Jack Bodyguard Sexy

Jack Bodyguard Sexy
Teka-Teki Lagi


Aku tahu, itu adalah pilihan yang sulit. Saat ini kami seperti boneka bagi James. Mengiyakan itu pilihan yang berat, bahkan bisa dikatakan salah, tapi untuk menolak, kita tidak akan pernah tahu apa yang akan dilakukan oleh James. Dia hanya menginginkan jawaban ya.


"Baiklah. Mungkin Kakak Ipar perlu memikirkan semuanya matang-matang. Berikan jawaban sepulang aku dari luar negeri nanti. Mohon tidak mengecewakan." James berdiri lalu ia tersenyum lagi. "Kalau begitu aku permisi. Aku harus membantu Rose menyuntikkan obat penyubur kandungan."


Berengsek! Kalau di saat seperti ini aku sangat sebal padamu. Aku benci kalau kau terus saja bersandiwara, James....


Darahku mendidih, namun tetap harus kutahan. Dengan jengkel, aku pun lari terburu-buru menuju kamar lalu langsung masuk ke kamar mandi. Aku mesti menstabilkan detak jantungku dan suhu tubuhku sebelum James berada di dekatku. Atau kalau tidak, dia akan tahu kalau aku tadi menguping dan baru saja masuk ke dalam kamar.


Tenanglah, Rose, tenang. Dia tidak akan tahu kalau kau menguping.


"Rose...."


"I--i--i--i--iya?"


"Kamu sedang apa?"


"Aku... sakit perut."


"Kenapa? Apa kamu butuh obat?"


"Tidak. Tidak perlu, My James. Aku akan keluar sebentar lagi. Aku hanya... buang air."


Lima menit. Mungkin lebih. Deru napasku sudah stabil, detak jantungku sudah kembali normal, aku pun keluar dari kamar mandi.


"Hai, Sayang."


"Berbaringlah, Sayang."


Argh! Ini belum malam, James....


"Tidak, Sayang. Aku hanya ingin membantumu menyuntikkan obat. Belum saatnya minum obat tidur. Paling-paling kamu hanya perlu mengaktifkan tanganmu."


Euw... menyebalkan sekali dia. Semakin dia terkekeh semakin aku merasa jengkel. Tapi aku tetap saja terbaring, tetap saja mesti menenggak obat-obatan itu dan menerima tusukan jarum di *antatku, plus gigitan James. Dia terkekeh-kekeh senang setelah melakukannya dan mendengar suaraku memekik.


"Aku hanya bercanda, Sayang...."


"Tidak lucu! Menyebalkan!"


"Oke, oke. Kalau begitu aku akan menghiburmu dengan game. Ayo sini."


James mengajakku duduk di sofa, lalu ia membuka laptopnya dan menyalakannya. Di depanku, kini tersuguh sebuah permainan petualangan. Kau pasti tahu jenis permainan dengan animasi kartun di mana pemain mesti mengumpulkan harta karun dalam petualangannya. Persis di saat itu aku mengerti yang dimaksud oleh James, itu ibaratkan perjalanan yang harus dilakukan oleh Bang Jack.


"Dalam permainan ini, sang petualang mesti mancapai finish dan menghindari berbagai macam rintangan, di mana dia hanya memiliki lima nyawa. Jika dia hebat, dia bisa mengumpulkan semua harta karunnya dan mencapai finish dengan lima nyawanya yang masih utuh. Tetapi, dalam petualangan ini ada banyak rintangan berupa jebakan dan monster-monster pemangsa. Ibaratkan dalam dunia nyata, mungkin kita akan bertemu dengan perampok, mafia, atau polisi-polisi yang seperti tikus, menangkap, mengambil harta yang kita bawa, namun tidak akan diserahkan kepada negara. Kamu paham, kan?"


Aku mengangguk, memahami setiap kata-kata James, meresapinya hingga dalam.


"Dan jangan lupa soal nyawa. Pemain handal pun biasanya akan kehilangan satu nyawa, atau kehilangan dua nyawa, minimal satu, atau bisa kehilangan tiga nyawa. Atau... bisa jadi hanya menyisakan satu nyawa, yang berarti dia akan kehilangan empat nyawa. Bahkan... fiuuuh... habis semuanya. Lima nyawa terlepas. Game over."


Apa maksudmu, James? Apa kau ingin melenyapkan Bang Jack? Sulit bagiku untuk menebaknya.