Jack Bodyguard Sexy

Jack Bodyguard Sexy
Pria Misterius


Ya -- aku mengiyakan "tuntutan" James dalam bahasa lembutnya yang khas itu -- yang sarat akan ancaman.


Setelah perdebatan pelik yang terjadi di dalam batinku, akhirnya aku menyerah dan mengizinkannya menyentuhku meski hatiku tidak rela. Meski jauh di dasar hatiku aku ingin sekali menolak, tetapi beberapa butir alasan membuat sebagian dari dalam diriku jadi pasrah, diantaranya: pemikiran tentang apa yang mesti kupertahankan lagi saat ini? Keperawanan? Keperawananku yang kutahu sudah tidak ada lagi pada diriku? Tidak lagi. Lalu, tentang ibunya Bang Jack yang sekarang dalam pengawasan James, dia akan baik-baik saja jika aku bersikap baik, dan tentunya, aku tidak akan dijadikan pelacur jika aku menjalankan peranku dengan baik. Sebagai istri yang baik dan penurut. Jadi, untuk apa aku bilang tidak jika risikonya James akan kembali menyiksaku seperti waktu itu? Dan pada akhirnya aku akan kembali memohon ampun kepadanya, ya kan? Apakah kesempatan dimaafkan olehnya akan datang dua kali? Jika tidak? Bagaimana?


Jadi, aku pasrah. Mau tidak mau, suka tidak suka, rela ataupun tidak, aku mengiyakan.


Tapi air mata tetap tidak bisa membohongi diriku. Ia mewakili kejujuran hatiku atas penolakan hati kecilku untuk melakukan hubungan suami istri dengan James -- jelas itu karena hubungan ranjang itu bukan dilandasi oleh rasa cinta.


"Aku janji, aku akan memulainya dengan perlahan." James menatap ke dalam mataku, kedua tangannya menangkup pipiku. "Aku akan mencintaimu dengan lembut, hingga kamu sendiri yang akan memintaku untuk liar bersamamu. Mencintaimu dengan gila. Bahkan jika perlu, aku akan merelakan diriku menjelma menjadi hewan buas untukmu. Menunjukkan kepadamu betapa beringas dan ganasnya aku... demi cintaku padamu. Padamu, Rose."


Kata-katanya berakhir, dan ia mulai mencium bibirku. Diawali dengan selembut mungkin, lalu tangannya bergerak dan mencengkeram helaian rambut di belakang kepalaku untuk memperdalam ciumannya.


Dan kini, James menyibakkan selimut yang menutupi tubuh kami, dan, ia merebahkan tubuhku hingga aku terbaring. "Rose, katakan ya sekali lagi. Aku ingin mendengar kesungguhanmu yang rela kusentuh, please...?"


Menangis. Aku mengangguk dalam tangisan. "Ya," kataku. "Aku rela."


"Terima kasih. Sungguh aku mencintaimu, Rose."


Kupejamkan mata untuk menahan segala rasa sakit hati ketika James menangkup dadaku. Kali ini ia membelaiku dan mencicipi keindahan itu dengan lembut. Kemudian, kurasakan jemarinya membelai ke bawah, ke pahaku, lalu ke inti diriku.


"Rose, buka matamu sebentar. Aku ingin mengatakan sesuatu."


Aku menurut, kubuka mataku perlahan dan aku melihat pria itu tersenyum. Dia menghentikan gerakan jemarinya, lalu ia menarik bantal dan menyandarkan kepalanya, kemudian tangannya melingkar di pinggangku.


"Kamu tahu, beberapa waktu lalu aku menjenguk ibumu."


Apa? Dia menemui ibunya Bang Jack?


