
Frost dragon tiba - tiba menghentikan serangannya. Dia termenung melihat Rui di depannya. Kendali pikiran memaksanya untuk menyerang Rui namun tubuhnya bergetar dan menolak keinginan tersebut.
"Ada apa frost dragon, cepat lakukan perintahku" teriak Dracule marah.
Frost dragon hanya menatap Rui tanpa menunjukkan tanda - tanda akan menyerang. Dracule menjadi tidak mengerti mengapa ada makhluk panggilan yang begitu setia hingga tubuh dan jiwanya menyadari siapa tuannya.
Dalam keheningan itu, tiba - tiba frost fragon mengerang hebat, dia terbang hingga menembus langit - langit aula akademi hingga ke atas awan. Dia terus meraung untuk melawan gejolak yang ada dalam dirinya.
"Dasar kadal tidak berguna" gerutu Dracule.
"Kalau begitu, bagaimana dengan ini, Summon Anjing neraka, Cerberus"
Lingkaran sihir terbentuk di lantai, lalu keluarlah seekor anjing besar yang memilki 3 kepala. Anjing yang diselimuti api dan kulit berbulu gelap.
Tanpa basa - basi, dia langsung menyerang Rui. Menggigit, mencakar hingga mengeluarkan api dari mulutnya. Rui mencoba menahannya menggunakan mana shield namun makhluk itu dengan cepat melompat dan mencoba menerkam Rui. Rui menggunakan skill teleportnya dan menjaga jarak darinya. Melihat Rui yang kerepotan Dracule menyerang Rui dengan sihir manipulasi darah yang membuat Rui terhenti sejenak. Kesempatan itu yang di gunakan Cerberus untuk melempar Rui hingga terpental ke tembok.
"Akkkkhhhhh" darah keluar dari mulutnya.
Cerberus melesat lagi namun kali ini dengan gigitannya. Rui segera menghendar namun lokasinya sudah diketahui oleh Dracule yang langsung menyerangnya dengan tombak darahnya hingga kakinya tertembus.
Rui segera berpindah agak jauh lalu menyembuhkan dirinya.
"Sial, situasi ini lumayan sulit. Jika aku menggunakan Rignit, aku tidak bisa mengikuti gerakan anjing liar itu apalagi mengenainya. Jika aku menggunakan Panah Cronicel, pasti akan merepotkan dengan anjing gila itu yang menyerang dari dekat" ucap Rui yang mulai bingung.
Lalu dia mencoba langkah terakhir dengan menggunakam tombaknya.
"Datanglah Rouma"
Sebuah kegelapan muncul di depannya, dari sana keluar tombak pahlawan milik Rui. Dengan tiga ujung tajam dan dengan ukiran Rune yang membuatnya tampak buas.
"Iiiii itu, tombak Rouma, bagaimana mungkin satu orang bisa mengendalikan 3 senjata ilahi pahlawan" teriak Dracule kesal dan tidak percaya apa yang dia lihat.
"Apa maksukmu?" ucap Rui penasaran.
"Jangan pura - pura bodoh, 1 senjata saja sudah membuat tubuh seseorang terbebani hingga di ambang batas, lalu bagaimana mungkin dengan 3 senjata sekaligus. Aku sudah cukup heran dengan pedang dan panah itu, tapi sekarang ini sudah mustahil di lakukan bahkan oleh Raja iblis sekalipun" ucap Dracule yang tidak percaya apa yang sudah Rui lakukan.
"Eh!!" ucap Rui spontan.
Dia bingung mengapa para pahlawan di mimpinya berani mengambil resiko dengan memberinya 3 senjata sekaligus.
Cerberus kembali menyerangnya namun tombak milik Rui tiba tiba merespon dan melepaskan dirinya dari genggaman Rui dan melesat ke arah cerberus. Cerberus yang tertusuk tombak tersebut berhenti bergerak dan diam seketika.
"Sudah kuduga itu senjata penyegel kuno milik suku warbeast, ini benar - benar tidak masuk akal" gerutu Dracule.
Rui yang mendengar Dracule terus mengeluh menjadi kesal sendiri.
"Berisik" teriak Rui.
"Apa?" ucap Dracule kaget.
