Lahirnya Pahlawan Sejati

Lahirnya Pahlawan Sejati
Episode 21 Rasa bersalah


Melihat kakek dan nenek yang baik - baik saja membuatku lega. Lalu kami masuk dan ingin menemui ibuku.


Lalu aku memperkenalkan Ririna pada mereka.


" Kakek ini temanku Ririna, dia anak kedua dari keluarga Viscount Counsta "


Setelah memasuki mansion, aku melihat ruang keluarga tapi tidak melihat ibuku dimanapun.


" Kakek, dimana ibuku " tanyaku pada kakek.


Kakek hanya diam saja dan mengajak kami memasuki kamar ibuku. Setibanya disana aku terkejut melihat ibuku yang terbaring lemah dengan kondisi sakit.


" Ibu " ucapku menyapa ibu.


Ibu membuka matanya dan melihatku dengan tatapan pilu.


" Kau sudah kembali anakku" Ucapnya dengan suara lirih.


Sekita aku dan Karin mendekat dan memeluk ibuku.


" Ibu, ibu kenapa, apakah ini karna aku, aku benar - benar minta maaf " ucapku sambil menangis memeluk ibuku.


" Aku juga minta maaf bu, aku yang seorang kakak seharusnya bersikap dewasa tapi malah terlalu memikirkan perasaanku sendiri, maafkan aku ibu " Ucap Karin dengan terus menangis.


Lalu ibuku mengusap kepala kami dan tersenyum.


"Tidak nak, ini bukan salah kalian berdua. Ini adalah salahku sebagai seorang ibu, aku yang seharusnya menjadi tempat pulang untuk kalian tapi malah memikirkan diriku sendiri dan membuat diriku menuruti hasratku untuk menghilangkan rasa kesepianku" ucap ibuku sambil menangis


" Tidak ibu, akulah yang salah. Aku hanya memikirkan perasaanku tanpa memikirkan bagaimana perasaan ibu, ibu berhak bahagia, aku hanyalah bocah egois "


Jawabku sambil memegang tangan ibuku karna merasa sangat bersalah kepada ibuku.


Melihat kejadian itu, kakekku ikut bicara, tapi bukannya untuk membuat ibuku menjadi tenang malah menyalahkan ibuku atas semua kejadian ini.


" Kau lihat Julia, anak - anakmu yang berfikir sangat dewasa rela memalingkan diri dari kebahagiaanya demi memlihat kau bahagia, bukannya kau malu sebagai orang tua "


Ucap kakekku dengan nada datar.


" Kakek, kenapa bicara seperti pada ibu, apa kakek tidak kasihan melihat kondisi ibu"


Tanya Karin sedikit kesal dengan ucapan kakek ke ibu.


" Karin, Rui. Kalian masih anak - anak, sudah seharusnya mendapatkan kasih sayang dan kenangan indah di masa kecil kalian dari orang tua kalian"


" Tapi karna keegoisan orang dewasa, kalian harus menderita seperti ini, ibumu yang tidak bisa mengatasi rasa kesepiannya dan tidak bisa bersikap dewasa, membuat kalian harus merasa bersalah seperti ini"


" Jika kau meninggalkan anak - anakmu demi mengejar kebahagianmu dalam kondisi anakmu seperti ini, bukannya kau tidak ada bedanya dengan ayah mereka "


" Anak - anakmu yang hanya bisa bergantung padamu dan menjadi tempat mereka berpulang, apakah kau tega meninggalkan mereka, apakah kau tidak bahagia dengan anak - anakmu dan ingin meninggalkan mereka bersama laki - laki lain "


Lalu kakek meninggikan suaranya dengan ekspresi marah dan berkata.


" Lihat dengan hati nuranimu, anak - anakmu rela mengorbankan kebahagiaan mereka demi melihat kau bahagia ucapnya.


Ibuku yang mendengar itu langsung menangis . Aku dan Karin terdiam mendengar kakek membentak ibu, aku kasihan dengan ibu tapi aku merasa apa yang diucapkannya benar, Karin masih sangat membutuhkan sosok ibu untuknya begitupula denganku.


" Maafkan ibu karin, Rui. Aku ibu yang egois, aku masih tidak bisa menjadi ibu yang baik untuk kalian berdua " ucap ibuku sambil menangis.


Setelah lama menangis akhirnya ibuku tertidur dan aku dan karin keluar dari kamar ibu untuk menemui Ririna yang dari tadi menunggu kami di ruang keluarga.


" Rui, apa yang terjadi, bagaimna kondisi ibumu dan kenapa kakek terdengar marah tadi "


Tanya Karin dengan rasa hawatir.


" Tidak apa - apa ririna, kami cuma bicara sebentar kok "


Lalu ketika kakekku keluar dari kamar ibu, Karin tiba - tiba bicara pada kakekku.


" Count Moris yang terhormat, maaf jika saya lancang bicara karna saya orang luar "


Ucap Ririna yang membuat aku, Karin dan kakek terkejut.


" Jika anda menyalahkan Rui atas kondisi nyonya Julia, saya merasa keberatan " ucap Ririna dengan nada serius.


Mendengar hal itu, aku segera menghentikan Ririna berbicara lebih jauh.


