
Lucifer mundur beberapa langkah karena terkena tendangan dari Risiya. Risiya yang kini dalam keadaan emosi tidak gentar siapapun musuhnya walaupun Lucifer yang di katakan sebagai salah satu raja iblis neraka.
"Pergilah makhluk rendahan, aku hanya punya urusan dengan manusia di belakangmu, kau hanya akan aku binasakan jika berani menghalangiku !!" Lucifer memperingati Risiya dengan mengeluarkan energi hitam dari tangannya.
Namun dari arah samping kiri dan kanan Lucifer Indra dan Terada datang dengan tatapan penuh amarah dan nafsu membunuh yang sangat kuat dari pancaran matanya dan langsung menyerang Lucifer. Namun serangan mereka berhasil di tahan oleh sihir cahaya dan kegelapan dari lucifer.
Indra dan Terada sedikit terkejut melihat serangan dari mereka di tahan dengan sangat mudah.
"Hoooh.. jadi ini pedang yang membunuh Margonia ?!" Lucifer memperhatikan pedang yang saat ini di pegang oleh Terada.
Dengan mudahnya Lucifer menghempaskan kedua naga tersebut dengan energi negativnya. Terada dan Indra mendekat ke arah Risiya untuk melindungi Rui yang tengah terkapar.
Lucifer adalah sosok malaikat jatuh yang kini menjadi salah satu raja iblis. Lucifer memilki kekuatan cahaya da kegelapan, sebuah kekuatan yang sangat mustahil di dapatkan oleh makhluk lain. Pedang pemburu iblis milik Terada bahkan tidak mampu menyentuhnya karena di tahan oleh energi suci milik Lucifer.
Naga iblis Firos juga datang ke sisi Lucifer dan dalam kondisi yang penuh luka karena bertarung dengan Indra. Saat mereka semua tengah bersiap menyerang, para warbeast, elf dan pasukan manusia datang dengan seruan perang dari arah belakang.
Mereka semua yang awalnya ketakutan kini berlari tanpa gentar demi menyelamatkan sosok pahlawan mereka yang sedang terbaring tidak berdaya. Mereka semua siap mati demi menyelamatkan sosok pahlawan yang menjadi harapan para ras di benua itu.
Melihat hal itu, Firos yang tengah terluka meraung dengan sangat kuat untuk menakuti para pasukan yang mendekat ke medan pertarungan, namun langkah mereka tak melambat sedikitpun yang terus berlari menuju arah mereka hingga mereka semua berdiri di depan Rui untuk menjadi perisai untuknya.
Indra dan terada juga sudah bersiap dengan kekuatan penuhnya untuk menyerang. Naga cahaya juga sudah datang dan dalam posisi siap untuk bertarung. Risiya meraung dan berubah dalam mode beast tertingginya, di ikuti para warior dan pasukan warbeast. Raja elf dan ke 4 pilar juga sudah dalam mode Hybridnya. Mereka semua sudah bersiap menghadang gempuran kekuatan Lucifer.
Mata mereka menunjukkan tekat yang sangat kuat yang tidak gentar menghadapi kematian. Firos terus mendesis untuk mengintimidasi mereka semua namun hal itu tidak berpengaruh sama sekali.
Melihat peluang kemenangannya semakin kecil, berpindah sangat cepat ke udara dan membuka gerbang teleportasi.
"Baiklah... kali ini aku akan mundur, tapi lain kali, aku pasti akan menghabisi kalian semua !!" Ucap Lucifer yang bergerak memasuki Gerbang teleportasi.
"Tidak akan aku biarkan !!" Risiya yang saat ini sangat ingin menghabisi Lucifer bergerak dengan cepat melompati udara dan terbang menuju Lucifer untuk menghentikannya.
"Tu..tunggu !" Teriak Indra yang merasakan ada hal yang membuat instingnya merasakan hal yang bahaya.
