
Pertandingan dimulai, sorak sorai dari penonton yang mendukung Eizan dan cemohan para penonton untukku mulai bergema di seluruh Arena.
" Rui, jangan segan - segan, hajar dia " sorak Ririna padaku.
" Ehh, tunggu, apa yang kau katakan, jangan mengatakan yang aneh - aneh seperti itu " Seru Karin yang Terkejut dengan ucapan Ririna.
" Apa maksudmu aneh - aneh, aku cuma mendukung Rui untuk memberi pelajaran orang sombong itu, ayo kau juga semangati dia " ajak Ririna pada Karin.
" Ah tidak apa - apa, aku hanya khawatir pada Rui, karna lawannya Eizan yang sudah pada tahap penyihir Master tingkat akhir " Ucap Karin sambil menatap Khawatir padaku.
" Master? , yah, itu karna kakak tidak pernah melihat Rui bertarung Serius bukan ?, Jadi perhatikan saja, bahkan walaupun lawannya tahap King sekalipun, aku ragu bisa mereka mengalahkan Rui " Jawab Ririna meyakinkan Karin yang masih hawatir padaku.
Eizan langsung merapal Mantra dan menggunakan elemen Api dan Angin untuk menyerangku.
" Fire Tornado " Ucap Eizan yang menyerangku dengan putaran Api dan Angin yang membentuk Bor Panas dan melesat ke arahku.
Namun aku menghindar dengan berpindah ke atas. Hal itu membuat seluruh penonton kaget karna aku seakan menghilang dari Arena.
" Apa, dia menghilang " Ucap penonton kebingungan.
" Eh, bukannya pecundang itu sudah lenyap tak tersisa dengan Skill Eizan Senpai " balas seseorang di dekatnya.
Eizan lalu menghadap atas dan melihatku terjun ke arahnya. Eizan kembali mengeluarkan Water Canon dan mengarahkannya padaku, namun sebelum sihirnya mengenaiku aku berpindah lagi ke posisi awal pertarunganku.
" Kau, bagaimana bisa kau Terbang dan kembali ke tempat tadi, apakah kau bisa menggunakan Sihir Angin tingkat atas Fly untuk terbang " Teriak Eizan kesal dan kebingungan.
" Kenapa aku harus menjawab pertanyaan konyolmu, aku hanya memperlihatkan kalau kemampuanmu terlalu rendah untuk menjadi lawanku " Ejekku dengan Senyum Sinis.
" Kau, benar - benar sudah kelewatan, aku akan benar - benar menghabisimu " Teriak Eizan yang marah lalu mengeluarkan seluruh kemampuannya.
" Magic Disaster, Elemental Destroyer " Eizan mengeluarkan seluruh kemampuannya.
Sihir yang dia keluarkan adalah Sihir yang bisa menghancurkan segala yang di depannya, Ribuan Angin api yang membentuk bola di lesatkan padaku dengan kecepatan tinggi.
" Tunggu, hentikan pertarungannya, sihir itu bisa membunuh lawannya " perintah seorang Wizard Knight yang menyaksikan pertandingan itu.
" Wow, cukup hebat, rupanya gelar penyihir terbaik Akademi bukan hanya nama saja " Ucapku melihat terjangan Bola Api melesat ke arahku.
" Ruiiiii, tidaaaak " teriak Karin dengan Ketakutan.
" Mana shield , Mana predator" aku mengeluarkan perisai mana yang berputar dan langsung melahap habis seluruh sihir yang di depanku. Ini adalah Tekhnik Gabungan terbaru dari Skiilku.
Seluruh penonton tercengang dan terdiam melihat kemampuanku, kemampuan yang belum pernah mereka lihat dan ketahui.
" Skill , Mana Deploy " lalu manaku menyebar di sekitar Arena.
" Fast Move " seketika aku berpindah - pindah dengan kecepatan tinggi sambil Menebas Eizan dengan Belati Mana dan ku akhiri dengan menendang wajahnya.
Seketika dia terhempas hingga dinding pembatas arena penonton. Namun dia berhasil bangkit lalu mencoba berdiri tapi masih tidak mampu.
" Ayolah, Eizan, mana omong besarmu tadi, aku bahkan belum mengeluarkan keringat setetespun " ejekku ke Eizan yang sudah tidak mampu berdiri.
" Kau, berani beraninya melakukan ini padaku, ketahuilah posisimu Pecundang" balas Eizan dengan Geram padaku.
" Hahahahahah, maaf, melihat wajah bodohmu meringkuk di tanah benar - benar lucu dan lihatlah wajah orang - orang bodoh yang bingung dengan situasi ini " ujarku sambil melihat para siswa yang terdiam.
Lalu para penonton kembali mencemohku menganggap aku mencoreng pertandingan Sihir yang Suci dengan kemampuan anehku.
