
Aku dan Jack kembali bertemu pada jam makan malam. Karena kesibukannya tadi siang, dia meninggalkanku lagi di kamar, dan pada jam makan siang sewaktu dia mengantarkan makan siang untukku, aku sedikit mengeluh kepadanya karena dia tidak pernah menemaniku makan. Aku selalu makan sendirian di kamar. Sama seperti di rumah pamanku. Dan karena keluhanku itu, Jack berjanji padaku dia akan mengajakku makan malam bersama, bareng dengan yang lainnya. Saat Jack datang menjemputku ke kamar, aku melonjak kegirangan lalu menyambar tangannya.
"Ayo!" seruku.
Kami ke geladak atas. Di sana sudah ditambahkan beberapa meja dan kursi kayu. Makanan dan minuman terhidang di meja-meja itu. Rupanya Jack dan teman-temannya sedang piknik di pinggir kolam, langit di atas sedang bagus-bagusnya, ditambah lagi pemandangan bulan purnama yang bulat sempurna. Oranye. Indah sekali.
Teman-teman seprofesi Jack belum berkumpul semua. Baru terlihat empat orang.
"Hai, Nona. Selamat malam," sapa salah seorang dari mereka. Ia melambai dari pinggir kolam, satu kakinya masuk ke dalam air, dan dia tersenyum ramah kepadaku. Yang lain pun ikut menyerukan sapaan kepadaku.
Aku balas menyapa dan balas tersenyum. "Aku ingin bergabung di sini. Apa boleh? Kalian tidak keberatan?" tanyaku.
"Tentu saja tidak, Nona," kata yang posisinya paling dekat denganku. "Ayo, silakan duduk di sini." Dia menggeser kursi di sampingnya untukku.
Tetapi Jack melarang. "Kamu duduk di sini," perintahnya, paling ujung, lalu dia duduk di sebelahku. "Awas, ya. Jangan ada yang PDKT dengan adikku atau kutembak kepala kalian."
"Iiiiih... ngeri...," semua berseru kompak, termasuk dua orang yang baru saja datang.
Mereka tertawa dan mulai duduk mengelilingi meja. Jack memperkenalkan nama-nama mereka kepadaku, semuanya berawalan dengan huruf J: Joe, Joshua, Jonathan, Jimmy, dan Jeremy. Angin malam ini tidak kencang. Hawanya tidak begitu panas, juga tidak terlalu dingin. Dan, langitnya memang bagus. Dari jauh aku bisa melihat bulan yang berbentuk bulat melingkar sempurna. Bersinar dengan terang.
Satu orang lagi teman Jack, Jefry, muncul dari arah tangga, Jack dan yang lain mengolok-ngoloknya karena dia mandinya lama sekali. Seperti anak perawan.
Setelah semua orang berkumpul, makan malam pun dimulai. Semuanya menyantap makan malam yang lezat itu dengan lahap. Aku sampai kekenyangan dan merasa perlu bersandar di kursi santai untuk menurunkan makanan di perut. Dua orang teman Jack bermain catur, dua orang jadi penonton, dan dua orang lagi merokok dan bersantai di tangga besi di pinggir kapal.
"Omong-omong," kataku agak berbisik pada Jack yang duduk di sampingku, "aku bisa masak seenak masakan juru masak itu. Kapan-kapan, akan kumasakkan makanan untukmu, emm... sebagai ucapan terima kasih karena kamu sudah sangat baik padaku. Tapi nanti, setelah aku punya tempat tinggal dan punya dapur sendiri. Aku tidak akan pernah melupakan kebaikanmu."
Jack hanya menyimak celotehanku sambil meneguk bir kaleng di tangannya.
"Kenapa? Kamu tidak mau? Atau kamu tidak percaya kalau aku bisa masak enak? Iya?" tanyaku.
Jack menggeleng. "Tidak, kok. Aku percaya," katanya.
"Lalu?"
"Kamu tidak akan pergi ke mana-mana."
"Eh? Kok? Maksudnya bagaimana?"
"Kamu akan tinggal di rumahku. Kamu bisa masak dan melakukan apa pun sesukamu. Dengan catatan, jangan pernah keluar dari rumah karena kamu mesti bersembunyi. Kamu bisa keluar hanya di saat aku bersamamu. Dan itu pun mesti dengan penyamaran. Paham, Rose Peterson?"
