Lahirnya Pahlawan Sejati

Lahirnya Pahlawan Sejati
Episode 63 Aziel dan Rui


Rui yang sedikit canggung karena diperhatikan oleh seluruh bangsawan kekaisaran. Tiba - tiba Karin mendekati Rui dengan ekspresi bingung.


"Ru_rui, kau mengenal wanita ini?" tanya Karin.


"Ahahah, iya, nanti aku jelaskan semuanya" jawab Rui.


"Aziel, aku senang melihatmu baik - baik saja. Untuk saat ini, ikutlah bersama kakakku" ujar Rui pada Aziel.


"Kakak, tolong urus dia" pinta Rui pada Karin.


Lalu Karin membawa Aziel pergi dari sana. Tatapan dari para bangsawan tak lepas dari Aziel yang berparas sangat cantik jelita hingga Aziel pergi dari ruangan itu. Aziel di bawa ke sebuah ruangan di istana. Di sana sudah ada Julia, Risiya dan Ririna yang ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di antara Rui dan gadis elf itu.


Sedangkan Rui pergi menyapa para rakyat biasa yang sedang menunggu di halaman istana.


Aziel memasuki ruangan itu dan di persilahkan duduk oleh Julia.


"Ehemm. Silahkan duduk" ucap Julia dengan wajah serius.


"Bisa kau perkanalkan dirimu" tanya Julia pada Aziel.


Aziel sedikit bingung karena tatapan - tatapan wanita dan gadis - gadis di ruangan itu begitu penasaran akan dirinya.


"Baiklah. Namaku Aziel Elfritz, putri dari raja elf Derzad Elfritz dan Viola Elfrits" jawabnya dengan membungkukkan badannya.


Mendengar itu, Julia dan gadis - gadis di sana sangat terkejut.


"Ma_maafkan aku sudah berlaku tidak sopan pada anda putri" ucap Julia sedikit panik.


"Oh tidak, tidak apa - apa. Lagipula, kalian bukan penduduk di wilayah kerajaan elf jadi kalian bisa bersikap santai kepadaku" ujar putri.


Namun Ririna dan Risiya semakin gelisah melihat perbincangan Julia dengan gadis elf itu.


"Aaaaah, aku tidak perduli dengan semua itu, Yang aku ingin tahu, apa hubunganmu dengan Rui" tanya Ririna penasaran.


Julia dan Aziel sedikit terkejut dengan Ririna yang tiba - tiba ikut berbicara dengan suara lantang. Karin dan Risiya hanya terseyum karena tingkah polos Ririna yang blak - blakan.


"Hubunganku dengan pahlawan Rui?" ucap Aziel sengaja menunda jawabannya karena ikut senang melihat tingkah Ririna.


"Iyaaa, cepat jawab" ucap Ririna semakin penasaran.


"Rui adalah penyelamat hidupku. Dia menyelamatkanku dari tangan seorang manusia yang ingin mencelakaiku" jawabnya dengan tersenyum.


Namun Ririna tidak puas dengan jawaban dari Aziel dan bertanya kembali.


"Lalu kenapa tiba - tiba kau memeluknya di hadapan banyak orang, seolah - olah kalian tidak memperdulikan kami semua" ucap Ririna kesal.


"Kenapa yaaaaa?" ucap Aziel menggoda Ririna.


"Akhhhhhhh" teriak Ririna yang ingin menyerang Aziel karena geram, namun dia di pegang oleh Karin dan Risiya.


Julia tiba - tiba bertanya dengan wajah serius.


"Baiklah, saya mohon jangan terlalu menggoda gadis ini putri. Saya adalah Julia, ibu dari Rui" ujar Julia yang membuat Aziel terkejut.


"Aku Karin, kakak perempuan Rui" saut Karin yang masih memegangi Ririna yang belum tenang.


"Aku Risiya, teman dan anggota skuad Naga Perak yang diketuai oleh Rui. Begitu pula dengan gadis ini, namanya Ririna" saut Risiya memperkenalkan dirinya dan Risiya kepada Aziel.


Mendengar bahwa wanita di depannya adalah ibu Rui, Aziel langsung memegang tangan Julia dan menatapnya dengan wajah serius.


"Restui aku dengan putramu, ibu mertua" ucapnya dengan penuh kesungguhan.


"Haaaaaaaaaaaah" teriak mereka bertiga spontan.


Juliapun ikut terkejut mendengar ucapan dari seorang putri yang begitu cantik di hadapannya tersebut. Julia juga bingung harus menjawab apa pada putri Aziel karena ia mengetahui perasaan Ririna dan Risiya.