" Rui, kenapa dia terus - terusan sengaja memancing amarah para siswa itu, aku khawatir padanya " Ujar Karin dengan wajah khawatir.
" Huhu, lihat kan, Rui itu sangat kuat, jadi kau tidak perlu khawatir dan percaya saja pada Rui, oke one_sama " Kata Ririna dengan percaya diri sambil memegang tangan Karin.
" One _ sama ? " Gerutu Karin dalam hati.
" Haaaahhhh, lihat wajah orang orang bodoh itu, bukankah ini pemandangan yang menakjubkan " kataku sambil melihat area penonton.
" Namun, aku peringatkan ke kalian semua "
Semua terdiam memperhatikanku.
" Jaga baik - baik omongan kalian, jika kalian tidak mau menerima akibatnya " ancamku kepada penonton yang terus menghinaku.
Semua terdiam tanpa terkecuali. Lalu aku melangkah pergi dari Arena karna juri sudah menyatakan kemenanganku.
" Hei Bajingan kotor, apa kau fikir akan selamat setelah melakukan ini padaku" teriaknya yang membuatku menghentikan langkahku.
" Aku adalah putra seorang Duke, keluargamu dan teman Jalangmu itu akan aku buat sengsara seumur hidup mereka " ancamnya dengan senyuman mengejekku.
Aku spontan melesat dan Menerjang ke arahnya lalu menempelkan belatiku di tenggorokannya. Seketika wajah Arogannya Eizan langsung berubah ketakutan dan panik.
" Tolong, Profesor, Kepala Akademi Profsor Rufus, tolong selamatkan aku , Bajingan ini sudah gila"
" Siapapun tolong, dia sudah gila, dia benar - benar akan membunuhku " teriak Eizan ketakutan.
" Hei Eizan, sebelumnya aku tidak membunuhmu karna aku ingin kau hidup dengan perasaan malu karna kejadian hari ini, Kau hanyalah penyihir rendahan yang cuma omong besar dengan kemampuan yang memalukan bagi diriku. Namun kau benar - benar berhasil memancing Amarahku "
" Kalau kau benar - benar ingin binasa, akan aku kabulkan permintaanmu " ucapku sambil mengangkat Belatiku bersiap menebasnya.
Namun ketika belatiku hendak melukai Lehernya, Kepala Akademi Terbang dengan Sihir Angin yang cukup cepat dan menghentikan tanganku.
" Berhenti Anak Muda, kau terlalu berlebihan " perintah Profesor dengan menggenggam tanganku.
" Kau berani menghalangiku " tanyaku ke Profesor tanpa melihat ke arahnya.
" Sadarlah , dia putra seorang Duke, Kaisar dan Ayahnya pasti tidak akan tinggal diam dan kau akan dalam masalah besar " ucap Profesor memperingatiku.
" Iya aku mengerti tapi mohon tenanglah, kau tidak ingin keluargamu dalam masalah karna perbuatanmu bukan? " Ucap Profesor memperingatiku.
Setelah berfikir lagi, apa yang dia katakan ada benarnya, lalu melihat ekspresi Karin yang sangat takut aku kehilangan kontrol karena Amarahku, aku mengurungkan niatku dan memilih menyudahinya.
Namun ketika aku membalikan badanku dan bersiap akan pergi, Eizan mengeluarkan kalungnya dan mengucapkan Mantra Pemanggilan.
" Matilah kau pecundang , 'Summon' " Teriaknya mengucapkan Mantra.
" Rasakan, kekuatan Makhluk Dahsyat yang turun temurun sudah menjadi lambang Keluargaku, Makhluk Agung di atas seluruh Ras di Dunia ini, hahahahah " teriaknya dengan tawa jahatnya.
Lalu Seekor Naga Berwarna Merah muncul dan menatap ke arahku. Namun menurutku, Naga ini cukup kecil jika di bandingkann Frost Dragon.
Namun penonton takjub dan Profesor Rufus langsung menjauh dari Arena, kedua Wizard Knight turun dan mencoba menghentikan Eizan.
" Tolong hentikan ini, Ini terlalu berbahaya Tuan Muda Eizan, tolong hentikan ini " pinta utusan kerajaan itu.
Namun sepertinya akal sehatnya sudah di telan oleh rasa Malu dan Amarahnya hingga hanya menginginkan kematianku.
" Diamlah, jangan berani - beraninya mengaturku, aku kan menghabisi bedebah ini " teriak Eizan pada kesatria itu.
" Nordu yang perkasa, Makhluk Agung yang sudah menjadi Penjaga Keluarga kami dari Generasi ke Generasi, aku meminta kau untuk habisi bedebah kotor itu" perintah Eizan ke Naga yang di Summonnya.
Lalu perlahan Naga itu mendekat. Namun yang membuatku bingung, kenapa dia menggunakan kalung untuk memanggil Naga itu. Karna ketika aku menjalin kontrak dengan Frost Dragon, sebuah tanda di punggung tanganku muncul dan menjadi tanda terjalinnya kontrak.
