Lahirnya Pahlawan Sejati

Lahirnya Pahlawan Sejati
Episode 78 Ancaman mendekat


Rui terbangun dan langsung melihat wajah gadis yang menjaganya hingga dirinya sendiri ketiduran. Rui segera bangun dari atas paha Risiya karena terkejut.


"Risiya... Risiya, hey bangunlah" Rui menepuk lembut pipi Risiya.


"Ekhmmm" Risiya terbangun dan mengusap matanya untuk memperjelas penglihatannya.


"Ru..Rui... syukurlah kau sudah bangun. Aku sangat khawatir melihatmu pingsan" Risiya begitu senang melihat pria di depannya membuka mata.


"Yah, maaf sudah membuatmu khawatir" Rui merasa sedikit bersalah namun tidak menyesal memaksakan dirinya demi menolong temannya.


Namun Rui begitu terkejut setelah melihat luka-luka di tubuh Risiya sudah sembuh seperti sedia kala.


"Risiya, apakah kau mempunyai kekuatan khusus?"


"Seingatku sebelum aku pingsan, aku hanya menyembuhkan luka-lukamu yang fatal, namun sekarang luka-luka di tubuhmu seperti menghilang" Rui terkejut melihat kondisi Risiya.


"Hehee... iya. Maaf belum memberitahukan hal ini padamu. Apakah kau tahu, kalau ras demi human seperti warbeast mampu beregenerasi?" Risiya balik bertanya.


"Iya, namun regenerasinya terbilang cukup lambat" jawab Rui.


"Benar. Rata-rata warbeast memang memilki regenerasi tubuh yang lambat, walaupun ada yang cepat namun tidak secepat diriku."


"Ibuku pernah bercerita tentang sosok seorang wanita di suku warbeast yang di ramalkan akan membawa malapetaka kepada dunia. Dirinya di katakan memilki darah terkutuk yang bisa lepas kendali dan membinasakan klannya. Berbagai upaya telah di lakukan oleh suku warbeast untuk melenyapkan wanita tersebut, namun tetap saja wanita itu kembali seperti semula. Hal itu membuat dia di usir dari suku warbest karena di anggap hanya akan mengancam kedamaian klan"


Mendengar hal itu, Rui sedikit terkejut.


"Jadi siapa wanita yang di maksud ibumu?" Rui penasaran.


Risiya terdiam cukup lama.


"Dia adalah leluhurku. Lalu sekarang, ciri-ciri dari gadis yang di katakan akan membawa bencana adalah diriku" Risiya terlihat agak sedih dan takut apabila Rui menjauhinya karena dirinya adalah gadis terkutuk.


Sejujurnya, Rui sudah mengetahui bahwa Risiya memang punya sesuatu yang sangat ganjil di dalam tubuhnya. Seperti sosok makhluk yang selalu menebarkan ancaman kepada orang di sekitarnya. Mungkin inilah yang menjadi alasan utama murid-murid di akademi enggan untuk bersama Risiya karena auranya yang sangat menakutkan.


"Jadi, itulah alasan mengapa dirimu bisa sembuh secepat itu" Rui terlihat lega mendengar Risiya memilki kemampuan seperti yang cukup berguna.


"Yah, tapi lain kali jangan sampai berbuat nekat seperti itu ya !" Rui terseyum ke arah Risiya.


"Mengapa ? , mengapa kau masih tenang-tenang saja setelah mendengar ceritaku ?" Risiya bingung dengan sikap santai Rui.


"Apa maksudmu ?, kau adalah temanku, apapun yang terjadi kita akan hadapi bersama" Rui terlihat serius.


"Aku ini anak terkutuk, aku bisa saja membahayakan dirimu, Karin dan teman-teman yang lain jika aku lepas kendali" Risiya terlihat ketakutan dengan kekuatan dirinya sendiri.


Rui terdiam dan memeluk Risiya.


"Apakah kau pernah berniat menyakiti kami?" Rui bertanya dengan lembut.


"Tentu saja tidak" Risiya menangis di dada Rui.


"Itu saja cukup. Kenapa aku harus menjauh dari orang yang tidak berniat buruk sedikitpun padaku ataupun keluargaku. Jika suatu saat kau lepas kendali, aku bersumpah akan menyelamatkanmu" Suara Rui terdengar sangat serius sambil mengusap kepala Risiya untuk menenangkannya.


"Terima kasih Rui" Risiya semakin menangis hingga membasahi baju Rui.


Rui hanya tersenyum melihat reaksi Risiya. Dirinya juga tahu bahwa Risiya memiliki sesuatu yang sangat berbahaya di dalam tubuhnya, bahkan dia lebih mengkhawatirkan makhluk itu ketimbang raja iblis.


