
Percuma, serapat apa pun aku menutup mata dan telinga, *rangan si gadis penghibur itu tetap saja terdengar di telingaku dan terbayang dalam benakku. Pada awal-awalnya memang berupa *rangan kenikmatan karena ia beradu dengan lelaki-lelaki kekar. Namun setelah menit demi menit berlalu, *rangan itu berubah menjadi rintihan kesakitan. Hatiku ikut sakit mendengarnya, dan aku merasakan ngilu yang sama meski bukan aku yang tersentuh. Tapi James masa bodoh. Barangkali, meskipun organ-organ dalam di dalam tubuh gadis itu sampai rusak atau bahkan gadis itu mati sekalipun, mungkin James juga tidak akan peduli. Dia fokus dengan ponselnya dan sesekali menoleh kepadaku: tersenyum senang.
"Tuan," gadis itu bicara, suaranya serak dan lemah. "Saya tidak sanggup lagi, Tuan."
Dengan takut, aku berpaling ke arahnya, satu pria berada di antara kedua kakinya, gagah di dalamnya, sementara dua pria lainnya ada di sisi kanan dan kiri dadanya: memangsa buas dengan mulut, gigi, dan cengkeraman tangannya. Pasti sakit sekali rasanya. Gadis itu kelelahan, terlihat jelas di wajahnya kalau dia sudah tidak mampu menahan jamahan yang menyakitkan itu.
"Tolong hentikan, Tuan. Sudah cukup," pintanya.
Oh Tuhan, aku merasa sangat bersalah. Ini semua gara-gara aku. Dengan takut, aku memeluk James. Menyembunyikan wajahku di dadanya. Menangis, memohon. "Tolong, hentikan ini," pintaku. "Kasihan dia. Aku mohon. Ampuni aku. Aku janji aku tidak akan menolakmu lagi. Aku janji, My James."
"Benar? Sekali pun tidak akan lagi?"
Aku mengangguk-angguk. "Ya," kataku. "Tidak akan. Satu kali pun tidak akan lagi. Aku janji. Aku bersumpah. Aku tidak akan menolak apa pun kemauanmu. Aku janji, My James. Aku janji. Tolong bebaskan dia. Tolong...." Aku tidak mau orang lain tersakiti apalagi mati gara-gara aku.
"Baiklah. Hentikan!" perintah James kepada para anak buahnya itu. "Bawa dia pergi."
Mereka mengangguk, bangkit dari posisi masing-masing lalu mereka mengangkat tubuh gadis yang sudah lemah itu. Lunglai tak berdaya.
"Kasihan?" tanya James.
Aku mengangguk.
"Hatimu lembut, ya. Tapi sayang, hatimu keras terhadapku."
Aku menggeleng, aku khawatir kejadian seperti tadi akan kembali terulang. "Aku... aku akan belajar melunak. Akan kuusahakan. Aku janji."
"Well, kenapa tidak membuktikannya saja sekarang?"
Sejujurnya aku tertegun, mataku terpentang lebar, tapi aku sadar dan buru-buru mengatasi diriku. Akhirnya aku mengangguk. "Kamu mau aku melakukan apa? Akan kulakukan."
"O ya? Tapi aku sedang tidak kepingin. Aku masih kesal padamu."
Hmm... menyebalkan sekali pria itu. Dia justru merebahkan tubuh dan berbaring dengan kedua tangan terlipat di bawah kepala. "Lalu sekarang aku harus melakukan apa untuk meredam rasa kesalmu?"
"Bagaimana kalau dengan menari?"
"Apa?"
"Yeah, menari. *rotis."
"Tapi aku tidak bisa, My James."
"Kamu ingin menolak lagi? Hmm?"
"Lalu, apa kamu punya ide, bagaimana caranya untuk meredam rasa kesalku?"
Menggeleng. Mana aku tahu....
James berpikir sejenak, lalu dia tersenyum semringah. Aku tahu, pikiran licik sudah terbersit di otaknya. Dengan cepat, ia pun bangkit dari posisinya, duduk dan menjangkau pulpen dari atas meja. "Sini." Dia menepuk-nepuk permukaan tempat tidur, menyuruhku duduk di hadapannya. Memunggunginya.
Aku menurut. Mau apa, sih, dia? Kamu membuatku takut, James. Aku takut....
"Aku ingin menulis di sini," katanya. "Mengukir namaku. Mr. Harding."
Ukh!
Mati-matian aku menahan geli dari mata pena yang menelusuri kulitku. Aku ingin menahannya, tapi gagal. Aku menggelia*, tak mampu menahan rasa geli itu. "Geli, ya? Hmm?"
Aku mengangguk. "Ya, ini sangat geli."
"Tapi aku suka. Kamu terlihat menggairahkan kalau begini."
Euw! Kamu benar-benar menyebalkan, tahu....
"Sayang?"
"Ya?"
"Aku jadi kepikiran mau mengukir tatto di sini."
"Apa?" sontak aku terkejut.
"Jangan menolakku, Sayang."
"Iy--iya. Maaf. Maaf, My James."
"Ya. Tapi sepertinya mending di dadamu."
"Apa?"
"Jangan menolakku, Sayang."
Argh!
"Oh, atau di bawah pusarmu? Atau di paha? Atau di semua tempat? Bagaimana? Bagus, kan? Supaya kamu selalu ingat, kamu itu milikku. Milik Mr. Harding, ya kan, Sayang?"