
Kakek mengajak Kaisar dan Ajudannya berpindah tempat ke ruang tamu. Sedangkan kakek menyuruh ibu dan yang lainnya pergi meninggalkan tempat itu karena percakapan ini antara aku, kakek, kaisar dan ajudannya.
Kakek masih tampak cemas ketika akan memberitahu kaisar bahwa Duke Nourman telah lenyap oleh Frost Dragon milikku.
Lalu kaisar yang melihat tingkah kakekku menjadi sedikit penasaran dan langsung memulai percakapan.
"Jadi, apa maksud anda memanggilku kemari nak Rui"
Kakek tampak kaget mendengar Kaisar yang langsung bertanya tanpa basa basi.
"Aaa_anu yang mulia" jawab kakek masih ragu.
Namun aku langsung memberitahu inti permasalahannya pada kaisar menggantikan kakekku tanpa ragu
"Duke Nouman telah tewas"
Mendengar hal itu, semua orang yang berada di ruangan itu terkejut bahkan kakekku. kaisar kemudian terdiam sejenak dan berfikir.
"Nak Rui, apakah kau tau apa yang baru saja kau katakan!"
"Tentu saja" balasku singkat.
Lalu kaisar mengangkat wajahnya dan menatapku tajam.
"Ini bukan masalah benar atau salahnya tindakanmu, namun ini masalah yang jauh lebih besar dari itu"
Kakek mendengar hal itu terlihat sangat khawatir dan terlihat keringat mulai terlihat di mukanya.
Melihat hal itu, aku mulai jengkel dengan kaisar yang berbicara berbelit belit yang hanya membuat kakekku semakin khawatir.
"Bisakah kau tidak bertele - tele dan langsung pada intinya saja, kau membuat kakekku menjadi tidak tenang"
Mendengar hal itu kakek semakin kaget dengan ucapan lancangku kepada kaisar.
"Rui, apa yang kau katakan cucuku, kau tidak boleh bertingkah kurang ajar kepada yang mulia" ucap kakekku terkejut.
Namun Kaisar tidak terlihat tersinggung dan malah meminta maaf kepadaku.
"Tidak apa - apa count, aku malah yang meminta maaf atas sikapku"
Kakek semakin terkejut mendengar Kaisar yang meminta maaf padaku. Lalu kaisar melanjutkan ucapannya.
"Rui, sebelumnya bolehkah aku akan bertanya padamu"
"Tentu saja" balasku.
"Apakah kau sudah memberitahu orang lain tentang siapa kau sebenarnya"
Kakek terkejut mendengar ucapan kaisar begitu pula denganku. Aku ragu untuk memberitahu keluargaku tentang siapa aku dan tugas apa yang harus aku emban sebagai pahlawan.
"Apa hubungannya dengan itu" tanyaku balik ke kaisar.
"Maaf, namun jika kau membeberkan identitasmu kau bisa lolos dari kejadian ini"
Kakek kembali terkejut mendengar ucapan kaisar. Aku menjadi sedikit khawatir dengan kesehatan jantungnya setelah mendengar begitu banyak hal yang cucunya sembunyikan darinya.
"Identitas asli Rui?" ucap kakek terkejut.
"Iya tuan Count, kau dan keluargamu mungkin belum tau siapa sosok cucumu yang sebenarnya" ucap kaisar.
"Ap_apa yang anda katakan yang mulia, dia adalah cucu saya, darah daging dari anak saya julia, bagaimana mungkin anda berkata seolah anda lebih mengenal dia dari pada keluarganya sendiri"
Lalu kakek menoleh ke arahku dengan tatapan curiga, kakek mungkin berfikir banyak hal tentang siapa aku dan siapa jati diriku sebenarnya.
Aku lalu memantapkan tekatku dan pasrah dengan semua yang akan terjadi.
"Kakek, aku sebelumnya meminta maaf atas segala hal yang aku sembunyikan darimu"
"Apa maksudmu Rui.?" Tanya kakek semakin penasaran.
Tanpa menjawab pertanyaannya, aku memanggil pedang yang membuat identitasku sebagai Pahlawan terungkap.
"Datanglah Rignit"
Lalu pedang besar muncul yamg diselimuti cahaya emas. Melihat hal itu kakek terdiam dan hanya bisa memandang pedang itu dengan perasaan takjub.
