
Ketika hendak pergi kaisar memberikan 6 gelang padaku.
"Gelang apa ini?"
"Gelang ini adalah alat sihir yang baru - baru ini berhasil di kembangkan oleh para peneliti di menara sihir"
"Lalu apa pungsinya"
Dengan wajah gembira dan dengan penuh kebanggan kaisar memberitahu fungsi gelang tersebut.
"Gelang ini dapat membuat penggunanya berkomunikasi jarak jauh. Jika anda memikirkan wajah orang yang juga mempunyai gelang tersebut dan menambahkan mana ke dalamnya maka anda dapat berkomunikasi dengan orang tersebut"
Mendengar hal itu tentu saja membuatku sangat senang karna aku bisa mengetahui informasi dari para Shadow skuad lebih cepat dan dapat memerintahkan mereka dari jarak jauh.
Sebelum aku memberikan gelang tersebut aku menanyakan nama mereka.
"Nama?" tanya mereka kebingungan.
"Iya aku menanyakan nama kalian"
"Tuan, kami adalah perajurit bayangan. Identitas dan segala ingatan tentang itu sudah kami buang dari dulu. Kami hanya diberikan nomor untuk menjadi identitas kami" ucap salah satu dari mereka.
Mendengar hal itu, aku menjadi agak sedih dan teringat dengan rumor beberapa anak yatim yang di jadikan pasukan khusus dan diberi pelatihan yang sangat kejam.
Lalu aku menoleh ke kaisar dan bertanya dengan ekspresi marah.
"Siapa yang membuat pasukan ini, apakah itu kau kaisar?"
Lalu kaisar agak panik melihat wajahku yang sudah emosi.
"Tidak wahai pahlawan. Mereka di bentuk oleh para penyihir tower dan di tugaskan menjadi pasukan bayanganku setelah memberikan kompensasi yang setimpal pada para penyihir tower"
"Baiklah aku percaya padamu, untuk masalah ini akan aku tunda dahulu dan fokus ke masalah para elf yang hilang"
Mendengar hal itu kaisar menjadi lega. Lalu setelah memberikan 5 gelang ke merekam, kami berpisah untuk melakukan pencarian.
Aku dan anggota skuad naga perak berteleport di sebuah kota dekat perbatasan wilayah elf dan manusia. Karena disana adalah tempat yang menjadi pasar budak terbesar di kekaisaran.
Melihat para elf dan para warbeast yang di rantai di dalam kurungan membuat amarahku memuncak. Manaku tiba - tiba meluap dan aku merasakan tanda di tangan kananku menghitam dan tangan kananku seperti tersengat listrik. Aku pikir tombak Taurus dan panah Cronicel yang menjadi pelindung para ras tersebut memberikan respon ketika melihat mereka di perbudak.
Lalu aku mengahampiri pedagang budak tersebut.
"Permisi pak, saya mau bertanya"
Lalu pedagang tersebut menoleh dan ketika melihat baju kami yang terlihat maha. Dia berfikir kalau kami adalah pembeli.
"Ahh, tuan muda, selamat datang di tempat dagangan saya. Apakah anda butuh beberapa budak, saya punya beberapa yang cocok dengan selera tuan muda"
Mendengar pedagang itu yang menyebutkan para elf dan warbeast seolah - oleh mereka adalah barang dagangan membuat emosiku memuncak.
"Aku ingin kau membebaskan mereka semua sekarang"
Mendengar hal itu, pedagang budak menjadi kebingungan.
"Ahhh, aku tidak mengerti maksud tuan muda. Apakah tuan muda ingin membeli semuanya"
"Tidak, aku ingin kau melepaskan mereka dan aku akan mengembalikan mereka ke tempat asalnya"
Mendengar hal itu, pedagang itu menjadi emosi dan marah - marah padaku.
"Apa maksud ucapan bodohmu. Mau kau bangsawan atau bukan, kau tidak berhak memberi perintah konyol seperti itu pada kami"
Teriakan orang itu mengundang perhatian orang - orang yang berada di sana dan mengerumuni kami.
Lalu aku memerintahkan ke Karin untuk menyerang orang itu.
"Kakak tolong lakukan"
Karin langsung mengerti dan mengeluarkan sihir api ke orang tersebut. Seketika tubuhnya terbakar dan dia berlari ke arah bak air dan menyeburkan dirinya kesana.
