
Ada rasa puas ketika melihat para bodyguard yang kami lintasi di area basement ikut panik malihatku yang terkulai lemah. Sama seperti Bang Jack, mereka berpikir bahwa aku sedang sekarat. Dua orang bodyguard bergegas ke arah mobil dan membukakan pintu. Bang Jack membaringkanku di kursi belakang, dia memangku kepalaku, dan kedua bodyguard itu masuk ke bangku depan dan segera melajukan mobil untuk membawaku ke rumah sakit.
"Tetap buka matamu," pinta Bang Jack. "Kamu harus bertahan."
Aku mengantuk. Bagaimana mungkin aku bisa bertahan dari pengaruh obat tidur itu? Tidak bisa, dan aku terlelap. Mataku terpejam dan seketika Bang Jack kembali berteriak memanggil namaku: Rose.
Tetapi saat ini aku ingin menjadi diriku sendiri: Emilia -- seorang gadis yang kuat dan bisa melewati setiap kematian.
Yeah, mana mungkin aku mati. Aku kembali tersadar beberapa jam kemudian. Setelah melewati tidur lelap yang panjang, mataku terbuka dan aku melihat Bang Jack berada di sampingku. Aku terbaring di ranjang rumah sakit.
"Rose, kamu sudah siuman?"
Aku hanya tersenyum, mataku mengerjap mengiyakan.
"Kamu membuatku takut," katanya. Dia menciumi tanganku sambil menangis dan menahan tanganku di pipinya, sementara tangan kanannya membelai wajahku. "Jangan seperti ini lagi," katanya kemudian. "Tolonglah. Aku tidak ingin hidup tanpamu."
Aku menggeleng dan memastikan di sekitar kami tidak ada orang lain, lalu aku berkata: pelan dan nyaris berbisik, "Aku tidak akan mati hanya dengan melukai pergelangan tanganku. Aku tidak memutus urat nadiku. Itu hanya luka kecil."
Praktis, kening Bang Jack mengerut. "Maksudmu?"
"Menurutmu?"
"Aku tidak mengerti."
"Ayolah, Abang, aku tidak mau James mengira kalau aku bahagia selama dia pergi. Abang tahu, kan, kalau James tahu kita bukanlah adik kakak? Dia tahu siapa aku. Dia bahkan tahu namaku Emilia."
Bang Jack menggeleng. "Bagaimana dia bisa tahu?"
"Itu tidak penting. Aku bahkan yakin dia tahu kalau Abang adalah seorang polisi yang menembak ayahnya. Yang aku tidak tahu, kenapa dia tidak langsung membalas kematian ayahnya dan seolah-olah dia belum tahu. Apa rencananya? Apa mungkin hanya demi uang dari bisnis ayahnya? Bisa jadi, kan? Dan kalau memang benar begitu, dia akan menghabisimu setelah dia mendapatkan uang itu darimu."
Lagi. Bang Jack menggeleng. "Bagaimana dia bisa tahu semua hal?"
"Yang pasti bukan dari aku, dan jangan coba-coba mencurigaiku."
Bang Jack terdiam.
"Dunia ini kecil bagi James. Dia bisa melakukan apa pun dengan kekayaan yang dia miliki. Termasuk mencari informasi apa pun yang dia inginkan. Dan, maaf, aku bukannya meremehkan Abang. Tapi Abang tahu, James melakukan semua hal dengan rencana yang sangat matang. Dia selalu dua langkah di depan kita."
Terlalu shock, Bang Jack tidak mampu berpikir jernih saat ini. Aku tahu itu.
"Abang, Abang tahu, aku sangat mencintai Abang. Aku rela melakukan apa pun untukmu. Dan aku janji, aku akan menyelamatkanmu dari James. Abang tidak perlu mengkhianati profesi Abang sebagai seorang polisi. Aku yang akan menghabisi James dengan tanganku sendiri."
Bang Jack kembali menggeleng. Dia meraih tanganku dan menggenggamnya erat-erat. "Tidak," katanya. "Jangan lakukan itu. Kamu gadis yang baik. Tanganmu bukan untuk membunuh. Aku tidak akan membiarkanmu melakukan hal itu."
"Ssst... James datang."
"Selamat malam."
