
"Aku tidak tahu harus mengatakan apa. Aku tahu kamu saat ini sangat berduka. Tapi, My James, satu hal yang pasti, kita harus merelakannya. Kamu harus merelakan Tuan Johnson... maksudku... Papa. Kamu harus merelakan Papa. Maaf kalau kata-kataku ini salah. Tapi memang kita harus menghadapi kenyataan, ya kan? Aku sangat mengerti bagaimana perasaanmu sekarang. Aku juga pernah ada di posisi seperti ini. Aku juga sudah kehilangan ayahku. Jadi, please... kamu yang tabah. Kamu ikhlaskan Papa, ya?"
James mengangguk, lalu dia mendongak. "Aku akan berusaha merelakannya. Kamu temani aku, ya? Temani aku menghadapi semua ini. Aku cuma punya kamu, aku tidak punya siapa-siapa lagi. Cuma kamu, Rose. Cuma kamu yang aku punya. Jangan pernah pergi, jangan pernah meninggalkan aku, tolong?"
Aku kasihan padamu, James. Entah kamu berbohong atau tidak. Entah kamu punya istri yang lain atau tidak. Tapi melihatmu seperti ini, aku merasa kasihan. Tapi aku tidak bisa berjanji.
"Rose?"
"Aku...."
"Aku mohon, jangan pernah meninggalkan aku, aku mohon?"
Terpaksa, aku mengangguk.
"Terima kasih, Rose. Terima kasih, Sayang." James mendekapku erat-erat. "Mungkin ini kenapa akhir-akhir ini aku selalu berpikir ingin segera memiliki anak. Supaya aku punya keluarga, supaya aku tidak sebatang kara lagi."
Ya Tuhan... sebenarnya pria ini sedang berpura-pura atau tidak? Kenapa semua ini tampak meyakinkankan? Kalau dia tidak berpura-pura, lalu suara wanita waktu itu, siapa dia? Suara tangisan bayi waktu itu, anak siapa itu? Aku bingung, Tuhan....
"Rose, aku harus pulang ke Indonesia." James melepaskan pelukannya, lalu ia kembali menatapku dengan senduh. "Aku harus mengurus jenazah Papa. Kamu...."
Aku menggeleng-geleng, tidak mau ditinggalkan di Australia lebih lama lagi. "Aku ikut pulang, ya? Bulan madu kita sudah selesai, kan?"
James berpikir sejenak, lalu mengangguk-angguk. "Baiklah, kita siap-siap. Aku akan beli tiket penerbangan tercepat."
"Ya," kataku.
James bangkit, pun aku. Aku segera pergi ke kamar mandi dan menyiapkan air hangat untuk kami mandi. Selagi menunggu air bak penuh, aku keluar dan menyiapkan pakaian ganti dan menaruhnya ke gantungan di dekat meja rias lalu merapikan tempat tidur.
"Sayang?"
"Emm?"
"Boleh minta tolong buatkan aku kopi?" pintanya, suaranya terdengar sangat lirih. Dia sekarang duduk bersandar di sofa dengan ponsel di dalam genggaman tangannya.
Hmm... rasanya aneh mendengar James bicara selembut dan setulus itu. Aku mengangguk. "Ya. Aku buatkan sekarang, ya."
"Terima kasih, Sayang." Dia tersenyum tulus.
Dia mengucapkan terima kasih sekali lagi, lalu menuangkan kopinya ke piring kecil dan meminumnya perlahan. James memang seperti itu, dia tidak meniup kopinya, untuk mengurangi panasnya, dia menuangkannya ke piring tatakan cangkir dulu baru meminumnya dari piring itu. Sekarang James sudah nampak santai dan menurutku dia sedang berusaha menerima semua hal yang sekarang terjadi di dalam hidupnya.
"Ada lagi yang kamu butuhkan?"
"Tidak ada." Dia menggeleng.
"Kalau begitu aku mandi duluan--"
"Kita mandi bareng, ya? Aku sedang tidak mau sendiri. Boleh, kan?"
Hmm... kenapa dia sekarang jadi selembut ini? Kenapa apa-apa jadi meminta izin dulu? Kamu sekarang jadi aneh.
"Rose, boleh?"
"Ya. Boleh."
"Terima kasih." James menghabiskan kopi yang baru ia tuangkan ke piring lalu bangkit dari duduknya dan menggandeng tanganku ke kamar mandi.
Kamu aneh, kenapa kamu jadi selembut ini? Tapi sudahlah. Mungkin karena kamu dalam keadaan berduka, makanya kamu jadi aneh begini.
"Rose," kata James sewaktu kami sudah berada di dalam kamar mandi, dia sudah melepaskan kausnya dan menarikku ke depan wastafel.
Deg!
"Aku sangat mencintaimu," bisiknya. Lalu dia mencium hidungku, kemudian bibirku. Ciuman yang begitu lembut. Dia tersenyum, dan menatapku begitu dalam.
Jangan bilang kamu mau berhubungan intim denganku sekarang.
"Rose?"
"Emm?"
"Aku ingin berubah. Aku ingin menjadi pribadi yang lebih baik. Yang pasti aku ingin menjadi suami yang baik untukmu. Aku tidak sekadar ingin menjalani pernikahan ini denganmu. Tapi juga ingin... aku ingin mendapatkan hatimu sepenuhnya. Aku ingin kamu juga mencintaiku. Aku akan berusaha untuk itu, aku akan berjuang untuk mendapatkan hatimu. Aku janji, aku akan bersikap lebih baik. Tapi kamu juga janji, ya, kamu harus selalu setia kepadaku. Jangan pernah mengkhianatiku. Please, berjanjilah?"