
Ceklek!
Pintu kamar tertutup di belakang punggungku, terkunci dengan aman, dan, seketika itu jantungku berdetak lebih kencang.
Tolong, Tuhan, buat pria ini memegang teguh janjinya. Tolong aku....
"Rose?"
"Iy--iya, Tuan."
"Kamu masih saja memanggilku tuan."
"Oh, maaf, maafkan saya. Emm maksud saya... maksudku... maafkan aku, My James."
"Baiklah, tidak usah dibahas. Lama-lama nanti kamu pasti akan terbiasa. Sekarang, berhubung hari sudah malam...."
Deg!
Please... kita langsung tidur saja, please... tolong tepati janjimu. Jangan sentuh aku, tolong....
Tapi pria itu justru berdiri rapat di belakangku. "Aku ingin kita menikmati sejenak kamar pengantin ini," ia bicara pelan di telinga. "Kamu suka kamar ini, kan?"
"I--iya, suka. Saya... maksudku aku suka."
"Dekorasinya cantik?"
"Em, sangat cantik."
"Tapi tak secantik dirimu, Rose."
"Emm?"
"Kamu cantik."
"Te--te--terima kasih, Tuan... My James."
"Em. Aku mengagumimu. Aku terpikat oleh kecantikanmu.
Oh... ya Tuhan, sungguh aku tidak nyaman. James memegangi kedua bahuku, lalu kemudian tangan selembut beledu itu menelusuri kulitku. Dan, ketika sentuhan jemarinya mencapai ke lenganku, kedua tangan kokoh pria itu malah menyelinap dan melingkar di pinggangku. Dan, dan... dia menopangkan dagunya di lekuk antara leher dan pundakku.
"Aku bahagia atas pernikahan ini, Rose. Bagaimana denganmu?"
Kamu tahu jawabanku. Aku tidak bahagia atas pernikahan ini. Aku terpaksa.
"Yeah, aku tahu. Aku mengerti bagaimana perasaanmu sekarang. Tapi aku yakin, lambat laun kamu akan merasakan hal yang sama. Cintai aku."
Hah?
"Cintai aku, Rose Harding."
"Emm... aku...."
"Coba, dan usahakan. Aku tidak ingin ada penolakan."
Kamu memaksaku.
"Sini." James berdiri tegap, lalu ia memutarku menghadapnya. "Baiklah. Maafkan aku kalau aku terkesan menuntut." Kedua tangannya bertopang di bahuku. "Tapi, setidaknya, kamu bisa menjalankan peranmu dengan baik. Menjadi istri yang baik, penurut, melayaniku, dan... yang pasti kamu harus setia. Jangan ada pengkhianatan dalam pernikahan kita. Dan kamu harus tahu, aku benci seorang pengkhianat, sangat benci. Dan aku tidak suka jika ada orang yang membangkang kepadaku. Kamu paham?"
Aku mengangguk, dan sejujurnya aku takut. James bicara pelan, lembut, namun dalam kata-katanya tersirat jelas peringatan dan ancaman untukku.
"Ada apa? Kamu takut?"
Aku menggeleng. Ragu.
"No. Tidak perlu takut. Kamu tidak perlu takut kepadaku. Aku suamimu. Hmm? Just relax." Sekarang kedua tangannya menangkup pipiku. "Tatap aku, please?"
Menurut. Dengan perlahan, kutatap kedua mata pria itu hingga pandangan kami pun beradu.
"Percaya atau tidak, aku mulai mencintaimu. Dan aku ingin kamu bahagia dalam pernikahan ini. Aku, cinta, padamu."
Argh!
James mengusapkan buku jemarinya di bibirku. Bibirku terbuka, dan wajahnya mendekat.
Tidak, please... jangan cium aku. Aku berpaling.
"Rose." Dia kembali membuat wajahku mendongan menatapnya. "Jangan menolakku. Jangan."
Namun aku tetap menggeleng kendati aku sangat takut. "Tuan, tolong jangan seperti ini. Tuan sudah berjanji untuk tidak--"
"Apa?"
"Tuan bilang...."
"Mmm-hmm...?"
"Tuan bilang Tuan tidak akan menyentuh saya sebelum usia saya sembilan belas tahun. To--tolong, Tuan tepati janji Tuan pada saya. Hanya sembilan bulan lagi saja usia saya akan genap sembilan belas tahun. Tolong, Tuan?"
Seulas senyum senang membelah wajahnya. Dia seakan ingin sekali menertawaiku. "Bercinta, Rose. Maksudku bercinta. Ber cin ta. Maksud janjiku adalah untuk tidak bercinta denganmu sampai usiamu genap sembilan belas tahun. Kamu paham itu, kan? Hanya bercinta."
"Tapi, Tuan--"
"Ssst...."
"Tuan--"
"Ssst... jangan membantahku. Itu tidak akan baik bagimu. Oke? Bisa diam? Bisa, kan, Sayangku?"
Aku tak berdaya.
Aku mengangguk. "Ya," kataku. "Aku paham."
"Well, berhubung kamu sudah paham...."
"Tuan." Aku menggeleng. "Please, jangan," tolakku. James menyentuh ritsleting gaunku. "Aku mohon jangan, tolong?"
"Jangan membantahku. Jangan menolakku. Dan jangan berkata tidak kepadaku. Jangan mencegahku, Rose," suara lembut penuh ancaman itu kembali ia perdengarkan. "Menurut kepadaku. Menurutlah."
Srettt....
Ritsleting gaunku terbuka dan gaun pengantin itu pun meluncur menuruni kaki.