"Yeah, aku pergi ke rumah sakit. Sesuai janjiku, aku meminta restu pada ibumu. Aku memberitahukan padanya soal pernikahan kita. Awalnya aku bercerita kalau aku menemukanmu yang diculik penjahat dan akan dijual ke tempat pelacuran. Jadi, kukatakan kalau aku menyelamatkanmu dari sana, dan aku juga cerita kalau hal itu bisa terjadi karena kakakmu sedang tidak bersamamu. Sejujurnya, awalnya ibumu jadi panik mendengar cerita itu, tapi aku bisa menenangkannya. Kukatakan padanya kalau putrinya sudah aman karena aku sudah menikahi putrinya untuk selalu menjadi pelindungnya. Jadi putrinya sudah aman sekarang. Dan kamu tahu, tujuan utamaku sebenarnya memang untuk meminta restunya, tapi keadaan kita kemarin yang... kamu mengertilah, seperti itu, sedang kacau. Jadi di sepanjang jalan aku berpikir kalau aku ingin berkenalan dulu saja dengan ibumu, sebagai bahan pertimbangan mau dibawa ke mana hubungan kita. Tapi setelah bertemu dengan ibumu, perasaanku tergugah. Aku kembali ke niat awalku, untuk meminta restunya. Dan malah, tidak tahu kenapa, di sana aku berpikir kalau kamu pantas untuk diberikan kesempatan. Kamu berhak. Dan... aku juga meminta pada hati kecilku untuk percaya bahwa kamu tidak berbohong kalau kamu kehilangan keperawanan itu karena ada yang merenggutnya secara paksa. Jadi, setelah dari rumah sakit, aku pergi ke suatu tempat, menyendiri. Aku menenangkan pikiranku selama beberapa hari. Akhirnya aku memutuskan untuk memberikan kepercayaan lagi padamu. Aku memaafkanmu, Rose. Aku maafkan semua kesalahanmu."


Aku menyimak semua kata-kata James tanpa menyela. Namun sekarang aku tetap terdiam. Aku tidak tahu harus mengatakan apa, bahkan untuk sekadar berterimakasih, tidak bisa. Mulutku tetap terbungkam.


"Rose? Aku memaafkanmu. Kamu dengar itu?"


Akhirnya aku mengangguk. "Ya. Te--terima kasih, My James."


"Sekarang bisakah kamu berjanji, kamu tidak akan mengulangi atau berbuat kesalahan apa pun lagi? Sengaja ataupun tidak? Tolong, berjanjilah, demi aku? Demi cintaku kepadamu?"


Bagaimana bisa? Aku berdeham parau. "Tapi, My James, aku... aku mau berusaha untuk tidak... tidak melakukan kesalahan lagi, tapi kalau nanti aku tidak sengaja melakukan kesalahan entah apa itu, bagaimana?"


"Rose, kamu sudah dewasa. Kamu mengerti benar maksudku. Kesalahan yang kumaksud itu misalnya seperti selingkuh, sengaja berbohong, menipu, bertemu pria lain tanpa aku atau tanpa seizinku, dan hal lain yang semacam itu. Kamu mengerti, kan? Kamu bisa menghindari hal-hal seperti itu? Mau berjanji padaku? Katakan?" Tatapannya kembali menuntutku untuk menjawab iya.


Aku mengangguk lagi. "Aku berjanji, untuk semua hal itu. Aku tidak akan melakukan kesalahan itu. Tidak akan lagi."


"Bagus. Terima kasih, Cinta."


"Ya, benar. Oh ya, Sayang. Kamu tahu, ibumu sudah memberikan restu padaku. Dan aku sudah berjanji kepadanya, aku akan mengajakmu menemuinya setelah perjalananku keluar kota. Em... hari itu aku beralasan kalau aku akan pergi ke luar kota selama dua minggu. Aku bilang kalau aku belum bisa mengajakmu menemuinya karena kamu sedang sakit dan butuh banyak istirahat. Yap, kelelahan pasca pernikahan. Jadi, dia pasti menunggu kedatanganmu. Sudah dua minggu, kan? Kamu mau ke sana?"


