Jack Bodyguard Sexy

Jack Bodyguard Sexy
Sayang?


Jack terbatuk-batuk sebentar saat kami muncul di permukaan, lalu dia membawaku berenang ke pintu masuk geladak, tempat mobil masuk. Pintunya sudah terbuka, disangga dengan rantai besar. Semua orang berkerumun di sana. Lampu sorot dari geladak atas tetap menyorot ke arah kami.


"Turunkan sekoci!" teriak Joe.


Jefry dan Jeremy menurunkan sekoci saat Jack mendekati mereka. Dia meraih sekoci dan menaikkan tubuhku, kemudian menyusul naik sekoci.


Yap, sebenarnya aku tidak tahu bagaimana kronologi penyelamatanku ini, aku tidak mengingatnya dengan jelas, tapi Jack menceritakannya kepadaku. Katanya, kondisiku sangat memprihatinkan. Dia sampai ngeri melihat wajahku yang berubah jadi biru keunguan. Aku tak sadarkan diri. Sementara sekoci itu ditarik ke atas dengan rantai yang dipasang di kanan kirinya, Jack membuka mulutku dan memberiku napas buatan. Ia menekan-nekan perut dan dadaku berkali-kali.


"Ayo, Rose, bernapas! Bernapaslah!" sengal Jack, dia kembali memberiku napas buatan. Tapi katanya aku tetap tidak bergerak, membuat dirinya sangat ketakutan.


Jack menekan-nekan perutku lagi, memberiku napas buatan berkali-kali, dan, oh syukurlah, aku terbatuk, air asin muncrat dari mulutku. Tepat di saat itu kami tiba di pintu geladak. Semua orang menunggu cemas di sana, termasuk si juru masak, pelayan, dan penjaga kapal.


Jefry dan Jeremy menarik sekoci, mendaratkannya hati-hati di lantai geladak, sementara Joe dan Jimmy sigap melepaskan rantainya. Di geladak paling atas, lampu-lampu sorot dimatikan, dan sebagai gantinya lampu geladak bawah menyala terang benderang.


"Dia sudah sadar!" teriak beberapa orang yang sudah bisa kudengar kembali.


Aku selamat.


"Rose, buka matamu," bisik Jack. "Buka matamu, Rose. Kumohon...."


Aku masih terbatuk-batuk dengan wajah yang benar-benar pucat. Aku membuka mata dan memandang Jack yang membungkuk di atasku dengan tidak fokus.


"Bang... Bang Jack...," kataku lemah.


"Apa?" tanyanya, dia membungkuk lebih rendah agar dapat mendengar lebih jelas.


"Di... dingin... aku... aku tidak kuat," kataku gemetar. Lalu, kepalaku terkulai. Pingsan.


"Dia pingsan." Jack melompat dari sekoci. Diraihnya tubuhku dalam gendongannya dan dibawanya menaiki tangga. "Siapkan minuman hangat!" perintahnya pada orang-orang yang mengikuti dengan cemas.


Tapi, yang bergerak ke dapur hanya pelayan, sementara yang lain tetap mengikuti sampai ke depan kamar.


"Tunggu di luar!" bentak Jack seraya membanting pintu kamarku di depan semua temannya, lalu dia membaringkanku di sofa.


Dan katanya, dia kebingungan bagaimana mesti mengatasi masalah ini selanjutnya. Sebab, di kapal itu tidak ada satu orang pun perempuan selain aku. Tapi dia tidak punya pilihan katanya, dia terpaksa melepaskan pakaian dari tubuhku. Dia merobek kaus itu dengan satu gerakan.


Oh Tuhan, ini benar-benar memalukan. Aku bahkan tidak mengenakan pakaian dalam apa pun. Sehingga, Jack gemetar melihat tubuhku.


"Maafkan aku, Rose." Dia kembali menyentak turun celananya yang kupakai dengan satu kali tarikan, lalu, dia kembali menggendongku dan membaringkanku ke tempat tidur, dan segera menyelimutiku.


Tidak lama kemudian, pintu diketuk dari luar, pelayan membawakan minuman hangat untuk kami, lalu Jack memerintahkannya untuk mengeringkan Sofa sementara ia mengambil pakaian ganti untuk dirinya sendiri dan berganti baju di kamar mandi. Setelahnya, setelah dia berganti pakaian dan pelayan keluar dari kamar, Jack mencoba menyadarkanku. Ia menggenggam tanganku dan katanya ia terkejut saat dia merasakan suhu tubuhku yang panas. Ia membasahi handuk kecil dan mengompres wajahku yang benar-benar masih pucat, terlihat sangat lemah.