Namun pintu ruangan tiba - tiba terbuka dan ternyata ibu dan yang lainnya mendengar semua pembicaraan kami.
"Anakku, anakku seorang pahlawan!" Ucap ibuku yang mendekat sambil menangis terharu.
Karin dan Ririna berlari ke arahku dan terpana dengan apa yang aku pegang.
"Rui adalah pahlawan?." Gumam Karin melihat pedang di tanganku.
"Waaaau, luar biasa. Ini benar - benar sama dengan pedang yang ada di buku cerita pahlawan, kau luar biasa Rui." Teriak Ririna heboh.
Lalu mereka semua berlutut ke arahku.
"Apa yang kalian lakukan?." Tanyaku heran.
"Kau mungkin cucuku Rui, tapi dengan pedang yang di tanganmu itu, kau adalah pahlawan. Sosok individu yang sangat di nanti - nantikan oleh seluruh umat manusia"
Melihat mereka semua berlutut, aku menjadi kebingungan dan segera menghilangkan pedang itu kembali.
"Aku mohon ibu, kakek, kakak jangan seperti ini, aku memang pahlawan tapi aku adalah aku, sosok anak yang akan berusaha berbakti kepadamu"
"Siapapun sosok dan apapun gelarku, tolong perlakukan aku sebagai Rui anakmu"
Mendengar hal itu, ibuku menjadi terharu dan memelukku, begitupula dengan kakekku. Aku yang mengira ibuku akan syok berat dan menjadi beban pikirannya mendengar semua itu ternyata malah bangga kepadaku.
"Aku benar - benar beruntung memilki putra dan putri seperti kalian, terima kasih sudah hadir di hidup ibu" ucap ibu sambil memelukku dan Karin.
"Aku yang seharusnya berkata begitu, mau aku pahlawan ataupun sampah, ibu selalu ada dan menyayangi kami sebagai anakmu. Terima kasih ibu"
Mendengar semua itu, kakek dan yang lainnya ikut meneteskan air mata karena terharu melihat kami. Kakekku mengusap kepalaku dan mengatakan bahwa dirinya bangga memiliki cucu sepertiku.
Namun ibuku tiba - tiba melepas pelukannya dan bergumam.
"Jadi apa yang akan kau rencanakan untuk kedepannya anakku"
Mendengar hal itu, aku kembali memikirkan masalah kematian Duke. Aku sepertinya tidak memilki pilihan lain selain membeberkan identitasku sebagai pahlawan untuk lolos dari masalah ini.
Lalu kaisar membuat rencana akan membuat acara penobatan untukku agar seluruh rakyat kekaisaran menyaksikan dan mengetahui aku sebagai sosok pahlawan. Lalu disana dia akan memberitahukan tentang kematian Duke Nourman oleh Frost Dragon.
Awalnya aku ragu karena takut para faksi pendukung Duke Nourman memberontak dan melakukan kudeta, namun kaisar meyakinkanku bahwa apapun yang di lakukan pahlawan akan di anggap benar dan tidak akan pernah di salahkan. Begitulah betapa di agung - agungkannya pahlawan di benua itu, karena sosok pahlawan sudah sangat di nanti - nantikan selama ratusan tahun.
Setelah itu Kaisar pamit dan meninggalkan kediaman kami untuk menyusun rencana penobatan itu. Kakek dan yang lainnya selalu menempel padaku dan melihatku dengan tatapan kagum.
"Anooo, apakah hanya perasaanku atau kalian memang terlalu lama menatapku"
Lalu ibuku dan Karin mendekat dan kembali memelukku.
"Rui, tidak aku sangka anakku, anak yang lahir dari rahimku adalah seorang pahlawan" ucap ibuku sambil tersenyum.
"Aku adalah seorang kakak dari pahlawan terpilih, luar biasa" ucap karin sambil terus memelukku.
Ririna terlihat cemberut melihat ibuku dan Karin yang terus menempel padaku.
"Hei bukannya curang kalian mendominasi Rui sendiri" gerutu Ririna.
"Ini waktunya keluarga jadi ja_nga_n cem_bu_ru" ucap Karin menggoda Ririna.
"Iiih curang" ucap Ririna yang membuat semua orang disana tertawa.