Jack Bodyguard Sexy

Jack Bodyguard Sexy
Tak Sesuai Harapan


Tidak ada kabar. Tidak ada telepon atau pesan apa pun di ponselku saat aku terbangun pada keesokan paginya. Waktu itu subuh masih pekat. Jam di dinding baru menunjukkan pukul empat pagi waktu setempat. Itu berarti di Bali baru pukul dua pagi.


Kalau Bang Jack dan tim-nya sudah melakukan penggerebekan sesuai rencana mereka, seharusnya sudah ada kabar kalau Bang Jack berhasil menjalankan misinya. Tapi ini? Apa mereka tidak jadi bergerak? Atau misi Bang Jack tidak berhasil? Atau... tidak. Tidak mungkin Bang Jack kenapa-kenapa. Tidak mungkin. Jangan, Tuhan... please, jangan....


Ceklek!


Pintu kamarku terbuka.


"James?"


Aku terbelalak. Seketika perasaan dilema itu kembali hadir di pagi buta itu ketika aku melihat James masuk ke dalam kamarku. Aku yang baru saja bangun tidur beberapa menit yang lalu langsung menggosok-gosok mata untuk meyakinkan diriku bahwa aku tidak salah lihat.


Yeah, aku tidak salah lihat. James masuk ke kamarku. Aku dilema. Di satu sisi ada sedikit perasaan senang bahwa pria itu masih hidup, tapi di sisi lain, aku ketakutan: aku takut kalau itu berarti terjadi sesuatu yang buruk pada Bang Jack.


"Rose...," suara James kembali menarik perhatianku.


Aku tertegun. Pria itu berjalan dengan wajah lesu. Dia menghampiriku yang masih duduk di atas ranjang. Kemudian, ia duduk bertekuk lutut di lantai lalu ia menumpangkan kepalanya di atas pangkuanku. Menangis.


"My...? My James, ada apa? Kamu kenapa?"


Tidak ada jawaban.


Aku gelisah. Aku cemas. Tolong, jangan memberiku kabar buruk tentang Bang Jack. Tolong jangan. "My James, tolong bicara." Air mataku mulai menggenang. "Ada apa? Jangan membuatku takut."


Ya Tuhan... aku serba salah. Aku ingin mencecarnya dengan berbagai pertanyaan, tapi aku takut dia akan merasa kalau aku tidak pengertian dan justru akan menghukumku. Tapi kalau terus diam begini? Aku tidak bisa tenang. Akhirnya aku ikut menangis. "Ada hal yang terjadi? Beritahu aku, cerita padaku, My James. Apa yang terjadi?"


"Papa."


"Papa? Kenap--kenapa dengan Papa?"


"Papa meninggal."


"Apa?"


"Papa tewas tertembak dalam penggerebekan semalam."


Aku meneguk ludah. Ketakutan. Berpura-puralah kalau kau tidak tahu apa pun, Rose. "Penggerebekan... polisi? Kok...? Kok bisa ada penggerebekan?"


"Tidak tahu. Mungkin ada yang menyampaikan informasi soal pesta itu kepada pihak berwajib. Tetapi, seharusnya, seharusnya mereka tidak bisa main tembak begitu saja. Papa tidak mungkin melakukan penyerangan. Harusnya Papa hanya diringkus dan dimintai keterangan. Kalau dia tidak terbukti bersalah, dia bisa bebas. Tapi Papa malah kena tembakan. Pasti para polisi itu sengaja mengintai nyawa Papa. Kalau aku tidak meninggalkan pesta, mungkin aku juga akan jadi sasaran mereka. Mungkin aku juga akan mati."


Oh Tuhan, kenapa jadi begini?


"Ternyata... ternyata itu yang membuat perasaanku tidak enak sepanjang hari. Aku kehilangan Papa, Rose. Harusnya aku tidak meninggalkan pesta itu, mungkin aku bisa menyelamatkan Papa. Tapi aku... aku malah membeli tiket pulang ke Australi. Begitu aku tiba di sini, aku mengaktifkan ponselku, aku malah mendapat kabar... Papa... Papa... dia... dia tewas. Dia tewas, Rose. Aku kehilangan Papa."


Aku harus mengatakan apa sekarang? Aku tahu siapa dalang dari semua ini, tapi... ya Tuhan... kenapa aku terperangkap dalam masalah sepelik ini...?