Jack Bodyguard Sexy

Jack Bodyguard Sexy
Amarah James


Apa pun maksud ucapan James, entah perkiraanku benar atau tidak, aku hanya bisa diam. Aku tidak ingin mengatakan sesuatu yang bersifat mengiyakan yang berarti aku berani membohonginya, ataupun mengatakan sesuatu yany bersifat menyangkal yang berarti aku berani membantahnya. Aku sekarang stuck di tempat -- diam.


"Rose, kamu diam saja?"


"Aku... aku...."


"Kamu paham maksud perkataanku, kan? Paham, kan, Sayang?"


Aku mengangguk. "Ya," kataku. "Aku... paham."


"Kamu tidak akan berani lagi menentangku, kan? Oh, sori, maksudku, kamu tidak akan berani menentangku, kan?"


Menggeleng, aku ketakutan dan menangis. "Tidak, My James. Aku tidak akan berani."


"Bagus. Sekarang selesaikan mandimu."


James melepaskanku. Dia beranjak dan meraih sabun dan lekas-lekas menyelesaikan mandinya lalu keluar dari kamar mandi dengan sepotong handuk melilit di pinggangnya.


Aku sedikit lega, dan aku sangat bersyukur karena James tidak terlalu kasar padaku, tidak seperti biasanya.


Tetapi, bodohnya aku karena pada saat itu aku mengira bahwa aku sedang tidak terperangkap dalam permainan James. Salah besar, karena nyatanya, pada saat aku membuka pintu kamar mandi dengan jubah mandi dan rambut tergelung handuk, James sudah menungguku di ranjang. Dia duduk di tepi tempat tidur dengan sebuah jarum suntik dan obat penyubur kandungan.


"Hari ini kamu belum menyuntikkan obat ini, kan? Sini, biar kubantu."


Dia tidak memberikanku cela untuk menolak, bahkan nada bicara dan tatapannya mengisyaratkan bahwa aku tidak boleh menentangnya.


"Menelungkup," perintahnya.


Aku pun menurut, menelungkup di tempat tidur, dan, aku menerima suntikan keduaku.


"Tidak sakit, kan?" James bertanya.


"Tidak," kataku.


"Yeah, hanya jarum kecil." James melemparkan bekas jarum suntik itu ke lantai lalu ia membelai *okongku dan mengusap-usapnya dengan *ensual. "Jangankan jarum kecil, ditusuk dengan jarum besar saja tidak terasa sakit, ya kan, Sayang?"


Deg!


Sekarang aku seakan terlalu paham dengan makna tersirat dalam setiap kata-kata James.


"My James."


"Emm? Ada apa, Sayang?"


"Aku...."


"Aku mau kamu," selanya. "Aku mau kamu tetap di sini. Aku mau kita bermesraan. Tanpa tapi, tanpa bantah."


Aku sudah tahu. Aku sudah hapal watak berengsekmu itu.


James menelungkup di atas tubuhku, tangannya menyelinap ke bawah dan mencengkeram dadaku.


Dia menjawabku dalam bentuk cengkeraman yang lebih kuat. "Mintalah sekali lagi, maka aku akan memberikan lebih dari ini."


"Tidak. Aku tidak akan meminta apa-apa lagi. Terserah padamu. Siksa aku kalau itu membuatmu puas."


Tapi pria itu tertawa. "Aku tidak menyakitimu, Sayang. Aku mencintaimu, dan seperti ini caraku mencintaimu. Supaya kamu tahu, kalau kamu menyakitiku, aku bisa membalasmu, aku bisa menyakitimu dengan rasa yang lebih sakit daripada apa yang kurasakan."


Terserah. Terserah....


Aku ingin menjerit ketika ia menggigit pundakku, tapi aku terlalu pengecut. Aku takut Bang Jack tidak bisa menahan emosinya dan masuk ke dalam kamarku lalu menembak James. Aku tidak ingin hal itu terjadi, sebab aku yakin pasti ada cctv di dalam kamarku yang akan menjadi bukti tindakan kriminal Bang Jack terhadapnya. Jadi, lebih baik kutahan sakitku sendiri. Kubenamkan wajahku ke bantal supaya suaraku tidak keluar dari kerongkongan.


"Hei, berbaliklah," pintanya.


Oh Tuhan, mau apa dia?


"Cepatlah, Sayang."


Aku menurut, dan menelentang. Dan seperti yang kuperkirakan, James membuka jubah mandiku, lalu...


Dia menekuk lututku, dia melakukan hal yang sama persis dengan yang tadi dilakukan oleh Bang Jack terhadapku.


Sakit hati. Aku menangis.


"Kenapa menangis, Sayang? Aku suamimu. Ini tidak hina. Ini cinta. Aku menyentuhmu tanpa rasa jijik. Aku menyentuh milikku yang sah. Yang harusnya tidak boleh disentuh oleh orang lain. Ini milikku."


Asli. Dia menyindirku.


Melesak. James kembali membenamkan bibirnya kepadaku. Mengisa* kuat-kuat seperti yang dilakukan oleh Bang Jack tadi.


"*engeranglah, Rose. *eranglah kuat-kuat. Kamu suka ini, kan? Kamu bahagia, kan? Kamu suka disentuh seperti ini, ya kan?"


Berengsek....


"Baiklah. Aku akan maklum. Kamu hanya belum terbiasa. Well, sekarang, aku membutuhkanmu." James berbaring menelentang, handuknya sudah terlepas dan dirinya sudah berdiri dengan tegap. "Please, lakukan tugasmu."


Kesal. Sebal. Kuhela napas dalam-dalam dan bangkit dari posisi telungkup, melakukan tugas itu dengan terpaksa sementara pria itu memejamkan matanya.


Setelah sekian menit aku berjuang menahan ego, James hampir mencapai puncaknya. Dia bangun dan duduk, dan seperti kemarin, ia ingin memasukkan bakal-bakal benihnya itu ke dalam rahimku.


"Berbaring," perintahnya. "Cepat."


Tapi aku enggan.


"Aku sudah di ujung, Sialan!" katanya. "Menurut padaku." Dia kesal, lalu mendorongku, ia menelentangkanku dan memaksa kakiku membuka. "Kalau ini tidak masuk ke rahimmu, aku akan sangat marah padamu," ujarnya lagi seraya melakukan hal itu.


Yeah, dia membuka interval kakiku dan memasukkan se-senti dirinya kepadaku, lalu ia menanamkan benihnya.


"Aku akan melakukan cara apa pun untuk memiliki anak darimu," katanya setelah usahanya selesai. Lalu dia tersenyum, diusapnya air mataku dan kemudian ia bertelungkup di atas tubuhku. "Jangan bergerak. Bala tentaraku sedang berjuang."


Ya Tuhan, siang malam James menanamkan benihnya di rahimku. Apa akhirnya aku akan hamil? Tolong jangan, Tuhan. Aku mohon jangan....