Jack Bodyguard Sexy

Jack Bodyguard Sexy
Dalam Keresahan


Terbakar api cemburu, itu membuat Bang Jack tidak mau bicara denganku. Bahkan dia mengatakannya secara terang-terangan saat aku menoleh ke arahnya.


Selama di perjalanan pulang ke apartemen itu, Bang Jack hanya bicara saat mengajakku turun dari mobil untuk memesan makanan di restoran. Lalu, berikutnya, dia baru bicara lagi saat kami sudah masuk ke dalam apartemen, katanya dia ingin makan di kamar dan ia memintaku untuk tidak mengganggunya.


Aku setuju. Meski aku hanya mengangguk dan tidak mengatakan apa pun, aku setuju. Meski rasa cinta dan rinduku padanya membuatku ingin berada di dekatnya, hangat dalam pelukannya, tetapi aku tidak bisa mencegah diriku untuk menjaga jarak dengannya dengan alasan yang tak bisa kumengerti. Aku takut jika kebersamaan kami kali ini adalah kesalahan yang bisa merugikan diri kami sendiri, dan aku merasa aku butuh waktu untuk sendiri.


Waktu terasa berjalan lambat pada siang itu, dan dalam detik waktu yang berjalan, aku malah semakin merasa resah. Aku terperangkap dalam kerisauan yang sulit untuk kumengerti dan sulit kuprediksi. Aku benar-benar tidak tahu dan tidak bisa menebak apa yang akan terjadi kepadaku hingga akhirnya jawaban itu datang tepat pada pukul tujuh malam: James meneleponku melalui sambungan video untuk menemaniku makan malam. Setelah itu, dia menyuruhku untuk meminum obat -- dalam pengawasannya.


Dengan patuh, aku melakukan semua perintahnya. Aku menyuntikkan sendiri obat itu ke tubuhku, obat yang sudah disiapkan oleh James dengan takaran seperti biasanya di dalam jarum suntik.


"Aku mencintaimu. Terima kasih kamu sudah menjadi istri yang sangat patuh kepadaku."


Aku mengangguk.


"Selamat malam, Sayang."


"Selamat malam, My James.


"Bye."


Sambungan telepon terputus, dan aku memutuskan untuk langsung tidur.


Tetapi bukan itu yang terjadi.


Sesuatu. Ada yang aneh terjadi kepadaku, dan keresahanku malah semakin jadi. Aku merasa kegerahan. Praktis, aku mulai berpikir yang tidak-tidak. Obat-obatan penyubur kandungan yang selama ini kukonsumsi itu tidak pernah menimbulkan reaksi seperti ini. Kemudian, perasaan yang aneh itu membuatku berpikir bahwa itu adalah obat perangsang.


Tapi kenapa? Kenapa James melakukan hal ini? Apa dia ingin menguji kesetiaanku? Tapi ini sangat menyiksa....


Tidak begini, James. Ini jahat. Kenapa kamu tega padaku padahal aku selalu mematuhi perintahmu? Kenapa? Kamu jahat....


Tidak, Rose. Suara kecil di kepalaku berdengung. Kau tidak mematuhinya setiap kali kau bersama Jack. Cintamu selalu membuatmu terlena dan membuatmu mengkhianati pernikahanmu. Kau tidak bisa menyangkal kenyataan itu.


Itu benar. Aku bersalah. Aku mengkhianati pernikahanku. Kupikir, aku ingin sekali menelepon James untuk meminta penjelasannya, minimal sebuah konfirmasi atau sekadar memberitahunya apa yang terjadi kepadaku seandainya ia mengatakan bahwa dia tidak tahu apa-apa. Sekalipun, mungkin aku akan mendapatkan kecaman bahwa dia ingin aku tetap menahan diri, bahkan mungkin dia akan mengakui bahwa aku masih perawan dan ia ingin aku menjaga itu untuknya, aku akan menerima segala apa pun yang terjadi, yang diinginkan oleh James.


Tetapi, sekali lagi, bukan itu yang terjadi. Telepon James tidak bisa dihubungi.


Apa dia sengaja menonaktifkan ponselnya? Kenapa, Tuhan? Kenapa aku mesti terjebak dalam situasi seperti ini? Aku tidak tahan....


Air mataku semakin deras. Aku berlari ke kamar mandi, kubuka gaun tidurku lalu menyalakan keran. Tubuhku tersiram, basah oleh air dingin. Namun percuma, rasa panas itu menguasaiku dari dalam.


Menit berselang, suara cemas Bang Jack terdengar di luar kamar. Dia yang seharian tidak ingin bicara denganku kini memanggil-manggilku dengan panik dan memohon-mohon untuk dibukakan pintu.


"James mengirimiku pesan. Aku takut terjadi sesuatu padamu," suara teriakan Bang Jack terdengar dengan lantang. "Tolong buka pintunya, Rose. Izinkan aku masuk. Please... please, Sayang...."


Tidak. Aku takut membayangkan apa yang akan terjadi jika kamu ada di dekatku. Aku takut... takut tidak bisa menahan diriku. Dan apa yang akan terjadi jika nanti hal itu terjadi? Tidak, Bang. Tidak. Biarkan aku menderita sendiri.


"Rose...," teriakan Bang Jack terdengar lagi. Dan kali ini dipenuhi rasa putus asa. "Jangan menyiksaku...," raungnya. "Aku tahu sesuatu terjadi padamu. Buka pintunya, Rose...! Buka!"


Aku memilih untuk tetap bertahan. Dan di sisi lain, Bang Jack mulai berusaha mendobrak pintu kamarku.


Bagaimana ini, Tuhan? Di saat aku tidak menginginkan hal ini terjadi, tetapi takdir-Mu malah seakan berkata lain. Ini tidak akan terjadi jika Kau sendiri tidak menghendakinya, kan? Tapi ini... takdir-Mu membuatku lelah untuk hidup. Aku lelah....