" Kau sebut ini Naga Agung. ?, lucu sekali, dimataku dia cuma kadal yang memilki sayap " ucapku sambil menertawakan Naga itu.
" Apa maksudmu bocah bodoh, matilah " teriaknya padaku yang membuat Naganya berlari menyerangku.
" Kalau begitu, mari aku tunjukkan seperti apa Naga yang Agung itu, 'Summon' "
Setelah mengatakan itu, Hawa tempat itu menjadi turun dan dingin. Lalu munculah Lingkaran sihir yang sangat besar di atas Arena dan Frost Dragon muncul yang langsung menginjak Kepala Naga itu.
Aumannya Menggema hingga membuat makhluk hidup yang mendengarnya Bergetar Ketakutan.
" Cukup, kau terlalu berisik" ucapku kesal.
" Ahh, maafkan aku Master "
" Lalu Ada apa anda memanggilku kemari Tuanku " tanya Frost Dragon sambil menundukkan kepalanya.
Seketika orang - orang yang melihat kejadian itu ketakutan, Histeris hingga ada yang pingsan dan membeku ketakutan. Bahkan para Profesor hanya bisa melihat dan terbelalak tidak percaya apa yang mereka lihat. Bahkan Wizard Knight membeku ketakutan melihat Makhluk di depannya.
" Yah, aku ingin kau melawan musuhku, namun kau sudah menginjaknya sekarang " Jawabku pada Naga yang ku panggil.
Namun Prost Dragon melihatku dengan tatapan bingung dan ketika melihat Naga yang sudah terkulai lemas di kakinya dia menyadari alasanku memanggilnya.
" Tuan, bukankah kau terlalu berlebihan, memanggil Makhluk sepertiku hanya untuk melawan Makhluk Rendahan ini " tanya dia sedikit kecewa.
" Aku hanya ingin menguji Mantra Pemanggilan pertamaku saja "
" Lalu, apakah kau keberatan jika aku memanggilmu " tanyaku dengan menatap tajam ke arahnya.
Naga itu panik dan berlutut kembali.
" Ahh, maaf atas pertanyaan bodoh diriku ini Master, tentu saja kau bebas memanggil dan memerintahkan apapun padaku " Jawab Frost Dragon panik.
" Namun, ada satu hal yang aku minta Tuanku " ucap Frost Dragon.
" Katakanlah " jawabku spontan.
" Sebagai Makhluk Panggilanmu, anda belum memberiku nama, jadi aku berharap anda mau menamaiku sebagai milik anda " pinta Frost Dragon.
" Bukannya kau sudah memilki Nama ? " Tanyaku bingung.
" Iya, namun setelah menjadi Makhluk Panggilan, Seorang Master memilki kewajiban untuk memberikan sebuah nama untuk Pelayannya "
Setelah berfikir cukup lama, aku akhirnya memutuskan namanya.
" Kalau begitu, aku Namai kau, INDRA "
Mendengar nama yang aku berikan Frost Dragon Meraung kembali, tanda bahwa Dia menyukai Nama yang aku berikan. Lalu Tubuhnya bersinar.
" Terima kasih master, engkau sudah bermurah hati pada diriku, sekarang Kontrak Majikan dan Pelayan sudah terjalin sepenuhnya "
" Kalau engkau sudah tidak membutuhkanku, saya mohon undur diri " pinta Frost Dragon.
Aku melihat luka di Lehernya hilang sepenuhny setelah tubuhnya bersinar tadi. Aku ingin menanyakan itu namun aku fikir ini bukan waktu yang tepat.
" Yah, Kalau begitu kau boleh pergi".
Setelah aku mengatakan itu, Frost Dragon menghilang ke tempat awal dia sebelum berpindah, karena Makhluk Panggilan yang sudah terikat Kontrak dengan Segel Budak, bisa muncul kapanpun Tuannya Memanggilnya.
Setelah Frost Dragon pergi, semua orang yang masih di dalam Arena terdiam tanpa berani berkata apa - apa.
" Kalau begitu saya undur diri, dan untuk kau Eizan Senpai, lain kali jika kau mencoba mengusikku lagi, bahkan keluargamu tidak akan bisa melindungimu, camkan itu"
Eizan menatapku dengan Ketakutan, begitu pula orang - orang yang menyaksikan Pertandingan itu.
Namun sesaat sebelum aku pergi, Wizard Knight, meminta untuk berbicara padaku dan aku menyetujui untuk berbicara dengannya saat Seleksi Berakhir.
Setelah itu aku meninggalkan Arena dan disusul Ririna dan Karin.
Namun, seleksi di hentikan karna Insiden Naga itu. Setelah kejadian itu Insiden itu disebut kejadian paling menggemparkan dalam Sejarah Kekaisaran.