"Dasar bodoh, apa yang kau katakan, kau salah paham, kakek bukannya marah padaku tapi hanya menasehati ibu kami"


Muka Ri!rina langsung memerah dan langsung membungkuk meminta maaf pada kakek.


" Ma_maafkan saya, sungguh aku minta maaf "


Tapi bukannya marah kakek malah tertawa melihat tingkah laku ririna.


" Sa_saya sungguh minta maaf " ucap Ririna.


" Tidak, aku tidak marah, aku malah senang karna Rui menemukan teman yang baik sepertimu, mohon teruslah berteman dengannya "


Mendengar kakek memujinya Ririna tersenyum kembali dan berhenti merasa malu.


" Tentu saja Count, serahkan padaku, mau hujan batu ataupun hujan meteor aku tidak akan meninggalkan Rui " jawabnya sambil tersenyum ke kakek.


" Kau terlalu berlebihan bodoh "


Ucapku karna malu mendengar perkataan Ririna.


" Hahahaha, aku menyukaimu Ririna Consta"


Ucap kakekku senang. Aku merasa sangat bersyukur ririna ikut bersama kami karna bisa merubah suasana hati kami.


Lalu kami permisi karna aku ingin mengajak ririna berkeliling di sekitar mansion. Karna kakek masih ingin melepas kerinduannya pada karin karna sangat lama tidak bertemu jadi hanya kami berdua yang pergi meninggalka Karin dan kakek.


" Sudah lama ya kakek "


"Iya bagaimna jika kau duduk di pangkuan kakek setelah sekian lama, aku sangat merindukan cucu perempuanku" ucapku.


" Hahahah, kakek, aku sudah bukan anak kecil lagi " ucap Karin.


" Hahaha, tentu saja, anak kecil yang dulu ku gendong setiap berkunjung ke sini, sekrang sudah menjadi gadis yang sangat cantik ".


Ucap kakek sambil mengelus kepala Karin.


Lalu setelah itu, karin permisi ke kakek untuk menemani ibuku yang masih tertidur.


" Aku akan disana ketika ibu bangun, aku juga sangat merindukan ibuku "


Kata Karin kepada kakek.


" Iya, pergilah cucuku, aku tau kau pasti sangat kesepian tanpa ibumu ".


Setelah itu Karin langsung pergi ke tempat tidur ibuku. Aku yang berkeliling mansion dengan Ririna mengenalkan berbagai tempat di sekitar mansion.


" Bagaimana jika kita langsung pergi ke tempat pavoritku " ucapku pada Ririna.


" Tidak usah, aku tau pasti maksudmu adalah tempat latihan, dan jika kau kesana kau pasti nantinya akan sibuk latihan dan tidak memperhatikanku lagi"


" Luar biasa , kau benar - benar tahu semua tentangku " ucapku yang kagum Ririna bisa membaca pikiranku.


Tapi tiba - tiba, seorang kepala desa datang dan mencari kakek dengan muka panik.


" Tuan penguasa, kumohon, tuan penguasa tolong keluarlah "


Kakek langsung keluar menemui orang itu.


"Ada apa Brandi, kenapa kau panik " ucap kakekku mencoba mengetahui apa yang terjadi.


"Bandit itu, mereka kembali menyerang dan menjarah desa". Ucap kepala desa itu.


Aku yang mendengar itu langsung pergi ke tempat pembicaraan mereka untuk memastikan kejadiannya.


" Ada apa kakek aku mendengar kejadian yang kurang mengenakkan tadi, bukankah aku tidak pernah mendengar tentang kejahatan di daerah kakek selama aku disini sejak dulu. "


" Ah cucuku, dari semenjak 1 bulan setelah aku melarang Viscount menemui ibumu, banyak hal aneh yang terjadi"


" Dari bandit yang mulai menyerang desa yang membuat pedagang yang tidak berani lewat maupun mampir ke sini karna takut diserang oleh bandit "


" aku memang curiga pada Viscount itu tapi aku tidak punya bukti apa - apa, kami sudah mengerahkan banyak penjaga tapi mereka terus bermunculan hingga para penjaga tidak bisa menghentikan mereka."


" dan ketika aku meminta bantuan ke isatana kekaisaran mereka mengatakan akan sampai 1 minggu lagi " jawab kakek bingung harus melakukan apa.


" Kalau begitu serahkan padaku kakek, aku akan menghentikan mereka " ucapku dengan penuh keyakinan


" Apa , tidak itu terlalu berbahaya" ucap kakek mencoba melarangku.


" Tidak apa - apa kakek, aku bisa melakukannya, apa kakek lupa dengan kempuanku yang kakek lihat waktu aku menghilang bersama karin "


Lalu kakek mengingat kembali yang dulu ia lihat, setelah memikirkan segala kemungkinannya dia tidak bisa mengetahui apapun tentang cara aku melakukan itu.


" Percaya saja pada Rui kakek, dia pasti bisa melakukannya "


Ucap Ririna meyakinkan kakek.


" Kalau begitu kami permisi" ucapku sambil meninggalkan tempat itu untuk menuju desa tempat para bandit itu menyerang "


...The end...