Lahirnya Pahlawan Sejati

Lahirnya Pahlawan Sejati
Episode 73 Rui vs Horn


Mendengar yang dikatakan putrinya, Erandel merasa sangat terpukul. Wajahnya pucat dan terlihat begitu kecewa mendengar ucapan putrinya.


Ia melihat kenangan masa lalu dimana putrinya yang sangat lengket kepadanya.


"A...Apa yang kau katakan Aziel. Bukankah kau berkata kalau kau akan menikah dengan ayah?" Ucap Raja dengan nada manja kepada putrinya.


Aziel yang mendengar ayahnya mengatakan itu, teringat dengan hal-hal memalukan yang pernah ia ucapkan saat masih kecil. Hal itu membuat wajah Aziel merah padam menahan malu.


"Ja..ja..ja jangan bicarakan itu lagi bodoh, itu hanya hayalan anak kecil. Lupakah itu!!" ucap Aziel yang tidak ingin ucapan itu di dengar oleh Rui.


Erandel sangat syok mendengar ucapan putrinya, lalu melampiaskan amarahnya kepada Rui.


"Semua ini, pasti karena dia bukan? karena lelaki itu kau berubah jadi dingin pada ayahmu. Laki-laki itu harus diberi pelajaran" ucapannya yang mengarahkan emosinya ke Rui.


"Horn tunjukkan kemampuanmu pada bocah itu. Kalo kau kalah, kau akan mengurus kandang Wyvern selama 1 bulan. Itu juga hukuman karena mengabaikan perintahku yang melarangmu bertarung. Jadi tunjukkan semua kemampuanmu" teriak Erandel.


Horn tersenyum mendengar perintah raja. Ia mulai mengumpulkan mana di sekitarnya untuk mengeluarkan semua kemampuannya.


"Baiklah, sebaiknya kau bersiap karena aku akan mengeluarkan kemampuanku. Jadi cobalah untuk bertahan" ucap Horn memperingati Rui.


"Hooh, kau cukup baik memberitahukan hal itu segala. Jangan khawatir dan tunjukkan semua kemampuanmu padaku" jawab Rui yang mengeluarkan puluhan belati melayang di sekitar tubuhnya.


Horn melesat untuk menyerang Rui dengan segenap kekuatannya. Pertarungan terjadi cukup lama. Orang - orang yang menyaksikan pertarungan itu terlihat begitu kagum dan hanya bisa berdecak kagum. Mereka beradu serangan dengan cukup dahsyat sampai beberapa pohon roboh.


Freyy lalu mendekat ke arah Regan, salah satu elf laki-laki menjadi salah satu jendral di negri elf.


"Menurutmu siapa yang akan memenangkan pertarungan ini" tanya Frey.


Orang itu mengamati pertarungan dengan seksama. Ia dengan cepat bisa menilai sesuatu hanya dengan melihatnya.


"Yang kita lihat pertarungan mereka terlihat imbang. Namun anak manusia itu hanya mengeluarkan kekuatan untuk mengimbangi kemampuan Horn. Kemenangan pertempuran ini sudah jelas. Aku bahkan belum bisa memastikan seberapa tangguh anak manusia itu" ucap Regan yang melihat kemampuan Rui.


Seperti yang dia perkirakan, Rui akhirnya berhasil memenangkan pertandingan itu dengan menempelkan belati miliknya di leher Horn.


"Baiklah-baiklah aku mengaku kalah, kemampuanmu Memang luar biasa anak muda. pantas saja Zenra sampai babak belur karenamu" ucap Horn


Rui terkejut mendengar perkataan dari Dark elf itu. Ia mengulurkan tangannya untuk membantu Horn berdiri.


Ya terima kasih, kau juga memiliki kemampuan yang luar biasa. Tapi, kau sepertinya salah paham akan satu hal"


Semua jendral itu terkejut.


"Salah paham?" tanya dia bingung.


"Iya... yang bertarung dengannya bukan aku, tapi gadis itu" ucap Rui menatap ke arah Risiya.


Risiya hanya tersenyum malu karena telah melukai Zenra karena tidak bisa menahan dirinya.


"Eehhh" ucapnya terkejut.


Mereka tidak menyangka gadis polos seperti dirinya yang terlihat kalem bisa mengalahkan kapten dari prajurit dark Elf.


"Kau sepertinya memilki kemampuan yang luar biasa nona, aku jadi ingin mencoba untuk bertarung denganmu" ucap frey kepada Risiya.


"Yah tentu... kalau ada waktu aku juga ingin mencoba bertarung denganmu" balas Risiya.


Aziel yang melihat kemenangan Rui langsung berlari dan memeluk Rui.


"Seperti yang kuduga kau memang hebat Rui, bahkan kau belum menggunakan kekuatan aslimu" ucap Risiya yang membuat para jendral Elf itu terkejut.


