
Setelah semua yang kudengar, penderitaan malam itu tentu saja belum usai. James menaruh ponselnya setelah menutup telepon itu. Dengan posisi berbaring miring membelakanginya, aku bisa merasakan James berjalan mendekat ke ranjang, dan itu bertambah jelas ketika busa permukaan ranjang terhenyak oleh bobot tubuhnya yang berat, dan dalam hitungan detik, ia sudah ada di belakangku, membuka selimutku lalu menelusurkan jemarinya di lekuk pinggang hingga ke pahaku. Dan dalam detik berikutnya, gaunku pun tersingkap.
"Gadis perawanku yang cantik," ia bergumam dalam keheningan malam. "Sungguh aku mengagumi kecantikanmu, Sayang. Tapi sungguh sangat disayangkan, sulit sekali bagiku untuk meluluhkan hatimu. Bahkan tidak dengan kekayaan yang kupunya. Tapi tidak apa-apa. It's ok. Sekarang mari kita cari tahu, apakah meluluhkan hatimu itu sesulit pria lain untuk mengambil keperawananmu? Dan aku akan mendapatkan jawaban itu. Sekarang juga. Yeah, sekarang...."
Ya Tuhan, James menyelipkan jarinya. Bertahan, Rose. Bertahan. Jangan bereaksi, please... jangan....
Tapi nyatanya aku tidak tahan, aku mendesis, mengeran* tertahan karena sentuhannya. Aku tahu, dia sudah mendapatkan jawabannya. Dan sekarang...
Apa yang akan ia lakukan padaku?
"Ya ampun, gadis ini tidak meminum obat tidurnya. Baiklah, maaf kalau aku akan membuatmu terbangun."
Aku memang belum tidur, Sialan....
Aku terlentang. Walau dengan mata tertutup, aku bisa merasakan wajah pria itu sekarang hanya beberapa senti di atasku.
"Cukup lama aku menahan diri," ia kembali bergumam, dan sekarang ia berbaring rapat di sampingku. Tangannya aktif menurunkan ritsleting di bagian dadaku lalu menyelinap ke balik gaun tidurku. "Berhari-hari, Rose. Berhari-hari hasratku tertahan. Tapi sekarang kita bersama lagi. Demi Tuhan, aku sangat merindukanmu. Aku tersiksa saat aku jauh darimu, tapi aku lebih tersiksa lagi di saat aku bersamamu. Entah kapan aku bisa merasakan manismu seutuhnya. Meskipun aku tahu, kau juga memiliki racun yang pahit untukku. Kau jinak, tapi kau berbisa."
Apa maksud perkataanmu? Kau seperti seorang pujangga, kata-katamu dalam dan bermakna, sulit untuk kutebak maksudmu yang sebenarnya. Tapi aku tahu, semua ini dilandasi karena kau mengetahui hubungan antara aku dan Bang Jack.
Aku mendengar, aku menyimak, tapi aku tidak mengerti maksud James yang sesungguhnya: kenapa dia menyebutku memiliki racun? Kenapa dia menyebutku berbisa? Aku tidak mengerti.
"Ouch!"
Sialan! Dia mencengkeram kuat dadaku hingga aku refleks memekik.
"Kamu terbangun? Kamu tidak meminum obat tidurmu? Atau kamu hanya pura-pura tertidur? Hmm?"
Menakutkan. James yang pertama kukenal kini kembali hadir di hadapanku. Dia bicara begitu pelan, begitu lembut, namun ancaman dalam nada bicaranya jelas terdengar -- lagi, seperti waktu itu.
"Aku...."
"My James...."
"Mmm-hmm...."
"Aku...."
"Ya, Sayang? Katakan, ada apa?"
"Aku... maaf. Aku...."
"Kamu tidak meminum obat tidurmu?"
"Ti--ti--tidak. Aku--"
"Lupa? Lupa, kan, Sayang?"
"I...iya. Iya, aku lupa."
"Baiklah kalau begitu. Tidak apa-apa."
Dalam satu gerakan cepat, James bangkit dan turun dari ranjang. Dari atas nakas, pria itu meraih tas tanganku lalu ia mengeluarkan obat tidurku dan mengambil sebotol air mineral.
"Tapi kupikir nanti saja."
Argh!
Dasar pria tidak waras! James menaruh kembali kedua benda yang ada di tangannya itu dan dia tersenyum. Senyuman yang enggan sirna. Tidak untuk saat ini dan tidak untuk sepanjang malam ini. Selagi matanya terbuka, sepertinya dia tidak akan mengenyahkan senyuman itu dari wajahnya. Berbeda denganku, aku yang sekarang sudah duduk di tepi ranjang seketika cemas melihat pria itu yang sekarang berlipat lutut dan duduk di hadapanku.
Mau apa dia?