
"Oke. Sekarang serius, kamu mau tanya apa?"
"Tentang kalian. Terutama tentang bos kalian, apa pekerjaannya?"
"Banyak, sih. Yang jelas dia seorang pembisnis. Bisnis utamanya perhotelan dan tempat karaoke."
"Kalau yang lainnya? Maksudku, pekerjaan apa yang mengharuskan punya banyak anak buah seperti kalian?"
Jack tampak berpikir-pikir sejenak. "Ada banyak bisnis lain. Keluarga mereka memerlukan banyak bodyguard untuk berjaga-jaga."
"Berjaga-jaga dari apa? Menurutku, yang butuh bodyguard itu kalau profesi kita terancam bahaya. Maksudku... ya kamu mengerti, kan?"
Jack hanya mengangguk.
"Oh, ayolah. Beritahu aku, sebenarnya apa pekerjaan lainnya?"
Jack kembali berpikir sementara aku memandangnya dengan penuh harap, membuat Jack sedikit risih. "Dia semacam bandar," katanya. "Dia juga pemilik klub malam, diskotik."
"Bandar judi?"
"Bagaimana kamu tahu?"
"Aku hanya menebak. Pasti bandar judi besar, ya?"
Jack mengangguk. "Sebenarnya aku tidak boleh menceritakan hal ini--"
"Tenang saja. Aku tidak akan bicara pada siapa pun. Kan aku sekarang berstatus sebagai adikmu."
Lagi, Jack mengangguk. "Hotel itu berkelas. Tapi tidak akan peduli yang check in itu pasangan legal atau bukan. Dan kebanyakan di antara mereka bukanlah pasangan yang legal. Pelanggan hotel itu kebanyakan orang-orang dari kelas atas yang menghabiskan waktu untuk berbuat mesum. Seperti dari kalangan pengusaha, pengacara, polisi, bahkan oknum pejabat negara. Tidak semua orang dari kalangan atas itu bersih. Tapi tidak semua kotor. Namanya juga manusia, kan? Ada bermacam-macam jenisnya. Orang-orang yang tidak cukup hanya dengan satu wanita. Candu mencoba yang lain, selingkuh sana sini, dan lain-lain. Apa pun faktor yang mendasarinya."
"Hanya itu? Itu tidak terlalu mengecam, sih, menurutku. Pasti ada lagi bisnis lain. Hmm? Ceritakan padaku."
Jack mengangguk lagi. "Bos memiliki sebuah rumah besar yang dijadikan tempat judi. Dia bekerja sama dengan temannya dari Las Vegas membuka tempat perjudian, seperti yang ada di film-film. Rumah itu sangat besar. Tiga tingkat. Tingkat satu untuk tempat tinggal keluarga dan para pekerja yang dipercaya untuk mengurus rumah itu. Tingkat dua untuk meja-meja judi, rolet, biliar, dan sebangsa itu. Dan tingkat tiganya...."
"Apa?" tanyaku, berusaha mengorek keterangan lebih lengkap.
Jack memandangku beberapa saat, dan kelihatan resah lagi. "Umurmu sudah cukup dewasa," katanya lagi. "Mungkin kamu bisa menebaknya. Tapi... aku harap, kalau kamu tahu aktivitas yang ada di tingkat tiga itu, aku harap pandanganmu padaku tidak akan berubah. Aku hanya seorang bodyguard. Tidak lebih."
"Apakah lantai tiga itu tempat... rumah bordil? Tempat... mesum? PSK? Pijat plus-plus?" tanyaku hati-hati, sedikit waspada.
Jack mengangguk, dan aku sedikit tersentak.
"Tapi aku tidak akan membawamu ke sana." Jack melorot ke lantai, berjongkok lutut di hadapanku dengan kedua tangan gemetar, dia menggenggamku begitu kuat. "Aku tidak akan menjualmu apalagi menjadikanmu pelacur. Aku hanya seorang bodyguard. Please, percaya padaku? Aku ingin menjagamu."
Hmm... dia memandangku dengan sorot mata penuh harap.
"Rose, please, percaya padaku, ya? Aku menyebutmu sebagai keluargaku supaya tidak ada satu orang pun yang berusaha mengajakmu untuk terjun ke bisnis hitam itu. Please? Aku menganggapmu seperti keluargaku sendiri. Aku memberitahumu soal ini bukan untuk membuatmu takut. Aku hanya tidak ingin menutupi siapa aku yang sebenarnya. Supaya kamu tahu siapa aku dari diriku sendiri. Bukan tahu dari orang lain."
