Jack Bodyguard Sexy

Jack Bodyguard Sexy
Binggo!


Binggo!


James percaya kalau aku benar-benar depresi dan berniat bunuh diri. Itu berarti peluangku untuk berada di dekatnya sudah terbuka. Setidaknya instingku mengatakan demikian. Namun, walau kenyataannya aku sudah berada di titik ini, itu tidak berarti misiku ke depannya berjalan dengan mulus. Tidak. Kenyataannya, aku mesti menunggu cukup lama untuk mendapatkan kesempatan memberikan obat tidur kepada James. Cukup lama, lebih dari satu bulan penantian. Sebab, saat aku tersadar dari pengaruh obat bius itu, aku terbaring di atas ranjang James dalam keadaan tangan terborgol -- sebagai bentuk kewaspadaan dan antisipasi dirinya kalau aku kembali berbuat nekat untuk melenyapkan nyawaku sendiri.


Bagaimana sekarang? Seberapa lama dia akan waspada seperti ini?


PR lagi bagiku. Aku mesti memikirkan cara bagaimana membuat James percaya kalau aku tidak akan berbuat nekat lagi. James tipikal orang yang sulit dibuat lengah. Dia tidak mudah mempercayai orang lain.


"Halo...," teriakku. "Apa ada orang di luar?"


Handle pintu ditarik turun, lalu daun pintu mengayun terbuka. Wajah James muncul di ambang pintu: dengan rasa malu sekaligus bersalah. Aku bisa melihat itu dari raut wajahnya, ekspresinya, dia bahkan berusaha menyunggingkan senyum, tetapi gagal.


Sekarang, pria itu duduk di hadapanku. Dia menatap sendu kepadaku, lalu ia meraih dan menggenggam tangan kananku dengan kedua tangannya. Aku tidak mengerti: kenapa dia bersikap seperti itu? Ada apa dengannya?


Tetapi, apa pun itu, aku mencegah diriku sendiri untuk mempercayai apa yang kulihat. Dia hanya bersandiwara, Emilia. Tidak perlu dipikirkan.


"Maaf kalau aku harus memborgol tanganmu. Aku tidak bermaksud buruk, atau ingin memperlakukanmu dengan buruk. Aku hanya takut kalau... kalau kamu... kembali berbuat nekat."


Aku membuang muka. "Hanya itu?" tanyaku. "Kamu hanya meminta maaf untuk hal ini?"


James mengangguk.


Argh!


Dia membuatku merasa kesal karena dia meminta maaf untuk hal sesepele itu, sedangkan perbuatannya selama ini, apa mesti diabaikan begitu saja tanpa permintaan maaf? Sebegitu gengsikah dirinya, atau, perasaanku yang tidak penting baginya? Well, kalau begitu, untuk apa meminta maaf untuk pemborgolan tangan ini? Perasaanku tidak penting, bukan?


Untungnya tidak terlalu lama aku langsung menyadari kekeliruanku: kenapa aku berharap dia meminta maaf atas semua kesalahannya selama ini?


Sadar, Emilia. Harapan itu bisa menghancurkan dirimu sendiri. Mengharapkan kesadarannya, penyesalannya, apalagi permintaan maaf darinya, lama-lama kau bisa mengharapkan cintanya. Jangan terlena. Kontrol dirimu. Jangan biarkan dirimu terbawa arus.


"Rose... maksudku Emilia. Aku... emm... aku... aku ingin...."


Aku menunggu -- untuk sepersekian detik yang terasa sangat lama, tetapi James tidak melanjutkan kalimatnya itu.


"Apa kamu lapar? Kamu belum sarapan."


Oh, menyebalkan!


"Terima kasih. Tapi tidak, aku tidak butuh belas kasihan darimu. Terima kasih. Sekarang tolong buka borgolku."


Dia menggeleng.


"Tolong, Tuan James. Saya butuh ke kamar mandi. Apa Anda mau saya buang air kecil di sini? Tidak, kan?"


Yap, syukurlah dia tidak menuruti egonya. Dia membuka borgol tanganku dan tanganku terbebas. Dengan segera, aku pun berdiri dan bergegas ke kamar mandi. Tetapi, ketika aku hendak menutup pintu, James malah menahannya.


"Aku mau buang air, James."


"Biarkan pintunya terbuka."


"James!"


"Aku tidak ingin kamu berbuat nekat, memecahkan cermin atau menenggelamkan dirimu ke dalam bak mandi."


Eh? Nyaris saja mataku melotot. Dia berpikir ke arah sana? Bak mandi itu untukmu, James. Kamu yang akan mati di dalam bak mandi itu.


"Tidak jadi?"


"Em? Apanya?"


"Oh, ya, jadi. Tapi aku perlu menutup pintunya."


