
Beberapa belas menit berlalu, James masih menelungkup di atas tubuhku sambil mengelus-elus puncak dadaku dengan ibu jarinya, sementara aku: aku seperti boneka yang tidak mampu berbuat apa-apa, bahkan tidak tahu mesti berkata apa.
Kami tetap dengan posisi seperti itu sampai akhirnya ponsel James berdering, dia bangkit. Sebelum ia menerima panggilan telepon itu, ia menyuruhku bangun. "Pakai jubahmu. Siapkan makanan untukku, ya. Aku lapar."
"Baiklah," kataku.
"Sekarang, Rose."
"Iy--iya. Aku siapkan sekarang."
Aku pun bangkit, kukenakan kembali jubah mandiku dan mengikatnya dengan rapi, lalu aku keluar dari kamarku, meninggalkan James yang langsung menerima panggilan telepon dari ponselnya.
Di dapur, aku bertemu dengan Bang Jack. Ia tengah berdiri di depan lemari es dan mengambil air putih. "Kamu tidak apa-apa, kan?" tanyanya. Ia menatapku dengan sendu, namun menahan diri untuk tidak mendekat.
"Tidak," kataku. "Aku baik-baik saja." Kusunggingkan senyum lalu berjalan ke arah kulkas yang berisi bahan makanan. "Abang mau dibuatkan sarapan apa?"
Dia menggeleng.
"Nasi goreng mau?"
Dia tidak menyahut.
"Jangan banyak pikiran. Duduklah dan tunggu sampai aku selesai masak. Oke?"
Aku langsung menghampiri ricecooker dan mengeluarkan nasi sisa makan malam semalam. Sementara menunggu nasi itu dingin, aku menyiapkan bumbu-bumbu dan pelengkapnya.
Jujur, aku berusaha menutupi perasaanku dan keadaanku dari Bang Jack, tapi tidak bisa. Justru cara Bang Jack yang menatapku dengan perasaan lukanya, itu membuatku tidak bisa menutupi lukaku.
"Abang," kataku, aku berbalik menghadapnya. "Tolong jangan begitu. Abaikan saja keadaanku. Itu akan membuatku lebih baik, ya? Tolong?"
Dia mengangguk.
"Senyum, aku mohon," pintaku.
Dan dia terpaksa menuruti permintaanku. Dia memaksakan dirinya tersenyum di hadapanku.
"Ada yang bisa kubantu?" tanyanya.
"Tidak ada."
"Soal masakan, Rose. Bukan hal lain."
"Tidak ada. Abang duduk saja di situ."
"Baiklah. Aku akan menuruti permintaanmu."
Yeah, aku tersenyum. Aku senang karena dia menurut padaku. Dengan begitu keadaanku, dan keadaan di antara kami berdua justru terasa jadi lebih baik. Aku bisa memasak dan menyelesaikan masakanku dengan tenang, lalu memanaskan opor dan rendang yang kumasak kemarin. Dalam beberapa menit berikutnya, semua masakan itu sudah terhidang di atas meja berikut lalapannya: irisan tomat dan timun.
"Abang tunggu di sini, aku... aku memanggil James dulu."
Dia mengangguk, dan aku segera beranjak ke kamar. Di sana, James masih sibuk dengan teleponnya.
"Ya, akan kuusahakan," katanya di telepon. "Jaga diri kalian baik-baik. Love you. Bye, Sayang."
Hmm... sepertinya dugaanku benar. Dia punya istri lain, sepertinya dia juga sudah memiliki anak. Tapi sudahlah, terserah. Aku tidak boleh merecoki kehidupan aslinya.
"Rose?"
"Eh?"
"Kamu di sini? Sejak kapan?"
"Baru. Aku baru saja, baru... aku baru selesai masak dan ingin memanggilmu."
"Baiklah," kataku. Semoga saat James melihat Bang Jack ada di dapur, dia tidak berpikiran yang macam-macam. Jika perlu, semoga dia memasang cctv juga di dapur dan mengeceknya. Supaya dia yakin kalau aku dan Bang Jack tidak melakukan apa pun di dapur. Aku tidak ingin menerima amarahnya untuk kesalahan yang tidak kulakukan.
Dengan gelisah, aku cepat-cepat menanggalkan jubah mandiku dan berpakaian lalu menyisir rambut. Kemudian, aku pun segera keluar dari kamar. Dan begitu aku sampai di dapur, rupa-rupanya Bang Jack dan James sedang mengobrol. Mereka terlihat sangat akrab. Dari kaca mata orang luar, mereka pastilah terlihat seperti kakak ipar dan adik ipar yang sangat akrab, hubungan yang harmonis. Sementara dari kaca mataku, aku tahu keduanya bermusuhan. Dan aku juga tahu, kalau Bang Jack tidak tahu jika James sangat membencinya, apalagi tentang alasan di balik kebencian itu: apa dan mengapa? Aku sendiri bahkan tidak tahu kenapa James sepertinya sangat membenci Bang Jack. Yang pasti, aku merasa bukan karena aku. Aku sangsi. Aku merasa bahwa James sebenarnya tidak mencintaiku. Dan aku merasa: aku ini hanya dijadikan alat -- mungkin sebagai alat balas dendam -- oleh James kepada Bang Jack. Balas dendam untuk apa dan karena apa, aku tidak tahu.