"Kamu benar-benar cantik." Ia mundur selangkah seraya memagangiku selengan jauhnya. Kedua mata elangnya menatap tubuhku yang kini nyaris polos. Dari atas ke bawah, tak seinci pun luput dari pandangannya.
Nelangsa. Aku kecewa karena ini tak sesuai dengan harapanku. Dalam ketidakberdayaan ini, aku hanya berdiri di hadapannya dengan pandangan tertunduk, dengan bra tanpa tali dan dalama* segitiga yang teramat mini. Aku nyaris polos.
"Rose, aku ingin mencicipi rasamu."
Ya Tuhan....
James kembali menangkup lekuk pipiku dan membuatku mendongak. "Boleh, kan?"
Aku tak menyahut.
"Jawab aku. Katakan kalau aku boleh menciummu."
Tak bisa bersuara, namun aku terpaksa mengangguk. Derai air mata kini menetes lagi dari sudut mataku. Dan hatiku semakin sakit ketika...
Ketika bibir pria itu menempel di bibirku. Dia menciumku, lalu melepaskan bibirnya dariku setelah ciuman sesaat itu terjadi. Dan kuharap itu berarti telah usai.
Tapi ternyata tidak. Belum selesai.
"Kamu milikku, Rose," suaranya kini berupa geraman rendah, lalu... lalu...
Dia menciumku lagi. Kali ini ciumannya sedikit kasar. Di belakang kepalaku, jemarinya mengepal kuat helaian rambutku, menekan diriku kepadanya hingga ciuman itu bisa berlangsung teramat dalam.
"Buka mulutmu dan biarkan aku menjelajahinya."
Tidak mau. Aku menggeleng.
"Rose... buka. Jangan membuatku memaksa, karena aku tidak akan memohon kepadamu. Atau... kamu memang suka dipaksa? Hmm?"
Lagi-lagi ia mengancamku secara halus.
"Buka. Aku, bilang, buka."
Argh! Aku benci ketidakberdayaanku. Lagi-lagi aku hanya bisa menuruti perintahnya. Dan sekarang, lidah James bermain liar di dalam mulutku.
"Berikan lidahmu padaku."
"Emm?" Aku terbelalak.
"Give me. Aku ingin menikmatimu."
Argh!
Sialan! Sialan! Bedebah...!
Lidahku. Ingin sekali aku menanggalkannya dari mulutku andai saja tidak akan sakit rasanya. Aku jijik! James menikmati lidahku, mengulu* dan menarik lidahku ke dalam mulutnya. Hatiku sakiiiiit sekali.
"Jangan menangis. Nikmati saja supaya kelak kamu terbiasa."
Kuusap air mataku meski rasa sakit itu tak mau pergi.
"Oh ya, hampir saja aku melupakannya. Tanda merah di lehermu ini. Aku tidak akan mempermasalahkan siapa yang melakukan ini padamu. Tapi, karena sekarang kamu sudah menjadi istriku, milikku, maka siapa pun tidak boleh menyentuhmu. Hanya aku satu-satunya yang berhak. Hanya aku yang boleh menyentuhmu. Aku mesti menggantikan tanda ini dengan bekas gigitanku."
Apa? Ya Tuhan, pria ini gila. "Please, Anda tidak akan--"
"Ssst...."
"Tuan...."
"*endesahlah. Ada orang di balik pintu. Perdengarkan *esahanmu. *endesahlah untukku, Rose. Desaha* nikmat... juga seksi. Jika perlu, mengeran* dengan kuat, please...?"
"Ukh!" Aku tersentak. Dengan sekali gerakan James membenamkan bibirnya dan menggigit leherku tanpa aba-aba -- tepat di bekas gigitan Bang Jack tadi pagi. Dan... dan...
Eummmmm.... dia mengisa* leherku -- sangat kuat, dan semakin kuat.
"Sakiiiiiiit...," rintihku.
Dan itu sungguhan. Aku tidak berniat melakukan itu dengan dibuat-buat supaya seseorang di balik pintu itu mendengar suara *esahanku. Tidak sama sekali. Ini benar-benar sakit. Pria itu seperti *rakula.
Aku, tak berhenti merintih ketika *sapan demi *sapan James menghujani leherku. Nyaris merah semua tanpa celah. Bahkan, di seputar dada dan punggungku pun tak luput dari *sapannya. Siapa yang tidak akan mengira kalau kami telah melewati malam pertama kami pada malam ini, malam pengantin kami?
Termasuk Bang Jack.
Dia akan sangat sakit hati jika ia melihat tubuhku dipenuhi tanda merah seperti ini.
Maafkan aku....
"Terima kasih sudah menerima keliaranku, Sayang. Sekarang kamu tidurlah. Aku mesti keluar menemui Papa. Oh ya, jangan takut. Keseluruhan tempat ini dijaga ketat, ada banyak penjaga dan ada banyak cctv. Jadi, tidak akan ada kecoa ataupun tikus yang akan berani mengganggumu. Kamu bisa tidur dengan tenang. Aku akan mengunci pintunya dari luar. Dan nanti aku akan kembali lagi ke sini, tapi agak malam. Tidak apa, kan?" Satu ciuman menempel di keningku. "Tidurlah. Selamat malam dan mimpi yang indah. Aku mencintaimu."
Tapi aku tidak akan bisa tidur. Aku telah membuat seseorang -- yang jauh di sana -- semakin kecewa kepadaku.
Aku lelah, Tuhan. Aku sangat lelah....