Namun di suatu tempat, Pemimpin suku Orc sedang berlutut di hadapan naga api yang memberikannya nama Groc. Di samping raja naga api tersebut, seseorang sedang duduk di singgasana dan mendengarkan laporan dari para Orc. Tempat itu berada di gunung api, singgasana dari naga api Firos.


Para Orc terlihat sangat ketakutan di hadapan orang tersebut. Lalu beberapa orang manusia setengah elf keluar dari balik tirai.


"Itulah yang terjadi jika kau menyerahkan sebuah misi kepada mahluk yang tidak memilki pikiran seperti mereka" elf itu tertawa mendengar tentang kegagalan para Orc.


"Arios... bagaimana dengan kalian ?" tanya orang tersebut.


"Mengapa kau menanyakan hal yang sudah jelas" Elf itu menyeret para tawanan bersamanya.


Terlihat para Warbeast sudah di pasangi kalung perintah. Mereka semua sudah di taklukan oleh ke 9 orang half elf tersebut.


"Hahaha... kerja bagus. Tidak sia-sia aku memanfaatkan para bangsawan bodoh itu untuk menghamili para elf budak mereka" iblis itu tertawa puas dengan hasil kerja mereka.


"Tentu saja tuan Lucifer, kami tidak akan mengecewakanmu" para half elf itu memberi hormat pada tuan mereka Lucifer.


"Lalu bagaimana dengan mereka" Raja naga api Firos menanyakan tentang para Orc.


"Kenapa tidak musnahkan saja mereka, lagi pula kita sudah mendapatkan para warbeast yang akan menjadi pion yang lebih bagus" Arios mengeluarkan rantai api dan bersiap memusnahkan para Orc.


Para Orc terlihat sangat ketakutan.


"Tu..tunggu sebentar tuan, kami punya asalan mengapa kami bisa kalah" pemimpin Orc itu mencoba meyakinkan Lucifer.


"Sebaiknya kau memilki alasan yang bagus sebelum aku merenggut nyawa kalian" ancam Lucifer.


"Baiklah... kami sebenarnya telah berhasil memojokkan para elf dengan kekuatan yang tuan berikan. Namun semua berubah ketika seorang manusia datang membawa panah petir dan ikut bertempur dengan mereka. Kekuatan dari panah tersebut sangatlah dahsyat begitu pula dengan pedang cahaya miliknya yang membantai para prajurit kami" Groc mencoba meyakinkan Lucifer.


"Panah petir ?, Pedang bercahaya ?" Lucifer sedikit terkejut.


"Owh... sepertinya aku pernah mendengarnya. Sepertinya dia adalah Pahlawan manusia yang membunuh Dracule ?" ucap Arios.


Mendengar hal itu, Lucifer mengingat kembali tentang pertempuran di akadami sihir. Lucifer ternyata memata-matai tindakan Dracule yang mencari pasukan dari anak-anak berbakat di akademi sihir.


"Owhh, jadi bocah itu lagi ?" Dracule mengingat kembali sosok Rui.


"Anda mengetahuinya tuanku ?" tanya Firos.


"Iya, aku mengingat anak itu. Dia adalah pahlawan yang di anugrahi 3 senjata pahlawan sekaligus" ucap Lucifer.


"3 senjata suci pahlawan ?, sepertinya dia terdengar berbahaya" Arios terkejut mendengar ucapan Lucifer.


Namun Lucifer malah tertawa.


"Berbahaya ?. Hahahaha."


"Bocah itu hanyalah penerus yang tidak berguna. Dia memang bisa mengendalikan ke 3 senjata. Namun hanya itu saja tidak lebih. Bocah itu bahkan tidak punya tekhnik apapun dalam menggunakan senjata tersebut" ucap Lucifer yang pernah melihat pertarungan Rui.


"Namun bukankah dia berhasil membunuh Dracule yang di katakan sebagai mentan jendral iblis ?" Arios kebingungan.


"Ya, itu benar. Namun Dracule bukanlah iblis yang hebat. Dia hanya iblis yang di angkat menjadi jendral karena berhasil merekrut pasukan di masa lalu untuk raja iblis. Namun sebenarnya, dirinya sangatlah lemah dan pengecut. Namun Melawan iblis pengecut seperti Dracule saja membuatnya sekarat dan hampir meregang nyawa. Dia sama sekali bukan ancaman bagi kita walaupun memilki senjata suci sekalipun. Sebuah senjata di takuti bukan hanya karena kekuatannya, namun karena kemampuan dari siapa yang menggunakannya" Lucifer meremehkan Rui dan menganggap dirinya sama sekali bukan ancaman baginya.


"Kalau begitu, apa rencana kita selanjutnya ?" raja naga bertanya.


"Kita tetap sesuai rencana. Yaitu menaklukan ras elf. Namun kali ini, kita akan menyerang dengan kekuatan penuh" ucap Lucifer yang tertawa di ikuti para half elf dan Orc.