James menggeleng. "Tidak," katanya.


"Tapi--"


"Tidak, Rose."


"Aku tidak akan berbuat nekat."


"Gunakan toilet tanpa menutup pintu atau tidak sama sekali."


Ya Tuhan, sekarang sepertinya aku terjebak dalam sandiwaraku sendiri. Senjata makan tuan.


"Silakan."


"Oke. Tapi setidaknya kamu jangan berdiri di sini."


"Aku suamimu, Rose. Aku bahkan sudah melihat--"


"Apa? Suami? Tidak lagi! Suami macam apa yang menukar keperawanan istrinya dengan materi? Kamu pikir apa? Aku akan bahagia dan menikmati momen itu? Iya? Dasar tidak waras! Berengsek! Kamu berengsek!"


Kembali, aku meraung-raung, mengamuk di hadapannya sementara James hanya terdiam, dia mematung dengan wajah penuh penyesalan. Terakhir, aku membanting pintu dan menangis di kamar mandi.


"Maafkan aku," isak James di depan pintu. "Aku menyesal, Rose."


"Apa gunanya, James?" lengkingku. "Penyesalanmu tidak akan merubah apa pun! Tidak akan mengembalikan keperawananku ataupun merubah kenyataan!"


"Aku tahu. Aku tahu penyesalan saja tidak ada gunanya. Tapi, tapi izinkan aku menebus kesalahanku, Rose. Izinkan aku menyembuhkan luka di hatimu."


"Tahu apa kamu soal luka di hatiku? Kamu pikir lukaku bisa sembuh? Dengan apa? Dengan cinta palsumu? Dengan kekayaan yang kamu punya? Tidak akan pernah bisa, James! Tidak akan pernah bisa!"


Tidak ada sahutan. Hanya ada isakan tangis yang terdengar samar.


"Tidak ada yang bisa menyembuhkan lukaku. Tidak juga dengan kematian. Berulang kali aku mencoba, tapi Tuhan tidak ingin mencabut nyawaku. Tapi untuk apa aku terus hidup? Demi kepuasan suami yang terus menyiksaku? Atau demi menyakiti pria yang mencintaiku? Untuk apa? Kehidupan di sini lebih buruk daripada kematian. Aku lelah."


Aku menangis tersedu-sedu. Niat berakting, tapi kurasa ini sungguhan: dampak dari perasaanku yang terlalu sakit. Aku salah, ternyata aku tidak mati rasa, buktinya rasa sakit itu masih sangat terasa.


"Aku tidak akan menyakitimu lagi, Rose. Aku akan membahagiakanmu. Aku... aku mencintaimu. Aku mencintaimu dengan hatiku. Ini bukan kepalsuan. Percaya padaku, Rose. Percayalah. Aku janji, aku akan membuatmu bahagia."


Tidak. Dia hanya bersandiwara. Dia pandai melakukan itu. Lagipula, cintanya tidak penting. Hanya Bang Jack yang berhak atas diriku. Hidupku untuknya, bukan untuk James.


"Rose, dengarkan aku. Kamu sumber kebahagiaan bagi banyak orang. Terutama untuk ibunya Jack. Kamu menyayanginya, kan? Keadaannya sudah benar-benar membaik berkatmu. Bayangkan bagaimana terburuknya dia nanti kalau kamu tiada? Dia akan kembali depresi, Rose. Tolong pertimbangkan hal itu."


Bagus. Di luar dugaanku, James mengatakan hal itu. Sekarang aku memiliki alasan untuk bertahan hidup yang sesuai dengan pemikiran James. Aku bisa keluar dari kamar mandi dan tidak harus bersandiwara lebih lama: menunjukkan egoku yang terluka, dan, juga luka di hatiku. Aku pun keluar dari kamar mandi setelah buang air kecil.


"Thanks, God." James menyambarku, dia memelukku erat-erat.


"Aku tidak ingin bicara denganmu," kataku seraya melepaskan diri dari pelukannya.


"Aku mengerti." James mengangguk, dia melepaskanku dari pelukannya. "Aku akan menyuruh pelayan membawakan makanan untukmu. Tunggulah."


James pun melangkah keluar dari kamar itu, sebelum menutup pintu, ia kembali berpesan supaya aku tidak lagi berbuat nekat. Tetapi aku mengabaikannya.


"Aku akan mengembalikan ponselmu. Kamu bisa berkomunikasi dengan ibumu. Aku harap... rasa sayangmu padanya bisa menjadi alasan untukmu bertahan hidup. Emm... aku tidak akan menemuimu untuk sementara waktu sampai kamu tenang. Aku tahu kamu sangat membenciku. Aku... permisi. Jaga dirimu baik-baik."


Sekali lagi, binggo!