Kuanggukkan kepalaku sekali lagi. Pria ini membuatku semakin tidak mengerti tentang kebenaran yang sesungguhnya: mana fakta, mana kebohongan, dan mana yang hanya akting semata?


"Well, Cintaku, aku sudah menceritakan semua ini. Cerita ini mewakili perasaanku, bukan? Bahwa aku sungguh-sungguh padamu. Aku ingin menjalani biduk rumah tangga yang bahagia bersamamu. Aku ingin kamu menjadi istri yang baik untukku, dalam segala asfek. Terutama dalam hal kesetiaan. Dan... aku tidak akan menjualmu pada Papa. Aku tidak akan menyuruh anak buah Papa untuk menggilirmu. Aku memaafkanmu, dan aku memberikan kesempatan kedua untukmu. Tolong jangan disia-siakan. Kamu paham, kan?"


Suara lembut yang khas itu kudengar lagi, yang sarat akan ancaman menakutkan.


"Aku paham. Terima kasih, My James."


Dia tersenyum, semringah, dan terlalu ceria. "Sekarang... kita lanjutkan lagi kemesraan kita yang tertunda."


Oh Tuhan... jika mungkin, halangi dia. Aku mohon....


Tapi nyatanya James sudah menyelinapkan jarinya ke inti diriku. Sudah bergerak nakal. Dan dia tersenyum sambil memandangiku. Tangannya terus aktif membelai, menyalurkan rasa yang asing. Aku tidak tahan, kupilih untuk memejamkan mataku.


Geli, dan kuakui secara naluriah-ku sebagai seorang wanita, ada rasa nikmat dari sentuhannya, tapi bukan pada hatiku. Hatiku tetaplah menangis menahan sakit dan perih, dan itu terwujud dalam bentuk air mata yang kembali menetes dari sudut mataku.


Sekarang, James bersilang kaki di atasku. Dia meraih tanganku dan memintaku menggenggamnya.


"Walaupun matamu tertutup, kamu bisa merasakanku, ya kan, Sayang? Aku mendambakanmu," kata James pelan seraya membimbing jemariku. "Aku sudah siap. Sepenuhnya."


Deg!


Dia melepaskan tanganku. Lalu... lalu...


Kejantanannya menempel padaku, mengelus-elus pelan apa yang sekarang sudah...


Kau mengerti: basah dan terbuka.


"Katakan kalau kamu bersedia dan bisa melakukan ini tanpa menangis, Rose. Tolong? James memohon padamu."


Aku semakin terisak dan mataku kembali terbuka. "Aku tidak bisa. Maaf... maafkan aku. Aku bisa bilang iya, tapi aku tidak bisa membohongi hatiku. Aku tidak bisa menghentikan air mataku. Maaf, My James. Sungguh, aku... aku tidak melarangmu. Kamu berhak. Lakukan saja. Jangan pedulikan air mataku. Aku bisa menghapusnya. Seberapa banyak pun air mataku, akan kuhapus. Silakan. Sentuhlah aku."


"Tapi aku tidak bisa melakukan ini sambil melihat air matamu." Dia menyingkir, dan terlihat kecewa.


Dan aku malah takut, bagaimana kalau dia kembali emosi? Apa pun bisa ia lakukan kalau dia marah.


"My James...." Aku bangkit dan duduk, memeluk pinggangnya. "Maafkan aku. Sungguh, kamu bisa melakukannya sekarang. Aku bersedia. Sentuh, sentuhlah aku." Walau hatiku tidak rela.


Tapi pria itu menggeleng. "Tidak, Rose. Tidak. Aku tidak bisa melihat air matamu. Biarlah aku menyentuhmu di saat kamu tertidur. Tidak apa. Aku akan menganggapmu seperti putri tidur dari negeri dongeng." Dia memaksakan dirinya tersenyum, lalu mencium keningku, kemudian turun dari ranjang dan beranjak ke kamar mandi.


Oh James... kau lelaki dengan sejuta misteri.