Seorang suster tersenyum ramah. Wajah Bang Jack kembali lega, dan aku ingin tertawa karenanya. Suster masuk ke ruanganku hanya untuk mengecek keadaanku, dan setelahnya, dia langsung keluar, tiba-tiba saja Bang Jack mencubit kedua pipiku dengan gemas. Sayangnya aku mesti menahan tawaku. Sebab, bagi orang lain aku adalah korban depresi yang baru saja mencoba bunuh diri. Bagaimana mungkin pasien sepertiku bisa tertawa terbahak-bahak di ruang rawat rumah sakit? Jadi ya sudahlah.
"Aku lapar. Tolong beri aku makan."
Bang Jack mendengus. "Aku akan memberimu makan," ketusnya. "Tapi tolong, berhentilah bercanda dan berhentilah menakut-nakutiku."
"Baiklah. Tapi izinkan aku kembali pada James. Aku tahu dia pasti akan kembali begitu dia tahu aku mencoba bunuh diri. Dia tidak akan membiarkan aku mati karena dia belum mendapatkan tujuannya. Sementara tujuan kita, aku akan mencapai tujuanku kalau James ada di hadapanku."
Tidak. Tidak semudah itu membuat Bang Jack menyetujui keinginanku. Katanya dia tidak ingin kalau aku berbuat nekat lagi. "Lagipula harusnya kamu memberitahuku apa yang ingin kamu lakukan. Kamu membuatku hilang akal. Aku sangat takut saat melihatmu terluka dan kukira kamu akan mati. Jangan. Jangan coba-coba melakukan hal berbahaya lagi."
Aku nyengir. "Kalau aku memberitahumu, mana mungkin Abang akan setuju. Abang pasti akan mencegahku, ya kan?"
"Rose...."
"Abang...."
"Rose."
"Abang."
"Diamlah. Aku tidak sedang bercanda."
"Wajahmu terlalu tampan untuk marah-marah."
"Tidak lucu! Sangat tidak lucu! Kamu tahu, waktu bercandamu itu tidak tepat. Sama sekali tidak tepat. Mengerti?"
"Oke, oke. Mari, kita bicara serius, izinkan aku untuk ikut menyelamatkan cinta kita, ya? Tolong, aku mohon, demi cinta kita, please...?"
Bang Jack terdiam. Kepalanya menggeleng pelan. Bukan untuk menolak, tapi ia seolah berkata bahwa kekasihnya ini sangat keras kepala dalam menantang maut, atau apa pun yang ia pikirkan di kepalanya. "Memangnya apa rencanamu?"
"Simpel. Andai aku bisa berada di dekatnya, aku akan mencari kesempatan untuk memberinya obat tidur dengan dosis tinggi lalu aku akan merendamnya di bak mandi sampai dia tidak bisa bernapas lagi. Setelah itu aku akan mengembalikannya ke ranjang dan membuatnya terbaring di sampingku. Orang-orang akan berpikir kalau dia meninggal setelah bercinta habis-habisan dengan istrinya."
Oh, aku tidak mengira kalau aku bisa berpikir sejahat ini, bahkan aku merencanakan dan mengatakannya. Bang Jack menelan ludah. Dia yang tadinya duduk di sampingku kini berdiri dan menatapku dengan kening mengerut. "Kamu sudah tidak waras," katanya. "Bagaimana bisa gadis lugu-ku bisa...." Dia kembali menggeleng-gelengkan kepala. "Kamu bukan Rose yang kukenal."
"Memang. Aku Emilia."
Bang Jack hanya terdiam. Ada keterkejutan di dalam dirinya. Dia seperti hendak melontarkan suatu kalimat namun tidak bisa -- tidak tahu harus mengatakan apa.
"Aku bukan Rose. Aku Emilia Fransiska. Gadis yang tidak takut dengan kematian walaupun maut ada di depan mata. Aku Emilia. Aku tidak akan mati dengan mudah walaupun aku sengaja mendekatinya. Tidak ada satu pun orang yang bisa mencegahku. Tidak juga denganmu. Aku sudah mengambil keputusan."
Tidak berkata apa pun, Bang Jack melangkah keluar dari ruang rawatku dan meninggalkanku sendirian. Tetapi kurasa, dia hanya berdiam diri di luar ruangan itu -- untuk menenangkan dirinya sendiri