"Dari tadi kau terus mengeluh tanpa tau apa yang aku alami. Kau pikir disini siapa yang lebih kaget"
"Dengan 3 senjata yang bisa saja menghancurkan tubuhku jika tidak aku latih dari kecil, kau fikir siapa di sini yang jadi korbannya?. Itu aku dasar bodoh" ucap Rui kesal.
Melihat Rui yang mengeluh, Dracule menjadi sedikit bingung dengan sikaf Rui. Kenapa bisa orang sepertinya menjadi pahlawan. Pahlawan yang dia ketahui adalah orang yang baik hati, penyabar dan selalu menolong tanpa pamrih namun sifat pahlawan yang di depannya sangatlah berbeda.
"Kau benar - benar anak yang menarik. Kalau begitu mari sudahi main - mainnya" ucap Dracule.
Selang beberapa saat, Dracule menunjukkan wujud iblisnya. Muka menyeramkan dengan sayap kelelawar besar di punggungnya. Tubuhnya memerah dengan tulang punggung yang keluar hingga menembus punggungnya.
"Jadi inilah wujud makhluk yang benar - benar disebut" ucapnya.
Dia meraung hebat, lalu menerjang dan mencakar Rui dengan cakar hitamnya yang diselimuti energi hitam. Rui yang reflek memanggil tombaknya kembali dan berusaha menahan serangan tersebut. Tombak itu mampu menahan serangan tersebut namun tubuh Rui terpental hingga ke dinding akademi.
Rui berusaha bangkit namun dia merasakan tubuhnya agak berat. Anjing hitam cerberus kembali menerjang untuk melahap Rui namun tiba - tiba Raungan dari Indra terdengar sedang membebaskan dirinya dari kendali pikiran Dracule.
Para murid akdemi yang melihat Frost dragon yang meraung tiba - tiba berhenti saling menyerang dan menghadap ke arah langit melihat frost dragon yang terus meraung.
"Rui, semoga kau baik - baik saja" gumam Ririna khawatir.
"Aku tau bagaimana perasaanmu, aku juga merasakannya kalau pertempuran ini jauh lebih berat dari segala pertempuran yang pernah Rui lalui" ucap Karin memegang tangan Rui.
Namun dari tempat yang tidak jauh dari sana, dua gadis masih bertarung satu sama lain. Mereka benar - benar fokus pada musuh di depannya tanpa memperdulikan sekitarnya seperti yang lain.
"Kau benar - benar keras kepala. Berhentilah melawan dan terimalah kematianmu" ucap Sela ke adiknya.
"Kau sepertinya bertambah kuat dari saat aku menghajarmu habis - habisan waktu itu"
Mendengar adiknya mengolok - olok dirinya, sela menjadi murka dan berubah ke mode setengah iblisnya.
"Beraninya anak haram sepertimu. Aaaaakkkhhhhhhh" teriaknya meraung dan berubah ke mode setengah iblis.
Kulit seperti armor menututpi tubuh Sela dengan cakar hitam besar dan tanduk di kepalanya. Dia meraung hebat dan bersiap menerjang ke arah Risiya. Aliran sihir di tubuhnya tiba - tiba berubah. Kini energi sihir miliknya mengalir di kaki dan tangannya.
"Aaaah, kau benar - benar menyeramkan kakak" ucap Risiya.
"Sepertinya aku juga benar - benar harus serius" ucapnya.
Lalu dia membuka gelang yang ada di tangan kanannya.
"Aaakkkkkhhhhhhhh" teriak Risiya yang berubah ke mode beastnya.
Namun mode beast milik Risiya kali ini sangat berbeda dengan yang dulu pernah Rui lihat. Mode beast milik Risiya dulu membuatnya kehilangan kesadaran sementara dan seluruh tubuhnya diperkuat oleh aliran sihirnya.
Namun mode beast milik Risiya yang sekarang hanya menghilangkan kesadarannya ketika tubuhnya dalam proses perubahan. Tubuh Risiya berubah ke bentuk setengah binatang. Tumbuh ekor dan telinganya ikut berubah.
"Bagaimna?, dibandingkan denganmu, wujudku lebih imut darimu bukan" ucap Risiya mengejek kakak tirinya.
Lalu pertempuran dimulai dengan Risiya dan Sela saling menerjang dan bertarung.
...Bersambung.....!!!!...