Jack cemas luar biasa. Dia merasa lalai. Dia pikir tidak seharusnya dia meninggalkanku sendirian hingga musibah ini terjadi.


Tanganku bergerak, tanda-tanda sadar. Jack sedikit lega. "Rose?" panggilnya, dan begitu aku membuka mata, dia langsung memelukku.


"Bang Jack...."


"Bagaimana perasaanmu?"


"Lemas."


"Apa ada yang sakit?"


"Tidak." Aku menggeleng lemah.


"Terima kasih banyak," kataku sungguh-sungguh.


"Kamu kenapa? Kamu masih tidak percaya padaku?"


"Maksudnya? Tidak percaya, apa? Aku tidak mengerti."


"Itu, tadi, kamu naik ke pinggiran kapal. Kamu mau melompat ke laut. Kamu mau kabur dari sini karena kamu tidak percaya padaku. Iya, Rose?"


Ya Tuhan...! Aku menggeleng sekuatnya. "Tidak, kok. Bukan begitu. Aku tadi hanya iseng."


"Hanya iseng?" ulang Jack, dia marah.


Aku mengangguk. "Aku bukannya mau melompat atau kabur. Aku hanya ingin mencoba bertengger seperti Rose di film Titanic itu. Tapi... karena aku kaget mendengar teriakanmu, aku sampai jatuh. Aku... aku minta maaf."


"Ya Tuhan, Rose...."


"Aku tidak sengaja, sungguh."


"Kamu membahayakan hidupmu sendiri."


"Ya, aku tahu. Maafkan aku."


"Tidak. Aku yang salah. Aku minta maaf. Maafkan aku. Aku yang salah karena mengagetkanmu. Aku mengira...."


"Tidak, Bang. Ini bukan salahmu." Aku mendadak duduk. "Aku yang salah. Aku yang...."


Astaga, tubuhku terekspos, membuatku memekik dan berhenti bicara.


Hmm... memalukan. Cepat-cepat kuangkat kembali selimut menutupi tubuh sementara Jack langsung mengalihkan pandangannya dari tubuhku. "Aku minta maaf. Pakaianmu tadi basah. Jadi... aku terpaksa...."


"Aku mengerti," sahutku cepat, kucengkeram kuat-kuat selimutku menutupi dada. Rupa-rupanya tubuhku polos di bawah selimut. "Terima kasih, kamu sudah menyelamatkan nyawaku lagi."


Jack mengangguk. "Tapi, tolong," katanya, "berjanjilah padaku, lain kali jangan mengulangi hal itu lagi. Itu sangat berbahaya."


"Aku... ya... aku janji," sengalku.


Lalu Jack menatapku beberapa saat, masih ada penyesalan di matanya, dan tiba-tiba dia memelukku. "Aku tidak bisa melihatmu celaka. Tolong, jangan lagi membuatku takut, Rose. Aku tidak mau kehilanganmu."


"Ya, aku janji." Aku mengangguk. Aku merasa sangat bersalah padanya.


Kemudian, setelah melepaskan pelukannya, Jack mengambilkan obatku dari laci di samping tempat tidur, dia juga menambahkan obat penurun panas dari kotak obat yang tersedia di kamar itu. "Sekarang minum obat ini," katanya, ia menyorongkan tiga butir pil dan segelas air hangat untukku. Setelah aku meminum obat itu, ia berjalan ke lemari, mengambilkan pakaian ganti untukku dan menaruhnya di dekatku. "Jangan lupa kenakan pakaianmu, dan setelah itu kamu istirahat. Oke?"


Aku mengangguk lagi. "Terima kasih," kataku, nyaris berbisik.


Jack balas mengangguk, lalu... dia menangkup wajahku dengan kedua belah tangan, dan... dia mencium keningku.


"Aku sayang padamu. Tolong, jangan pernah meninggalkan aku."


Oh?


Terbelalak. Aku kembali megap-megap, tetapi kali ini di dalam pelukan hangat seorang Jack. Ya ampun, pria ini kembali membuat jantungku berdebar tak karuan.


Apakah dia mencintaiku? Bagaimana aku bisa tahu jika dia hanya mengatakan kalau dia sayang padaku...? Entahlah.