
Melihat mentri yang dipenuhi amarah, tertawaan para pemberontak itu langsung lenyap. Mereka heran, apakah sang perdana mentri kekaisaran yang terkenal sudah gila karena menyebut seorang anak buangan sebagai pahlawan.
"Aku benar - benar kagum dengan sandiwaramu Sharman" ucap Arlan yang tidak mempercayai ucapan mentri.
"Sandiwara katamu?"
Arlan mengeluarkan tongkat sihirnya dan langsung menyerang Rui.
"Akan aku buktikan kebohonganmu dengan kematian pahlawan bodohmu ini" teriaknya sambil mengeluarkan sihirnya.
Arlan langsung menyerang Rui dengan sihir yang cukup kuat. Arlan sebagai pemimpin Menara sihir memang penyihir yang bertalenta namun dibutakan oleh hasratnya akan pahlawan, sehingga segala eksperimen dia lakukan kepada para anak yatim piatu untuk membuat sosok pahlawannya sendiri.
Anak yang berpotensi akan dia ambil dari panti asuhan dan di didik dengan tidak manusiawi dan di jadikan sebagai eksperimen untuk menciptakan pahlawan. Namun mereka yang tidak lolos dan masih hidup, akan di jadikan sebagai tentara bayangan dan segala identitasnya akan di hapus untuk menyembunyikan segala proyek rahasia mereka.
Serangan Arlan yang mengarah ke arah Rui langsung menghilang tanpa jejak ketika mendekati tubuh Rui. Hal itu membuat dia heran.
"Ap_apa Sihiku menghilang?" Arlan terkejut.
Dia kembali menyerang dengan sihir yang lebih besar namun tetap dengan hasil yang sama.
"Akkhhhhhh, kalian semua serang pecundang ini" ucapnya memerintahkan seluruh anak buahnya.
Serangan bertubi tubi datang ke arah Rui, namun seperti sebelumnya, sihir mereka menghilang ketika akan mengenai target mereka.
"Apa yang terjadi, kenapa sihirnya lenyap ketika akan mengenainya. Kalian semua waspadalah, pecundang ini memilki kamampuan yang aneh" ucapnya.
Rui lalu berbalik ke arah para musuhnya.
"Pergilah mentri, jangan membuatku mengulangi perkataanku" ucapnya.
"Baiklah tuan" ucapnya dan langsung berlalu pergi.
Rui memandang sekitar mereka dan melihat banyak mayat dan kekacauan di mana - mana.
"Kalian sebut ini tindakan kepahlawanan?, sepertinya otak kalian sudah busuk karena terlalu lama menyiksa para anak tidak berdosa"
Lalu dengan tatapan dinginnya dia mengangkat tangannya ke udara.
"Datanglah, Indra" ucapnya dengan keras.
Sontak suasana disana menjadi mencekam dan suhu udara menurun diiringi dengan awan badai yang berkumpul dan menciptakan lingkaran sihir.
"Roaaaaaaaarghh" Suara raungan seekor naga putih yang langsung membuat semua orang disana terdiam dan berhenti melakukan segala perbuatan mereka.
Raungan tersebut membuat para penduduk dan para anggota sekte tersebut merinding ketakutan dengan suasana yang mencekam.
"Ada apa tuanku, sepertinya suasana hati anda sedang tidak baik" ucapnya.
"Pergi dan cari Ririna dan Karin, pastikan kau melindungi mereka dengan nyawamu. Lalu bunuh semua orang yang mengenakan pakaian seperti itu" ucapnya dengan menunjuk ke arah Arlan.
"Aku akan menyusulmu setelah membereskan para benalu ini" ucapnya dengan suara datarnya.
"Aku mengerti tuanku" ucapnya yang langsung terbang menjauh mencari Ririna dan Karin.
Frost dragon yang pergi langsung membuat para pemberontak tersebut tersadar kembali.
"Jadi, rumor itu benar. Seorang sisiwa yang mampu menundukkan frost dragon itu nyata. Aku fikir itu hanya karangan dan khayalan bocah akadami saja" ucapnya terkagum - kagum.
"Hei nak, bergabunglah bersama kami. Kami akan menundukkan kekaisaran ini dan menjadikan kau sebagai tangan kanan pahlawan. Bagaimana menurutmu" ucapnya.
Mendengar itu, Rui menjadi heran mengapa orang di depannya mengucapkan kalimat sekonyol itu.