Di tengah pembicaraan tersebut, seorang pelayan wanita datang menemui mereka.


"Maafkan saya nyonya, tapi ada seseorang yang ingin bertemu dengan anda" ucap pelayan itu pada Julia.


"Bertemu denganku?" tanya Julia bingung.


"Iya nyonya, beliau sudah menunggu nyonya di ruang tamu istana" jawab pelayan itu.


"Kalau begitu, mari saya antar anda ke tempatnya" lanjut pelayan tersebut.


Lalu Julia meminta agar gadis - gadis itu tetap menunggu di ruangan tersebut, karena jika Aziel keluar dan bertemu para bangsawan, pasti dia akan kerepotan karena semua orang saat ini sedang penasaran tentang hubungan pahlawan dengan dirinya.


Julia mengikuti pelayan tersebut ke sebuah ruangan di lantai satu. Ketika memasuki ruangan itu, julia begitu terkejut karena mengetahui bahwa laki - laki yang ingin menemuinya adalah mantan suami sekaligus ayah kandung Rui baron Augus Aubert.


Disisi lain, Rui sedang menyapa para rakyat biasa yang menunggunya di halaman istana, orang - orang disana sangat menghormati Rui. Rui duduk bersama mereka di dekat api unggun dan bersulang untuk kemenangan mereka di perang yang akan tiba. Mereka semua mendukung tentang ide dari penyatuan ras di di benua itu.


Rui juga mengatakan untuk selalu waspada, karena iblis sudah berkeliaran untuk mempengaruhi manusia untuk di jadikan sekutu mereka. Rui juga berjanji akan memeriksa warga kekaisaran di seluruh wilayah kekaisaran itu untuk memastikan tidak ada warga yang bersekutu dengan iblis.


Para rakyat biasa dari wilayah kekuasaan ayahnya Rui dan wilayah kekuasaan kakeknya hanya bisa terdiam dan melihat keakraban Rui dengan rakyat biasa di berbagai daerah itu. Mereka masih malu dengan perbuatan mereka selama ini. Menjadi dalang utama penyebaran cerita tentang Rui aib keluarga dan memfitnah Rui sebagai anak haram perselingkuhan ibunya dengan rakyat biasa.


Ketika mengingat semua itu, mereka bahkan malu dan merasa tidak memilki hak untuk mendapat pengampunan dari pahlawan. Namun tiba - tiba, Karin datang menemui Rui yang sedang asyik bercerita tentang perjalanan hidupnya kepada orang - orang di sana.


"Ruii, bisa ikut denganku sebentar" tanya Karin lembut.


"Ahh kakak, ya tentu" balas Rui.


Lalu Rui mengikuti Karin menuju ruangan di mana ibu dan ayah mereka saat ini berada.


Sebelum memasuki ruangan itu, Karin memegang tangan adiknya dan memohon padanya.


"Sebelum masuk ke tempat ini, ada hal yang ingin aku minta darimu Rui" ucap Karin lirih.


"Tentu kakak, katakan saja" balas Rui.


Lalu Karin dengan sedikit menangis meminta pada adiknya.


"Aku benar - benar memohon padamu, tahan emosimu dan berfikirlah dengan tenang, kau sudah dewasa dan aku sungguh ingin keluarga kita bersatu seperti dahulu" ucap Karin dengan penuh harap.


Mendengar hal itu, Rui sudah mengerti bahwa di dalam ruangan itu, ada sosok laki - laki yang sangat ia kenal. Ekspresi di wajahnya yang terseyum tiba - tiba berubah datar ketika mengetahui orang di balik ruangan tersebut.


Karin yang melihat itu mulai cemas dan memegang tangan adiknya lebih erat.


"Ru_Rui" ucap Karin cemas.


Namun karena melihat kakaknya yang begitu tulus memintanya sampai seperti itu, Rui akhinya membuang seluruh harga dirinya dan hanya berfikir untuk membuat kakak yang sangat di sayanginya itu terseyum kembali.


"Baiklah kakak, aku mengerti. Kakak tidak perlu khawatir, demi ibu, kakak dan masa depan kita semua, aku akan menelan semua perasaan negativ yang ada dalam diriku" balas Rui dengan penuh kepastian.


Mendengar hal itu, Karin merasa lega dan memeluk adiknya.


"Terima kasih Rui, kau benar - benar sudah menjadi orang yang hebat" ucapnya sambil terharu mendengar jawaban adiknya.


Lalu mereka berdua memasuki ruangan tersebut.


...Bersambung.....!!!!...