
"Secantik apa pun penampilanmu, ingatlah selalu untuk menggunakan masker dan jangan dilepaskan," kata Bang Jack.
Seperti kemarin, setelah keluar dari mobil dan menuju unit apartemennya, Bang Jack sudah menyiapkan masker untuk kami berdua. Selain berguna untuk menyembunyikan identitasku, itu juga berguna bagi keamanan kami berdua. Sebab, jika tidak bersama dengan tim bodyguard lainnya, maka risiko dan bahaya yang mengancam itu jauh lebih besar. Sebab itu, dalam keadaan sendiri, Bang Jack bilang kalau dia mesti menyamar supaya kelompok musuh tidak mengenalinya. Terlebih sekarang ada aku bersamanya, keamananku menjadi prioritas utama bagi dirinya. Dia bahkan menggunakan mobil barunya dan meninggalkan mobil bosnya di parkiran basement. Aku mengerti, kehidupannya tidak akan bisa seperti kehidupan orang normal pada umumnya, meskipun kelak ia berhenti menjadi seorang bodyguard. Kecuali, jika dia berpindah tempat -- meninggalkan Bali dan hidup di tempat yang baru: memulai kehidupan dari awal sebagai bukan siapa-siapa. Seperti yang ia jelaskan kepadaku sementara mobil melaju membawa kami melintasi jalan.
"Dan aku mengharapkan itu," ujarku -- dengan penuh harap.
Bang Jack tersenyum. "Aku memikirkannya, Sayang. Aku tahu aku tidak mungkin terus seperti ini. Dan aku berjanji, suatu saat aku akan membawamu pergi dari sini. Aku ingin membina rumah tangga yang bahagia bersamamu."
Dan persis di saat itu aku menyadari sesuatu. Kusunggingkan senyum samar sementara Bang Jack mencium punggung tanganku. "Aku minta maaf soal yang tadi. Aku... aku tidak tahu bagaimana mesti mengatasinya. Apa itu... tidak jadi masalah?"
"Kenapa mesti jadi masalah?" Bang Jack berpaling ke arahku lagi dengan sebelah alis terangkat. "Aku mencintaimu."
Aku mengangguk.
"Rose, cintaku padamu bukan sekadar omong kosong. Bukan hanya karena aku ingin memilikimu, atau sekadar menjadikanmu sebagai teman tidur supaya aku bebas menyentuhmu. Bukan seperti itu. Aku ingin kita bersama sebagai pasangan yang resmi dan terikat dalam hubungan pernikahan yang sah. Aku ingin melindungimu, Rose. Aku ingin menjadi suami yang berhak mempertahankanmu di saat keluargamu ingin mengambilmu dan menyerahkanmu pada orang lain. Kamu mengerti itu?"
Lagi. Aku mengangguk. "Aku tahu," kataku. "Tapi... keadaan ibumu... dan sekarang ditambah kehadiranku dengan kondisi yang seperti ini, bukankah itu hanya membuat... aku hanya menambah bebanmu."
"Tidak, Sayang. Kamu tidak--"
"Hei, hei, Rose, jangan bicara seperti itu." Bang Jack menginjak rem dan menepikan mobilnya di bahu jalan. Dan, wajah tampan itu kembali menyiratkan kekhawatiran. "Sayang, kamu jangan bicara seperti itu," ulangnya. Suaranya lembut, seperti genggaman tangannya saat itu. Selembut itu. "Dengarkan aku. Kamu sehat. Kamu tidak mengalami gangguan mental, oke? Itu namanya phobia. Hanya serangan panik, seperti trauma. Bukan gila. Kamu baik-baik saja. Dan itu sama sekali bukan masalah. Hmm?"
Aku mengangguk.
"Phobia yang kamu alami ini pasti ada penyebabnya, ya kan?" dia bertanya lembut seraya merema* jemariku. "Boleh aku tahu? Kamu bisa berbagi cerita apa pun padaku. Seperti yang kamu bilang kemarin, mungkin itu akan membuatmu lega, ya kan? Kemarin kamu mengatakan itu kepadaku. So, please, aku mau mendengarkan ceritamu."
Awalnya aku mengangguk, tapi kemudian aku berubah pikiran. "Nanti saja," kataku. "Kita bertemu ibumu dulu."
"Rose? Please?"
"Nanti malam saja. Aku janji. Aku akan menceritakan... maksudku, aku akan memberitahumu. Segalanya. Aku janji."
"Baiklah. Kamu sudah berjanji, dan aku percaya padamu. Nah, sekarang... kamu mau satu pelukan? Hmm? Sini."
Oh Tuhan, dia bodyguard berhati malaikat. Lembut sekali. Tak perlu menungguku mengangguk ataupun mengiyakan, dia langsung memeluk tubuhku dengan kehangatan yang menenangkan.
"Aku sayang padamu...."