Namun Raja elf yang melihat putrinya memeluk seorang pria di depannya, hanya bisa menatap Rui dengan perasaan kesal dan tidak peduli dengan ucapan putrinya yang membuat orang lain penasaran.


"Kalau begitu bisakah ayah mengizinkan mereka semua untuk datang ke negeri kita? mereka pasti butuh beristirahat karena perjalanan kami yang sangat jauh" ucap Aziel memohon kepada ayahnya.


Melihat putrinya yang meminta sesuatu padanya, suasana hati Erandal langsung terlihat begitu senang dan terlihat di wajahnya semua kekesalannya sirna.


"Tentu putriku, mereka semua sangat disambut di negri kita" ucap Erandel.


"Siap" jawab mereka.


Sebelum pergi, Frey merapalkan sihir penyembuh pada tubuh Horn dan Zenra. Rui memperhatikan sihir unik milik Elf yang bisa menyembuhkan luka-luka ringan di tubuh elf itu.


Namun skill Heal milik elf hanya bisa mempercepat regenerasi sell pada tubuh namun tidak bisa memperbaiki sell yang sudah rusak sehingga bekas dari luka sayatan masih tetap meninggalkan bekas.


"Apa skill ini mampu menyambungkan kembali apabila ada bagian yang terpotong?" tanya Rui kepada Frey yang sedang menyembuhkan elf yang terluka.


"Mana ada kemampuan yang seperti itu, ini hanya mempercepat kemampuan tubuh dalam penyembuhan diri, skill yang dapat meregenerasi bagian yang hilang, aku belum pernah mendengarnya" jawab Frey yang tertawa mendengar pertanyaan Rui.


"Wahh, luka yang ini cukup dalam" ucap Frey yang melihat bekas cakaran di tangan kiri Zenra.


"Siapa yang bilang menyerang hanya dengan pukulan?" tanya Rui dengan senyuman yang di paksakan kepada Ririna.


"Eheee.. keterusan. Maaf" jawab Risiya merasa bersalah.


Lalu Rui menggunakan skill Purify miliknya dan menyembuhkan luka di tangan Zenra hingga hilang tanpa bekas.


"Ehhh?" Frey kembali di buat takjub oleh Rui.


"Bagaimana bisa kau menggunakan kemampuan yang sangat berguna seperti itu?" tanya Frey yang sangat penasaran pada skill Rui.


Azeil yang melihat wajah Frey sangat dekat dengan wajah Rui menjadi kesal.


"Heiii, kau terlalu dekat" ucap Aziel yang menarik tangan Rui menjauh.


Rui sedikit tersenyum melihat Aziel yang kesal.


"Aku tidak tau cara menjelaskannya, namun bisa di bilang ini karena manaku yang sangat berbeda" jawab Rui.


"Aku tidak bisa menggunakan sihir elemen seperti kebanyakan orang namun manaku bisa melakukan hal-hal yang di luar kemampuan penyihir lain" jawab Rui.


"Ehhhhh, aku jadi semakin penasaran denganmu anak muda. Apakah kau mau membicarakan tentang dirimu denganku nanti?" tanya Frey yang semakin kegirangan.


"Tidaaak, tidak boleh. Rui memilki banyak hal yang lebih penting yang harus ia selesaikan" jawab Aziel kesal.


"Eeeeeh... bukannya kau curang menyimpan dia hanya untuk dirimu sendiri" ucap Frey yang menarik lengan Rui.


"Tidak boleeeh, Frey jauhkan tanganmu dari Rui" ucap Aziel yang berusaha keras menarik tangan Rui.


Raja Erandel yang melihat hal itu menjadi sedikit cemburu.


"Eheeem"


"Ke 4 pilar. Aku memerintahkan kalian untuk memperbaiki penghalang sihir yang rusak lalu kembali ke istana secepat mungkin" perintah raja elf untuk menghentikan perdebatan mereka.


"Baklah yang mulia" jawab mereka serentak.


Lalu para pilar terbang menaiki Wyvern yang memilki kecepatan terbang yang luar biasa.


"Kalau begitu, aku menunggu kedatangan kalian di istana" ucap Erandel yang pergi dengan menaiki Wyvern putih miliknya.


Lalu Rui dan rombongannya di pandu oleh prajurit elf melintasi hutan menuju lokasi tempat tinggal mereka. Rui dan rombongannya yang telah melintasi hutan akhirnya sampai di ibukota kerajaan elf.


Rui begitu kagum melihat suasana disana. Para elf yang tinggal di rumah pohon dan kerajaan elf yang terlihat begitu megah sangat memukau di mata Rui.


"Benar-benar tempat yang mengagumkan" gumam Rui.


Hal itu membuat Aziel terseyum mendengarnya.


"Kau bisa tinggal disini selama yang kau inginkan, Rui" ucap Aziel pada Rui.


...Bersambung...!!!...