
Rui sudah tiba di istana raja elf. Dirinya di sambut baik oleh raja Erandel dan ratu Helena. Lalu sang raja mempersilahkan Rui duduk untuk membahas apa tujuan utama dari Rui sehingga membuatnya mendatangi negri elf.
"Baiklah, Rui. Karena para pilar telah berkumpul, sebaiknya kita mulai saja. Apa yang menjadi tujuan utamamu sehingga datang ke negri kami" tanya raja dengan penuh keseriusan.
Rui dengan tenang menjawab pertanyaan tersebut.
"Misiku adalah... menghilangkan perbedaan, kebencian dan permusuhan di antara setiap ras. Dengan harapan bisa membawa persatuan kembali di antara semua ras di benua ini" jawab Rui.
Hal itu tentu saja membuat raja dan ke 4 pilar yang mendengar ucapan Rui terkejut. Erandel termenung sejenak memikirkan ucapan Rui. Namun setiap kesimpulan yang ia ambil, rasanya mustahil hal itu bisa terjadi.
"Maaf sebelumnya Rui. Aku mengerti maksud dari ucapanmu, namun apakah kau memahami sebesar apa kebencian yang di rasakan para elf yang selama ratusan tahun kehilangan keluarganya karena ulah manusia?"
"Berapa banyak penderitaan yang harus di tanggung oleh rakyatku karena ulah para manusia, lalu kau masih berfikir bisa menyatukan ras kita seperti dahulu?"
Rui terdiam, dulu ia memang pernah berkata akan menggunakan cara apapun demi menyatukan ras, walaupun dengan kekerasan sekalipun. Namun, setelah melihat tangisan para elf dan rasa kecewa mereka yang sudah menantikan kembalinya keluarganya mereka, namun mereka harus menghadapi kenyataan pahit bahwa keluarga mereka sudah tidak bisa kembali lagi ke sisi mereka.
Ke 4 pilar terdiam. Mereka juga mengetahui dan merasakan sendiri para keluarga mereka yang di renggut dari sisi mereka dan tidak pernah kembali lagi.
Lalu Luinic, seorang ajudan yang pernah menghadap kaisar waktu penculikan elf, datang membawa tetua elf menghadap raja. Para tetua menyambut kedatangan Rui dengan perasaan senang.
"Selamat datang di negri kami, tuan pahlawan" ucap Luinic.
Mendengar hal itu, raja dan ke 4 pilar sangat terkejut karena belum mengetahui identitas asli Rui.
"Pah..pahlawan?"
"Apa maksudmu" Erandel terkejut.
"Ah maaf yang mulia, sepertinya anda belum mengetahui siapa pemuda ini sebenarnya. Kaisar pernah memberitahukan padaku di waktu kunjunganku sebelumnya bahwa seseorang akan datang ke negri kita dan membawa persatuan kembali di setiap ras. Bukankah orang yang memilki kemampuan seperti itu hanyalah para pahlawan?" Luinic memberi hormat kepada Rui.
"Benarkah itu Rui?"
"Kau adalah pahlawan terpilih?" tanya raja elf.
Ketika Rui akan menjawab pertanyaan raja Erandel, Elucil datang ke tempat itu.
"Omong kosong" ucapnya yang mengalihkan pendangan semua orang kepada dirinya.
"Jangan mengatakan kebohongan seperti itu hanya karena kau menginginkan perdamaian terjadi. Apakah dengan mengembalikan para elf yang selama ini di perbudak, bisa membuat kami memaafkan kesalahan kalian?" ucapnya.
"Cukup Elu, jaga bicaramu" ucap salah satu tetua yang adalah ayahnya sendiri.
"Kau diam saja ayah, orang tua pikun sepertimu sepertinya telah melupakan kejahatan keji para manusia" Elucil membentak ayahnya.
Erandel yang melihat sikap kurang ajar anak tersebut kepada orang tuanya sendiri menjadi kesal.
"Cukup, sebaiknya kau jangan menimbulkan keributan di sini, lagi pula aku tidak mengingat pernah memberikan izin untukmu berada di sini" ucap raja terdengar marah.
Elucil terdiam dengan wajahnya yang masih terlihat kesal. Rui sendiri merasa muak melihat tingkah elf di depannya yang tidak memilki sopan santun pada orang tuanya sendiri.
"Kenapa setiap kali mendengar tentang pahlawan, selalu ada orang yang tidak setuju dan meragukan hal tersebut. Apakah segitu besarnya obsesi kalian terhadap sosok pahlawan?"
"Aku awalnya sangat enggan untuk menerima semua ini karena kebencianku terhadap orang-orang yang telah menghinaku dahulu." "Mempertaruhkan nyawa untuk mereka? jangan bercanda sialan. Itulah yang selalu tersirat dalam benakku."
"Namun setelah aku melihat kebahagian orang-orang yang bisa aku selamatkan, aku menjadi memahami apa yang para pahlawan itu perjuangkan"
"Mereka bertempur bukan untuk membasmi iblis, bukan hanya untuk memperjuangkan sebuah ras namun demi mempertahankan senyuman mereka yang lemah"
"Rignit"
Rui memanggil pedang pahlawannya. Raja tertegun melihat cahaya yang berkumpul di hadapan Rui mulai membentuk sebuah pedang.
"Ti_tidak salah lagi, itu adalah pedang suci Rignit" ucap tetua elf yang pernah menyaksikan sendiri pedang itu di tangan pahlawan sebelumnya.
Ke 4 pilar hanya bisa terkagum melihat pedang yang muncul di hadapan Rui. Bahkan Elucil tak bergeming ketika melihat pedang suci Rignit.