Jujur aku shock mendengar penuturan Jack. Aku yang berusaha mati-matian menghindari lubang kenistaan itu, sekarang malah menghampirinya lagi. Malah berada di sini lagi.
Tapi tidak. Mungkin saja dia jujur kepadaku. Mungkin saja benar dia tidak akan menjualku. Aku hanya parno. Sekarang aku mesti tenang. Kuhela napas dalam-dalam dan berusaha menerima penjelasan Jack. Well, tidak perlu melompat ke laut. Rileks. Aku bisa. Aku pasti bisa tenang.
"Rose?"
Aku mengangguk. "Aku ingin kembali ke kamar," kataku. "Aku ingin istirahat."
"Baiklah. Ayo, biar kuantar ke kamar." Jack berdiri dan aku mengikutinya. Dia mengantarku sampai ke kamar, memastikan aku istirahat di tempat tidur, kemudian ia berdiri. "Jangan berkeliaran sendirian. Kamu tidak boleh keluar tanpa aku, oke?"
Tapi aku diam saja, membuat ia kembali resah, lalu...
Ya Tuhan, erat sekali, seakan aku bisa remuk dalam pelukannya.
"Aku akan selalu melindungimu. Aku tidak akan membiarkanmu celaka lagi. Biarkan aku menjagamu, Rose. Biarkan aku selalu di sisimu."
Bergidik. Aku merasakan sesuatu yang aneh, seakan-akan Jack bukan bicara padaku. Seperti... mungkin dengan adiknya, Rose Peterson yang asli, atau...?
Aku berdeham sehingga Jack melepaskan pelukannya dariku. "Aku tidak akan ke mana-mana," kataku.
Jack mengangguk dan berusaha menyembunyikan wajahnya, mungkin malu karena tampak kerisauan di wajah itu -- yang sama sekali tidak cocok dengan profesinya, terlebih tidak cocok dengan karakter dan image yang mesti ia jaga. Seorang bodyguard tidak boleh terlihat lemah, apalagi terlihat cengeng.
"Istirahatlah. Aku mesti ke geladak bawah dan mesti mengecek nakhoda."
"Kenapa dengan nakhoda? Kenapa harus diperiksa?" tanyaku heran.
"Tidak apa-apa. Hanya harus memastikan ia bekerja dengan benar dan membawa kapal ini ke arah yang benar."
Aku hanya mengangguk. Itu bukan urusanku, pikirku.
"Istirahat, ya. Nanti aku ke sini lagi."
"Baiklah. Tapi omong-omong...."
"Apa?"
"Jangan terlalu perhatian kepadaku. Nanti ada yang cemburu."
"Siapa? Pacarmu? Kamu tidak mungkin punya pacar, ya kan?"
Eh?
"Jangan meledekku. Maksudku pacarmu, nanti dia cemburu, lo."
Jack menggeleng. "Kurasa itu tidak mungkin," sahutnya lirih, suaranya terdengar sedih. "Justru... dia pasti senang. Dia akan tersenyum melihatku dari atas sana."
"Oh...." Aku tertegun. "Dia... emm kekasihmu... sudah meninggal?"
Jack menunduk, dan mengangguk. "Sudah cukup lama."
"Oh, maaf."
"Em, tidak perlu meminta maaf."
"Aku menyinggung hal yang membuatmu sedih. Aku tidak tahu kalau...."
"Tidak apa-apa, kok. Kenyataannya memang begitu. Aku memang sedih saat menyadari ia sudah tiada. Tapi, toh, aku tidak bisa melakukan apa pun supaya ia kembali hidup. Setiap manusia pasti akan mati, bukan?"
Aku mengangguk. Itu benar. Setiap manusia akan mati, hanya menunggu giliran. Cepat atau lambat, semua akan mengalaminya. "Emm... memangnya... aku boleh tahu, dia meninggal kenapa?"
"Dia...." Kaku, Jack seperti kesulitan bicara. Dia menggeleng, lalu berkata, "Dia sakit. Dia sudah lama menderita leukemia. Kondisinya semakin parah, sampai akhirnya dia tidak bisa tertolong. Tapi sudahlah, dia sudah bahagia di atas sana. Dia juga ingin aku hidup dengan baik, dan... bahagia di sini. Itu permintaan terakhirnya."
Aku tersenyum. "Kamu lelaki yang tegar," kataku. "Kamu tangguh."
"Karena itulah aku menjadi seorang bodyguard. Kalau aku lemah, mana bisa aku menjadi seorang bodyguard, ya kan?"
Yeah, apalagi untuk menjagaku. Kamu harus tangguh dalam segala asfek. Segalanya, tak terkecuali...
Apa coba?