"Kenapa, Sayang? Ada yang sedang kamu pikirkan?" James bertanya padaku yang -- mungkin nampak sekali sedang berpikir -- saat itu aku tengah melakukan tugasku: menyendokkan nasi goreng ke piringnya.
Aku menggeleng. "Tidak apa-apa," kataku. Lalu aku menaruh seporsi nasi goreng itu di hadapannya.
James tersenyum seraya berterimakasih.
Aku mengangguk. "Sama-sama," kataku. Kemudian aku melakukan hal yang sama untuk Bang Jack.
Oh, hina sekali rasanya menyadari kenyataan ini: aku melayani kekasihku dan suamiku -- keduanya sekaligus dalam waktu yang bersamaan. Lagi-lagi ketidakberdayaan ini menyuruhku untuk terus bersabar. Dan andainya bisa, aku ingin sekali enyah dari tempat ini -- di antara dua lelaki ini. Tapi tidak bisa, nyatanya aku ikut duduk, mengisi piringku, dan ikut sarapan bersama mereka. Mereka terus mengobrol yang aku tidak mengrti dan tidak mau tahu mereka membicarakan tentang apa. Yeah, kalau aku tidak salah, sepertinya James sedang mengorek informasi dari Bang Jack tentang bisnis gelap ayahnya. Mungkin tentang hal detail yang tidak diketahui oleh James.
Whatever... apa pun itu, terserah.
"Adik Ipar," kata Bang Jack setelah obrolan panjang itu, "tadi Mama meneleponku, dia bilang kalau dia merindukan Rose. Kalau bisa, izinkan Rose mengunjunginya lusa nanti. Mama ulang tahun. Dia ingin merayakannya bersama Rose."
James mengangguk. "Baiklah," katanya. "Akan kupastikan Rose menemuinya. Tapi sayangnya aku tidak bisa ikut."
Baguslah. Siapa juga yang ingin ke sana bersamamu.
"Jadi? Bagaimana?" tanya Bang Jack lagi.
"Rose bisa pergi sendiri, maksudku... bersama supir dan beberapa orang bodyguard."
"Oke. Terima kasih, Adik Ipar. Dengan begitu aku tidak akan khawatir. Rose akan aman." Lalu ia berpaling kepadaku. "Titip salam untuk Mama. Aku juga akan mengirimkan kado untuknya."
Praktis aku keheranan. "Kok begitu? Abang tidak akan ke sana?"
"Siang ini aku harus berlayar lagi. Ada sedikit masalah di Thailand. Salahku. Aku meninggalkan tugas itu kemarin."
Oh, aku tertegun. "Gara-gara aku?" tanyaku. "Karena aku diculik waktu itu?"
"Tidak, Rose. Maksudku bukan begitu."
"Sebaiknya tidak usah dibahas," sela James.
"Ya. Jangan merasa bersalah. Itu sama sekali bukan salahmu."
"Jack benar. Maksudku Kakak Ipar benar. Yang dikatakan abangmu benar, Rose. Dia kakakmu. Jika ada hal buruk yang terjadi pada adiknya, seorang kakak akan memprioritaskan adiknya. Apalagi kalau adiknya diculik, mana mungkin seorang kakak akan mengabaikannya. Jangankan hanya karena pekerjaan, seorang kakak bisa meninggalkan apa pun demi adiknya. Contohnya temanku dulu, saat dia mendengar adiknya diculik, temanku sampai meninggalkan kuliahnya, padahal dia tinggal diwisuda saja. Bahkan dia meninggalkan pacarnya demi pulang ke tanah air. Itulah sejatinya seorang kakak. Kamu beruntung, kamu memiliki kakak seperti Jack. Bodyguard tangguh, melebihi seorang polisi."
Deg!
Sesuatu. Apa James menceritakan soal masa lalu Bang Jack? Apa jangan-jangan dia juga tahu...? Dia mendengar...? Astaga. Bagaimana ini? Ya Tuhan, maafkan aku, Bang....
"Rose?"
"Emm?"
"Kamu memikirkan sesuatu?"
Aku menggeleng. Gelisah. "Tidak. Tidak, My James," kataku gugup.
"Ehm, berhubung Kakak Ipar akan berlayar lagi, bolehkah kami menumpang tinggal di sini selama Kakak Ipar pergi? Aku tahu istriku sangat betah tinggal di sini."
Apa lagi yang dia rencanakan, Tuhan? Di mana pun aku tinggal, toh sama saja. Di mana pun ada cctv, di mana pun ada bodyguard. Aku akan tetap terkurung.
"Kamu mau, kan, Sayang? Anggap saja kita sedang berbulan madu di sini. Iya, kan?"
Bulan madu kepalamu, James...! Apa niatmu sebenarnya? Dasar lelaki berengsek....