Jack Bodyguard Sexy

Jack Bodyguard Sexy
Kepura-Puraan


Dua minggu kemudian....


Aku terbangun oleh suara James yang memanggilku dengan bisikan mesra tepat di telinga, dan aku langsung menyadari bahwa ia sudah kembali. Ia berbaring di tempat tidur, rapat di sampingku.


Aku cepat-cepat duduk dan... kaget. Tubuhku polos.


"Selamat pagi, Sayang," katanya. Dia tersenyum ceria. "Maafkan aku karena aku baru kembali untukmu."


Aku tak menggubris. Jelas aku sangat shock mendapati James sudah berada di dalam kamar ini, dengan tubuh polosnya, pula! Pria itu berada di dalam selimut bersamaku yang sama polos seperti dirinya.


Bagaimana bisa aku telanjan*? Apa aku diberi obat tidur?


Aku bingung. Aku sudah satu minggu lebih tidak meminum obat tidurku, bagaimana bisa aku tidak terbangun saat James membuka pakaianku, dan... apa mungkin...?


Aku meneliti tubuhku, dan, yeah, aku kembali menangis. Tubuhku yang beberapa hari belakangan ini sudah bersih dari jejak-jejak merah kini kembali dipenuhi jejak merah yang masih segar. Semua bagian dadaku merah. Pastilah semua bagian tengkuk leherku juga ikut merah. Kemudian... dengan resah, aku mengintip ke dalam selimut.


Berengsek!


Melesak. Pahaku yang sudah kembali mulus kini kembali dipenuhi tanda merah. Dan, seperti waktu itu, permukaan organ wanita-ku juga terasa lengket dan berlendir.


"Kenapa?" tanya James setelah beberapa saat dia membiarkanku dan memperhatikan semua reaksiku. "Ada yang salah, Sayang? Apa kamu tidak senang aku kembali?"


Aku tidak senang! Berhentilah berpura-pura dan bertanya seolah kamu tidak tahu!


"Kamu tidak senang rupanya," katanya berlagak sedih.


Tapi aku mesti ikut berpura-pura. Demi nyawa dan keselamatan diriku sendiri. Aku mengusap air mataku lalu menggeleng pelan. "Bukan begitu. Aku... aku tidak apa-apa. Aku senang kamu kembali." Kata-kata itu meluncur keluar dari mulutku, dan aku menunduk memandangi seprai, merasa sangat kesal dengan kepura-puraan ini.


"Sudah kubilang, kan, aku akan kembali?"


"Kenapa lama sekali?"


"Kenapa? Kamu rindu?"


"Eh? Rin... rindu?"


"Jadi tidak rindu? Kamu tidak merindukanku?" Pria itu bangkit dan duduk.


Fix! Aku ketakutan. Matanya mulai memancarkan tatapan yang aneh. Pria psikopat. "Aku... aku...."


"Tidak. Tidak apa-apa, katakan saja yang sejujurnya. Aku bahkan bisa melihat jelas ketidaksukaanmu melihatku ada di sini."


"Lalu, kenapa kamu menangis?"


"Tidak. Aku... aku hanya...."


"Ada yang salah? Salah kalau aku menyentuhmu lagi? Apa aku tidak berhak? Masih sama tidak berhaknya seperti sebelumnya? Begitu, Sayang?"


Rose... kendalikan dirimu. Pria ini mulai kumat. Bersikaplah manis demi keselamatanmu. "Tidak. Tidak salah."


Dia menatapku sendu. "Aku kangen padamu," katanya. "Barusan aku sudah melakukannya. Aku sudah menyentuhmu lagi. Aku, mengambil hakku sebagai suami."


"Ya," isakku. "Aku tahu."


"Apa aku salah sudah melakukannya?"


"Tidak. Kamu sama sekali tidak salah. Kamu berhak. Aku milikmu."


"Oh, manis sekali." Dia menggenggam kedua tanganku. "Aku senang, dua minggu tanpa aku akhirnya membuatmu berubah. Sikapmu sekarang manis, selayaknya sikap seorang istri. Aku senang. Terima kasih."


Aku mengangguk. "Sudah seharusnya, kan?"


"Yeah, kamu memang perempuan yang baik." Dia mengelus kepalaku dengan lembut. "Akhirnya kamu bersedia untuk intropeksi diri. Kamu mau berubah. Aku bahagia. Ini sangat membuatku bahagia."


Oh Tuhan... James memelukku begitu erat. Akting atau sungguhan? Dia nampak seperti seorang suami yang benar-benar penuh kasih terhadapku, istrinya.


"Sayang?"


"Emm?"


"Aku kangen," ia berbisik di telinga.


Membeku. Aku hanya bisa terdiam, namun di dalam dada -- jantungku berdegup dengan kencang. Aku sangat ketakutan.


"Apa kamu tidak merasakan hal yang sama?"


Bagaimana ini? Apa aku harus mengatakan kalau aku juga kangen? Bagaimana kalau dia mau... menyentuhku lagi?


"Oke. Tidak apa-apa. Rasa kangen dariku saja itu sudah cukup untuk kita berdua. Tidak apa-apa kalau perasaanku belum terbalas. Cinta butuh waktu, bukan? Cinta akan datang karena terbiasa, ya kan? Yang penting kamu mau menerima perasaanku, menerima takdirmu menjadi istriku, menerima kehadiranku, maksudku... belajar menerima kehadiranku. Yang penting belajar menerima dulu, tidak apa-apa. Lama-lama kamu pasti akan terbiasa. Dan... sekarang, aku mau melampiaskan rasa kangenku lagi. Sekali lagi. Aku mau kamu menerima rasa kangenku. Menerima luapan rasa kangenku. Aku kangen. Sangat kangen padamu. Katakan ya, Rose? Please... katakan ya? Katakan ya, Sayang? Izinkan aku menyentuhmu. Hmm?"