"Apa kau bergurau, tidak aku sangka ucapan konyol seperti itu akan keluar dari bedebah sepertimu" ucap Rui tertawa masam.
Mendengar ucapan Rui, Arlan dan anak buahnya geram.
"Kurang ajar, beraninya kau berkata begitu. Apa kau fikir bocah yang tidak bisa menggunakan sihir sepertimu bisa mengalahkan kami?. Jangan mimpi kau bocah bodoh, dengan perginya frost dragon kau hanya akan mati di tangan kami. Habisi dia!!" ucapnya memerintahkan para anak buahnya menyerang.
Para pemberontak itu mengeluarkan senjata mereka dan langsung menerjang ke arah Rui.
Rui lalu mengeluarkan ratusan belati yang melayang di udara dan langsung menyerang para pemberontak.
Beberapa dari mereka langsung mati, namun ada yang berhasil selamat dengan pelindung sihir mereka.
"Sihir apa ini, tunggu, apakah ini memang sihir" Gumam Arlan di benaknya karena sangat terkejut melihat sihir Rui.
Rui lalu menerjang ke arah pemberontak dan langsung menghabisi mereka dengan sangat cepat hingga hanya hanya tersisa 4 orang bersama pemimpin sekte tersebut.
"Tidak, ini gila. Kau membantai tanpa ampun rakyat jelata juga. Kau bukan pemuda biasa, kau pasti iblis, tunggulah sampai pahlawan tiba dan membinasakanmu bocah sialan" teriaknya ketakutan melihat Rui yang terus membantai anak buahnya.
Namun ketika dia ingin menghabisi Arlan, dia melihat seorang pemuda datang menghampirinya.
"Lumayan juga, untuk ukuran seorang bangsawan" ucapnya dengan menenteng pedang di bahunya.
Rui berbalik dan melihat seorang anak yang pedangnya berlumuran darah namun segera terhisap oleh pedang tersebut.
"Siapa namamu bocah" ucapnya dengan raut arogannya.
"Bocah?, kau tampak tidak terlalu tua bagiku, lagipula, kenapa aku harus menjawab pertanyaan dari penjahat sepertimu" ucap Rui.
"Penjahat?. Apakah kau buta, aku adalah pahlawan yang terpilih oleh pedang ini dan hanya aku yang bisa mengendalikan pedang ini. Apa kau tidak pernah di ajarkan oleh ibumu kalau kata - kata pahlawan itu mutlak?" ucapnya kesal.
Dengan tawa sombongnya, Arlan mencemoh Rui yang sedang di buat kesal oleh pemuda itu.
"Hahahah, seprtinya ibunya julia, terlalu menghawatirkan dirinya yang menjanda dan lupa dengan memberikan pengetahuan yang cukup untuk anaknya" ucapnya yang membuat pemuda yang menyebut dirinya pahlawan tersebut ikut tertawa.
Tanpa basa - basi lagi, Rui menerjang ke arah pemuda itu dan menghantamkan belatinya ke arahnya, namun bisa di tangkis dengan mudah.
"Hehehe, kau cukup pemarah bocah. Apakah kau pikir kecepatanmu mampu mengelabuiku?" ucapnya sombong.
Belati mana yang di pegang oleh Rui terhisap ketika bersentuhan dengan pedang tersebut. Rui sedikit terkejut ketika melihat pedang itu bersinar.
"Hahahaha, apakah kau terkejut. Ini adalah pedang Rignit yang sudah diciptakan selama Puluhan tahun oleh para penyihir menara dan hanya aku yang mampu mengendalikannya karena aku adalah pahlawan" ucapnya sombong.
Pedang tersebut memang mirip dengan kemampuan Rignit milik Rui yang mampu mengumpulkan energi dan melepaskannya. Namun tidak seperti pedang milik Rui, pedang milik pemuda tersebut menghisap darah dan sihir dari tubuh korbannya. Semakin banyak yang dihisap maka kemampuannya akan menjadi jauh lebih kuat.
Rui di serang dengan tebasan pelepas energi milik pedang tersebut. Rui mencoba menahannya dengan mana shield namun tidak mempan karena kekuatan pedang tersebut yang terlalu kuat dan segera berpindah untuk mengindar.
Melihat hal itu, Arlan kagum dan sangat senang dengan kemampuan pedang ciptaannya.
Rui yang enggan menggunakan pedang miliknya yang masih belum mampu ia kendalikan, dengan berat hati akhirnya memanggil pedang Rignit yang asli.
...Bersambung.....!!!...