Jack Bodyguard Sexy

Jack Bodyguard Sexy
Kenyataan Tak Terduga


"Jangan!"


Aku mendorong Bang Jack dariku, lalu menahan pakaianku yang sudah terbuka kancing di bagian atasnya.


Bang Jack tertegun. Mulutnya sedikit menganga namun dia bingung hendak mengatakan apa, sementara aku sendiri menatapnya dengan mata yang mulai berkaca. Aku menggeleng-geleng, namun aku juga tidak tahu harus mengatakan apa. Akhirnya aku hanya bisa menunduk dan menangis.


"Ada apa, Rose? Kenapa sekarang kamu menolakku? Bukannya tadi...? Ada apa?"


Aku menggeleng lagi, dan air mataku terasa semakin deras. "Maafkan aku."


"Aku tidak perlu permintaan maafmu."


"Abang...."


"Jelaskan, kenapa? Kenapa kamu menolakku? Aku masih bisa melihatnya dengan jelas, cinta itu masih ada di matamu, Rose."


Yeah. Aku menatapnya, mencoba meyakinkannya kalau dia telah salah menilaiku tentang penolakan itu, sekaligus meyakinkannya bahwa dia benar tentang cinta yang masih ada untuknya. "Aku bukan menolakmu. Tidak. Bukan begitu."


"Lalu?"


"Aku...."


"Katakan!"


"James memaksaku membuat tatto."


"Tatto?"


"Aku tidak ingin Abang melihatnya. Aku... aku tidak mau...."


"Ssst...." Dia kembali menangkup wajahku. "Buka. Biarkan aku melihatnya."


Aku terdiam, masih menangis, namun aku juga tidak mencegah Bang Jack membuka pakaianku. Dia melihat tubuhku, tatto itu: di dada kiri dan di bawah pusarku.


"Sakit?" tanya Bang Jack.


"Tidak. Dia memberiku pil penahan rasa sakit."


"Biadab! Dia menyiksamu. Dia menyakitimu, Rose."


Aku menggeleng. "Tidak apa-apa," kataku. "Aku tidak apa-apa. Aku... aku bisa melalui semuanya."


"Abang, Abang tidak apa-apa, kan? Maaf kalau aku menyakiti hatimu. Maafkan aku."


Sekarang dia yang menggeleng-gelengkan kepala dan matanya berkaca. "Aku tidak apa-apa. Jangan khawatirkan perasaanku. It's ok. Ini bukan salahmu. Aku tahu. Aku tahu...."


Aku melepaskan diri dari pelukannya, lalu mengangguk, kemudian menatap ke dalam matanya, kuberikan bibirku kepadanya dan mataku terpejam.


Saat itu Bang Jack menciumku, tanpa ragu ia memaksakan lidahnya masuk ke dalam mulutku dan menyisipkan satu tangan ke dalam rambutku. Aku membiarkan diriku terangkat naik oleh gelombang pasang emosi, merasakan getaran amarah Bang Jack. Namun aku tahu, bukan diriku yang menjadi sasaran amarahnya. Tetapi James. Dia menyakiti perasaan Bang Jack melalui diriku.


Terserah apa pun yang terjadi setelah ini. Batinku meronta. Rasa membutuhkan itu jelas memenangkan dan mengendalikan diriku, meluap naik di luar kendaliku. Perasaan itu mendekat ke arahku, menggugah dan menggoda, lalu turun ke rahim yang hampa, yang lapar dan haus akan sentuhan. Bukan karena terpaksa, tapi dengan sepenuh cinta: aku ingin disentuh dengan cinta, oleh orang yang kucinta.


Saat ini, ketika aku merelakan diriku sepenuhnya, menempel dan menekankan dadaku kepadanya, aku tidak ingin memikirkan masa lalu ataupun masa depan. Aku mencium Bang Jack sebagaimana pria itu menciumku, dengan mendesak, rakus, dengan mulut dan lidah menyelinap masuk ke dalam kehangatannya, merasakan, menyentuh, dan mempelajari.


Amarah Bang Jack sudah padam, tapi bau tubuhnya yang panas masih tertinggal, aku menghirupnya. Mulutku membuka di lehernya, bibirku menelusuri kulitnya, menghirup aroma jantan pada tubuhnya. Surga yang manis, begitu menggoda.


Kubiarkan tanganku menjelajahi tubuh pria itu dengan gila. Menyelinap di balik kausnya dan menelusuri punggungnya, merasakan ia bergidik di bawah sentuhan tanganku. Dan kurasakan, tangan Bang Jack pun menyelinap di antara himpitan tubuh kami, bertahta di atas dadaku, mengelus dengan lembut, lalu sedikit lebih kasar.


"Aku tidak tahan," bisiknya. "Aku menginginkanmu. Sekalipun ada yang menghalangiku, akan kutembak kepalanya."


Aku tersenyum. "Yeah. Lakukan apa pun yang kamu inginkan."


"Akan kulakukan," katanya. Dia melepaskan pengikat bra-ku, menanggalkannya dari tubuhku dan melemparkannya ke sembarang arah. Kemudian, dia menyentakkan pinggulku dan membuat tubuhku melengkung ke belakang hingga ia bisa merasakan keindahan dadaku dengan mulutnya. Mengisa* lembut, nyaris memuja. Tanpa kendali.


Ya Tuhan... aku seperti seorang jalan*, tapi aku bahagia.


Bang Jack membawaku ke ranjangnya, membaringkanku, dan aku semakin tak sabar hingga aku menarik kausnya, menanggalnya dari tubuh pria itu.


Kemudian, jari-jari Bang Jack menelusur ke bawah, menyentuh dan mengelus lembut di atas permukaan kain *alaman terakhirku. Membuatku tergelitik geli dan *asratku semakin memuncak. Dengan sepenuh hasra*, aku menggapai pria itu. Tanganku menyelinap ke lingkar pinggangnya, di atas perutnya yang keras dan ramping. Sebagai balasannya, Bang Jack menarik napas kuat dan dengan kalut ia mulai berkutat dengan bukaan celananya.


Oh, gairah Bang Jack tergambar jelas dari dirinya yang tegak dan menantang. Dia melepaskan *alaman terakhirku, lalu mencicipiku dengan bibirnya.


Aku mengeran*, Bang Jack tersenyum. Lalu dia merangkak dan menelungkup di atasku. "Aku mencintaimu," bisiknya. Lalu ia mengarahkan diri, dan...


"Ouch!"


Kening Bang Jack membentuk lipatan bergelombang. "Rose?" Dia menatap mataku dengan sejuta tanda tanya. "Kamu masih perawan."


"Apa?" Aku terbelalak tak percaya.


Bagaimana mungkin?