut memberontak dan memberikan pengumuman masalah pajak tersebut" ucap Raja.
Lalu Rui pergi ke markas militer bersama kaisar dan meminta para hakim istana berkumpul.
Lalu Rui mengambil 3 bangsawan yang di nilai adil untuk menggantikan posisi duke yang kini kosong. Lalu Rui menarik 50% prajurit dari wilayah ke 4 duke dan di sebar ke seluruh wilayah - wilayah bangsawan dan bertugas untuk menjaga keamanan dan meminta untuk menindak tegas pelaku kejahatan bahkan bangsawan tertinggi sekalipun.
"Bagiku kejahatan tetaplah kejahatan. Bangsawan ataupun rakyat biasa harus kalian samakan dalam hal kejahatan. Di sini hukum adalah penguasa tertinggi bukan kaisar ataupun bangsawan. Perlakukan mereka dengan adil dalam hal hukum. Ingat itu" ucap Rui tegas.
"Siap" jawab mereka serentak.
Kaisar yang sebagai seorang ayah tentu sangat bersedih melihat kepergian anaknya yang akan hidup sebagai orang biasa di tengah kemewahannya selama ini. Namun sebagai seorang kaisar dia menjaga martabatnya dan melapas kepergiannya dengan tetap tegar menyembunyikan kesedihannya.
"Kalau begitu, saya izin pamit, Ayahanda ibunda" ucap pangeran.
"Pergilah putraku. Tunjukkan padaku perkembanganmu dan buat aku bangga" ucap kaisar.
"Untuk pahlawan Rui. Aku meminta maaf atas perbuatanku dan terima kasih atas kemurahan hatimu padaku. Aku berjanji, saat kita bertemu kembali, aku akan menjadi orang yang berguna untuk masa depan kekaisaran ini" ucap pangeran.
Rui hanya terseyum mendengar itu. Permaisuri terus menangis melepas kepergian putranya. Namun dia tidak menyimpan dendam ataupun amarah kepada Rui, malah dia sangat berterima kasih karena Rui mau memaafkan kesalahan putranya hingga dia bebas dari hukuman kematiannya.
Setelah itu, Rui kembali ke Jelotz, wilayah kekuasan ayahnya, baron August. Dia membawa semua elf dan warbeast yang akan di kembalikan ke wilayah mereka masing - masing, namun akan berpamitan kepada ayah dan ibunya yang sekarang sudah kembali menjadi keluarga.
Ketika sampai di depan pintu mansion ayahnya, para penduduk sudah berkumpul di sana menanti kedatangan Rui. Mereka hanya menyambut kedatangan Rui dan menunduk meminta maaf atas segala perbuatan mereka selama ini pada anak muda tersebut.
Aziel yang sudah menunggu di mansion oleh ibunya Rui, berlari menyambut kedatangan Rui.
"Ruiiii" teriaknya langsung memeluk Rui.
"Maaf sudah membuatmu menunggu Aziel" ucap Rui membalas pelukan Aziel.
Karin sangat terkejut melihat Rui yang pertama kali memeluk gadis dengan senyuman seperti itu.
Ririna dan Risiya yang melihat itu sedikit cemburu. Dia hanya cemberut dan menyapa Rui dengan kesal.
"Selamat datang" ucap Ririna.
Lalu Julia dan August menghampiri putranya.
"Ruii, selamat datang nak, ayo cepat masuk, aku akan memasak masakan ke sukaanmu" ucap Julia.
Namun Rui menolak dengan sopan.
"Maaf ibu, ayah, tapi aku harus segera pergi ke hutan Floris dan gunung Faunder untuk mengantar mereka. Mereka pasti sangat rindu dengan keluarga mereka. Jadi aku kesini hanya untuk berpamitan kepada ayah dan ibu" ucap Rui.
Seperti biasa, Julia langsung ngambek karena Rui akan meninggalkannya.
"Tidak boleh, tidak boleeh. Rui tidak boleh pergi, kenapa harus kamu, bukankah para tentara kekaisaran bisa pergi sendiri untuk mengantar mereka. Pokoknya tidaak" ucap Julia melarang kepergian putranya.
Lalu August memegang pundak istrinya.
"Haaa, sudahlah Julia. Rui pasti memilki alasannya kenapa dia yang harus pergi, jadi biarkan dia. Bukankah begitu Rui" ucap August.
"Tentu ayah" balas Rui yang masih agak canggung dengan ayahnya.
Julia langsung memeluk Rui dan menangis.
"Berapa lama kau akan pergi. sehari? seminggu? satu bulan?. Kenapa aku selalu di tinggalkan putraku" ucap Julia menangis.
"Heheee, aku juga tidak tahu ibu. Namun aku berjanji akan kembali secepatnya jika tujuanku sudah tercapai. Jadi tolong izinkan aku pergi ibu" ucap Rui.
Julia akhirnya luluh dengan ucapan putranya. Akhirnya dia mengizinkan putranya untuk pergi ke negri asing yang sangat jauh dari tempat ia berada.
...Bersambung...!!!!...