
Seperti prediksi dan harapanku: malam itu James datang. Saat itu aku sudah tertidur, tidak tahu bagaimana awal kedatangannya, tahu-tahu, aku terbangun karena mendengar suara Bang Jack yang sedang marah-marah. Saat mataku terbuka dan kesadaran menguasaiku sepenuhnya, aku melihat Bang Jack mencengkeram kemeja James dan ingin melayangkan tinju kepadanya.
"Jangan...!" aku berteriak histeris. "Jangan pukul dia, Bang...."
Bang Jack menggeleng, dia tetap melayangkan pukulannya ke rahang James hingga darah segar keluar dari sudut bibirnya. Pria itu terhuyung namun ia berhasil menjaga keseimbangan.
"Abang, jangan...! Tolong, kalian jangan berkelahi."
"Dia pantas menerima ini, Rose! Dia lelaki berengsek!"
"Aku tahu. Tapi jangan pukul... maksudku... maksudku... jangan pakai kekerasan. Tolong, demi aku?"
Lagi. Bang Jack menggeleng. "Aku di sini berjuang untuk keselamatanmu. Tapi kamu malah peduli pada lelaki berengsek ini, hmm?"
"Bukan. Bukan... bukan begitu maksudku. Aku... aku... aku hanya... aku peduli padamu."
Mendengus. Bang Jack menunjukkan sikap kesal sekaligus kecewa. Sementara di sisi lain, James tidak bereaksi, dia diam saja di tengah perdebatan antara aku dan Bang Jack. Mungkin dia sedang menilai: adegan di depannya itu sungguhan atau hanya sandiwara, atau, bisa jadi itu caranya menikmati tontonan yang ia gemari. Barangkali dia sangat senang melihat kami berdebat. Bisa jadi, bukan?
"Abang bisa keluar sebentar, tolong? Aku ingin bicara dengan... dengannya."
Tidak menyahut. Bang Jack malah menghampiri James dan kembali mencengkeram leher kemejanya. "Jangan berani berbuat macam-macam. Aku tidak akan mengampunimu jika terjadi hal buruk padanya. Paham?"
Jujur saja, kuakui, tiba-tiba ada sedikit rasa -- katakanlah rasa khawatir, ngeri, atau rasa takut ketika Bang Jack keluar dan hanya ada aku dan James di dalam ruangan itu. Dia menghampiri ranjang rawatku. Tapi aku tahu, aku harus tenang, aku harus berani menghadapi James.
"Apa ini? Hmm? Kenapa kamu melakukan ini?"
Hmm... sudah kuduga, dia akan kembali berperan seolah dia tidak tahu apa-apa. Seolah dia tidak melakukan apa-apa.
Aku menggeleng. "Tolong, berhentilah berpura-pura di hadapanku, My James. Maaf, James. Maksudku James. Kamu bukan milikku." Kembali, aku menggeleng, dan aku tidak perlu bersusah payah untuk meneteskan air mata. Air mataku sudah menggenang. "Aku lelah. Aku capek kalau aku harus selalu berusaha kuat, atau... berpura-pura menunjukkan kalau aku ini kuat. Tidak. Aku rapuh. Perasaanku sakit. Aku sudah tidak bisa lagi menahan... menahan perasaanku, sakitku, rasa kecewa. Aku tidak sanggup lagi. Sumpah, aku tidak sanggup lagi. Tolong, berhenti, My... Tuan James. Berhenti. Jangan bersandiwara lagi di hadapanku."
"Aku tidak mengerti."
Argh!
Kuhela napas dalam-dalam, mataku terpejam sesaat dan dadaku terasa sesak. "Maaf kalau mengecewakan. Tapi aku sudah benar-benar lelah dan aku tidak ingin menanggapi sandiwara ini lagi. Tidak ada gunanya. Aku... aku minta maaf. Maaf sekali karena kamu terpaksa melihatku masih dalam keadaan bernyawa. Tapi tenang saja. Aku akan mencobanya lagi sampai aku benar-benar mati. Supaya kamu senang, dan kamu akan merasa benar-benar menang. Sekarang sebenarnya kamu juga sudah menang, aku sudah sampai ke tahap depresi. Bang Jack sudah sangat tersiksa karena apa yang kualami ini. Tapi tentu saja, kalau aku mati, itu berarti kemenangan mutlak untukmu. Aku janji akan mengabulkannya. Aku janji."
"Sudah bicaramu? Hmm? Sudah puas?"
"O ya? Begitu? Kalau begitu ini." James melemparkan pistol kepadaku. "Habisi saja dirimu dengan senjata ini."
Oh... waw! Aku tersenyum, kuambil pistol itu dan melemparkannya ke lantai. "Benar, aku ingin mati, tapi bukan berarti aku ingin merusak reputasi rumah sakit ini, ataupun membuat kericuhan dan membuat khawatir pasien lain. Tidak, Tuan James. Aku ingin mati sendiri, bukan ingin mengajak mati pasien di rumah sakit ini. Jadi, ambil dan bawa pergi senjatamu. Selamat malam."
James menggeleng-gelengkan kepala. Mungkin dia sudah bingung hendak mengatakan apa lagi.
Ceklek!
Pintu ruanganku terbuka. Bang Jack muncul dengan seorang dokter bersamanya.
"Selamat malam, Nyonya."
Aku tersenyum simpul dan balas menyapanya, "Selamat malam, Dokter."
"Emm... Rose," Bang Jack berkata. "Ini dr. Elinda, psikiater terbaik di rumah sakit ini."
What? Oh... Bang Jack. Ini sekadar bagian dari rencana untuk mempengaruhi pikiran James, atau Abang serius mengira kalau aku memerlukan seorang psikiater? Well, aku harus tenang. "Psikiater?"
"Em. Aku rasa kamu perlu--"
"Tidak. Terima kasih."
"Tapi, Rose."
"Tidak perlu repot-repot."
"Rose...."
"Aku tidak memerlukan psikiater. Untuk apa? Untuk apa bantuan dan support dari orang luar kalau orang terdekatku sendiri yang membuatku depresi? Oh, sori, maksudku orang dalam lingkunganku. Bukan orang terdekat. Bukan keluargaku. Aku hanya dianggap sampah, bukan? Jadi, terima kasih, Dokter. Tapi saya tidak butuh bantuan. Saya gila pun suami saya tidak akan peduli. Jadi terima kasih, Dokter boleh pergi. Dan Anda, Tuan James, terima kasih sudah menjenguk saya. Well, saya ingin istirahat. Tolong tinggalkan saya sendiri."
Dokter mengangguk. "Baiklah." Kemudian ia berpaling kepada kedua lelaki di ruangan itu. "Biarkan pasien istirahat dulu, ya, Tuan-Tuan. Pasien butuh ketenangan. Mari. Saya permisi."
Well, sampai jumpa dalam drama selanjutnya, James. Aku akan selalu berusaha untuk menjangkaumu. Sedekat mungkin.