
"Aku minta maaf."
"Apa? Maaf?"
"Em."
"Hanya maaf? Semudah itu? Ya Tuhan, aku tidak habis pikir. Kamu sadar, kan? Kamu jadikan aku selingkuhan! Kamu jadikan aku yang kedua! Kamu sudah punya anak! Kamu... kamu..," kata-kata itu terhenti. Aku menggeleng-gelengkan kepala menyadari semuanya. Tangisku semakin pecah. "Aku bukan istri. Aku hanya boneka yang kamu manfaatkan untuk membalas dendam. Karena Rose Emerson, kan? Dia dulu kekasihmu? Hmm? Tapi kenapa? Kenapa orang lain yang berbuat salah tapi aku yang kena getahnya? Kenapa aku yang jadi sasaran? Oh, jangan-jangan... jangan-jangan dari awal kamu sudah tahu kalau aku bukan Rose Peterson adiknya Bang Jack? Kamu... kamu hanya berpura-pura menyelamatkan aku padahal kamu yang mendalangi penculikan itu? Iya? Jawab aku!"
James menggeleng. "Bukan aku yang merencanakan penculikan itu. Tapi untuk pertanyaanmu yang lain, semuanya, ya, jawabannya ya."
"Berengsek!"
"Aku tahu aku berengsek. Tapi...."
"Tapi apa?"
"Sekarang aku mencintaimu."
"Bullshit!"
"Aku bersungguh-sungguh."
"Hentikan sandiwaramu!"
"Rose...."
"Kamu punya istri!"
"Aku tidak mencintainya."
Terdiam. Aku yang sekarang menggeleng-geleng keheranan.
"Aku hanya mencintaimu."
"Gila kamu, James."
"Ya. Tapi aku jujur."
"Stop!"
"Aku sangat mencintaimu."
Tidak tahu mesti mengatakan apa lagi. Menghadapi James rasanya aku benar-benar merasa stres. "Aku tidak mau menjadi perebut suami orang. Aku tidak mau merusak rumah tangga orang lain, apalagi memisahkan anak dengan ayahnya. Anak perempuan, pula. Tidak mau. Kamu keterlaluan, james."
"Rose, aku tidak akan pernah meninggalkan anak-anakku."
"Lalu istrimu? Kamu menyakitinya, James. Dan aku, aku tidak mau--"
"Aku tidak mencintainya. Itu hanya sebuah kesalahan. Aku terpaksa menikahinya karena dia hamil anakku!"
"Beri aku waktu untuk menjelaskan semuanya. Semua pertanyaan yang ingin kamu ketahui. Oke?"
Aku menggeleng. "Tidak perlu. Habisi saja aku. Aku tidak bisa menerima semua ini. Aku tidak bisa."
"Rose, please?"
"Lakukan!"
"Tidak akan bisa."
"Semalam aku mencoba untuk membunuhmu."
James terdiam, sedikit terkejut, tapi tidak terlalu. Seakan-akan dia sudah tahu, tapi dia terkejut karena aku mengakui niatku.
"Aku mencampurkan obat tidur ke dalam kopimu," kataku pelan. "Aku ingin menenggelamkanmu di bak mandi. Aku ingin kamu mati. Sekarang balas aku, James. Bunuh saja aku."
Tetapi James hanya menghela napas dalam-dalam. "Tenangkan dulu dirimu," pintanya. "Kita akan bicara lagi nanti. Sekarang aku harus pergi untuk... menjenguk anak-anakku."
Ya Tuhan... dia benar-benar tidak waras. "Mau bicara apa lagi? Aku tidak ingin merusak rumah tanggamu."
"Kita akan bicara lagi nanti." Dia berdiri lalu berjalan ke arah nakas. Dari dalam laci, James mengeluarkan borgol dan alat suntikan dengan obat bius.
Aku menggeleng. Aku tidak mau dia membiusku lagi. Aku berontak, tetapi percuma. Kekuatan James bukan tandinganku. "Bunuh saja aku! Kenapa harus begini?"
"Maaf, Sayang." James berhasil memborgol tanganku. "Tapi aku ingin kamu menungguku pulang. Aku ingin melihatmu dalam keadaan hidup dan aku akan menceritakan semuanya padamu. Semuanya. Tentang masa laluku, masa lalu Jack, dan latar belakang semua yang terjadi dalam keluarga kami. Aku tahu Jack yang menembak ayahku. Tapi aku tidak membalasnya karena satu alasan."
Aku bisa menerkanya. "Karena ayahmu yang membunuh ayahnya?"
Gemetar. Hatiku tersentak begitu James mengangguk.
"Aku akan menceritakan semuanya padamu. Tapi nanti, aku harus pergi. Berjanjilah kalau kamu akan menjaga dirimu dan tidak akan pergi dari sini. Tunggu aku."
Kurasa aku tidak punya pilihan, lagipula tanganku sudah diborgol.
"Ponselmu kusita. Saluran air di kamar mandi akan aku stop. Bodyguard-bodyguard akan berjaga di depan kamar. Aku akan menyingkirkan semua benda-benda berbahaya di kamar ini. Aku juga tidak akan membiarkan siapa pun menemuimu. Dan... maaf aku juga harus menyuntikkan obat bius. Kamu harus istirahat yang cukup."
Aku menggeleng, lalu memohon untuk tidak disuntik. Tapi James tidak mau mendengarku. Dia tetap menyuntikkan obat bius itu lalu membaringkanku di tempat tidur.
"Tunggu aku pulang," ucapnya seraya mengelus wajahku, lalu dia mencium keningku. Aku bisa merasakan ciuman yang berbeda dengan ciuman-ciumannya selama ini. Sekarang dia menciumku dengan sepenuh perasaan.
Tetapi aku tidak mau ia jadikan sebagai pelakor. Tidak!
"Aku mencintaimu. Terima kasih untuk tidak benar-benar membunuhku. Aku tahu kamu mengurungkan niatmu demi anak-anakku. Dan aku sangat salut untuk itu. Aku menghargai kebaikan hatimu. Terima kasih."
Tuhan, sebegitu sayangkah Kau pada nyawaku? Aku sudah memberitahu James tentang niat burukku kepadanya, tapi aku tetap tidak mati. Sungguh luar biasa. Bahkan sekarang aku dicintai oleh seorang pria yang tidak waras.