"Iii_inikah pedang suci?" ucap Frey yang begitu kagum dengan cahaya yang memukau dari pedang tersebut.
"Benar" jawab Rui.
"Tapi bagaimana, bagaimana bisa kau mendapatkan pedang ini? pedang yang terseret oleh kekuatan raja iblis ketika tersegel" tanya tetua itu penasaran.
"Benar yang mulia... sesungguhnya, para pahlawan terseret oleh gejolak kekuatan raja iblis dan ikut tersegel bersamanya" ucap tetua tersebut.
"Lalu... bagaimana kau bisa mendapatkan pedang tersebut" tanya Raja.
"Yang mulai. Senjata suci adalah senjata yang memilki ego dan emosi sendiri. Mereka tidak akan bisa di pegang oleh sembarang orang walaupun itu di berikan oleh pemilik sebelumnya."
"Saya menyaksikan sendiri, pemilihan pahlawan oleh senjata suci kita, Busur legendaris Cronicel. Semua elf yang berusaha memegang senjata tersebut, akan di pentalkan oleh kekuatan Busur itu jika dirinya tidak di anggap pantas. Namun hanya satu wanita yang mampu mengangkat busur tersebut. Dialah putriku yang ikut mati demi menyegel raja iblis" ucap tetua tersebut.
Mendengar hal itu, Rui teringat kembali dengan wajah elf yang muncul di mimpinya dahulu.
"Yah, dia memang gadis yang periang, dengan bola mata biru dan rambut peraknya. Dia benar-benar sangat manis"
Ucapan Rui itu membuat semua orang di sana terkejut.
"Apa maksud ucapanmu, wahai anak muda?" ucap tetua elf itu.
"Ah, aku belum mengatakannya ya? kalau ke 5 pahlawan sendiri yang memilihku sebagai penerus mereka"
"Ap..Apa, apa maksudnya itu" tanya tetua yang semakin di buat penasaran.
"Aku bertemu mereka di mimpiku, mereka mempercayakan padaku tugas untuk menyatukan para ras sebelum raja iblis bangkit kembali."
Mendengar hal itu, semua orang di sana terdiam. Mereka sangat terkejut mendengar teror yang paling mereka waspadai akan kembali mengancam benua itu.
"Kapan itu terjadi?" tanya Raja Erandel.
"Para pahlawan memperkirakan bahwa segel akan sepenuhnya rusak kurang dari dua tahun lagi" jawab Rui.
"Jadi ini alasan dirimu ingin menyatukan ras?" ucap Raja Erandel.
"Iya, ini juga salah satunya. Namun aku pribadi sangat membenci perbudakan dan aku yang telah menjadi pahlawan sudah memberlakukan aturan baru bahwa perbudakan adalah kejahatan terbesar di kekaisaran" jawab Rui dengan suara lantang.
"Jadi begitu" ucap raja.
"Jika yang kau ucapkan tentang raja iblis itu benar. Maka mau tidak mau, kita harus menyatukan kembali para ras untuk bertempur kembali di bawah komando pahlawan" ucap raja elf.
Frey berbicara untuk memberikan pendapatnya.
"Saya mengerti maksud anda yang mulia. Kemungkinan memang hanya itu satu-satunya cara kita bisa selamat"
"Namun jika para warga kita mengetahui bahwa pahlawan dari ras manusia sudah terpilih, bukankah hal itu akan menimbulkan iri hati dari para elf" ucap Frey.
Raja Erandel berfikir kembali, apa yang di katakan oleh Frey adalah sesuatu yang benar adanya. Raja menjadi bingung, dengan apa yang seharusnya ia perbuat karena mengingat senjata pahlawan yang lain juga ikut tersegel.
"Maaf" ucap Rui yang perhatian semua orang kembali tertuju padanya.
"Aku juga belum bilang, bahwa aku memilki ke 3 senjata pahlawan" ucap Rui yang membuat semua orang semakin tidak bisa berkata apa-apa.
Rui mengeluarkan pedang Rignit, panah Cronicel dan tombak Kerakusan di hadapan mereka semua.
Rui melanjutkan dengan mengeluarkan mana beast yang menyelimuti tubuhnya lalu mana itu membentuk rahang harimau dan meraung di hadapan mereka. Buku pengetahuan dan potion air mata dewa juga dia perlihatkan di tangannya.
Mereka semua terdiam, bahkan para tetua yang sudah hidup lebih lama dari era terjadinya perang besar, belum pernah mengetahui bahwa seseorang bisa mengendalikan ke 5 kekuatan pahlawan.
"Ini benar-benar tidak baik untuk jantung orang tua sepertiku" ucap tetua yang mulai berlutut.
Semua orang di sana mengikuti tetua berlutut kepada Rui, kecuali satu orang, Elucil. Kebencian Elucil sudah semakin memuncak ketika mengetahui bahwa Rui adalah pahlawan dengan ke 5 kekuatan pahlawan legendaris.
"Tidak... itu tidak mungkin. Hal seperti ini tidak akan pernah aku terimaaa !"
"Jangan bercanda kau bajingaaaan!!!" teriak Elucil pada Rui.
"Mahluk kotor sepertimu tidak mungkin menjadi pahlawan terpilih. Aku tidak akan membiarkan hal ini" ucapnya yang berlari ingin merebut panah Cronicel.
Rui tidak menghindari Elucil yang ingin merebut panah tersebut. Bahkan dengan santai ia menyodorkan panah tersebut ke arah Elucil yang berlari. Ketika tangan Elucil akan menyentuh Busur Cronicel, dirinya tersambar oleh petir dari busur tersebut yang membuat tubuhnya terpental jauh hingga dinding istana.
...Bersambung...!!!...