Jack Bodyguard Sexy

Jack Bodyguard Sexy
Berduka


Sirna. Kebahagiaan sesaat itu lenyap seketika ketika ponsel Bang Jack berdering pada sore harinya. Ada panggilan masuk dari James. Dia mengabarkan bahwa upacara penghantaran terakhir mendiang ayahnya sudah siap dan ia memintaku untuk menemaninya di saat-saat terakhir ia bersama jenazah ayahnya. Sesungguhnya aku mulai takut menyadari aku akan bertemu dengan James setelah aku melewati siang itu dengan bermesraan bersama Bang Jack. Tetapi aku tidak bisa mengelak. Aku harus kembali kepada James, dan Bang Jack sendiri yang mengantarkanku kepadanya.


Dengan takut, namun berusaha terlihat sesantai mungkin, aku menghampiri James. Pria itu masih berteman dengan kemurungannya, dengan duka yang terlihat kental di wajahnya. Sebagai seorang anak, dia mempersembahkan bunga mawar merah besar sebagai tanda cinta di dalam peti mati Tuan Johnson. Dia menatap wajah kaku itu cukup lama, sampai peti siap ditutup. Di mataku, apa yang kulihat dengan mataku itu adalah gambaran perasaan yang terluka. Memang semestinya seperti itu, bukan?


Yeah, peti mati sudah tertutup. Itu berarti ritual berikutnya siap dilaksanakan. James memilih untuk mengkremasikan jenazah dan menebarkan abunya di laut. Dan itu membuat perasaanku menjadi galau. Aku tidak terbiasa dengan jenazah yang dibakar. Aku hanya pernah melihat hal itu di film India. Sehingga, sewaktu proses pembakaran jenazah, aku merinding dan berkeringat dingin. Namun aku mesti tetap menguatkan diri, sebab James menggenggam erat tanganku dan tak melepaskan tanganku sedikit pun. Ia baru melepaskan tanganku darinya ketika kami sudah berada di kapal, di tengah-tengah laut, dan ritual penebaran abu berlangsung.


"Selamat jalan, Pa," bisik James seraya menebarkan genggaman abu terakhir ayahnya. Abu itu langsung hanyut ditelan air laut dan kulihat mata James berkaca.


Jujur saja, aku tidak berusaha menenangkan James karena aku sendiri tidak bisa mengenyahkan pikiranku tentang apa yang kira-kira akan dilakukan James padaku kalau dia tahu aku tadi begitu lama berada di kamar Bang Jack, bersama pria itu.


Sentuhan lembut di lengan membuatku tersadar dari perangkap pikiranku sendiri. Aku menoleh dan menatap mata James yang masih berkaca. Tanpa kata-kata, ia meraihku ke dalam pelukannya, menumpahkan kesedihan di pundakku. Wajahnya terbenam lama, dan aku, aku hanya bisa menggerakkan tanganku untuk membalas pelukannya. Tak ada hal lain yang bisa kulakukan, dan aku tahu, aku juga tidak bisa untuk tidak merespons pelukan James.


"Malam ini kita tetap di kapal, tidak apa-apa, kan? Aku merasa damai, mungkin... maksudku... aku ingin menganggap malam ini malam terakhirku bersama Papa."


Aku hanya mengangguk. Mana mungkin aku menolak. Dan aku berharap itu berarti aku bisa terbebas dari hukuman. Aku berharap James tidak tahu, atau, kalaupun dia tahu, aku berharap dia tidak akan membahas perihal aku dan Bang Jack yang berduaan di apartemen.


Ah, jahatnya aku. Itu berarti sama saja aku bersyukur melihat James terpuruk dalam dukanya yang baru saja kehilangan sosok seorang ayah. Tidak boleh, Rose. Tidak boleh. Itu jahat....


"Rose...."


"Kamu benar-benar tidak akan meninggalkan aku, kan? Kamu tidak akan meninggalkan lelaki sebatang kara ini?"


Oh Tuhan... kenapa dia mesti menanyakan hal ini sekarang? Kenapa mesti di sini, di depan Bang Jack? Maafkan aku, Abang. Aku harus mengiyakan pertanyaan James.


"Rose?"


Aku mengangguk.


"Berjanjilah, Rose. Aku mohon?"


Lagi. Aku mengangguk. Kuhela napas dalam-dalam dan aku berkata, "Aku janji. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Aku akan selalu di sini bersamamu. Aku berjanji."


"Terima kasih." James tersenyum. Bahagia. Dan ia mencium bibirku -- tepat di hadapan Bang Jack.


Perih. Sekarang akulah yang berduka.