Benar saja, Risiya menabrak sebuah penghalang sihir yang sudah di persiapkan Lucifer untuk menghalangi siapapun yang mengejarnya. Lucifer terseyum melihat raut wajah Risiya yang terlihat sangat membencinya.
"Sampai bertemu kembali, Hela !" Ucap Lucifer kepada Risiya.
Firos dan Lucifer memasuki gerbang teleportasi dan langsung menghilang lenyap seketika. Indra mendekat ke arah Risiya dengan menggendong tubuh Rui yang masih pingsan dengan tubuh dipenuhi pola aneh.
"Ma..maafkan aku. Padahal aku berada di sisinya, namun aku tidak bisa melakukan apapun untuk mencegah hal ini terjadi" Indra menyalahkan dirinya atas apa yang menimpa Rui.
"Tidak Indra !! Ini bukan sepenuhnya salahmu. Akulah orang yang harusnya lebih di salahkan dalam hal ini. Aku terlalu menyombongkan kekuatanku namun aku malah gagal melindungi tuanku. Aku benar-benar tidak berguna !!" Terada menggenggam erat tangannya dengan perasaan putus asa dan kekesalan pada dirinya sendiri.
"Tidaak.. jika ada orang yang di salahkan dalam hal ini, maka akulah orangnya !!" Erandel ikut berbicara. "Akulah yang telah menyeret kalian dalam peperangan ini demi melindungi rasku, namun aku malah membawa malapetaka untuk pahlawan kita !!" Erandel menundukkan kepalanya meminta maaf kepada Rui yang pingsan.
Melihat mereka semua menunduk menahan rasa malu dan rasa bersalah. Jirnif ikut berbicara.
"Tidak ada gunanya menylahkan diri sendiri dalam kejadian ini. Yang lebih penting sekarang adalah kita harus segera membawa tubuh Rui untuk segera di beri pengobatan !!"
Mendengar ucapan Jirnif, mereka semua mulai menyeka air mata mereka. Lalu Rui langsung di bawa kembali ke kerajaan elf untuk segera di beri pertolongan.
Aziel yang melihat kepulangan pasukan Elf langsung berlari untuk menyambut kepulangan mereka. Namun, saat melihat tubuh Rui yang dalam keadaan yang mengenaskan, air matanya langsung mengalir deras dan berteriak melihat kondisi Rui.
"Ru...Rui...!!!" Aziel berlari ke arah Rui.
"Mengapa ? mengapa ini bisa terjadi pada Rui ?! Bagaimana kalian bisa membiarkan hal ini terjadi padanya ?!" Teriak Aziel yang terlihat sangat marah bercampur air mata yang mengalir dari matanya.
Semua orang terdiam dan tak mampu menjawab. Mereka juga merasakan kesedihan atas apa yang menimpa pahlawan mereka. Helena, ibu dari Aziel memeluk putrinya dan mencoba menenangkannya.
"Aziel putriku... tenangkan dirimu. Aku tau kau sangat bersedih saat ini, namun apakah kau tidak melihat wajah mereka yang terlihat putus asa ?!" Helena mencoba menenangkan putrinya yang saat ini tidak bisa berfikir jernih.
Namun bukannya tenang, tangisan Aziel malah semakin menjadi-jadi.
"Ruiii... aku mohon sadarlah. Aku tidak mau kehilangan dirimu lagi. Setelah semua yang aku lalui untuk dapat bersama denganmu kembali. Aku... aku tidak bisa hidup tanpa dirimu lagi !!" Aziel menangis di atas dada Rui yang kini sedang sekarat.
Melihat Aziel yang dalam keadaan kesedihan yang mendalam, Risiya juga kembali menangis.
"Aziel !!" Erandel berbicara dengan nada tinggi.
"Jika kau ingin melihat dirinya segera tersadar kembali, maka sebaiknya kau tenangkan dirimu dan biarkan para ahli pengobatan untuk segera memberikan pengobatan kepadanya !!" Ucap Erandel dengan suara yang tegas kepada putrinya.
...Bersambung...!!!...