Ya Tuhan, aku tercengang. "Kamu terlalu baik. Masa aku harus selalu merepotkanmu? Aku... aku juga mesti mandiri, kan? Aku mesti bekerja, mesti cari uang sendiri, dan aku... aku...."
"Tolong jangan membantahku, Rose. Aku yang bertanggung jawab atas keselamatanmu."
Well, sepertinya ada pesan masuk di ponsel Jack, ia meraih dan membacanya, kemudian ia berdiri dan berpaling kepadaku. "Aku ke bawah dulu, ada yang mesti kukerjakan. Kamu tunggu di sini. Aku hanya sebentar."
"Baiklah."
"Jangan ke mana-mana. Dengarkan perintahku."
"Iya... Abang Jack-ku tersayang...."
"Bagus. Jangan membantah." Lalu dia memanggil nama Joe. "Titip adikku sebentar," teriaknya.
Joe yang kini tengah membantu Jimmy memindahkan meja-meja ke pojokan segera mengangkat tangan kanan, membulatkan ibu jari dan telunjuk sebagai jawaban oke, kemudian Jack turun cepat-cepat.
Sepeninggal Jack, aku berjalan ke pinggir kapal, ke tempat tadi Joe dan Jimmy bergelayutan di tangga besi.
"Hati-hati, Nona! Awas terjatuh," seru Joe kepadaku.
Aku hanya mengangguk lalu naik ke tangga besi itu, memperhatikan sekeliling. Tidak ada yang menarik selain merasakan angin yang berembus membelai wajahku. Semuanya gelap. Laut di bawah hitam dan aku hanya bisa melihat riak-riak ombak yang diciptakan oleh kapal yang sedang melaju. Tapi kuakui, angin malam itu menyejukkan, dan aku menyukainya. Kurentangkan kedua tanganku seperti yang dilakukan oleh Rose si bintang film Titanic, merasakan sentuhan angin membelai wajahku sambil mengingat kenekatanku kemarin yang melompat ke laut tanpa rasa takut. Sementara saat ini, bersama Jack, aku ingin percaya padanya sepenuh hati. Aku tidak akan melompat ke laut. Dan selagi aku melongo ke bawah, tiba-tiba...
"Rose...!"
Suara Jack yang berteriak di belakang sana membuatku tersentak. Aku kaget, dan...
Kehilangan keseimbangan.
Semua orang menoleh dan berlari ke arahku, namun sebelum satu pun dari mereka berhasil mencapaiku, aku sudah keburu jatuh.
"Hentikan kapalnya! Hentikan kapalnya! Suruh nakhoda menghentikan kapalnya!" teriak Jack.
Aku masih bisa mendengar suara-suara terikan sebelum tubuhku masuk ke air, menimbulkan deburan keras. Sekarang aku merasakan lagi air laut yang dingin dan sangat asin itu. Aku menendang-nendang air, mencoba muncul ke permukaan.
Aku megap-megap, tak bisa bernapas. Mulutku dipenuhi air asin dan mataku tak bisa melihat apa-apa di dalam air yang gelap. Dan kali ini entah kenapa aku ketakutan. Sepertinya aku sudah tenggelam beberapa meter.
Aku berjuang, berjuang supaya bisa kembali muncul ke permukaan, tapi kakiku kali ini tak mampu kompromi. Akhirnya aku tersedak di dalam air, membuat air asin tertelan semakin banyak. Hidungku menghirup air dan tubuhku lemas, tak bergerak. Aku merasakan kekosongan hampa, seolah melayang, dan kali ini wajah Jack yang terlintas di benakku. Tetapi...
Bukan. Bukan sekadar terlintas, tapi dia benar-benar ada di sana. Di dalam air. Bersamaku. Dia langsung melompat ke bawah dengan senter di kepala, mencariku.
Akhirnya, setelah beberapa menit yang terasa sangat panjang, Jack melihatku. Tubuhku melayang-layang di dalam air beberapa meter di bawahnya. Dia cepat-cepat berenang ke arahku, meraih pinggangku dan berusaha sekuat tenaga membawaku ke permukaan.
Sekali lagi, seorang Jack Peterson menyelamatkan hidupku.