Jack Bodyguard Sexy

Jack Bodyguard Sexy
Kejutan Luar Biasa


James benar-benar tidak kembali ke apartemen selama masa menstruasiku berlangsung. Aku sangat senang untuk hal itu. Tetapi sayang, aku juga harus membayar mahal kenyamanan selama hampir dua pekan itu dengan kedatangan James yang tiba-tiba, tepat di hari Bang Jack pulang dari Thailand. Aku bahkan tidak sempat bertemu dengan Bang Jack karena James sudah lebih dulu membawaku pergi. Aku tidak melawan atau melayangkan protes dalam bentuk apa pun, karena aku dan Bang Jack sudah memprediksikan hal ini. Kami sama-sama tahu bahwa James pasti akan membawaku pergi saat Bang Jack kembali. Sebagaimana kami tahu, dia akan membiarkan aku tinggal di apartemen sebab Bang Jack pun sedang tidak berada di Bali. Bahkan dengan baik hatinya, dalam masa kesendirianku itu, James mengizinkan aku untuk mengunjungi Mama setiap hari dengan pengawalan dari para bodyguard-nya.


Aneh, bukan? Kenapa dia sebaik itu kalau tidak ada tujuannya? Pasti dia punya maksud dan tujuan tertentu. Iya, kan?


Yeah, walaupun aku dan Bang Jack berharap kami akan sempat bertemu meski hanya untuk saling melihat satu sama lain, ternyata tidak seperti itu kenyataannya.


Aku mesti menurut saja. James tidak akan punya alasan untuk menyiksaku jika aku menurut padanya.


Well, dari apartemen, James mengajakku ke rumah sakit lagi, bertemu lagi dengan dokter kandungan tempat kami program hamil kemarin. Aku kembali menerima suntikan seperti waktu itu dan berbagai macam jenis obat-obatan. James langsung memintaku untuk meminum obat itu ketika kami kembali ke parkiran.


Lagi-lagi ada obat tidur di antara semua pil itu. Aku terlelap.


Kau tahu, saat aku terbangun, ternyata aku sudah berada di sebuah kamar. Dan seperti biasa: terbungkus selimut, telanjan* dan dipenuhi tanda merah. Kulitku yang mulus kembali dipenuhi jejak-jejak kebuasan seorang James Harding. Cairan putih miliknya pun terasa di antara kedua pahaku. Di permukaan organ kewanitaanku. Lengket.


"Di mana ini? Seperti di kapal? Apa jangan-jangan...? Ya Tuhan, apa-apaan ini?"


Benar. Aku berada di dalam kapal pesiar. Dan ini membuatku kesal. Bisa-bisanya James membawaku berlayar tanpa sepengetahuanku. Namun apalah dayaku. Aku hanya bisa menggerutu dalam hati. Aku yakin, Bang Jack pasti tidak tahu akan keberadaanku di kapal ini. Lalu aku mencari ponselku. Nihil, aku tidak melihatnya di mana pun. Tas tanganku juga tidak ada.


Ceklek!


"Aaaaaa...!" aku berteriak. "Si--si--si--si--siapa? Siapa kalian? Kenapa kalian ada di sini? Cepat keluar!"


Tiga orang pria yang hanya mengenakan celan* *alam ketat masuk ke dalam kamar itu. Dua diantaranya membawa nampan makanan dan minuman di tangan mereka masing-masing. Dan yang satu lagi hanya menunggu di dekat pintu.


Aku ketakutan. Apa jangan-jangan James sudah menjualku? Atau jangan-jangan aku... aku akan digilir? Atau jangan-jangan memang sudah? Tidak. Tidak mungkin. Tidak. Tolong jangan, Tuhan....


Salah satu pria itu tersenyum. "Kami ke sini atas perintah dari Tuan James, Nyonya. Tuan James menyuruh kami untuk melayani Nyonya."


Aku terbelalak dengan mulut menganga. "Biadab! Berengsek! Pergi kalian semua dari sini! Pergi...!"


"Lo? Ada apa, Nyonya?"


"Bedebah kalian!"


"Santai, Nyonya. Nikmati saja pelayanan khusus ini. Oke?"


Berengsek! Mereka semua nyengir seperti orang gila.