"Apa yang kalian lakukan. Ini adalah sebuah penindasan kepada rakyat biasa"
"Benar ini adalah sebuah kejahatan"
Teriak para orang - orang yang menyaksikan kejadin tersebut. Dengan wajah kesal aku menatap ke arah mereka.
"Aku adalah Rui, kapten dari skuad Naga Perak. Kami adalah tim pembasmi yang di bentuk melalui seleksi di akademi sihir timur. Aku memiliki wewenang melebihi wizard knight kerajaan. Jika kalian keberatan dengan tindakanku, majulah"
Setelah mendengar itu orang - orang itu terdiam. mereka lalu pergi dari sana meninggalkan si pedagang yang dari tadi sibuk mendinginkan tubuhnya.
Aku mendekati pedagang tersebut dan mengobati luka bakarnya.
"Purify"
Seketika lukanya sembuh dan aku melanjutkan perintahku yang tadi.
"Bebaskan mereka sekarang"
Lalu orang itu berlutut dan memohon ampun padaku.
"Mohon ampuni saya, kasihanilah saya. Saya hanya orang kecil yang mencari makan dari hasil menjual para budak ini tuan" ucap pedagang itu menangis.
"Kau menghidupi keluargamu dengan uang yang kau hasilkan dari menjual kebebasan orang lain"
"Ampuni saya tuan tapi inilah pekerjaan saya. Jika saya membebaskan mereka, maka saya tidak akan punya apa - apa lagi tuan, tolong"
Mendengar hal itu membuatku sedikit prihatin. Lalu aku menyuruh orang itu pergi ke istana dan menunggu perintah selanjutnya dariku.
"Pergilah ke istana kekaisaran. Katakan pada prajurit kalau aku Rui, memerintahkanmu menungguku disana"
Mendengar hal itu si pedagang nampak Ragu namun tetap pergi mematuhi perintahku.
Lalu aku membuka semua sel dan membebaskan semua budak yang disana.
"Siapa anda tuan, apakah saya sudah dibeli? apakah saya sudah bisa makan sekarang?" tanya seorang elf yang tampak kurus dan lesu.
Mendengar hal itu membuatku sangat sedih. Melihat penampilan mereka membuatku sadar bahwa penderitaan yang aku alami tidak lebih buruk dari mereka.
"Aku bukan tuan kalian dan aku tidak membeli kalian, namun aku akan membebaskan kalian dan akan memulangkan kalian ke kampung halaman kalian"
Mendengar hal itu, mereka tampak senang disertai tangis bahagia.
"Benarkah itu tuan, apakah kami bisa pulang" tanya mereka disertai tangis bahagia.
"Iya, aku bersumpah"
Mereka semakin menangis ketika mendengar kalau mereka akan bebas dan pulang ke tempat asalnya. Hal itu membuat Kakak dan yang lainnya ikut bahagia.
Lalu aku menghubungi para kelompok bayangan dan menugaskan mereka untuk mengantar para elf dan war beast ke istana kekaisaran untuk menunggu instruksiku selanjutnya.
Namun sebelum pergi, aku menanyakan tentang apakah ada elf yang baru - baru ini dijadikan budak.
Lalu beberapa dari mereka mengatkan kalau mereka adalah anak - anak yang baru - baru ini di culik dari negri elf. Mendengar hal itu aku menanyakan dimana lokasi putri elf.
Setelah mengetahui lokasinya, aku dan skuad naga perak langsung bergegas ke gua tempat markas para penculik tersebut.
Sesampainya disana, terlihat beberapa orang berjaga di pintu gua. Lalu aku memerintahkan Ririna dan Karin untuk mencari jalan keluar lain agar para penculik itu tidak kabur.
"Kakak, Ririna. Aku ingin kalian mencari jalan keluar lain dari gua ini agar mereka tidak bisa kabur"
Namun Ririna malah kebingungan mendengar instruksiku.
"Memangnya ada manusia yang bisa kabur darimu Rui?"
Mendengar hal itu Karin tersenyum dan manarik tangan Ririna.
"Sudahlah ayo laksanakan saja apa yang di katakan ketua kita" ucap Karin membawa Ririna menjauh.
Lalu aku berbalik menatap para penculik tersebut dan berkata pada Risiya.
"Risiya, mungkin ini akan menjadi pembantaian yang mengerikan. Jika kau tidak sanggup kau bisa menungguku disini"
Namun Risiya dengan sigap mengatakan.
"Apa yang kau katakan senpai. Kemanapun kau pergi dan apapun yang senpai lakukan. Aku akan selalu mengikutimu"