Jack Bodyguard Sexy

Jack Bodyguard Sexy
Pagi Yang Tak Indah


Gara-gara memendam rasa kecewa terhadap James, semalam aku tidur sangat larut. Bahkan, malangnya, pagi ini aku merasa tidak enak badan. Kepalaku pusing dan terasa berat. Rasa kantuk benar-benar menguasaiku sehingga aku bangun kesiangan. Entah sejak kapan James kembali ke kamar. Tahu-tahu, pagi itu aku mendapati dirinya sudah berada di dalam kamar kami. Dia baru saja selesai mandi, tubuhnya bahkan masih basah. Pun rambutnya, air masih menetes-netes menuruni dahinya. Sejujurnya dia sangat seksi, persis Bang Jack.


"Selamat pagi, Sayang," sapanya. Ia tersenyum ramah kepadaku.


Aku hanya balas tersenyum dengan agak terpaksa.


"Bagaimana tidurmu?" tanyanya. Kini ia duduk di sampingku masih dengan handuk yang melilit di pinggangnya. Sewaktu ia duduk, handuknya menciptakan celah di antara kakinya sehingga ada sedikit bagian pahanya yang terekpos dan terlihat olehku.


Aku menggeleng. "Aku tidak bisa tidur," sahutku dengan suara serak. "Emm... maksudku semalam aku susah tidur. Entah jam berapa aku ketiduran. Jadi... maaf, aku bangunnya sesiang ini."


Sebelum aku menyelesaikan kalimatku, James menyadari keadaanku yang saat itu sedang tidak sehat. Aku demam. Dia langsung menyentuh kening dan leherku. "Kamu demam?"


Tapi aku menggeleng.


"Badanmu panas. Akan kupanggilkan dokter."


"Tidak usah. Tidak perlu. Aku tidak apa-apa, kok."


"Jangan membantah. Turuti perintahku. Oke?" James berdiri, dan...


Aku memekik dan praktis menutup mataku dengan kedua telapak tangan. Handuk James terlepas hingga bagian lelakinya terpampang di hadapanku. Sungguh kejadian itu membuatku kaget setengah mati.


"Ya ampun... istri kecilku. Kamu sangat polos."


Kurasakan permukaan ranjang yang kududuki terhenyak, dalam artian berarti James kembali duduk di sampingku.


"Hei, Sayang, aku suamimu."


"A--a--aku tahu. Tap--tap--tapi... tapi kan...."


"Just relax, Baby." Dia meraih tangan kananku yang menutupi wajah. Lalu... lalu....


Argggggh....


Dia menyentuhkan jemariku kepada inti dirinya. Memastikan jari-jemariku mencengkeram kepadanya dan ia membuat jemariku bergerak pelan pada permukaan kulitnya yang hangat. Jijik... aku jijik sekali padanya. Ingin sekali rasanya aku mencengkeramnya kuat-kuat dan menariknya hingga putus. Tapi aku tidak berani melakukan itu.


"Tidak apa-apa, pejamkan saja matamu," katanya pelan, nyaris dalam bisikan. "Tapi kamu bisa merasakannya, kan? Aku hidup, dan aku sangat mendambakanmu."


Setan! Aku bahkan bisa merasakan benda itu mengencang seiring gerakan jemariku yang mencengkeram kuat kepadanya.


Dan aku tak menjawab. Lagi-lagi pria itu membuatku menangis.


"Beri aku jawaban yang jujur. Jawab aku," suaranya dalam intonasi lembut itu kembali ia perdengarkan, namun masih sama -- masih dengan makna ancaman.


Aku mengangguk. "Ya, aku... aku perawan."


"Bagus. Aku senang mendengarnya. Jaga kesucianmu itu baik-baik sampai tiba waktunya. Aku sangat menantikan momen indah itu. Aku menginginkan keperawananmu. Aku mendambakannya, Rose."


Aku tidak....


"Yeah, paling tidak untuk sementara, kamu bisa menyenangkanku dengan cara seperti ini. Walaupun dengan mata terpejam, yang penting tanganmu aktif. Aku sudah cukup senang."


Teririiiiiiis... sembilu hatiku.


"Sssh...," ia mendesis. "Bisa kamu gerakkan sendiri tanganmu tanpa harus kubimbing? Hmm?"


Terpaksa! Aku mengangguk.


"Gadis yang baik. Lakukan tugasmu sampai selesai."


Bedebah! Aku tahu dia berhak memintaku melakukan tugasku sebagai istri. Tapi aku tetap tidak akan bisa ikhlas. Aku tidak mencintaimu, James!


"Sssh... ukh! Kamu terbaik, Sayang. Kamu terbaik. Eummmmm... ouch!"


Sialan! Dia begitu menikmati adegan yang bagaikan siksaan bagi jiwaku. Aku menangis, tidak hanya mataku, tapi juga hatiku. Perih!


"Thanks, Baby. Ukh!"


Ia melepaskan tanganku darinya. Dan dalam kelebat berikutnya, dadaku merasakan cipratan hangat yang keluar dari benda asing itu.


Berengsek! Kau burun* terkutuk!


"Kamu yang terbaik. Setelah ini akan kupanggilkan dokter untukmu." James mencium keningku, lalu beranjak kembali ke kamar mandi dengan handuk kembali melilit di pinggangnya.


Oh, kasihan. Sungguh Rose yang malang.